NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kain Ini Akan Mengguncang Dunia

Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.

Di luar Paviliun Melati, angin malam berdesir, membawa aroma bunga sedap malam yang menusuk.

Sekar mengunci pintu kamarnya dua kali.

Dia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur remang-remang.

Di atas meja rias, dia meletakkan kotak kardus berlubang berisi segenggam ulat sutra yang dia ambil dari gudang tadi sore.

Mata Sekar menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajah gadis desa yang polos itu kini memiliki sorot mata setajam pisau bedah.

"Kau pikir kau bisa mematikan langkahku dengan regulasi konyol itu, Dhaning?" bisik Sekar.

Dia menyentuh tanda lahir berbentuk bulir padi di jari manisnya.

Dalam sekejap, dunia berputar.

Aroma lembap kamar tidurnya berganti dengan udara segar beraroma ozon dan tanah basah.

Sekar mendarat di atas tanah hitam Ruang Spasial.

Di sini, matahari bersinar hangat, seolah waktu berhenti di jam sepuluh pagi yang abadi.

Sekar tidak membuang waktu. Dia berjalan cepat menuju Rumah Kayu, tempat laboratorium sederhananya berada.

Dia meletakkan kardus ulat itu di meja kerja.

Makhluk-makhluk kecil itu tampak lesu.

Warna tubuh mereka kusam, tanda stres oksidatif akibat perjalanan dan perubahan suhu.

"Subjek uji: Bombyx mori," gumam Sekar, mode ilmuwannya mengambil alih.

"Kondisi: Malnutrisi tingkat ringan. Hipotesis: Pakan dengan energi tinggi akan memicu percepatan metabolisme."

Sekar berjalan keluar menuju area perkebunan di belakang rumah kayu.

Di sana, tumbuh sebatang pohon yang berbeda dari yang lain.

Pohon Murbei Kristal.

Daunnya tidak berwarna hijau tua pekat, melainkan hijau muda transparan dengan urat-urat daun yang berpendar keperakan.

Pohon ini tumbuh tepat di pinggir mata air spiritual yang kadar mineralnya sangat tinggi.

Sekar memetik segenggam daun.

Teksturnya renyah, seperti keripik, tapi dingin saat disentuh.

"Mari kita lihat," gumam Sekar.

Dia kembali ke meja kerja dan menjatuhkan daun-daun itu ke dalam kotak.

Reaksinya instan.

Para ulat yang tadinya diam, tiba-tiba menggeliat agresif.

Mereka mencium aroma daun itu.

Kres... Kres... Kres...

Suara rahang kecil mereka terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.

Mereka makan dengan rakus, seolah kelaparan selama satu abad.

Sekar mengamati dengan kaca pembesar.

Matanya membelalak.

Sesuatu yang aneh terjadi.

Saat ulat-ulat itu menelan daun Murbei Kristal, tubuh mereka yang putih susu perlahan berubah.

Kulit mereka menjadi transparan, memperlihatkan organ dalam yang kini berpendar samar.

"Peningkatan sintesis protein secara masif," analisis Sekar cepat.

"Enzim pencernaan mereka memecah selulosa kristal dan mengubahnya langsung menjadi rantai asam amino murni."

Sekar duduk di kursi kayu, menunggu.

Di dalam ruang spasial, waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat.

Satu jam di sini sama dengan beberapa hari siklus hidup ulat.

Sekar memanfaatkan waktu itu untuk bermeditasi di bawah Pohon Data.

Dia menempelkan telapak tangannya ke batang pohon raksasa itu.

Accessing Database...

Sekar memejamkan mata.

Dia tidak mencari resep obat kali ini. Dia mencari teknik.

Keyword: Tenun Sutra Kuno. Teknik Pintal Benang Tunggal. Rekayasa Alat Tenun Non-Mesin.

Informasi itu mengalir masuk ke otaknya seperti aliran data fiber optik.

Gambar-gambar diagram alat tenun dari era Majapahit hingga Dinasti Song berkelebat.

Teknik pernapasan untuk menjaga kestabilan tangan saat memintal.

Cara menyatukan benang yang putus tanpa simpul.

Sekar menyerap semuanya.

Saat dia membuka mata, dia merasa seolah-olah sudah menenun selama lima puluh tahun.

Dia kembali ke meja kerja.

Pemandangan di dalam kotak kardus membuatnya menahan napas.

Ulat-ulat itu sudah berhenti makan.

Ukuran mereka dua kali lipat lebih besar dari ulat normal.

Dan mereka mulai mengeluarkan benang.

Tapi benangnya tidak putih.

Benang itu bening.

Seperti kaca cair yang ditarik memanjang.

"Sutra kaca?" Sekar mengerutkan kening.

Dia mengambil pinset, mencoba menarik ujung benang yang keluar dari mulut salah satu ulat.

Benang itu meregang, tapi tidak putus.

Sekar menarik lebih keras.

Masih tidak putus.

Dia menggunakan gunting bedah.

Kling!

Gunting itu meleset, seolah sedang mencoba memotong kawat baja licin.

Jantung Sekar berdegup kencang.

Adrenalin membanjiri tubuhnya.

Ini bukan sutra biasa.

Struktur molekul Fibroin dalam sutra ini telah bermutasi.

Ikatan hidrogennya jauh lebih padat, menyerupai struktur jaring laba-laba Darwin's Bark Spider, material biologis terkuat di bumi.

"Bio-Polimer Alami," bisik Sekar, suaranya bergetar karena kegembiraan ilmiah.

"Kuat tarik setara baja, tapi elastisitasnya tetap sutra."

Sekar mengambil pipet berisi air, meneteskannya ke atas gumpalan benang yang mulai membentuk kokon.

Tetesan air itu tidak meresap.

Air itu membentuk bola sempurna, menggelinding jatuh tanpa meninggalkan jejak basah sedikitpun.

"Sifat Hydrophobic," Sekar tersenyum lebar.

Efek daun talas.

Struktur nano pada permukaan benang ini menolak molekul air dan kotoran.

Ini adalah Holy Grail dunia tekstil.

Kain yang tidak bisa kotor, tidak mudah sobek, tapi sehalus awan.

Asosiasi Sutra Yogyakarta ingin memboikotnya?

Sekar tertawa kecil. Tawa yang dingin dan penuh kemenangan.

Mereka baru saja memaksanya menciptakan material yang akan membuat sutra impor mereka terlihat seperti kain lap dapur.

Sekar menoleh ke sudut ruangan.

Di sana, teronggok sebuah ATBM tua yang dia temukan di sudut rumah ini saat pertama kali masuk, seperti biasa ruang spasial akan menyediakan kebutuhan Sekar untuk menghadapi tantangan di dunia nyata.

Sementara itu, kokon-kokon mutasi itu sudah siap panen.

Sekar merebusnya sebentar dalam air hangat, bukan air panas mendidih, agar proteinnya tidak rusak.

Proses pemintalan dimulai.

Tangan Sekar bergerak gesit, dipandu oleh memori otot yang dia unduh dari Pohon Data.

Dia menarik ujung benang dari lima kokon sekaligus, menyatukannya menjadi satu untaian benang yang solid.

Roda pemintal berputar.

Whirrr... Whirrr...

Cahaya di dalam ruang spasial memantul pada benang itu, menciptakan kilauan spektrum pelangi yang samar.

Indah sekali.

Sekar tidak mewarnainya.

Warna alaminya adalah putih gading dengan kilau mutiara.

Sekar mulai memasang benang lungsin di alat tenun.

Dia memutuskan untuk menenun dengan pola paling sederhana: Plain Weave.

Tanpa motif rumit. Tanpa hiasan emas.

Dia ingin kain ini berbicara lewat teksturnya.

Clack... Thud. Clack... Thud.

Suara kayu beradu memenuhi ruangan.

Sekar tenggelam dalam ritme itu.

Keringat menetes di pelipisnya, tapi dia tidak merasakannya.

Dia masuk ke dalam Flow State.

Setiap hentakan sisir tenun memadatkan benang bio-polimer itu menjadi lembaran kain.

Semakin panjang kain itu terulur, semakin Sekar takjub.

Kain itu jatuh dengan drape yang sempurna.

Berat, tapi melayang.

Dingin, tapi lembut.

Ini adalah kain yang layak dipakai oleh dewa-dewi, bukan manusia biasa.

Sekar menenun selama berjam-jam menurut waktu ruang spasial.

Otot punggungnya menjerit minta istirahat, tapi otaknya terus memerintah untuk lanjut.

Dia membayangkan wajah angkuh GKR Dhaning.

Dia membayangkan tatapan merendahkan para nyonya sosialita yang menertawakan asal-usul desanya.

"Kalian ingin melihat kelas?" batin Sekar, menghentakkan sisir tenun dengan keras.

"Aku akan tunjukkan apa itu kelas yang sebenarnya."

Akhirnya, dua meter kain selesai.

Sekar memotong benang terakhir.

Dia mengangkat kain itu tinggi-tinggi.

Cahaya matahari menembus serat-serat halusnya, membuatnya berpendar seperti memiliki sumber cahaya sendiri.

Sekar mengelusnya.

Sensasinya aneh.

Licin, namun ada tekstur mikro yang mewah.

Dia mengambil segelas tinta hitam dari meja percobaannya.

Dengan tangan gemetar, dia menumpahkan tinta itu ke atas kain mahakaryanya.

Sreeet...

Cairan hitam itu meluncur begitu saja.

Tidak ada noda. Tidak ada bekas.

Kain itu tetap putih suci tak bernoda.

"Sempurna," desah Sekar. Dia merosot duduk di lantai, kelelahan tapi puas.

Dia menamai kain ini dalam hatinya.

Bukan Sutra. Bukan Katun.

Serat Buana.

Karena kain ini akan mengguncang dunia.

Sekar melirik jam imajiner di kepalanya.

Sudah hampir subuh di dunia nyata.

Bu Sasmi biasanya bangun pukul empat pagi untuk memeriksa apakah Sekar ada di kamarnya.

Sekar segera membereskan kekacauan di laboratorium.

Sekar melipat kain Serat Buana itu rapi-rapi. Mahakarya untuk membungkam mulut sombong para bangsawan sudah siap.

Namun, kening Sekar masih berkerut.

Kain ini hanya satu lembar. Masalah utamanya ada di luar sana: Dua ton kokon yang sedang berdetak menunggu waktu untuk meledak menjadi ribuan ngengat.

Jika dia membiarkan mereka menetas, dia tetap bangkrut.

Sekar menoleh ke sisa daun Murbei Kristal yang tidak dimakan ulat. Getahnya menetes, kental dan bening.

Otak jeniusnya berputar.

"Tunggu," gumamnya. "Daun ini mengandung Phyto-Hormone yang menghambat pertumbuhan sel jika dosisnya ditingkatkan."

Sekar segera mengambil semua sisa daun dan ranting Murbei Kristal.

Dia menumbuknya di dalam lumping batu, lalu mengekstrak sarinya menggunakan alat destilasi sederhana.

Dia mencampurkan sari pati itu dengan air dari mata air spiritual.

Hasilnya adalah satu jerigen cairan berwarna hijau pucat.

"Inhibitor Metamorfosis Alami," Sekar tersenyum puas, mengangkat jerigen itu.

Cairan ini bukan racun. Ini adalah bio-agent yang akan membuat ulat di dalam kokon "tertidur abadi" (mati suri) tanpa membusuk.

Lebih hebatnya lagi, residu cairan ini akan meresap ke dalam serat sutra kokon biasa, melapisi protein Sericin mereka, membuat kokon biasa menjadi 30% lebih kuat dan lebih mengkilap, mendekati kualitas sutra mutasi, meski tidak selevel.

Dengan cairan ini, dia tidak perlu merebus 2 ton kokon itu sekarang. Dia bisa menyemprotnya, lalu menumpuknya di gudang selama berbulan-bulan tanpa takut rusak.

Dia bisa memintalnya pelan-pelan saat dia sudah punya pabrik sendiri nanti.

"Pak Paijo akan lembur malam ini menyemprot gudang," batin Sekar.

Dia memejamkan mata, memvisualisasikan kamarnya.

Pop.

Sekar kembali berbaring di kasurnya yang empuk.

Napasnya masih terengah pelan, sisa kelelahan fisik dari menenun.

Tepat saat itu, dia mendengar langkah kaki pelan.

Gagang pintu kamarnya diputar perlahan dari luar.

Terkunci.

Sekar tersenyum miring dalam kegelapan.

Di bawah selimutnya, tangannya mencengkeram erat bungkusan kain yang dia bawa dari ruang dimensi lain.

"Selamat pagi, Jogja," bisiknya lirih.

"Siapkan dompet kalian."

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!