NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Audit Kehidupan

​​"Ini... ini kopinya, Nyonya."

​Cangkir porselen itu berdenting pelan saat diletakkan di atas meja kaca. Tangan Mina gemetar hebat, membuat sedikit cairan hitam pekat itu tumpah ke tatakan. 

Pelayan itu mundur dua langkah dengan cepat, seolah takut diterkam singa yang sedang lapar. Napasnya memburu, matanya melirik cemas ke arah pintu kamar yang masih tertutup.

​Elena tidak peduli pada ketakutan pelayan itu. Matanya terkunci pada cairan hitam di cangkir. Aroma kafein yang kuat langsung menyambar indra penciumannya, mengirimkan sinyal kebahagiaan ke otaknya yang masih berdenyut nyeri.

​Tanpa basa-basi, dia meraih cangkir itu dan menyesapnya. Panas. Pahit. Tanpa gula sedikitpun.

​Sempurna.

​"Lumayan," gumam Elena setelah tegukan pertama. Rasa pahit itu membakar tenggorokannya, memaksanya sadar sepenuhnya. 

Dia meletakkan kembali cangkir itu, lalu menatap Mina yang masih berdiri kaku di dekat pintu seperti patung selamat datang yang salah tempat. "Mana laptop yang tadi aku suruh bersihkan?"

​Mina buru-buru menyodorkan MacBook tipis berwarna rose gold yang sedari tadi dipeluknya erat di dada.

​"Ini, Nyonya. Tapi... baterainya tinggal sedikit. Nyonya kan jarang pakai, jadi charger-nya entah ada di mana. Mungkin di gudang atau terselip di tumpukan majalah fashion."

​Elena mendengus kasar. Tentu saja. Sora Araminta pasti menganggap laptop cuma sebagai aksesoris pemanis meja rias, bukan alat tempur. Bagi wanita manja itu, teknologi hanyalah cara untuk menonton drama korea atau belanja online, bukan untuk menguasai dunia.

​"Letakkan di sini. Sekarang, kau boleh keluar."

​Mina terlihat ragu. "Tapi, Nyonya... Tuan Kairo sudah masuk ke lobi depan. Saya dengar suara Pak Ujang menyambutnya tadi. Kalau Tuan naik ke sini dan lihat Nyonya minum kopi bukannya istirahat..."

​"Biarkan saja," potong Elena dingin. Jari-jarinya sudah mengetuk-ngetuk permukaan laptop yang dingin. "Kalau Kairo masuk, jangan beritahu dia aku sedang apa. Bilang saja aku sedang meratapi nasib di kamar mandi kalau dia tanya. Atau bilang aku sedang menangis darah. Terserah imajinasimu."

​Mina mengangguk panik. 

Wajahnya pucat pasi membayangkan harus berbohong pada majikan prianya yang menyeramkan itu. Tapi melihat tatapan Elena yang jauh lebih tajam daripada pisau dapur, Mina memilih menyelamatkan diri. 

Dia bergegas keluar dan menutup pintu kamar tidur rapat-rapat.

​Begitu sendirian, Elena langsung membuka laptop itu. Layar menyala, menampilkan kolom password.

​Elena terdiam. Masalah pertama: apa kata sandi wanita bodoh ini?

​"Mari berpikir seperti wanita yang obsesi hidupnya cuma suami," gumam Elena. Dia memutar bola matanya, mencoba masuk ke dalam pola pikir Sora yang dangkal.

​Dia mengetik tanggal pernikahan mereka yang tercetak besar di bingkai foto dinding: 12122023.

​Akses Ditolak.

​"Oke, terlalu umum," komentar Elena.

​Dia mengetik tanggal ulang tahun Kairo. Dia tahu tanggal itu karena profil Kairo sering masuk majalah bisnis sebagai 'CEO Termuda'.

​Akses Ditolak.

​Elena menghela napas panjang. Dia mencoba kombinasi paling menggelikan dan narsis yang bisa terpikirkan oleh otak seorang bucin.

​KairoSayangSelamanya.

​Klik. Layar terbuka.

​"Ya ampun," desis Elena sambil memijat pelipisnya. Rasa malu tiba-tiba merayapi dirinya, padahal bukan dia yang membuat password itu. "Keamanan siber nol besar. Punya istri seperti ini adalah celah keamanan bagi CEO sekelas Kairo. Kalau aku saingan bisnisnya, aku sudah retas laptop ini, pasang spyware, dan kuras habis hartanya sejak lama. Bodoh."

​Elena mengabaikan wallpaper desktop yang—lagi-lagi—foto wajah close-up Kairo yang sedang tidak sadar kamera (sepertinya difoto diam-diam saat tidur), dan langsung membuka browser.

​Jari-jarinya yang lentik menari lincah di atas trackpad, membuka tab demi tab dengan kecepatan kilat yang biasa dia lakukan saat mengejar deadline audit perusahaan multinasional.

​Internet banking. Email. Catatan tagihan kartu kredit. Riwayat belanja e-commerce.

​Dalam lima menit, "Hiu Betina" itu sudah tenggelam dalam mode audit penuh. Matanya bergerak cepat memindai angka-angka di layar, sementara otaknya melakukan kalkulasi tanpa henti.

​"Mari kita lihat neraca keuangannya. Apakah Sora ini aset atau beban," gumamnya pelan.

​Dia membuka mutasi rekening utama Sora. Matanya sedikit membelalak melihat angka yang masuk setiap tanggal satu.

​"Lima ratus juta rupiah per bulan. Uang saku bersih," Elena bersiul pelan. "Kairo Diwantara, kau cukup royal juga untuk ukuran suami yang membenci istrinya. Atau ini uang tutup mulut supaya Sora tidak mengganggumu?"

​Tapi kekagumannya lenyap seketika begitu melihat kolom pengeluaran. Daftar transaksinya panjang sekali, seperti daftar dosa.

​Debit: 150 juta untuk tas edisi terbatas (yang warnanya hijau neon jelek itu, Elena ingat melihatnya teronggok menyedihkan di sudut lemari tadi).

​Debit: 50 juta untuk perawatan kulit di klinik kecantikan GlowUp.

​Debit: 25 juta untuk afternoon tea mentraktir teman-teman sosialita palsunya.

​Debit: 200 juta untuk pesta ulang tahun anjing peliharaannya—tunggu, Sora punya anjing? Kenapa tidak ada anjing di kamar ini? 

Oh, ada catatan kecil di email: anjingnya dititipkan di hotel hewan bintang lima karena Sora sedang bosan mengurusnya.

​Elena menelusuri daftar transaksi itu sampai baris paling bawah. Saldo akhir bulan ini:

​Rp 354.000,-

​Elena nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap angka itu dengan tatapan tidak percaya.

​"Gila," umpatnya kasar. "Wanita ini benar-benar bencana finansial. Pemasukan lima ratus juta, sisa tiga ratus ribu? Manajemen arus kas macam apa ini? Ini bukan defisit lagi, ini kebangkrutan moral! Tidak ada investasi, tidak ada tabungan darurat, tidak ada asuransi pribadi."

​Dia beralih ke tagihan kartu kredit. Ada tiga kartu platinum dari bank berbeda. Semuanya maxed out alias mentok limit. 

Total hutang kartu kredit berjalan hampir satu miliar rupiah. Bunganya saja sudah cukup untuk membeli mobil LCGC tiap bulan.

​Elena menyandarkan punggungnya ke sofa empuk itu, menatap langit-langit kamar mewah dengan tatapan kosong.

​Dia sekarang mengerti seratus persen kenapa Kairo menatap Sora dengan jijik.

​Di mata seorang pebisnis ulung seperti Kairo—dan Elena—Sora adalah aset berisiko tinggi dengan Return on Investment (ROI) negatif. Dia menyedot sumber daya (uang), tidak menghasilkan apa-apa selain drama, merusak citra publik dengan kelakuan noraknya, dan tidak punya nilai tawar.

​"Oke, kesimpulan audit tahap satu," Elena berbicara pada dirinya sendiri, suaranya dingin dan analitis seolah sedang presentasi di depan dewan direksi. 

"Posisi sebagai Nyonya Diwantara ini secara fundamental tidak menguntungkan. Memang, fasilitasnya mewah. Tapi tekanannya tinggi, atasan (suami) toksik, lingkungan kerja tidak kondusif, dan tidak ada jaminan masa depan. 

Kalau Kairo menceraikan Sora besok atau Kairo mati mendadak, wanita ini bakal jadi gelandangan dengan hutang miliaran yang akan mencekiknya sampai mati."

​Elena menatap pantulan wajah cantiknya di layar laptop yang gelap sejenak.

​Di kehidupan lamanya, Elena tidak pernah bergantung pada siapa pun. Dia membangun kekayaannya sendiri dari nol. Dia punya apartemen penthouse di kawasan elit, portofolio saham blue chip, dan reputasi yang membuat para CEO gemetar ketakutan.

​Sekarang? Dia nol.

​Tidak, dia minus. Dia punya hutang satu miliar dan citra buruk sebagai istri sampah.

​"Aku harus keluar," putusnya tegas. Matanya berkilat penuh tekad. "Aku tidak bisa bekerja di bawah manajemen yang membenciku. Aku harus resign. Tapi aku tidak bisa keluar dengan tangan kosong. Aku butuh modal untuk membangun ulang kerajaanku."

​Elena menegakkan tubuh. Dia butuh modal awal. Dia butuh "pesangon".

​Dan cara terbaik mendapatkan pesangon dari atasan yang pelit dan membencinya adalah dengan mengajukan pengunduran diri yang tidak bisa ditolak. Sebuah penawaran yang terlalu bagus untuk dilewatkan.

​Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard. Kali ini, dia tidak membuka data keuangan. Dia membuka aplikasi pengolah kata.

​Halaman kosong putih terpampang. Kursor berkedip-kedip, menantang.

​Elena mengetik judul dengan huruf kapital, tebal, dan di tengah halaman. Dia tidak mengetik "Surat Gugatan Cerai". Itu terlalu emosional. Dia mengetik bahasa bisnis:

​PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET

​Dia tidak akan menulis surat cinta menye-menye berisi "Mas, aku lelah, lepaskan aku." Itu gaya Sora. Gaya Elena adalah kontrak hitam di atas putih. Tegas. Mengikat.

​Pihak Pertama: Kairo Diwantara (Suami).

Pihak Kedua: Sora Araminta (Istri).

​Pasal 1: Ketentuan Perpisahan.

Pihak Kedua bersedia melepaskan statusnya sebagai istri sah Pihak Pertama secara sukarela dan tanpa tuntutan gono-gini yang rumit, dengan syarat Pihak Pertama menyetujui poin-poin kompensasi di bawah ini sebagai penyelesaian akhir (Full and Final Settlement).

​Elena mengetik dengan kecepatan iblis. Otaknya memuntahkan semua pasal hukum perdata dan bisnis yang dia hafal di luar kepala.

 Dia tahu celah hukum, dia tahu cara menekan lawan tanpa terlihat memaksa.

​Dia tidak meminta setengah harta kekayaan Kairo. Itu muluk-muluk, serakah, dan akan memakan waktu tahunan di pengadilan. 

Kairo punya tim pengacara mahal yang bisa melumatnya jadi debu.

​Tidak, Elena bermain taktis.

​Dia hanya meminta tiga hal:

​Pelunasan seluruh hutang kartu kredit atas nama Sora. (Pembersihan nama baik di BI Checking adalah prioritas utama Elena sebelum memulai bisnis baru).

​Satu properti apartemen tipe studio di pusat kota. (Bukan rumah mewah, cukup tempat tinggal layak yang strategis untuk mobilitas kerja).

​Uang tunai sebesar 5 miliar rupiah sebagai "modal usaha" alias pesangon.

​Bagi Kairo yang asetnya triliunan dan laba perusahaannya ratusan miliar per kuartal, angka 5 miliar itu seperti uang receh yang jatuh di sela sofa. 

Pria itu pasti akan dengan senang hati membayarnya asalkan "benalu" ini pergi dari hidupnya selamanya.

​"Ini kesepakatan win-win," gumam Elena sambil mengetik poin terakhir. "Dia dapat kebebasan dan ketenangan hidup, aku dapat modal startup. Murah sekali harga kebebasannya."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor luar.

​Bukan langkah kaki Mina yang ringan dan ragu-ragu.

​Ini langkah kaki berat, tegas, dan berirama. 

Dug.Dug.Dug. 

Suara sepatu kulit mahal yang menghantam lantai marmer dengan otoritas penuh. Setiap hentakan langkah itu seolah mengirimkan getaran bahaya yang merambat masuk ke dalam kamar, menembus dinding, dan menggelitik tengkuk Elena.

​Jantung Elena—atau lebih tepatnya jantung fisik Sora—berdetak kencang secara refleks. Tubuh ini punya memori ketakutan terhadap pemilik langkah kaki itu.

 Tubuh ini ingat rasanya dimarahi, diabaikan, dan ditatap dengan jijik.

​"Sialan, refleks tubuh ini mengganggu," rutuk Elena sambil menekan dadanya agar tenang. Dia menarik napas dalam, menyingkirkan emosi sisa pemilik tubuh lama. "Jangan takut. Dia cuma pria. Paling banter dia cuma CEO arogan yang butuh terapi pengendalian emosi."

​Dia melirik indikator baterai laptop. 2%. Merah dan berkedip sekarat.

​"Ayolah, bertahan sedikit lagi... jangan mati dulu, brengsek."

​Elena menekan tombol Print dengan sedikit kasar.

​Untungnya, printer nirkabel di sudut ruangan—yang sepertinya belum pernah dipakai Sora seumur hidupnya dan hanya jadi pajangan debu—berbunyi. Lampu indikatornya berkedip hijau, lalu suara mesin mulai menderu pelan, menarik kertas.

​Ngiiing... sret... sret...

​Suara printer itu terdengar sangat berisik di kamar yang sunyi. Terlalu lambat. Kenapa printer orang kaya selambat ini?

​Langkah kaki di luar semakin dekat. Suara berat itu berhenti sejenak, mungkin bicara pada pelayan di depan pintu, lalu terdengar lagi. 

Semakin keras. Semakin mengancam.

​Sekarang langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar.

​Suasana mendadak hening. Mencekam. Bahkan debu di udara seolah berhenti bergerak karena takut.

​Elena bisa membayangkan apa yang terjadi di balik pintu kayu jati tebal itu. Kairo pasti sedang berdiri di sana, tangannya memegang gagang pintu, mengatur napas karena marah harus pulang cepat hanya untuk mengurus istri yang dia anggap "mencari perhatian".

Pria itu pasti sedang menyiapkan kalimat pedas untuk menghina istrinya.

​Printer memuntahkan lembar terakhir.

​Sret.

​Elena menyambar kertas-kertas itu. Masih hangat. Tinta hitamnya tajam dan jelas. Surat resign-nya dari posisi istri sudah jadi. Senjata perangnya sudah siap.

​Pada detik yang sama, gagang pintu kamar itu bergerak turun perlahan.

​Klik.

​Suara kunci terbuka terdengar seperti letusan pistol di telinga Elena.

​Pintu terbuka lebar dengan bantingan kasar yang membuat bingkai foto pernikahan di dinding bergetar miring.

​Brak!

​Angin dingin dari koridor seolah ikut masuk, membawa serta aura gelap yang pekat dari sosok pria yang berdiri menjulang di ambang pintu.

​Kairo Diwantara.

​Pria itu terlihat jauh lebih mengintimidasi daripada di foto. Tingginya menjulang, bahunya lebar dibalut kemeja putih yang lengan bajunya digulung berantakan sampai siku, dasinya sudah longgar, jas hitamnya tersampir asal di lengan kiri. 

Wajahnya tampan bak dewa yunani, tapi ekspresinya sekeras batu granit. Rahangnya mengeras, matanya yang hitam legam menyala dengan api amarah yang tertahan.

​Tatapan tajam itu langsung menyapu seluruh ruangan. Dari bathtub yang pintu kamar mandinya terbuka menampilkan sisa air, ke meja rias yang berantakan, dan akhirnya berhenti mengunci targetnya tepat di sofa dekat jendela.

​Di tempat Elena duduk dengan kaki menyilang santai, secangkir kopi hitam di meja, dan tumpukan dokumen di tangan.

​Tatapan mereka bertemu di udara. Benturan dua dominasi.

​Kairo mengharapkan tangisan. Dia mengharapkan Sora berlari memeluk kakinya, memohon maaf karena sudah membuat keributan, atau merengek sakit dengan perban palsu itu.

 Dia sudah siap untuk membentak, siap untuk muak. Tapi tidak ada air mata. Tidak ada drama.

​Wanita di sofa itu menatapnya balik. Matanya jernih, tenang, dan dingin.

​Sora menatapnya bukan sebagai suami, tapi seolah sedang menilai harga setelan jas yang dipakainya dan menemukannya kemahalan.

​"Kau..." suara Kairo keluar, rendah dan berbahaya, seperti geraman hewan buas yang wilayahnya diganggu. 

Dia melangkah masuk, menutup pintu dengan tendangan kakinya tanpa memutus kontak mata. 

Aura membunuhnya memenuhi ruangan. "Masih punya nyali untuk menatapku seperti itu setelah kekacauan yang kau buat?"

1
Warni
Astaga
Warni
🤭🤣🤣🤣😁
Warni
😱
Warni
🤣
Warni
Langsung,50%:50%
Warni
Oh
Warni
Padahal sering bikin drama.
Warni
Hahahahahhahah
Warni
Tumben kerja sama?
Warni
🤭
Warni
😁
Warni
Auu
Warni
/Kiss/
Warni
Wah habis ini.
Warni
Bella TDK ada artinya.
Warni
🤣🤣🤣🤣
Warni
😂
Warni
Hooooo🤭
Warni
Kayaknya Reza lebih takut sama Bu bos dari pada pak bos.
Savana Liora: iya wkwk
total 1 replies
Warni
Hahahhaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!