NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Makhluk di depanku berdiri tegak dengan postur yang tidak wajar. Ia tidak memiliki wajah yang simetris, namun aku tahu ia sedang menatapku. Suara di kepalaku bukan lagi sekadar notifikasi digital yang dingin. Getarannya terasa nyata, merayap dari telinga hingga ke dasar jantungku.

"Tuan, apakah Anda ingin menghapus mereka semua?"

Pertanyaan itu terdengar begitu menggoda di tengah kepungan ini. Aku menoleh ke arah He Ran yang masih bersandar lemas pada sebatang pohon tumbang. Napasnya tersengal, namun matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Jangan lakukan itu, Han Wol," rintih He Ran sembari mencengkeram tanah dengan jemarinya yang gemetar.

Jin Seo tertawa sumbang di kejauhan. Ia mengangkat pedang peraknya, meski ujung senjatanya itu bergetar hebat. Ia tampak mencoba menutupi kegugupannya dengan seringai yang dipaksakan.

"Kau pikir mainan baru itu bisa menyelamatkanmu?" tanya Jin Seo dengan nada suara yang meninggi secara tidak alami.

"Mainan ini baru saja merobek barisanmu tanpa perlu kusuruh," sahutku sembari melangkah maju satu tindak.

Jang Mi tidak tinggal diam. Ia melompat turun dari gundukan batu bersama pria bertopeng yang membawa sabit besar. Wajah Jang Mi tidak lagi menunjukkan kesombongan, melainkan kebencian yang sudah mendarah daging.

"Aku sudah melewati neraka karena perbuatanmu, Han Wol," tukas Jang Mi sembari menunjuk wajahku dengan belati ungunya.

"Neraka itu pilihanmu sendiri, Jang Mi," balasku dengan nada bicara yang datar.

Pria bertopeng di sampingnya mengeluarkan suara geraman yang berat. Ia mengayunkan sabit raksasanya hingga menciptakan torehan dalam di permukaan tanah.

"Cukup bicaranya, Nona Jang Mi. Kepalanya jauh lebih berharga daripada keluh kesahmu," seloroh pria bertopeng itu dengan suara yang serak.

Aku melirik ke arah monster sistem di sampingku. Ia hanya diam menunggu. Ia adalah manifestasi dari semua kekuatan yang selama ini kucoba kendalikan. Sekarang, ia berdiri sebagai entitas terpisah yang siap menelan apa saja.

"Siapa sebenarnya pria di sampingmu itu, Jang Mi?" tanyaku sembari mengabaikan provokasi Jin Seo.

"Dia adalah sisa dari mereka yang kau anggap sudah musnah," jawab Jang Mi dengan senyum penuh kemenangan.

Jin Seo tampak tidak senang dengan kehadiran pihak ketiga ini. Ia mengarahkan anak buahnya dari Sekte Langit Hitam untuk membentuk formasi setengah lingkaran, mengepung kami berdua sekaligus.

"Mundur, Jang Mi. Han Wol adalah aset Nyonya He Ran," perintah Jin Seo sembari memberi isyarat pada pasukannya.

"Nyonya He Ran sudah tidak punya kekuatan apa pun di sini," timpal Jang Mi sembari melirik He Ran yang tidak berdaya.

Situasi menjadi semakin rumit. Aku berada di tengah dua faksi yang sama-sama menginginkan nyawaku, ditambah dengan sistem yang kini memiliki wujud fisik yang mengerikan. Aku bisa merasakan energi Vanguard di dalam tubuhku mulai beresonansi dengan makhluk di sampingku.

"Han Wol, jangan biarkan sistem itu mengambil keputusan untukmu," desis He Ran sembari berusaha untuk duduk tegak.

"Aku tahu apa yang kulakukan, He Ran," tandasku tanpa menoleh.

"Kau tidak tahu apa-apa! Makhluk itu adalah distorsi dari esensi Asura!" teriak He Ran dengan sisa tenaganya.

Jin Seo mulai kehilangan kesabaran. Ia menerjang maju dengan kecepatan tinggi, mengincar leherku dengan pedang peraknya. Serangannya sangat terukur, namun di mataku, gerakannya terasa sangat lambat.

"Hancurkan kakinya," perintahku pelan pada monster sistem.

Dalam sekejap, monster itu menghilang dari pandangan. Suara dentuman keras terdengar disusul dengan teriakan melengking dari Jin Seo. Tubuh pengawas aliansi itu terpental ke udara sebelum akhirnya menghantam batang pohon dengan posisi kaki yang sudah tidak wajar.

"Hanya itu?" tanyaku sembari menatap Jin Seo yang kini mengerang kesakitan.

Pasukan Sekte Langit Hitam tertegun. Mereka tidak melihat gerakan monster itu sama sekali. Ketakutan mulai menyebar di antara mereka seperti wabah yang tidak terlihat.

"Kau... kau benar-benar sudah menjadi iblis sepenuhnya," geram Jin Seo sembari mencoba merangkak bangun.

"Aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan untuk bertahan hidup," sahutku sembari melirik pria bertopeng.

Pria bertopeng itu tidak tampak terkejut. Ia justru melangkah maju dengan tenang, menyeret sabit besarnya di atas bebatuan. Ia melepaskan topeng peraknya secara perlahan, memperlihatkan wajah yang dipenuhi dengan bekas jahitan yang sangat kasar.

"Kau tidak mengenalku, Han Wol?" tanya pria itu dengan seringai yang mengerikan.

Aku memicingkan mata, mencoba menggali ingatan yang mungkin tertimbun. Wajah itu tampak sangat asing, namun ada sesuatu pada sorot matanya yang membuatku merasa sangat tidak nyaman.

"Aku tidak punya waktu untuk mengingat semua orang yang pernah kulihat," balasku dengan nada dingin.

"Mungkin kau akan ingat setelah aku merobek jantungmu, sama seperti kau merobek masa depan kakakku," tukas pria itu sembari mengangkat sabitnya tinggi-tinggi.

Jang Mi tertawa kecil di belakangnya. "Dia adalah adik dari Song Chi. Orang pertama yang kau mangsa di dalam gua itu."

Aku tertegun sejenak. Song Chi. Nama itu terasa seperti gema dari masa lalu yang sangat jauh. Aku tidak menyangka bahwa sampah seperti dia memiliki kerabat yang mampu bertahan hidup hingga sejauh ini.

"Song Min," gumam He Ran dengan nada terkejut. "Kau seharusnya sudah dieksekusi oleh sekte."

"Eksekusi hanyalah kata lain untuk membuang aset yang tidak berguna, Nyonya," sahut Song Min sembari menatap He Ran dengan penuh kebencian.

Monster sistem di sampingku mengeluarkan suara dengungan yang rendah. Ia sepertinya merasakan lonjakan emosiku dan mulai bersiap untuk melakukan pembantaian massal.

"Tuan, tingkat ancaman meningkat. Izinkan saya melakukan pembersihan total," pinta suara di kepalaku.

Aku menatap telapak tanganku yang mulai tertutup sisik hitam kembali. Kali ini, tidak ada rasa sakit. Hanya ada kekuatan murni yang menuntut untuk dilepaskan. Aku melirik ke arah He Ran sekali lagi, mencari sedikit alasan untuk tetap menjadi manusia.

"Lakukan," perintahku dengan suara yang hampir menyerupai geraman.

Seketika, hutan itu dipenuhi dengan suara teriakan dan robekan kain. Monster sistem bergerak seperti bayangan yang haus darah, melewati setiap murid Sekte Langit Hitam tanpa memberikan mereka kesempatan untuk menarik napas.

Song Min mencoba menangkis serangan monster itu dengan sabit besarnya, namun senjata logam itu patah seperti kayu lapuk. Ia terlempar ke belakang, menabrak Jang Mi hingga keduanya terjatuh ke jurang kecil di pinggir sungai.

"Han Wol! Berhenti!" teriak He Ran sembari berusaha meraih kakiku.

Aku tidak mendengarkan. Aku berjalan menuju Jin Seo yang masih tersiksa dengan kakinya yang hancur. Aku mengangkat tubuhnya dengan satu tangan, menatap matanya yang kini dipenuhi dengan permohonan ampun.

"Kau bilang Nyonya He Ran tidak suka barang miliknya terlambat datang?" tanyaku sembari menyeringai.

"Ampun... Han Wol... aku hanya menjalankan tugas..." rintih Jin Seo dengan suara yang tercekat.

Tepat saat aku hendak menghancurkan tenggorokannya, sebuah tangan yang sangat dingin menyentuh bahuku. Aku menoleh dan menemukan Lin, ibu He Ran, berdiri di sana dengan penampilan yang jauh lebih mengerikan daripada saat di makam tadi.

"Sudah cukup, Han Wol," ucap Lin dengan suara yang terdengar sangat jauh.

"Kau masih hidup?" tanyaku sembari melepaskan cengkeramanku pada Jin Seo.

Lin tidak menjawab. Ia menatap monster sistem yang kini sedang berdiri tegak di tengah tumpukan mayat murid sekte. Tatapan Lin tampak penuh dengan kesedihan yang mendalam.

"Kau telah membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini," ujar Lin sembari menunjuk ke arah monster tersebut.

Monster sistem itu tiba-tiba berbalik dan menyerang Lin dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Lin berhasil menangkisnya dengan dinding air, namun benturan itu menciptakan ledakan energi yang mementalkanku ke arah sungai.

Di tengah kekacauan itu, aku melihat He Ran ditarik masuk ke dalam lubang hitam yang tiba-tiba muncul di bawah tubuhnya.

"He Ran!" teriakku sembari mencoba meraih tangannya, namun semuanya terlambat.

Kegelapan itu menelan He Ran sepenuhnya, meninggalkanku sendirian bersama Lin dan monster sistem yang kini mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

[Kesalahan sistem terdeteksi. Otoritas tuan mulai tidak stabil.]

Aku berdiri di tengah reruntuhan hutan, menyadari bahwa aku baru saja kehilangan satu-satunya orang yang membuatku merasa masih memiliki kemanusiaan. Dan sekarang, monster di depanku ini bukan lagi pelayanku, melainkan musuh baruku.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!