Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Angin malam di atas jalan layang berdesir tajam seperti bilah pisau. Lampu-lampu kota Roma berpendar di bawah, memantul di permukaan Sungai Tiber yang mengalir hitam dan dingin. Arusnya tampak tenang dari kejauhan, tetapi siapa pun yang jatuh ke dalamnya akan tahu betapa ganas suhu airnya di musim dingin.
Di bahu jalan, suasana kacau belum reda. Sandrina berdiri tegang di tepi pembatas jalan, napas memburu, jilbabnya sedikit miring, gamisnya basah di beberapa bagian. Di bawah sana, Alecio baru saja menghilang ditelan arus.
Beberapa detik pertama, semuanya sunyi. Lalu meledak menjadi kekacauan.
“BOS!”
“AMBIL TALI!”
“CEPAT, KE TEPI!”
Anak buah mafia Serigala Hitam berlari serempak ke arah Sandrina, bukan untuk menyerang, melainkan untuk melewati dirinya dan melompat ke sungai menyelamatkan Alecio.
Namun, dari sudut pandang Sandrina, yang ia lihat adalah segerombolan pria bertubuh besar, berwajah keras, berlari ke arahnya dengan ekspresi panik dan marah.
Jantung Sandrina berdegup liar. Mata melebar. Yang ada dalam pikiran wanita itu, “Mereka mau membunuh aku!”
Tanpa berpikir dua kali, tanpa menimbang, tanpa menawar, tanpa sempat berdoa panjang, Sandrina berbalik, memanjat pembatas jalan layang, dan dengan nekat luar biasa dia pun melompat ke bawah.
“ALLAHU AKBAR—!”
BYUUUUR!
Air sungai menyambar tubuhnya seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit sekaligus. Langsung teras dingin. Bukan dingin biasa. Namun, dingin yang membekukan. Ini dingin yang menggigit tulang, menghempas napas, membuat dada terasa sesak.
Sandrina spontan tersentak, tubuhnya menggigil hebat begitu tenggelam ke dalam air. Kain gamisnya mengembang berat, menariknya ke bawah seperti jangkar.
Beberapa meter di bawah permukaan, Alecio sedang berjuang naik. Efek “peluru khusus” di tubuhnya sudah berubah total, bukan lagi panas membara penuh gairah, melainkan rasa beku yang menjalar ke setiap otot. Napasnya terengah, paru-parunya perih, tangannya mengayuh air dengan susah payah. Ketik dia hampir mencapai permukaan, tiba-tiba—
BRUK!
Sesuatu jatuh menimpa kepalanya. Bukan benda tajam. Bukan batu. Tapi sesuatu yang terbalut kain. Kain panjang, lebar, dan melambai-lambai.
Ya. Itu adalah rok gamis Sandrina.
Kepala Alecio langsung terselubung di dalamnya. Dunia mendadak gelap gulita.
Alecio panik. Ia berusaha mengibaskan kain itu, tetapi arus air membuatnya makin terjerat. Kain basah menempel di wajahnya, menutup pandangan, masuk ke mulutnya. Ia tersedak air.
Sandrina, yang juga panik, merasa ada “sesuatu” bergerak di sekitar kakinya. Sesuatu yang menyentuh betis dan pahanya. Sesuatu yang mendorong-mendorong. Instingnya menjerit, “BAHAYA!”
Tanpa tahu itu kepala Alecio, Sandrina mulai menendang sekuat tenaga.
“LEPAS! LEPAS! JANGAN PEGANG AKU!” teriaknya, meski suaranya teredam air. Kakinya menghantam sesuatu keras.
Alecio mengerang kesakitan terkena tendangan maut Sandrina. Kepala dia malah semakin terperangkap di dalam kain. Ia mencoba meraih pergelangan kaki Sandrina untuk melepaskan diri.
Sandrina mengira dia diserang oleh hewan buas di dalam air. Ia menendang lebih brutal lagi.
Di bawah air, terjadilah adegan paling absurd dalam hidup Ketua Mafia Serigala Hitam. Dua orang saling menyerang tanpa melihat satu sama lain, tanpa tahu siapa lawannya, hanya terhalang oleh gulungan kain basah yang berputar-putar di arus sungai.
Alecio menarik kain. Sandrina menendang.
Alecio mendorong ke atas. Sandrina berontak.
Air bergolak. Gelembung-gelembung udara berhamburan.
Sementara itu, di atas permukaan—
“BOS DI MANA?!”
Anak buah Alecio sudah siap dengan tali, pelampung, dan senter. Satu per satu mereka melompat ke sungai.
BYUUUUUR! BYUUUUUR! BYUUUUUR!
Tubuh-tubuh besar itu menerobos air dingin, menyelam mencari bayangan bos mereka yang hilang. Beberapa detik kemudian, tangan-tangan kuat menarik sesuatu dari bawah.
Bukan satu, tetapi dua. Alecio dan Sandrina diseret naik ke tepi sungai, tubuh mereka menggigil tak terkendali, bibir membiru, rambut dan pakaian basah kuyup meneteskan air.
Alecio terbatuk keras, memuntahkan air sungai. Jaket mahalnya sekarang tampak seperti kain lap lusuh.
Sandrina duduk terkulai di tepi beton, tubuhnya gemetar hebat, giginya beradu cepat.
“Ta-ta-ta-tas… ta-ta-ta-tas-ku…”
Patrick menatap mereka bergantian, bosnya yang hampir mati, dan wanita nekat yang barusan melompat ke sungai. Ia mengusap darah di hidungnya, menahan dorongan untuk berteriak.
Alecio mencoba berdiri, tetapi kakinya lemas. Suaranya bergetar, nyaris tidak jelas.
“K-kau… w-wanita g-gila…”
Sandrina, meski menggigil setengah mati, tetap tidak kehilangan mulutnya. Dengan bibir gemetar dan suara terbata-bata, ia menunjuk sungai.
“Ta-tas… tas-ku… ha-hanyut! Di da-dalamnya ada p-p-ponsel, pa-paspor, do-dompet, K-KTP, ma-makeup, p-powerbank, da-dan… da-dan…”
Sandrina terhenti karena giginya bergetar terlalu hebat.
Alecio menatapnya tak percaya. Di ambang kematian tadi, dan yang dipikirkan wanita ini adalah tas?
Max, salah satu anak buahnya, berbisik pelan, “Bos, wanita itu benar-benar nekat.”
Alecio hanya bisa menghela napas dingin, lalu kembali menggigil.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil van hitam berhenti di tepi sungai. Beberapa anak buah membantu Alecio dan Sandrina masuk ke dalam, membungkus mereka dengan selimut tebal. Sandrina sempat berontak, tetapi tubuhnya terlalu lemah karena kedinginan.
Mobil melaju meninggalkan lokasi, membelah malam Roma menuju markas Serigala Hitam. Markas itu berdiri megah di atas bukit. Bangunan kuno bergaya kastil Eropa dengan dinding batu tebal, menara tinggi, gerbang besi raksasa, dan benteng kokoh mengelilinginya. Lampu-lampu kuning hangat menyala di sepanjang halaman luas, memantulkan bayangan panjang yang dramatis.
Ketika Sandrina turun dari mobil, ia terpaku. Mulutnya sedikit terbuka dan mata yang tak berkedip.
“Astaghfirullah, ini kastil asli?” gumam Sandrina tanpa sadar.
Para anak buah Alecio mengawal ketat, membawanya masuk melewati gerbang besar yang berderit berat saat terbuka. Koridor panjang berlantai marmer, lukisan-lukisan antik tergantung di dinding, lampu gantung kristal berkilau di langit-langit tinggi.
Sandrina merasa seperti masuk ke film mafia, hanya saja ia bukan pemeran utama yang keren. Ia adalah tawanan yang basah kuyup, kedinginan, dan kehilangan tas berharga.
Alecio, yang berjalan beberapa langkah di depannya, berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Tatapannya tajam dan dingin, tetapi ada sesuatu lain di sana.
“Selamat datang di markas Serigala Hitam,” kata Alecio pelan dalam bahasa Inggris, suaranya kini lebih stabil.
Sandrina menegakkan punggungnya meski masih menggigil. “Aku tidak pernah minta datang ke sini,” balasnya ketus.
Alecio menyeringai tipis. “Sekarang kau di sini dan kau tidak akan pernah bisa kabur.”
“Alah, mboh! Aku ora mudeng,” balas Sandrina kesal, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Alecio dalam bahasa Italia.
Pintu besar di belakang mereka tertutup dengan bunyi berat.
BAM!
Sandrina menarik napas dalam. Jantungnya berdebar kencang. Ia mungkin berhasil bertahan malam ini, entah untuk hari esok.
Dia baru saja masuk ke sarang Serigala Hitam. Dan untuk kabur dari sana? Sepertinya semakin mustahil.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu