Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BULAN MERAH DI ATAS, GETARAN DI BAWAH
Cahaya dari jaringan bukan putih atau kuning melainkan perak keemasan, warna yang tidak pernah ada di dunia fana.
Chen Long berdiri di tengah ruang latihan kuno, tiga batu di tangan masih berdenyut lembut.
Di belakangnya, batu hitam yang dulu adalah manusia tampak lebih gelap, lebih padat, seolah menyerap cahaya aneh dari sekelilingnya.
Di depannya, Xiao Feng berlutut di lantai batu, napas masih terengah, namun mata anak itu menatap langit-langit dengan cara yang berbeda.
Seolah bisa melihat langsung ke atas.
Ke bulan merah.
Wanita kolam berdiri di sudut ruang.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menghilang.
Tubuhnya yang selalu tampak seperti bayangan berair, seperti cermin yang bisa berjalan kini terlihat lebih padat, lebih nyata. Lebih... khawatir.
Matanya, yang selalu menatap Chen Long dengan penilaian dingin, kini menatap dengan sesuatu yang berbeda. Bukan persahabatan. Bukan kepercayaan.
Melainkan pengakuan.
"Ini bukan lagi tentang membuka atau menutup," kata wanita itu.
Suaranya lebih rendah dari biasanya, lebih berat. "Ini tentang dilihat. Dan kau, anak Utara, baru saja membuat langit memalingkan muka."
Chen Long ingin bertanya apa maksudnya. Namun getaran dari atas bukan dari jaringan di bawah, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih besar, lebih tua, lebih... marah membuatnya diam.
Ia tahu.
Tidak perlu penjelasan.
Bulan merah bukan fenomena alam. Bukan kebetulan. Itu adalah mata. Itu adalah perhatian. Itu adalah...
"Surga," bisik Xiao Feng.
Anak itu tidak tahu mengapa ia mengucapkan kata itu. Hanya tahu bahwa itulah yang tepat.
Getaran dari tangga.
Bukan ancaman. Bukan musuh.
Melainkan... Yin.
Murni. Familiar. Dengan frekuensi yang Chen Long kenal lebih baik dari napasnya sendiri.
Yin Sunxin turun.
Bukan dengan elegan seperti biasanya. Bukan dengan kontrol sempurna seperti putri kekaisaran yang terlatih sejak lahir.
Kakinya terpeleset di anak tangga terakhir, tangannya mencengkeram dinding batu, jubahnya yang selalu rapi, selalu tepat terburai di sisi kiri, seolah ia turun terlalu cepat, terlalu terburu-buru.
Di tangannya, bukan pedang. Bukan perhiasan.
Melainkan selembar kertas. Gemetar.
"Chen Long." Suaranya tidak datar seperti biasanya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sangat tidak-Sunxin. "Kaisar memanggil. Dalam tiga hari. Pangeran Utara diharapkan di Aula Seribu Cahaya."
Chen Long tidak menjawab. Matanya menatap kertas di tangan Sunxin. Bukan isinya ia belum bisa membaca dari jarak ini. Melainkan getarannya. Kertas itu gemetar bukan karena angin. Bukan karena tangan Sunxin yang bergetar.
Melainkan karena sesuatu yang tertulis di atasnya.
Sesuatu yang membuat ruang ini, yang baru saja membuka jaringan kuno, yang baru saja mengalahkan pria Yang murni, terasa... sempit.
"Ada lebih," kata Sunxin. Ia melangkah mendekat, namun berhenti di tengah jalan. Matanya menatap wanita kolam di sudut. Dua Yin saling bertemu. Dua frekuensi yang sama murninya, namun sangat berbeda. "Siapa...?"
"Tidak penting," jawab wanita kolam. Namun suaranya tidak seyakin kata-katanya. "Yang penting, kau membawa berita dari atas. Berita apa?"
Sunxin tidak menjawab langsung. Ia menatap Chen Long lagi, lebih dalam, lebih... mencari. "Bulan merah," katanya, suaranya lebih rendah. "Mereka melihatnya. Semua orang melihatnya. Namun hanya beberapa yang tahu apa artinya."
"Apa artinya?" tanya Xiao Feng dari lantai. Anak itu bangkit, perlahan, batu abu masih di genggaman.
Sunxin menatapnya. Sejenak, ada sesuatu di matanya. Kaget. Mungkin. Atau... iri. "Kematian," katanya. "Dalam sejarah Kekaisaran Yin, bulan merah muncul tiga kali. Setiap kali, seseorang mati. Bukan sembarang orang. Melainkan... anomali. Sesuatu yang tidak seharusnya ada."
Chen Long merasakan dua arus di tubuhnya berputar sedikit lebih cepat. Bukan karena takut. Melainkan karena... pengakuan. "Aku tidak seharusnya ada?"
"Kau tidak seharusnya begini ," Sunxin mengoreksi. Ia melangkah lagi, kini lebih dekat, cukup dekat untuk Chen Long mencium aroma khasnya bukan parfum, melainkan sesuatu yang lebih alami, lebih... Yin. Dingin, namun tidak membeku. Tenang, namun tidak mati. "Kaisar tidak memanggilmu untuk mengeksekusi. Ia memanggilmu untuk... melihat. Sendiri. Dengan mata kepalanya sendiri."
Wanita kolam tertawa. Kecil. Pahit. "Kaisar Yin. Yang bijaksana. Yang berhati-hati. Ia ingin melihat sebelum memutuskan. Apakah anomali ini berbahaya. Apakah bisa digunakan. Atau..."
"Atau harus dihapus," lanjut Sunxin. Matanya tidak meninggalkan Chen Long. "Tapi ada yang aneh. Fraksi Timur dan Barat seharusnya sudah bergerak. Seharusnya sudah ada dekrit, sudah ada pengawal, sudah ada... tekanan. Namun tidak ada. Semua diam. Seolah menunggu."
"Menunggu apa?" tanya Chen Long.
Sunxin menggeleng. "Itu yang tidak ku ketahui. Yang kutahu hanyalah ini: pria yang kau kalahkan tadi, yang menggunakan alat Raja Zhong, bukan satu-satunya. Ada yang lain. Di istana. Sudah di sana. Menunggumu datang."
Chen Long menutup mata.
Bukan untuk beristirahat. Melainkan untuk... merasakan.
Tiga batu di tangannya masih berdenyut, namun kali ini, ia membiarkan getaran itu meluas. Bukan ke jaringan di bawah jaringan itu sudah cukup terbuka untuk sekarang. Melainkan ke atas. Melalui batu. Melalui tanah. Melalui lapisan-lapisan batu dan kayu dan...
Gambaran samar.
Seperti melihat melalui air keruh.
Ia melihat istana. Aula Seribu Cahaya. Bukan detail bentuk, warna, ukuran. Melainkan... getaran. Ada orang di sana. Banyak. Namun satu, di sudut paling jauh, menyala dengan cara yang salah.
Terlalu terang. Terlalu... paksa.
Sama seperti pria Yang murni yang baru saja ia kalahkan.
Namun lebih tua. Lebih terlatih. Lebih... berbahaya.
"Kau melihat," bisik wanita kolam. Bukan pertanyaan.
Chen Long membuka mata. "Ada yang lain. Di istana. Dengan alat yang sama."
Sunxin mengangguk, tidak kaget. "Aku tahu. Namun tidak tahu siapa. Tidak tahu di mana. Hanya tahu bahwa..." Ia berhenti. Sejenak, sesuatu melintas di wajahnya. Sesuatu yang sangat tidak-Sunxin. Keraguan. "Chen Long. Kau tidak harus pergi. Kita bisa..."
"Apa?" tanya Chen Long. Suaranya lembut. Bukan menantang. Melainkan... ingin tahu. "Lari? Sembunyi? Biarkan mereka datang ke sini, ke jaringan ini, ke tempat di mana mereka bisa menggunakan alat mereka dengan lebih leluasa?"
Sunxin diam.
Wanita kolam yang menjawab. "Ia benar. Jika kau berlari, mereka akan mengejar. Jika kau sembunyi, mereka akan menggali. Jaringan ini..." ia mengangkat tangan, menunjuk ke langit-langit yang bersinar perak keemasan, "...tidak bisa dipindahkan. Tidak bisa disembunyikan selamanya. Mereka akan menemukan. Dan ketika mereka menemukan..."
"Mereka akan membuka dengan paksa," lanjut Chen Long. Ia menatap tiga batu di tangannya. "Tanpa kunci yang tepat. Tanpa Yin dan Yang. Mereka akan menghancurkan."
Xiao Feng melangkah mendekat. Kecil. Ragu. Namun berani. "Tuan Chen. Aku... aku bisa ikut?"
Chen Long menatapnya. Anak itu masih gemetar. Masih lelah. Namun matanya mata yang gagal membuka nadi, mata yang dianggap tidak berbakat menatap dengan sesuatu yang langka.
Kepercayaan. Buta. Sederhana.
"Bisa," jawab Chen Long.
Sunxin menghela napas. Bukan setuju. Bukan protes. Melainkan... pengakuan bahwa ia tidak bisa mengubah keputusan ini. "Tiga hari," katanya lagi. "Kaisar menunggu."
"Dan langit?" tanya Chen Long, menatap ke atas, ke arah bulan merah yang tidak bisa dilihat dari sini namun bisa dirasakan oleh setiap sel di tubuhnya. "Apa yang langit tunggu?"
Sunxin tidak menjawab.
Wanita kolam yang menjawab. Suaranya sangat rendah, sangat lembut, seolah takut didengar oleh sesuatu yang tidak seharusnya mendengar.
"Langit tidak menunggu," katanya. "Langit sudah melihat. Dan sekarang, langit sedang memutuskan."
Chen Long mengangguk. Perlahan. Ia menatap tiga batu di tangannya sekali lagi, lalu memasukkannya ke dalam saku jubah. Giok hitam. Giok putih. Batu abu. Tiga kunci. Tiga getaran. Tiga... harapan.
"Kalau begitu," katanya, suaranya tenang, namun dengan getaran yang baru getaran yang datang dari menyadari bahwa ia bukan lagi anomali yang bersembunyi, melainkan anomali yang dipilih, yang dilihat, yang... ditunggu, "kita akan membuat keputusan itu lebih sulit. Dengan menunjukkan apa yang tidak mereka harapkan."
Sunxin menatapnya. Sungguh menatap. Seolah melihat sesuatu yang baru. Sesuatu yang... menarik. "Apa yang kau maksud?"
Chen Long tersenyum. Sangat kecil. Sangat singkat. "Mereka menunggu Pangeran Utara. Mereka menunggu anomali. Mereka menunggu sesuatu yang bisa mereka kategorikan, mereka labeli, mereka... lawan." Ia melangkah ke arah tangga, ke arah permukaan, ke arah dunia yang sudah berubah selamanya karena bulan merah di langitnya. "Biarkan mereka menunggu. Aku akan menunjukkan sesuatu yang lain."
"Apa?"
Chen Long berhenti di ambang lorong. Tidak menoleh. Namun suaranya—getarannya—mengisi ruang dengan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di dunia ini.
"Keseimbangan," katanya. "Yang tidak memihak. Yang tidak bisa dimiliki. Yang... memilih sendiri."
Dan ia naik.
Xiao Feng mengikutinya.
Sunxin, setelah sejenak ragu, mengikutinya juga.
Di belakang mereka, di ruang yang kini lebih terang namun juga lebih sepi, wanita kolam berdiri sendiri. Menatap jejak langkah mereka. Menatap jejak getaran yang masih berdenyut di udara.
"Baru," bisiknya lagi. Kali ini, ada sesuatu di suaranya yang berbeda. Bukan iri. Bukan takut.
Melainkan... harapan.
Sangat kecil. Sangat samar. Namun ada.
Di atas, di dunia fana, di ibu kota yang kini tidur dengan mata terbuka, menatap bulan merah yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, sesuatu mulai bergerak.
Bukan hanya Chen Long.
Melainkan... segalanya.
...BERSAMBUNG ...
...****************...