Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa penasaran
Aku pun tiba di rumah.
Mobil Schevenko berhenti tepat di depan pagar, seperti sengaja tidak melewati batas apa pun. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untukku dengan sopan—seperti sebelumnya, tidak berlebihan, tidak juga dingin.
Ayah dan ibuku sudah berdiri di teras, menyambut kedatanganku.
Wajah ibu terlihat lega, sementara ayah menatap kami dengan sorot mata yang tenang, seolah sejak awal sudah yakin semuanya akan baik-baik saja.
“Terima kasih sudah mengantar Zahra,” kata ayahku sopan.
Schevenko mengangguk hormat.
“Sudah menjadi tanggung jawab saya, Pak,” jawabnya tenang.
Ia menoleh ke arahku.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu, Zahra,” katanya pelan.
Aku mengangguk, mencoba menahan senyum yang sejak tadi ingin muncul.
“Hati-hati di jalan,” balasku.
Ia tersenyum tipis—senyum yang entah kenapa selalu membuat dadaku terasa hangat—lalu masuk ke mobilnya.
Mesin dinyalakan.
Lampu depan menyala.
Dan perlahan… mobil itu menjauh.
Begitu mobilnya tak lagi terlihat, aku spontan berteriak pelan,
“Ya Tuhannn…”
Tanganku menutup mulutku sendiri, tapi sudah terlambat.
Aku tersenyum lebar.
Bukan senyum malu.
Bukan senyum sopan.
Tapi senyum bahagia yang jujur—yang bahkan aku sendiri terkejut melihatnya.
Ayah dan ibuku langsung menoleh bersamaan.
“Zahra?”
Ibu mengernyit, setengah kaget, setengah heran.
Aku tersentak, wajahku langsung panas.
“A-aku… maksudku…”
Ayah tertawa kecil, pelan tapi jelas.
“Sepertinya angin sore membawa sesuatu yang cukup kuat,” katanya sambil tersenyum penuh arti.
Ibu menatapku lebih lama, lalu tersenyum tipis.
“Kau kelihatan… berbeda,” ucapnya lembut.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menunduk, lalu cepat-cepat masuk ke rumah.
Begitu sampai di kamar, aku menutup pintu perlahan dan bersandar di belakangnya.
Jantungku masih berdebar.
Kepalaku penuh.
Schevenko.
Caranya berbicara.
Tatapan matanya.
Nada suaranya saat menyebut namaku.
Aku menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum sendiri.
“Kenapa sih aku begini…” gumamku pelan.
Pandangan mataku jatuh ke ponsel baru yang tadi ia belikan.
Masih terasa asing di tanganku.
Tapi entah kenapa… rasanya istimewa.
Aku duduk di tepi ranjang.
Menyalakan layar.
Dan tanpa berpikir panjang, jariku mulai mengetik namanya.
Schevenko.
Hasil pencarian langsung bermunculan.
Banyak.
Terlalu banyak.
Aku membuka salah satunya.
Lalu akun lainnya.
Dan satu lagi.
Aku terdiam.
Orang yang kulihat di layar…
adalah orang yang sama.
Wajahnya sama.
Namanya sama.
Tapi auranya… berbeda.
Di foto-foto itu, Schevenko terlihat dingin.
Tatapannya tajam.
Ekspresinya hampir tidak pernah tersenyum.
Ia berdiri di depan gedung tinggi, di ruang rapat, di acara resmi.
Dikelilingi pria-pria bersetelan jas.
Wajahnya datar.
Punggungnya tegap.
Sorot matanya… jauh.
Aku menggulir layar pelan.
Di media sosial, ia hampir tidak pernah menulis kata-kata pribadi.
Tidak ada senyum hangat.
Tidak ada caption panjang.
Hanya foto.
Dan keheningan.
“Ini…”
Aku berbisik pada diri sendiri.
“Ini Schevenko?”
Dadaku terasa aneh.
Schevenko yang tadi berjalan di sampingku di pantai…
yang berbicara pelan…
yang menepuk jarak dengan penuh kesadaran…
yang menatapku seolah aku benar-benar penting…
Dan Schevenko di layar ini…
dingin.
Jauh.
Seperti dunia yang tak bisa disentuh.
Aku memeluk bantal, duduk bersila di ranjang.
Pikiranku berputar.
“Yang mana yang asli?”
“Atau… keduanya memang dia?”
Aku menggulir lagi.
Artikel.
Berita.
Namanya muncul di banyak tempat.
Dengan kata-kata besar.
Pengaruh.
Kekuasaan.
Keputusan.
Aku menelan ludah.
Lalu tanpa sadar, aku teringat ucapannya di pantai.
“Ketahuilah… aku sekarang benar-benar berbeda dari diriku sebelumnya.”
Dadaku terasa ditarik pelan.
“Berbeda… bagaimana?” bisikku.
Aku menutup layar sejenak.
Merebahkan tubuhku.
Menatap langit-langit kamar.
Rasa penasaran itu…
tidak kecil.
Tidak ringan.
Ia seperti benang yang menarikku perlahan.
Tidak memaksa.
Tapi membuatku ingin terus mendekat.
Aku membuka ponsel lagi.
Menatap fotonya sekali lagi.
Tatapan dingin itu…
entah kenapa…
sekarang tidak terasa menakutkan.
Justru membuatku ingin tahu:
apa yang membuatnya berubah?
apa yang membuatnya selembut itu padaku?
dan… kenapa aku?
Aku tersenyum kecil.
Bingung.
Gugup.
Penasaran.
Dan untuk pertama kalinya…
aku menyadari satu hal dengan sangat jelas:
Schevenko bukan hanya teka-teki.
Ia adalah rasa penasaran yang mulai mengambil ruang di hatiku.
Dan aku tahu…
rasa ini tidak akan berhenti di sini.