Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Bab 18 Kenapa Ini Terlihat Begitu
Besar?
"Hei, Denzel, kenapa hari ini datang pagi-pagi sekali, orang lain masih belum bangun!"
Denzel yang baru saja tiba di pintu masuk toko, disambut oleh seorang pria paruh baya yang sedang membersihkan abu di rak toko dengan kemonceng.
Pria paruh baya itu adalah pemilik toko, Daniel Septianto.
Denzel menghampiri Daniel, dia mengeluarkan setengah bungkus rokok dari saku celananya yang dia ambil dari Arvin kemarin. Denzel mengeluarkan satu batang rokok dan memberikannya kepada Daniel. Denzel tersenyum dan berkata, "Paman, hari ini aku datang kemari bukan untuk bermain kartu."
Saat melihat rokok yang diberikan Denzel, Daniel menjadi ragu. "Dasar bocah, kamu pagi-pagi datang kemari bukan untuk meminjam uang, 'kan?"
Denzel mengulurkan rokok yang masih dipegangnya lebih dekat ke Daniel dan mengisyaratkan Daniel untuk segera mengambilnya. Denzel mengerutkan kening dan berkata, "Paman, apa kamu benar-benar menganggap aku orang yang tidak mengerti tata krama? Ini masih pagi, mana mungkin aku pinjam uang darimu!"
Denzel tahu, bagi seorang pedagang atau pebisnis, membuka dompet mereka untuk meminjamkan uang kepada orang lain sebelum pintu toko terbuka itu tidak boleh.
Denzel sering meminjam uang kepada orang-orang.
Tentu saja, sampai kapan pun Daniel tak akan meminjamkan uangnya kepada
Denzel. Tetapi, setelah mendengar Denzel kemari bukan untuk meminjam uangnya, Daniel merasa lega dan segera mengambil rokok yang diberikan oleh Denzel. Daniel menyeringai dan berkata, "Katakan, ada apa, jika ada yang bisa paman bantu, pasti paman akan membantu."
Denzel tersenyum tipis sambil berbalik badan dan menatap mobil van yang terparkir di pintu masuk toko, lalu berkata, "nggak apa-apa, Aku hanya ingin meminjam mobil Paman untuk pergi ke kabupaten."
Tangan Daniel sedikit bergetar, setelah mendengar perkataan Denzel. Dia menyesal sudah mengambil rokok pemberian Denzel.
Tetapi, dia sudah menerima rokok Denzel dan juga mendengar permintaan Denzel. Daniel tidak enak untuk menolak, lagi pula hari ini dia juga tidak memerlukan mobil van tersebut. Daniel
Menyematkan rokok di telinganya dan bertanya kepada Denzel, "Kamu pergi ke kabupaten untuk apa?"
Denzel tak ingin berkata jujur. "Di sana ada proyek yang bisa menghasilkan uang. Aku ingin pergi dan melihatnya," jawab Denzel. Denzel menatap Daniel. "Paman tenang saja, saat pulang nanti, mobilmu akan kuisikan minyak sampai penuh."
Daniel sama sekali tidak memercayai jawaban dari Denzel.
Proyek yang menghasilkan uang, paling juga ada permainan judi baru di kabupaten.
Daniel juga tak mengharapkan Denzel bisa mengisi mobilnya dengan penuh.
Denzel adalah seorang yang suka mengambil keuntungan. Keberuntungan Denzel sangat buruk, dia selalu kalah
Setiap kali bermain kartu di toko Daniel.
Bagaimana Daniel bisa mengharapkan Denzel menang, dan mengisikan minyak untuk mobilnya.
Walau Daniel berpikir seperti itu di dalam hatinya, tapi dia tidak mengatakannya. Daniel pergi mengambil kunci mobil, lalu melemparkan kunci tersebut kepada Denzel, dan berkata, "Pakailah, tapi minyak di mobil juga sisakan sedikit, jangan sampai kamu pulang dengan mendorongnya."
Denzel mengulurkan tangan dan mengambil kunci yang dilemparkan oleh Daniel. "Terima kasih, Paman."
Setelah berterima kasih, Denzel mengambil kunci, dan berjalan ke arah mobil van berada. Denzel membuka pintu van dan menyalakan mobilnya. Dia lalu memutar setir mobil dan pergi meninggalkan toko Daniel.
Baru saja pergi meninggalkan toko, mobil itu mundur kembali lagi.
Daniel sedikit bingung melihat mobil van itu mundur kembali ke pintu masuk toko. Daniel berpikir dalam hati, apa yang akan dilakukan bocah ini lagi?
Denzel menurunkan jendela mobil, menjulurkan kepalanya, dan berkata kepada Daniel, "Paman, kasih aku beberapa kantong plastik yang nggak terpakai, dong!"
"Dasar!"
Daniel bergumam sambil mengambil beberapa kantong plastik yang tergantung di kait samping. Dia lalu berjalan keluar dari toko dan menyerahkan kantong plastik kepada Denzel, "Dasar kamu, pagi-pagi datang ke sini bukannya untuk beli sesuatu, tapi malah minta ini itu!"
"Bukan minta, hutang dulu, nanti
sore waktu pulang, aku bayar, deh."
"Sudah, sudah, kantong plastik itu juga nggak seberapa."
"Oke, kalau begitu aku minta plastiknya, ya. Lain kali aku bawa Paman pergi ke Pusat Kesehatan, deh."
Setelah selesai berkata, Denzel menyalakan mobil dan pergi meninggalkan desa.
Denzel masih harus kembali ke rumahnya, untuk membawa beberapa alat untuk menjual stroberi.
Denzel menghentikan mobil van di pintu, lalu turun dan berjalan ke halaman.
Sesampainya di rumah, Denzel mencari-cari di dalam dan di luar rumah. Dari dalam rumah, dia
Sebelum keluar, Denzel pergi ke dapur untuk mengambil piring, pisau kecil yang ada di laci, botol air yang sudah terisi air, dan juga setengah bungkus tusuk gigi.
Setelah memindahkan semua barang yang diperlukan ke mobil van, Denzel menyalakan mobil dan melaju pergi ke kabupaten.
Sekitar jam setengah sepuluh.
Denzel tiba di kabupaten.
Denzel berkeliling di jalanan kabupaten sebelum akhirnya menemukan lokasi yang bagus. Lokasi itu di trotoar samping pintu masuk dan keluar pasar.
Sekarang sekitar pukul sepuluh, yang merupakan waktu paling ramai untuk membeli sayuran dan membuat
Makan siang.
Banyak orang yang berlalu-lalang masuk ke pasar, ada juga pasangan, ibu-ibu dan bapak-bapak yang keluar dari pasar setelah berbelanja untuk kebutuhan satu hari atau untuk beberapa hari kedepan.
Di kedua sisi jalan pintu masuk pasar, terparkir beberapa kendaraan beroda tiga yang menjual buah-buahan.
Para pedagang berteriak keras menawarkan barang dagangan mereka agar dibeli oleh pembeli.
Denzel juga sudah menemukan tempat di dekat pintu masuk dan keluar pasar. Dia menghentikan mobil van, lalu membuka sabuk pengamannya dan berjalan ke bagasi van.
Mobil van ini selalu digunakan untuk membawa barang, jadi kursi di belakangnya sudah dilipat, dan memberikan ruang yang cukup luas di
Tengahnya.
Denzel melihat sekeliling dan memastikan bahwa tidak ada orang di sekitarnya. Baru setelah itu, dia membawa beberapa keranjang bambu dan sosoknya memasuki Ruang Cincin.
Ketika dia sampai di Ruang Cincin, Denzel menaruh keranjang bambu di samping dan mulai memetik stroberi.
Dia memetik stroberi seukuran kepalan tangannya satu per satu dan menyusunnya secara melingkar.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tiga keranjang bambu yang dibawa oleh Denzel sudah di penuhi stroberi merah. Denzel membawa semua stroberi itu ke sisi Mata Air Ajaib, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil Mata Air Ajaib dan menuangkannya ke tumpukan stroberi tersebut.
Stroberi yang sudah berwarna
Merah terang semakin menarik saat diberi tetesan air dari Mata Air Ajaib.
Kemudian, Denzel melakukan beberapa kali perjalanan ke Ruang Cincin untuk mengambil stroberi dan menaruhnya di bagasi mobil van hingga penuh.
Setelah menumpuk semua stroberi di pintu bagasi mobil van, Denzel membuka pintu van dan melompat keluar.
Setelah turun dari mobil, Denzel menepuk-nepuk tubuhnya untuk membersihkan tanah yang menempel. Dia berjalan ke belakang mobil van dan membuka pintu bagasi. Saat pintu bagasi mobil terbuka, stroberi merah dan berkilau langsung terlihat. Aroma stroberi pun menyebar.
Denzel perlahan-lahan memindahkan keranjang bambu itu keluar, sehingga orang-orang yang lewat
Bisa melihat stroberinya. Pada saat yang sama, dia juga menyiapkan kantong plastik, piring buah dan pisau buah yang dibutuhkan untuk menjual stroberi nanti.
Stroberi ini tampak sangat besar dan lezat.
Denzel menjualnya dengan harga tinggi, setidaknya di awal penjualan, dia bisa memberikan sedikit potongan stroberi untuk dicicipi orang-orang.
Selama para pembeli memakan stroberinya, dia yakin, walau harga stroberi itu agak mahal, mereka pasti akan membelinya.
Sepertinya, di dunia ini tak ada lagi penjual lain selain dirinya yang menjual stroberi yang begitu lezat dan besar, juga menyegarkan otak.
Pada saat ini, banyak orang yang berlalu-lalang. Secara tidak sengaja,
Mata mereka melihat ke arah mobil van Denzel. Ketika mereka melihat warna merah cerah di mobil van, perhatian mereka segera tertarik.
"Eh! Apa yang ada di dalam mobil van itu? Itu apel? Merah kali!"
"Ah? Itu terlihat seperti strawberry, 'kan? Aku bisa mencium aromanya, kenapa sepertinya lebih besar dari kepalan tanganku?"
"Hei! Apa yang ada di mobil pemuda itu? Kelihatannya merah-merah. Aku hari ini nggak pakai kacamata, nggak nampak jelas!"
"Ayo, kita ke sana saja!"