"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Bayangan yang Kembali
Senin pagi di minggu keempat, Suyin sedang merapikan catatan produksi di meja kerjanya yang baru—sebuah sudut kecil di villa yang Xiao Zhen khususkan untuknya—saat ponselnya berdering.
Nomor Pak Hendra, atasannya di kantor arsitektur.
Oh.
Suyin terdiam sebentar. Dalam kesibukan dua minggu terakhir, dia hampir lupa bahwa dia masih punya pekerjaan tetap sebagai desainer interior.
Dia angkat telepon.
"Halo, Pak Hendra."
"Suyin! Akhirnya! Aku sudah coba hubungi kamu beberapa kali minggu lalu." Suara Pak Hendra terdengar campuran antara khawatir dan sedikit kecewa.
"Maaf, Pak. Aku sedang ada urusan keluarga yang cukup padat," jawab Suyin—tidak sepenuhnya berbohong.
"Iya, Mbak Rini bilang kamu ambil cuti darurat. Aku harap semuanya baik-baik saja." Pak Hendra berdeham. "Suyin, aku langsung ke intinya ya. Proyek desain kantor Surabaya yang Pak Xiao minta kamu handle—deadline presentasi konsep awal sudah minggu depan Jumat. Klien sudah konfirmasi jadwal. Kamu bisa masuk besok untuk kita diskusi?"
Suyin menutup mata sebentar.
Proyek Surabaya. Ratusan juta rupiah nilainya. Proyek yang seharusnya jadi tonggak besar dalam karir desain interiornya.
Sebelum semua ini—Organisasi Bayangan, kultivasi, ruang dimensi, bisnis sayuran, Xiao Zhen—proyek itu adalah sesuatu yang sangat dia impikan.
Sekarang, kehidupannya sudah sangat berbeda. Bisnisnya saja sudah menghasilkan empat kali lipat lebih banyak dari gaji bulanannya. Dan waktunya sudah sangat penuh dengan produksi, pengembangan bisnis, dan latihan kultivasi.
"Pak Hendra," ucap Suyin pelan, "boleh kita ketemuan hari ini? Aku ingin bicara langsung tentang beberapa hal."
Jeda sebentar. "Hari ini? Tentu saja. Jam berapa?"
"Jam tiga sore, kalau Bapak bisa?"
"Bisa. Aku tunggu."
Suyin menutup telepon dan duduk dalam keheningan sebentar.
Lalu dia berdiri dan pergi mencari Xiao Zhen.
Xiao Zhen sedang di ruang kerjanya dengan video call yang baru saja selesai saat Suyin mengetuk pintu.
"Masuk." Wajahnya langsung melunak saat melihat Suyin. "Ada apa? Kamu terlihat thoughtful."
Suyin duduk di sofa, menceritakan telepon dari Pak Hendra.
Xiao Zhen mendengarkan dengan tenang tanpa menyela.
"Dan kamu galau tentang apa?" tanyanya saat Suyin selesai.
"Tentang apakah aku harus... berhenti dari kantor." Suyin menghembuskan napas. "Kerja di kantor arsitektur itu bukan hanya pekerjaan bagiku—itu identitasku selama lima tahun terakhir. Itu bagian dari siapa aku. Tapi sekarang bisnis kita sudah growing, waktuku sudah sangat padat, dan aku tidak bisa lagi half-hearted di dua tempat sekaligus."
"Aku tidak akan bilang kamu harus melakukan apa," ucap Xiao Zhen dengan hati-hati. "Ini keputusanmu. Tapi izinkan aku tanya beberapa hal."
Suyin mengangguk.
"Kalau kamu bisa pilih—tanpa pertimbangan uang atau keamanan pekerjaan—kamu mau habiskan waktumu untuk apa?"
Suyin tidak perlu berpikir lama. "Bisnis Lin's Organic Garden. Dan mengembangkan ruang dimensi."
"Kenapa?"
"Karena itu terasa... purpose-nya jelas. Aku memberi orang makanan yang sehat dan berkualitas. Aku mengembangkan sesuatu yang benar-benar milikku—bukan milik perusahaan orang lain." Suyin menyentuh gelang gioknya. "Dan karena ini warisan nenek. Ini cara aku menghormatinya."
Xiao Zhen tersenyum. "Jawabanmu sudah cukup jelas, Suyin."
"Tapi proyek Surabaya—"
"Proyek Surabaya akan tetap berjalan. Kamu bisa handle sebagai freelance project—selesaikan yang ini, lalu putuskan apakah kamu mau continue di kantor atau tidak setelah itu. Tidak harus all-or-nothing sekarang." Xiao Zhen menatap Suyin serius. "Tapi satu hal yang aku minta—jangan buat keputusan besar karena tekanan dari luar. Buat keputusan karena kamu tahu apa yang benar-benar kamu mau."
Suyin mengangguk pelan. "Terima kasih. Aku perlu dengar itu."
Jam tiga sore, Suyin tiba di kantor arsitektur di kawasan Kuningan.
Rasanya aneh—seperti memasuki dunia lama yang sudah terasa jauh walau belum genap sebulan dia pergi.
Pak Hendra menyambut Suyin di ruangannya dengan ramah. Wajahnya lega melihat Suyin terlihat baik.
"Kamu terlihat berbeda," komentarnya sambil menunjuk kursi untuk Suyin duduk. "Lebih... sehat. Lebih bercahaya."
"Terima kasih, Pak." Suyin tersenyum. "Aku merasa lebih baik dari sebelumnya."
"Bagus, bagus. Jadi, soal proyek Surabaya—"
"Pak Hendra," Suyin memotong dengan sopan. "Sebelum kita bicara tentang proyek itu, aku ingin jujur tentang situasi aku sekarang."
Pak Hendra beranjak lebih tegak di kursinya, mendengarkan.
Suyin menceritakan—dengan versi yang appropriate untuk konteks pekerjaan—bahwa dia sekarang sedang membangun bisnis sendiri yang sudah berkembang dengan cepat dan membutuhkan fokus penuh. Bahwa waktunya sangat terbatas. Bahwa dia tidak ingin mengambil tanggung jawab besar seperti proyek Surabaya kalau dia tidak bisa berkomitmen sepenuhnya.
Pak Hendra mendengarkan dengan ekspresi yang berubah-ubah—terkejut, lalu respek, lalu sedih.
"Berarti kamu mau mengundurkan diri?" tanyanya akhirnya.
"Aku mau menawarkan kompromi dulu, Pak. Izinkan aku selesaikan proyek Surabaya sebagai project terakhir—sebagai freelance kalau perlu sehingga aku punya fleksibilitas waktu. Lalu setelah proyek itu selesai, kita evaluasi apakah masih ada ruang untuk kerja sama ke depannya." Suyin menatap Pak Hendra dengan tulus. "Aku menghargai lima tahun ini. Aku belajar sangat banyak di sini. Pak Hendra adalah mentor yang luar biasa. Aku tidak mau meninggalkan dengan cara yang tidak profesional."
Pak Hendra terdiam lama, menatap meja dengan ekspresi merenung.
"Kamu tahu," ucapnya akhirnya, "aku sudah duga ini akan terjadi suatu hari. Kamu terlalu talented untuk selamanya jadi employee orang lain." Dia mendongak, senyum di wajahnya tulus walau ada sedikit sedih. "Baiklah. Kita lakukan seperti yang kamu tawarkan—selesaikan proyek Surabaya dulu. Dan setelah itu, kalau kamu memutuskan untuk pergi sepenuhnya, pintu di sini selalu terbuka kalau kamu butuh."
"Terima kasih, Pak Hendra." Suyin merasa beban besar terangkat. "Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak untuk proyek ini."
"Aku tahu." Pak Hendra membuka folder di mejanya. "Sekarang, mari kita bicara tentang konsep yang sudah Pak Xiao request untuk kantor Surabaya itu."
Mereka bekerja selama hampir dua jam—Suyin mencatat semua brief dan requirement dari Pak Hendra, mulai membayangkan konsep desain yang akan dia eksekusi.
Ironisnya, pekerjaan ini terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya—karena sekarang Suyin mengerjakannya bukan karena takut kehilangan pekerjaan atau karena tekanan finansial, tapi karena dia genuinely talented di sini dan ingin menutup chapter ini dengan baik.
Selasa pagi, Suyin sudah kembali ke rutinitas barunya—ruang dimensi di subuh hari, produksi pagi, lalu siang dia mulai mengerjakan desain konsep untuk proyek Surabaya di meja kerjanya.
Ternyata bekerja di dua bidang yang sangat berbeda tidak semuda yang dia bayangkan.
Di mana ada pertanian di pagi hari, gambar teknis dan moodboard desain di siang hari, dan joint cultivation dengan Xiao Zhen di malam hari—kepala Suyin terasa penuh dengan informasi dari berbagai arah.
Tapi ada sesuatu yang menarik—ternyata kemampuan kultivasi dan koneksi dengan ruang dimensi membuat pikirannya lebih jernih dan fokus dari sebelumnya. Kreativitasnya meningkat, konsentrasinya lebih baik, dan dia bisa bekerja lebih lama tanpa merasa burnt out.
"Qi yang seimbang memperkuat semua aspek dirimu—termasuk kemampuan kognitif dan kreatif," jelas Xiao Zhen saat Suyin menceritakan ini. "Itulah kenapa kultivator tingkat tinggi biasanya sangat capable di banyak bidang—bukan karena mereka lebih cerdas secara natural, tapi karena mereka punya energi dan fokus yang sangat terjaga."
"Wah, berarti kultivasi bukan hanya untuk bertarung ya," komentar Suyin sambil menggaruk sketsa desain barunya dengan antusias.
"Sama sekali bukan. Bahkan sebagian besar kultivator tidak pernah seumur hidup mereka terlibat dalam pertarungan sungguhan. Mereka kultivasinya untuk kesehatan, kreativitas, kejernihan pikiran—"
"Dan longevity?"
"Dan longevity, ya." Xiao Zhen tersenyum. "Kultivator tingkat tinggi bisa hidup jauh lebih lama dari manusia biasa. Nenek Lin yang ternyata kultivator tingkat sangat tinggi—aku curiga usianya jauh lebih tua dari yang terlihat."
Suyin tertegun. Dia tidak pernah berpikir tentang itu. "Berapa lama... maksudnya, apa aku juga akan..."
"Tergantung seberapa tinggi levelmu nanti. Tapi ya—kalau kamu terus berkembang dalam kultivasi, hidupmu akan jauh lebih panjang dari rata-rata manusia." Xiao Zhen menatap Suyin dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Itu salah satu hal yang ingin kuberitahu padamu pada saat yang tepat."
"Itu... itu besar sekali ya untuk dicerna." Suyin meletakkan pensilnya. "Aku butuh waktu untuk process itu."
"Kamu punya waktu." Xiao Zhen menyentuh tangan Suyin dengan lembut. "Tidak perlu diprocess sekarang. Fokus saja pada hari ini."
Suyin mengangguk—tapi pikirannya tetap sedikit melayang. Hidup lebih panjang. Implikasi yang sangat besar untuk semua aspek hidupnya.
Tapi seperti kata Xiao Zhen—nanti. Sekarang fokus pada hari ini.
Kamis siang, Suyin baru selesai mengeluarkan hasil panen dari ruang dimensi—tiga ratus kilogram berbagai sayuran yang sudah dikemas untuk dikirim ke Fresh & Fine sore ini—saat Xiao Zhen masuk ke ruangan dengan ekspresi serius.
"Ada yang perlu kita bicarakan," ucapnya tanpa basa-basi.
Suyin langsung waspada. Ekspresi itu bukan ekspresi CEO yang sedang membicarakan bisnis. Itu ekspresi Xiao Zhen saat ada sesuatu yang mengkhawatirkan.
"Apa yang terjadi?"
"Chen Ling baru laporan ke aku." Xiao Zhen duduk di depan Suyin. "Dalam seminggu terakhir, ada pergerakan yang mencurigakan di komunitas kultivator Jakarta. Beberapa artefak kuno dilaporkan hilang—semua dimiliki oleh keluarga-keluarga kultivator yang relatif tidak terlalu kuat."
Suyin menelan ludah. "Organisasi Bayangan?"
"Kemungkinan besar. Modus operandinya mirip—menyerang target yang lemah secara cepat, mengambil artefak, menghilang." Xiao Zhen menautkan jarinya. "Tapi yang mengkhawatirkan adalah skala dan kecepatannya. Dalam satu minggu, lima keluarga berbeda. Ini terkoordinasi dan sangat agresif."
"Artinya setelah kekalahan di reuni keluarga kami, mereka tidak mundur—malah makin aktif," ucap Suyin pelan.
"Tepat. Dan ada kemungkinan mereka sedang mengumpulkan energi dari artefak-artefak yang berhasil dicuri—untuk tujuan yang belum kita ketahui." Xiao Zhen menatap Suyin langsung. "Aku tidak bilang ini untuk menakutimu. Tapi kamu harus tahu apa yang sedang terjadi."
"Apakah gelang giokku masih jadi target mereka?"
"Hampir pasti. Madame Hei yang kabur dari reuni bulan lalu tidak akan menyerah begitu saja—apalagi gelang giok dengan Kesadaran Sisa kultivator tingkat tinggi seperti milikmu adalah artefak yang sangat langka dan berharga." Xiao Zhen berdiri, berjalan ke jendela. "Chen Ling dan beberapa anggota Klan Xiao sedang investigasi lebih dalam. Tapi untuk sementara waktu, aku minta kamu extra waspada."
"Extra waspada bagaimana? Aku tidak bisa berhenti aktivitas normal—ada produksi yang harus diselesaikan, ada proyek desain yang harus dikerjakan."
"Aku tidak minta kamu berhenti." Xiao Zhen berbalik. "Aku minta kamu tidak pergi ke mana-mana sendirian. Kalau harus keluar villa, kabari aku. Kalau ada sesuatu yang terasa tidak beres—sekecil apapun itu—langsung beritahu aku."
Suyin mengangguk. "Oke. Aku mengerti."
"Dan satu lagi." Xiao Zhen kembali duduk, lebih dekat dari sebelumnya, suaranya lebih serius. "Kita perlu tingkatkan latihan kulturvasimu lagi. Dalam dua minggu terakhir kita agak longgar karena fokus pada bisnis—tapi situasi ini mengingatkan kita bahwa ancaman nyata masih ada."
"Aku setuju." Suyin tidak protes—dia sadar sendiri bahwa kelonggarannya dalam berlatih belakangan ini adalah keputusan yang mungkin perlu direvisi. "Mulai kapan?"
"Mulai malam ini."
Malam itu, latihan kultivasi dilanjutkan dengan intensitas yang lebih tinggi dari dua minggu terakhir.
Di basement villa yang sudah familiar, Xiao Zhen melatih Suyin dengan teknik-teknik baru yang dia tahan karena ingin Suyin bisa menikmati periode "honeymoon" setelah reuni keluarga yang penuh tekanan.
"Teknik ini disebut Jangkar Qi," jelas Xiao Zhen sambil mendemonstrasikan—dia mengambil posisi berdiri dengan kaki selebar bahu, lalu menghentakkan tumit ke lantai. Suatu gelombang energi menyebar dari kakinya ke lantai, dan tiba-tiba tubuhnya terasa seperti terpaku pada tempatnya—tidak bisa digeser walau didorong dengan sangat keras. "Kalau kamu masuk ke dalam formasi ini, lawan harus mengeluarkan energi jauh lebih besar untuk menggesermu. Kamu jadi anchor yang tidak bisa dipindah."
"Berguna sekali untuk pertahanan," komentar Suyin.
"Sangat berguna kalau kamu dikepung—daripada coba lari dan berpotensi kena serangan dari belakang, kamu berdiri teguh dan paksa mereka datang ke area yang kamu kontrol." Xiao Zhen melepas teknik. "Coba."
Suyin mencoba—menghentakkan tumit, mengalirkan Qi ke bawah ke tanah, membayangkan akar yang tumbuh dari telapak kakinya menembus lantai.
Percobaan pertama tidak berhasil. Kedua juga tidak.
Pada percobaan ketujuh, Suyin merasakan sesuatu yang berbeda—Qi-nya benar-benar mengalir ke bawah seperti yang diminta, menciptakan koneksi dengan lantai.
Xiao Zhen mencoba mendorongnya dari bahu.
Suyin tidak bergerak.
"Bagus! Pertahankan—" Xiao Zhen mendorong lebih keras.
Suyin tetap di tempat walau badannya sedikit bergetar karena tekanan.
"Sekarang tambahkan barrier spiritual di atas Jangkar Qi—coba pertahankan keduanya sekaligus."
Itu jauh lebih sulit. Membagi konsentrasi antara mempertahankan energi yang mengalir ke bawah sekaligus memproyeksikan barrier ke luar membuat kepala Suyin seperti diperas.
Tapi setelah beberapa percobaan, dia mulai bisa melakukan keduanya—walau hanya bertahan sekitar sepuluh detik sebelum salah satu teknik kolaps.
"Sangat bagus untuk percobaan pertama," puji Xiao Zhen, matanya bercahaya dengan kebanggaan yang genuine. "Dalam beberapa hari kita akan drill ini sampai kamu bisa pertahankan keduanya setidaknya satu menit."
Setelah latihan selesai, mereka duduk di lantai basement yang dingin, beristirahat.
Suyin bersandar ke bahu Xiao Zhen, napas masih sedikit tersengal.
"Xiao Zhen."
"Hm?"
"Kamu tidak menyebutkan—apakah Chen Ling tahu siapa yang memimpin operasi Organisasi Bayangan yang sekarang? Apakah Madame Hei yang mengkoordinasikan serangan-serangan ini?"
Hening sebentar.
"Belum terkonfirmasi," jawab Xiao Zhen akhirnya. "Tapi ada hal lain yang belum aku ceritakan karena tidak ingin membuatmu khawatir terlalu cepat."
Suyin mengangkat kepala dari bahu Xiao Zhen, menatapnya. "Ceritakan sekarang."
Xiao Zhen mempertimbangkan sebentar, lalu mengangguk—memutuskan bahwa Suyin berhak tahu.
"Salah satu kultivator Organisasi Bayangan yang kami tangkap di reuni keluargamu—dalam interogasi, dia menyebut sebuah nama. Bukan Madame Hei." Xiao Zhen menatap Suyin. "Dia menyebut 'Bayangan Utama'—pemimpin tertinggi yang tidak pernah terlihat langsung oleh siapapun. Dan menurut informasi dari interogasi itu, Bayangan Utama ini sangat tertarik secara personal dengan gelang giokmu—bukan hanya sebagai artefak untuk dijual, tapi karena ada alasan lain yang belum kami pahami."
Suyin merasakan bulu kuduknya berdiri. "Alasan apa?"
"Itulah yang sedang Chen Ling dan tim investigasi. Tapi kemungkinannya—" Xiao Zhen menghentikan kalimatnya.
"Kemungkinannya apa?"
"Kemungkinannya Bayangan Utama punya koneksi langsung dengan kejatuhan Klan Lin dua ratus tahun lalu. Dan gelang giok itu mungkin menyimpan sesuatu yang jauh lebih dari sekadar ruang dimensi dan Kesadaran Sisa nenekmu."
Keheningan turun di antara mereka—berat dan penuh implikasi.
Suyin menatap gelang giok di pergelangan tangannya—benda yang sudah terasa seperti bagian dari dirinya sendiri—dengan perasaan baru yang campur aduk.
Misteri apa lagi yang tersimpan di dalam benda kecil ini?
Dan siapa Bayangan Utama yang menginginkannya?
"Pohon Kehidupan pernah bilang bahwa ruang dimensi ini bukan hanya kebun biasa," bisik Suyin, pikiran bergerak cepat. "Dan nenek dalam suratnya bilang bahwa kejatuhan Klan Lin terjadi dalam perang dua ratus tahun lalu. Apa kalau perang itu belum benar-benar selesai?"
Xiao Zhen menatap Suyin dengan tatapan yang serious—tapi juga ada sesuatu yang terlihat seperti kekaguman.
"Itu—" Dia berhenti sebentar. "Itu sebenarnya juga ada dalam laporan Chen Ling. Dia menyebutkan kemungkinan yang sama."
"Berarti bukan hanya artefak yang mereka inginkan," ucap Suyin perlahan, pikiran-pikiran baru terbuka seperti pintu yang satu per satu bergerak. "Mereka ingin memastikan Klan Lin tidak pernah bangkit lagi. Dan aku—"
"Adalah pewaris tunggal Klan Lin." Xiao Zhen menyelesaikan kalimatnya dengan nada yang sangat serius. "Satu-satunya orang yang bisa membawa Klan Lin kembali."
Suyin duduk dalam keheningan itu, mencernanya.
Sebulan lalu, dia adalah gadis yang baru kehilangan nenek, yang bingung dengan warisan gelang giok, yang bisnisnya baru mulai merangkak.
Sekarang, ternyata ada sejarah yang jauh lebih dalam dan jauh lebih besar yang menghubungkan dirinya pada sesuatu yang berumur dua ratus tahun.
"Aku harus bicara dengan Pohon Kehidupan," ucap Suyin akhirnya. "Kalau siapapun tahu tentang sejarah Klan Lin yang sebenarnya, dia pasti tahu."
"Besok pagi." Xiao Zhen menyentuh bahu Suyin. "Malam ini istirahat dulu. Otak dan tubuhmu butuh recovery setelah latihan tadi."
"Iya." Tapi Suyin tahu dia tidak akan mudah tidur malam ini.
Mereka naik dari basement bersama—saling pegangan tangan dalam keheningan yang penuh dengan pikiran masing-masing.
Di depan pintu kamar Suyin, Xiao Zhen berhenti.
"Apapun yang kita temukan tentang sejarah Klan Lin, apapun yang artinya untuk masa depan—satu hal tidak akan berubah." Matanya menatap Suyin dengan intensitas yang membuat jantung Suyin berdebar. "Aku akan selalu ada di sampingmu. Apapun yang datang."
Suyin berdiri berjingkat, mencium pipi Xiao Zhen. "Aku tahu. Dan aku bersyukur untuk itu setiap hari."
Setelah pintu kamarnya tertutup, Suyin berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit.
Di pergelangan tangannya, gelang giok bersinar—lebih terang dari biasanya—seperti beresonansi dengan pikiran-pikiran yang bergejolak dalam kepala Suyin.
Apa lagi yang tersimpan di dalam kamu? tanya Suyin dalam hati pada gelang itu.
Tidak ada jawaban.
Tapi malam itu, dalam mimpinya, Suyin melihat sebuah aula besar yang megah—ribuan kultivator berdiri berbaris, semuanya mengenakan simbol yang sama di dada mereka.
Simbol yang juga ada di gelang gioknya.
Simbol Klan Lin.
Dan di ujung aula, duduk di kursi tertinggi, adalah bayangan seorang wanita tua—wajahnya tidak terlihat, tapi Suyin mengenali aura hangat yang memancar dari bayangan itu.
Nenek.
"Masih banyak yang perlu kamu ketahui, cucuku," bisik bayangan itu dalam mimpi. "Tapi kamu sudah siap. Kamu sudah lebih dari siap."
Suyin terbangun jam empat pagi dengan detak jantung yang kencang dan rasa yakin yang mengejutkan dirinya sendiri.
Dia siap.
Apapun yang akan datang—dia siap.