Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar yang menyakitkan
“Jaga anak saya dengan pikiran setenang itu juga.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi penuh makna.
Schevenko berdiri ikut, lalu menjawab dengan serius, “InsyaAllah, Yah.”
Ada sesuatu dalam suaranya yang berbeda—lebih dalam, lebih mantap. Bukan sekadar formalitas.
Ayah mengangguk puas, lalu tiba-tiba menoleh kepadaku.
“Nak, buatkan dua kopi ya. Untuk ayah dan suamimu. Ayah mau merokok di belakang rumah sama suamimu sambil main catur lagi.”
Suamimu.
Kata itu lagi.
Aneh, setiap kali ayah mengucapkannya, rasanya seperti menggeser sesuatu dalam hatiku. Bukan takut. Bukan malu sepenuhnya. Tapi seperti benih kecil yang mulai tumbuh tanpa aku sadari.
“Iya, bentar ya, Yah,” jawabku sambil berdiri dan berjalan menuju dapur.
“Ini tehnya gimana?” tanya ibu sambil menatap ayah.
Ayah menjawab cepat, “Anak muda itu sukanya kopi, malah dibuatin teh. Biar Zahra aja nanti yang minum.”
Aku terkekeh kecil.
Schevenko hanya tersenyum, terlihat sedikit canggung tapi tidak keberatan.
Ibu mendekat padaku, suaranya lebih pelan sekarang. “Kamu minum teh aja ya sama ibu?”
Aku mengangguk. “Iya, Bu.”
Tanganku mulai menyiapkan dua cangkir kopi. Bau bubuk kopi yang diseduh air panas langsung memenuhi dapur. Aroma yang sangat familiar—aroma yang selalu menemaniku setiap pagi sejak kecil.
Ayah memang selalu minum kopi.
Dulu, setiap aku pulang dari pesantren , aku sering bangun dan melihatnya duduk sendirian di belakang rumah, menyeruput kopi sambil menatap langit yang masih gelap.
Entah kenapa, ingatan itu membuat dadaku terasa hangat sekaligus sesak.
“Zahra…” suara ibu lembut di sampingku.
Aku menoleh.
“Kamu kelihatan bahagia.”
Aku terdiam sejenak.
“Iya, Bu,” jawabku pelan.
Ibu tersenyum, tapi matanya tajam seperti biasa—menembus lebih dalam dari sekadar jawaban singkat.
“Bahagia itu bukan cuma karena diperlakukan baik,” katanya pelan. “Tapi karena merasa aman.”
Aku mematikan kompor kecil di bawah ketel, lalu menuangkan air panas ke cangkir.
“Aku merasa aman, Bu.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan saat aku mengucapkannya, aku sadar… itu benar.
Ibu mengangguk pelan, lalu mengusap punggung tanganku. “Kalau begitu, Ibu tenang.”
Aku membawa dua cangkir kopi ke belakang rumah.
Halaman belakang tidak banyak berubah. Masih ada kursi kayu panjang dan meja kecil tempat ayah biasa duduk. Pohon jambu di sudut masih berdiri, daunnya lebih rimbun dari terakhir kali kulihat.
Ayah sudah duduk di sana, rokok di tangannya. Schevenko duduk di seberangnya, papan catur kembali terpasang.
Aku meletakkan kopi di meja.
“Nih, Yah.”
Ayah tersenyum. “Terima kasih, Nak.”
Schevenko menatapku sekilas. “Makasih.”
Tatapannya lebih lembut dari biasanya. Lebih lama juga.
Aku duduk di kursi kecil di samping, memegang cangkir teh yang tadi ibu berikan.
Angin siang bergerak pelan, membawa aroma tanah dan asap rokok yang tipis.
Ayah menggerakkan bidak pertama.
“Kamu tahu,” kata ayah tiba-tiba, masih menatap papan catur, “Zahra waktu kecil susah banget disuruh berani.”
Aku langsung protes kecil. “Yah…”
Schevenko tersenyum. “Oh ya?”
“Iya. Kalau disuruh presentasi di depan kelas, bisa nangis duluan,bahkan saat awal dia di pesantren nangis tiga hari tiga malam.”
Aku memalingkan wajah, malu.
“Tapi sekarang,” lanjut ayah, “kelihatannya sudah beda.”
Schevenko melirikku sekilas. “Iya. Sangat beda.”
Nada suaranya tidak mengejek. Justru ada kebanggaan tipis di sana.
Aku menyesap tehku pelan, mencoba menyembunyikan senyum.
Angin bergerak ringan di halaman belakang. Ayah masih fokus pada papan catur, rokoknya tinggal setengah. Suasana terasa hangat, stabil—seolah tidak ada yang bisa mengusiknya.
Lalu tiba-tiba—
Ponsel Schevenko berdering.
Nada deringnya terdengar tajam di antara suara daun dan gesekan bidak catur.
Ia melihat layar ponselnya.
Ekspresinya berubah.
Bukan panik. Tapi serius.
Ia berdiri perlahan. “Maaf, Yah. Saya angkat dulu.”
Ayah mengangguk. “Silakan.”
Ia menjauh beberapa langkah, tetap di halaman tapi sedikit menjauh dari meja.
Aku memperhatikannya.
Suaranya terdengar lebih rendah sekarang, dan ia berbicara dalam bahasa Inggris. Cepat. Tegas. Beberapa kata terdengar seperti istilah bisnis yang tidak kumengerti.
“Yes… I understand.”
“No, I’ll handle it.”
“Tonight? That soon?”
A short pause.
"Okay, I'll fly this afternoon too."
Dadaku mulai terasa tidak enak.
Ayah masih memandangi papan catur, tapi aku tahu ia juga mendengar nada suara itu.
Percakapan selesai.
Schevenko menurunkan ponselnya perlahan.
Ia tidak langsung kembali.
Ia berdiri diam beberapa detik, menatap kosong ke tanah.
Lalu ia berjalan kembali ke arah kami.
Langkahnya tidak tergesa. Tapi lebih berat dari sebelumnya.
“Ayah Zahra…” katanya pelan.
Ayah mendongak.
“Saya mau pergi ke luar negeri. Ada urusan mendadak.”
Udara terasa berubah.
“Apa?” suaraku keluar lebih cepat dari yang kumaksudkan.
Ia menoleh padaku, lalu kembali pada ayah.
“Zahra di sini dulu ya, Yah. Di rumah ayah. Mungkin dua hari saya balik.”
Dua hari.
Hanya dua hari.
Tapi kenapa rasanya seperti kata itu menjauhkan sesuatu dari dadaku?
Aku berdiri tanpa sadar. “Ke mana? Urusan apa?”
Ia menatapku. “Tentang perusahaan.”
Jawabannya singkat.
Terlalu singkat.
Dadaku terasa benar-benar sakit.
Bukan karena marah.
Bukan karena tidak percaya.
Tapi karena perasaan yang tiba-tiba datang tanpa permisi—
Aku merasa ditinggalkan.
Padahal tadi pagi kami tertawa. Bercanda. Bicara tentang kata “sayang”.
Sekarang ia bicara soal pergi.
Ayah bersandar, lalu berkata tenang, “Ya tidak apa-apa. Pergilah. Biar Zahra di sini dulu.”
Kalimat itu rasional.
Masuk akal.
Tapi hatiku tidak rasional.
Aku menunduk, mencoba menenangkan napas.
Ibu datang dari arah dapur, mungkin mendengar percakapan terakhir.
“Ada apa ini?” tanyanya lembut.
Schevenko menjelaskan lagi secara singkat.
Ibu mengangguk pelan. “Kalau memang penting, pergilah. Zahra di sini aman.”
............... ...