Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sandiwara di Tengah Pesta
Surat cerai itu masih tergeletak di atas meja kayu yang reot saat ponsel dengan layar retak seribu di sampingnya bergetar hebat. Nama Fikar muncul di sana. Awalnya aku berniat mengabaikannya saja, membiarkan benda itu mati sendiri, namun ia menelepon berkali-kali seolah ada keadaan darurat yang memaksa. Akhirnya aku menyerah dan mengangkatnya. Di sudut hati yang paling dalam, aku sempat berharap mendengar suara yang pecah oleh penyesalan untuk terakhir kalinya, namun yang menyapa telingaku justru nada bicara yang sangat formal, dingin, dan terjaga.
Kiki, aku butuh bantuanmu. Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke enam puluh perusahaan keluarga. Ibu menuntut kita hadir bersama. Semua kolega bisnis dan media akan ada di sana. Jika kamu tidak datang, spekulasi tentang keretakan hubungan kita akan menghancurkan saham perusahaan, ucapnya tanpa basa basi sedikit pun.
Aku tertawa, sebuah tawa pedih yang terasa perih di tenggorokan. Kamu baru saja mengirimiku surat cerai, Mas. Dan sekarang kamu memintaku menjadi pajangan di pestamu? Kamu benar benar tidak punya malu.
Hanya malam ini, Ki. Anggap saja ini sebagai tugas terakhirmu dalam kontrak kita yang sebenarnya. Setelah malam ini, aku akan mempercepat proses perceraian dan memberimu pesangon yang lebih dari cukup untuk hidup tenang. Aku mohon, suaranya merendah, ada nada putus asa yang terselip meski ia mencoba menyembunyikannya.
Mungkin karena sisa-sisa kebodohanku yang belum tuntas, atau mungkin karena aku ingin menunjukkan pada Ibu Sofia bahwa aku belum mati meskipun sudah dihancurkan, aku akhirnya setuju. Malam itu, sebuah mobil jemputan kelas atas datang ke rumah petakku. Aku mengenakan gaun hitam yang elegan namun tertutup, sengaja kupilih untuk menyembunyikan tubuhku yang kian kurus. Perias yang dikirim Fikar bekerja keras, memulas make up tebal demi menutupi bengkak di mataku yang tidak bisa hilang hanya dengan kompres air dingin.
Saat tiba di hotel bintang lima tempat acara berlangsung, Fikar sudah menungguku di lobi. Ia mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya tampak sangat berwibawa, namun matanya kosong, seperti tidak ada nyawa di sana. Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambutnya, namun sentuhan itu terasa seperti bongkahan es yang membeku. Tidak ada lagi percikan listrik atau debaran jantung yang dulu sering membuatku sesak napas. Yang ada hanyalah rasa mual yang mati-matian kutahan.
Kami melangkah masuk ke ruang aula yang megah. Lampu kristal bersinar menyilaukan mata, dan ratusan pasang mata seketika tertuju pada kami. Kami berjalan berdampingan, melempar senyum palsu ke arah kilatan kamera media, sementara tangannya melingkar di pinggangku dengan gaya posesif yang terasa sangat dipaksakan. Di atas panggung, aku melihat Ibu Sofia berdiri dengan anggun, dikelilingi oleh para sosialita ibu kota. Namun, tepat di sampingnya, duduk seorang wanita yang kehadirannya membuat pasokan oksigen di paru-paruku seolah terhenti.
Clara. Ia mengenakan gaun sutra longgar yang dengan bangga memperlihatkan perutnya yang semakin menonjol. Ia duduk di sana seolah dialah sang ratu malam itu, pemilik sah singgasana Dirgantara. Ibu Sofia sesekali mengelus perut Clara di depan tamu-tamu penting, pameran terang-terangan tentang harta paling berharga yang sedang dinanti keluarga mereka.
Tersenyumlah, Ki. Kamera ada di mana-mana, bisik Fikar tepat di telingaku saat kami menyapa salah satu direktur bank.
Bagaimana aku bisa tersenyum melihat suamiku memamerkan selingkuhannya di depan ibunya sendiri? balasku dengan senyum yang dipaksakan hingga pipiku terasa kaku dan kram.
Puncak penderitaanku terjadi saat sesi pidato dimulai. Fikar naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan singkat. Namun di tengah pidatonya, Ibu Sofia mengambil alih mikrofon dengan gestur yang dominan.
Malam ini bukan hanya tentang perusahaan, tapi tentang masa depan keluarga kami, suara Ibu Sofia menggema dengan nada bangga yang memenuhi ruangan. Kami sangat bahagia mengumumkan bahwa pewaris sah keluarga Dirgantara sedang tumbuh di rahim yang diberkati. Kami mohon doa restu dari kalian semua.
Seluruh ruangan seketika riuh oleh tepuk tangan. Lampu sorot berpindah ke arah Clara yang tersenyum malu-malu, lalu bergeser ke arahku yang berdiri mematung di tengah kerumunan tamu. Orang-orang mulai berbisik, saling menyenggol lengan satu sama lain. Mereka menatapku dengan kombinasi tatapan menghina, mengasihani, dan meremehkan. Aku bisa mendengar bisikan-bisikan tajam itu, kasihan ya, istri sah tapi mandul, atau lihatlah, dia hanya pajangan sementara simpanannya membawa pewaris sesungguhnya.
Aku menatap Fikar yang berdiri di panggung. Ia menunduk, tidak punya keberanian sedikit pun untuk menatap mataku. Ia membiarkan ibunya mempermalukanku di depan publik demi menjaga stabilitas harga saham dan nama baik calon anaknya. Di detik itu, aku menyadari sepenuhnya bahwa aku bukan lagi manusia di mata mereka. Aku hanyalah properti sandiwara yang sudah kadaluwarsa dan siap dibuang ke gudang.
Aku tidak tahan lagi. Dengan sisa martabat yang masih kumiliki, aku melepaskan pegangan tanganku pada gelas sampanye hingga benda itu pecah berkeping-keping di lantai marmer. Suara denting kaca yang hancur itu menghentikan keriuhan sejenak. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar. Aku tidak peduli lagi pada teriakan Fikar yang memanggil namaku, atau tatapan sinis penuh kemenangan dari Ibu Sofia.
Aku berlari menyusuri koridor hotel yang sepi, melepaskan sepatu hak tinggiku yang menyiksa, dan terus berlari hingga mencapai balkon luar yang menghadap langit kota. Di sana, di bawah hujan rintik Jakarta yang dingin, aku akhirnya meraung. Isak tangisku tenggelam oleh suara klakson kendaraan yang bersahut-sahutan di bawah sana. Sandiwara ini benar-benar berakhir malam ini. Bukan dengan proses perceraian yang tenang, tapi dengan penghinaan yang akan kupahat dalam ingatanku seumur hidup.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.