Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Kenyamanan Mulai Diuji
Sejak malam di halte itu, kedekatan kami tidak lagi terasa seperti sesuatu yang kebetulan. Ia tumbuh pelan, nyaris tanpa aku sadari, seperti kebiasaan baru yang awalnya terasa canggung, lalu berubah menjadi bagian dari hari. Kami tidak pernah sepakat secara resmi tentang apa yang sedang kami jalani, tapi entah bagaimana, kami sama-sama tahu bahwa hubungan ini sudah melewati batas sekadar “teman berbincang”.
Aku mulai mengenal ritmenya.
Jam berapa biasanya ia bangun, bagaimana caranya membalas pesan dengan emoji yang selalu sama, dan bagaimana ia sering mengakhiri kalimat dengan tawa kecil yang tidak pernah benar-benar terdengar, tapi bisa kurasakan lewat layar. Hal-hal sepele yang dulu tidak pernah penting, kini menjadi detail yang kuingat tanpa perlu berusaha.
Setiap pagi, aku menunggu notifikasinya seperti seseorang yang menunggu matahari terbit. Bukan karena aku tidak bisa memulai hari tanpanya, tapi karena kehadirannya membuat segalanya terasa sedikit lebih ringan. Ia bukan solusi atas hidupku, tapi ia adalah jeda yang menyenangkan di antara lelah yang panjang.
Namun kenyamanan punya cara licik untuk menyusup.
Ia tidak datang sebagai perasaan besar, tidak juga sebagai janji manis. Ia datang sebagai kebiasaan kecil yang berulang, sampai akhirnya aku lupa bagaimana rasanya tidak menunggu kabarnya. Aku mulai merasa kosong ketika tidak ada pesannya. Mulai bertanya-tanya ketika balasannya lebih singkat dari biasanya. Mulai mengukur hari dari seberapa sering kami berbicara.
Sore itu, kami duduk di kafe yang sama seperti minggu lalu. Tempatnya tidak berubah, minumannya juga masih sama, tapi suasananya terasa sedikit berbeda. Ia lebih sering menunduk menatap ponselnya, jemarinya bergerak cepat, seolah ada dunia lain yang sedang ia urus dan aku tidak termasuk di dalamnya.
“Kamu lagi banyak pikiran?” tanyaku pelan.
Ia mengangguk. “Iya, agak.”
“Ada yang serius?”
Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis. “Nanti aku cerita, ya.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti jarak yang baru saja diciptakan. Aku mengangguk, mencoba menghormati ruangnya, tapi di dalam dadaku muncul perasaan asing yang tidak bisa langsung kujelaskan. Bukan cemburu, bukan juga curiga. Lebih seperti rasa ingin tahu yang bercampur dengan ketakutan kecil: takut tidak lagi menjadi bagian dari ceritanya.
Aku sadar, aku mulai peduli dengan hal-hal yang seharusnya tidak terlalu kupikirkan. Aku mulai ingin tahu apa yang membuatnya lelah, siapa yang membuatnya tertawa selain aku, dan kenapa ia terlihat lebih hidup ketika membicarakan dunia di luar diriku.
Di rumah, aku membuka buku catatan yang sudah lama menjadi tempatku berdialog dengan diri sendiri. Aku menulis tanpa banyak berpikir, membiarkan kata-kata mengalir begitu saja:
"Dulu aku berjanji tidak akan menggantungkan kebahagiaanku pada siapa pun. Tapi sekarang aku mulai menunggu seseorang, dan menyebutnya sebagai hal yang wajar. Mungkin inilah cara hati menipu: ia menyamar sebagai kenyamanan, padahal perlahan berubah menjadi ketergantungan."
Aku menutup buku itu dengan napas panjang. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi bertanya apakah aku menyukainya atau tidak. Pertanyaannya berubah menjadi lebih dalam dan lebih menakutkan:
Apakah aku masih memegang diriku sendiri,
atau aku sudah mulai menyerahkan sebagian kendali pada kehadirannya?
Dan di situlah aku sadar, ujian pertama bukan tentang dia.
Ujian pertama justru tentang diriku sendiri—tentang sejauh apa aku bisa mencintai tanpa kehilangan batas, dan sejauh apa aku bisa nyaman tanpa lupa caranya berdiri sendiri.