NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KOTA YANG TIDAK PERNAH PULIH

Manchester menyambut mereka kembali bukan dengan pelukan, melainkan dengan gerimis tipis yang terasa seperti sisa-sisa air laut yang belum kering dari ingatan Elara. Tiga minggu telah berlalu sejak insiden mercusuar. Elara memutuskan untuk tidak kembali ke London. Ia telah mengajukan cuti panjang yang kemungkinan besar akan berakhir dengan pengunduran diri. Bagaimana mungkin ia bisa kembali memeriksa laporan keuangan perusahaan sementara di kepalanya masih terngiang suara Arlo yang berteriak di tengah badai?

Ia menyewa sebuah apartemen kecil di Northern Quarter. Ruangan itu memiliki langit-langit tinggi dengan bata ekspos dan jendela besar yang menghadap ke jalanan yang selalu basah. Di sudut ruangan, Arlo duduk di kursi malas yang ia beli dari pasar loak. Arlo hampir tidak pernah beranjak dari sana.

"Kau mau teh?" tanya Elara, berusaha memecah kesunyian yang terasa berat di dalam ruangan itu.

Arlo hanya menggeleng pelan. Matanya tertuju pada tangannya sendiri yang terletak di atas pangkuan. Jari-jarinya, yang dulu selalu bergerak gelisah mencari senar gitar, kini diam mematung. Arlo sedang menjalani apa yang disebut dokter sebagai 'keheningan pasca-trauma'. Setelah bertahun-tahun hidup dalam distorsi suara yang ekstrem, otaknya seolah-olah sedang mematikan semua sistem pendengarannya sebagai bentuk perlindungan diri.

"Jamie bilang dia akan mampir sore ini," lanjut Elara sambil meletakkan cangkir di meja kayu yang retak. "Dia membawakan beberapa piringan hitam tua. Bukan rekamanmu, Arlo. Hanya musik jazz lama. Dia pikir itu mungkin akan membantumu."

Arlo akhirnya menoleh. Wajahnya tampak lebih bersih, namun sorot matanya masih menyimpan kabut. "Aku tidak tahu apakah aku ingin mendengar musik lagi, El. Setiap kali ada suara yang masuk ke telingaku, aku mulai membedahnya secara otomatis. Aku mencari frekuensi yang salah. Aku mencari *dirimu* di dalam suara itu, meskipun kau ada di depanku."

Elara duduk di lantai di depan Arlo, menyandarkan punggungnya pada kursi pria itu. "Kau tidak perlu mencari lagi. Aku tidak akan ke mana-mana. Kita tidak lagi berada di dalam lagu itu, Ar."

"Tapi dunia luar tidak berpikir begitu," gumam Arlo.

Itu adalah kebenaran yang pahit. Sejak berita tentang kebakaran mercusuar dan penemuan peralatan musik misterius di sana mencuat ke permukaan, komunitas musik bawah tanah di Inggris mulai gaduh. Teori-teori konspirasi bermunculan di internet. Ada yang menyebut Arlo sebagai jenius yang dikorbankan, ada yang menyebutnya gila, dan yang paling parah—seseorang telah membocorkan demo asli "About You" ke platform streaming tanpa izin.

Lagu itu menjadi viral dengan cara yang mengerikan. Dalam hitungan hari, lagu itu diputar jutaan kali. Orang-orang terobsesi dengan 'suara wanita misterius' yang ada di dalamnya. Elara, yang selama sepuluh tahun membangun karier sebagai wanita profesional yang anonim, tiba-tiba menjadi subjek pencarian orang-orang di media sosial.

"Elara, lihat ini," Jamie masuk ke apartemen dengan wajah pucat, memegang ponselnya.

Elara berdiri dan mendekat. Di layar ponsel Jamie, ada sebuah forum musik besar. Judul utasnya: *'Mencari Elara: Sosok di Balik Lagu Paling Menyedihkan Dekade Ini'*. Di sana ada foto buram Elara saat keluar dari rumah sakit Blackpool.

"Mereka mulai melacak kita, El," kata Jamie cemas. "Bukan cuma penggemar fanatik, tapi label rekaman. Mereka ingin membeli hak cipta lagu itu. Mereka mencium aroma uang di tengah duka kalian."

Elara merasa mual. Apa yang bagi mereka adalah sebuah tragedi dan perjuangan hidup mati, bagi dunia industri hanyalah konten yang bisa dipasarkan. Keaslian rasa sakit Arlo kini menjadi komoditas.

"Kita harus mematikan semua ini," kata Elara tegas. "Arlo tidak butuh sorotan. Dia butuh kesembuhan."

Namun, sore itu juga, sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintu apartemen mereka. Tidak ada alamat pengirim. Hanya ada inisial besar di bagian depan: **M**.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama. Foto Arlo dan Elara yang sedang tertawa di sebuah taman kecil, diambil secara diam-diam dari kejauhan sepuluh tahun lalu. Di balik foto itu tertulis: *'Lagu itu milikku, Arlo. Kau tahu perjanjiannya. Jika kau tidak ingin Elara ikut hancur dalam publisitas ini, hubungi aku dalam 24 jam. - Marcus.'*

Elara menjatuhkan foto itu. Marcus. Mantan produser Arlo yang licik, yang dulu hampir membuat Arlo menandatangani kontrak yang menyerahkan seluruh nyawanya pada label. Marcus telah kembali, dan kali ini dia memiliki senjata yang sangat kuat: rasa takut Elara akan masa lalunya yang terbongkar.

"Siapa itu?" tanya Arlo, menyadari perubahan ekspresi Elara.

Elara mencoba menyembunyikan foto itu, tapi tangannya gemetar. "Bukan siapa-siapa, Ar. Hanya surat salah alamat."

Tapi Elara tahu, dia tidak bisa berbohong selamanya. Manchester, yang dia pikir akan menjadi tempat mereka bersembunyi dan pulih, ternyata sudah menjadi jebakan. Setiap bayangan di gang-gang Northern Quarter kini terasa seperti mata Marcus yang sedang mengawasi.

Bab ini berakhir dengan Elara yang berdiri di balkon, menatap hujan Manchester, menyadari bahwa ketenangan yang mereka miliki hanyalah ilusi sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. Mereka harus pergi. Bukan karena mereka ingin, tapi karena gema dari masa lalu tidak akan membiarkan mereka hidup dalam diam.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!