Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Sumpah di depan toko kosong
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit menggantungkan awan kelabu di atas deretan ruko tua di ujung jalan kota. Di antara bangunan-bangunan yang mulai kusam, berdiri sebuah toko yang pintunya tertutup rapat, catnya terkelupas, dan papan namanya miring nyaris jatuh. Itulah Toko Manisan Wijaya, saksi bisu kejayaan sekaligus kehancuran keluarga itu.
Bima berdiri mematung di depan pintu toko, memandangi segel merah yang masih menempel di gembok berkarat. Angin tipis mengibaskan ujung jaketnya, membawa aroma debu dan sisa-sisa manisan yang pernah memenuhi ruangan itu. Di belakangnya, ayah dan ibunya berdiri berdampingan, sementara adiknya, Nara, memeluk tas kecil berisi beberapa dokumen yang tersisa dari penggeledahan tempo hari.
Tak satu pun dari mereka berbicara. Kesunyian justru terasa semakin menekan, seolah setiap detik menuntut keberanian untuk dihadapi.
“Di sinilah semuanya dimulai,” suara ayah akhirnya memecah keheningan. Nada bicaranya pelan, tetapi penuh getar. “Dan di sinilah kita hampir kehilangan segalanya.”
Ibu mengangguk, menahan air mata yang menggenang di sudut matanya. Tangannya meraih lengan Bima, menggenggam erat seolah takut anak sulungnya itu ikut runtuh bersama toko yang telah menjadi rumah kedua mereka.
Bima menghela napas panjang. Pandangannya menyapu kaca etalase yang retak, rak-rak kosong yang samar terlihat di balik debu, dan bayangan masa lalu yang berkelebat begitu saja. Ia teringat tawa pelanggan, aroma karamel hangat, suara ayahnya menakar gula, dan senyum ibunya saat melayani pembeli. Semua terasa begitu dekat, namun sekaligus sangat jauh.
“Aku tidak mau semua ini berakhir seperti ini,” ucap Bima lirih, tapi penuh tekad.
Nara melangkah maju, berdiri di sisi kakaknya. “Aku juga,” katanya. “Toko ini bukan cuma tempat mencari uang. Ini rumah kita. Ini mimpi kita.”
Ayah menatap kedua anaknya dengan mata yang basah, namun penuh kebanggaan. “Kalian tahu risikonya. Melawan ketidakadilan itu tidak mudah. Kita bisa semakin ditekan, semakin disudutkan.”
“Kalau kita diam, kita akan mati perlahan,” jawab Bima tegas. “Bukan mati secara fisik, tapi mati sebagai manusia yang punya harga diri.”
Kata-kata itu menggantung di udara, menghunjam kesadaran mereka semua.
Ibu mengusap pipinya, lalu melangkah maju. “Jika kalian siap, Ibu juga siap. Kita sudah jatuh terlalu dalam. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti.”
Mereka berdiri melingkar di depan pintu toko yang terkunci. Sinar matahari mulai menembus celah awan, jatuh tepat di atas segel merah itu, seolah memberi cahaya pada sumpah yang akan terucap.
Bima mengangkat tangannya perlahan, menyentuh gembok dingin itu. “Aku bersumpah, di depan toko ini, di depan kenangan kita, aku tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap. Aku akan membuka kembali pintu ini, membersihkan nama keluarga kita, dan mengembalikan senyum yang dirampas dari wajah Ayah dan Ibu.”
Ayah meletakkan tangannya di atas tangan Bima. “Ayah bersumpah untuk tidak menyerah, meski usia dan tenaga tak lagi sekuat dulu. Ayah akan berdiri di belakangmu, apa pun yang terjadi.”
Ibu menyusul, menggenggam tangan mereka berdua. “Ibu bersumpah untuk tetap kuat, menjaga keluarga ini, dan tidak membiarkan keputusasaan mematahkan kita.”
Nara mengakhiri lingkaran itu. “Aku bersumpah akan belajar lebih keras, mencari cara, dan membantu sebisaku. Aku tidak ingin menjadi penonton dalam perjuangan keluarga kita sendiri.”
Empat tangan bertaut erat, membentuk simpul tekad yang tak mudah dilepaskan. Di tengah keterpurukan, mereka menemukan kembali sesuatu yang nyaris hilang: keberanian.
Beberapa orang yang melintas memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. Ada yang berbisik, ada yang menggelengkan kepala, ada pula yang memandang dengan simpati. Namun, keluarga Wijaya tak lagi peduli. Bagi mereka, sumpah itu jauh lebih penting daripada penilaian dunia.
Bima menatap papan nama toko yang hampir roboh. “Kita akan mulai dari nol. Kita cari bukti, kita kumpulkan saksi, kita bongkar semua fitnah yang mereka lemparkan.”
Ayah mengangguk mantap. “Ayah masih menyimpan beberapa catatan transaksi lama. Mungkin itu bisa menjadi awal.”
“Ibu akan mencoba menghubungi pelanggan lama,” sambung ibu. “Mereka tahu bagaimana kualitas manisan kita, mereka tahu kita tidak pernah curang.”
Nara membuka tasnya. “Aku menyimpan beberapa foto dan rekaman sebelum toko ditutup. Mungkin ini bisa membantu.”
Langkah kecil itu terasa seperti secercah cahaya di lorong gelap yang panjang. Mereka sadar jalan yang akan ditempuh penuh rintangan, ancaman, dan kelelahan. Namun, untuk pertama kalinya sejak toko ditutup paksa, mereka tidak lagi merasa sendirian.
Sebelum pergi, Bima menempelkan kertas kecil di pintu toko. Di sana tertulis dengan spidol hitam: Kami akan kembali.
Tulisan itu sederhana, namun sarat makna. Sebuah janji pada diri sendiri, pada keluarga, dan pada masa depan.
Saat mereka melangkah menjauh, toko itu kembali sunyi. Namun, kali ini sunyi itu bukan lagi tanda kekalahan. Ia menjadi jeda sebelum kebangkitan.
Di balik pintu yang terkunci, di antara debu dan kenangan, sebuah harapan baru mulai berdenyut pelan, menunggu waktunya untuk meledak menjadi keberanian yang tak terbendung.
Dan di depan toko kosong itulah, sumpah telah diucapkan—sebuah ikrar bahwa kebenaran, seberapa pun lama ia disembunyikan, akan selalu menemukan jalannya untuk kembali ke cahaya.
Namun sumpah bukanlah akhir dari penderitaan. Ia justru menjadi awal dari jalan panjang yang penuh terjal.
Langkah keluarga Wijaya menjauh dari toko terasa berat. Setiap pijakan di trotoar retak itu seperti meninggalkan sepotong kenangan yang tak akan pernah benar-benar hilang. Bima menoleh sekali lagi, menatap papan nama yang hampir lepas dari paku karatnya. Dalam hatinya, ia mengukir wajah toko itu sebagai pengingat: alasan mengapa ia tak boleh berhenti.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rangkaian kelelahan. Pagi hingga malam, mereka berpencar menjalani peran masing-masing. Ayah menyusuri lemari tua di rumah, membuka berkas demi berkas yang hampir terlupakan. Kertas-kertas itu menguning, beberapa sudutnya rapuh dimakan usia, namun di sanalah tercatat jejak kerja keras puluhan tahun. Nota pembelian, buku kas, dan catatan produksi manisan disusun kembali, diurutkan dengan teliti.
Ibu mendatangi satu per satu pelanggan lama. Ia menyusuri gang-gang sempit, mengetuk pintu rumah yang pernah akrab dengannya. Ada yang menyambut hangat, ada pula yang ragu, bahkan ada yang menolak bicara karena takut ikut terseret masalah. Setiap penolakan seperti menoreh luka baru, tetapi ibu tetap tersenyum, tetap mengucap terima kasih, tetap melangkah.
Nara menghabiskan waktunya di warnet murah, mencari berita, dokumen hukum, dan rekam jejak para pejabat yang terlibat. Ia belajar membaca bahasa hukum yang rumit, mencatat setiap detail yang terasa janggal. Malam-malamnya diisi cahaya layar dan secangkir kopi instan, ditemani doa agar pencariannya tak sia-sia.
Sementara Bima, ia berkeliling mencari saksi. Dari mantan karyawan, pemasok gula, hingga pedagang kecil yang sering titip jual manisan di tokonya. Ia mencatat setiap cerita, sekecil apa pun, karena ia tahu kebenaran sering bersembunyi di celah-celah yang nyaris tak terlihat.
Namun tidak semua pintu terbuka. Beberapa saksi mendadak menghilang. Ada yang tiba-tiba pindah, ada yang mendadak sakit, ada pula yang berubah sikap, menolak ditemui tanpa alasan jelas. Bima merasakan bayang-bayang ancaman merayap di belakang langkahnya.
Suatu malam, ketika hujan mengguyur deras, Bima pulang dengan tubuh basah dan hati remuk. Ia duduk terdiam di ruang tengah, menatap lantai, sementara suara hujan menabuh atap seperti irama kegelisahan.
“Ada apa, Nak?” tanya ayah, mendekat.
“Mereka mulai menekan,” jawab Bima lirih. “Beberapa saksi takut. Ada yang bilang, kalau bicara, hidup mereka akan makin susah.”
Ayah terdiam lama. Guratan lelah semakin jelas di wajahnya. “Ayah sudah menduga ini. Orang-orang berkuasa tidak akan tinggal diam saat kepentingannya terancam.”
Ibu menyodorkan secangkir teh hangat. “Kita tidak boleh gentar. Kita sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur.”
Nara mengangguk mantap. “Kalau mereka menutup satu jalan, kita cari jalan lain.”
Hari demi hari berlalu, dan tekanan kian terasa. Surat peringatan datang silih berganti, berisi ancaman samar yang menyelip di antara kalimat resmi. Tetangga mulai menjaga jarak. Bisik-bisik menyebar, menyudutkan keluarga Wijaya seolah mereka benar-benar pelaku kejahatan.
Namun di tengah gelap itu, cahaya kecil mulai bermunculan.
Seorang pemasok lama bersedia memberikan salinan kontrak kerja sama yang membuktikan bahwa transaksi mereka sah. Seorang mantan karyawan datang membawa rekaman suara, berisi perintah manipulasi laporan dari pihak tertentu. Bahkan seorang pelanggan tua, yang pernah diselamatkan usahanya oleh kemurahan hati ayah, bersedia menjadi saksi meski nyawanya terancam.
Setiap potongan itu seperti serpih kaca yang perlahan membentuk cermin kebenaran.
Suatu sore, mereka berkumpul di meja makan yang kini lebih sering dipenuhi dokumen daripada hidangan. Tumpukan kertas, flashdisk, dan catatan kecil berserakan di atasnya. Bima menatap semua itu dengan mata yang mulai menyala.
“Kita sudah punya cukup bahan untuk melawan,” katanya.
Ayah menarik napas panjang. “Ini belum menang, tapi ini awal yang kuat.”
Ibu memejamkan mata, menahan haru. “Semoga Tuhan meridai langkah kita.”
Namun di sudut kesunyian, bahaya lain mengintai. Seseorang memantau gerak-gerik mereka. Setiap langkah, setiap pertemuan, seolah tercatat di mata-mata tak terlihat. Bima merasakan itu, nalurinya berteriak bahwa badai lebih besar tengah menunggu.
Suatu malam, sebuah amplop cokelat dilemparkan ke halaman rumah mereka. Tanpa alamat, tanpa nama pengirim. Di dalamnya hanya ada selembar kertas bertuliskan: Berhentilah sebelum semuanya terlambat.
Tangan ibu gemetar saat membacanya. Nara menahan napas, sementara ayah mengepalkan tangan dengan wajah mengeras.
Bima mengambil kertas itu, meremasnya perlahan. “Ini justru tanda bahwa kita berada di jalan yang benar.”
Malam itu, mereka kembali berkumpul. Tanpa kata, mereka saling menggenggam tangan. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi ketakutan yang tak terkendali. Yang tersisa hanyalah tekad.
Sumpah di depan toko kosong kini berdenyut dalam setiap langkah mereka.
Mereka tahu, jalan menuju cahaya tak pernah lurus. Ia berliku, penuh duri, dan sering menuntut pengorbanan. Namun mereka juga percaya, selama kebenaran digenggam erat, seberat apa pun gelap yang menghadang, fajar akan tetap datang.
Dan di tengah malam yang basah oleh hujan, keluarga Wijaya meneguhkan hati: mereka tidak akan berhenti, tidak akan menyerah, sampai keadilan berdiri tegak di depan pintu toko yang suatu hari nanti akan terbuka kembali.