Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Audit Kehidupan
"Ini... ini kopinya, Nyonya."
Cangkir porselen berdenting di meja kaca. Tangan Mina gemetar, menumpahkan sedikit cairan hitam pekat itu. Dia mundur cepat, seolah takut diterkam.
Elena mengabaikan ketakutan itu. Dia menyambar cangkir, menyesapnya. Panas. Pahit. Tanpa gula. Sempurna.
"Lumayan," gumam Elena. Kafein menghajar sistem sarafnya, membakar kabut di otak. Dia menatap Mina tajam. "Mana laptopnya?"
Mina menyodorkan MacBook rose gold tipis. "Baterainya tinggal sedikit, Nyonya. Charger-nya entah di mana."
Elena mendengus. Sora pasti menganggap laptop cuma aksesoris meja rias.
"Keluar."
"Tapi Tuan Kairo sudah di lobi..."
"Biarkan. Kalau dia tanya, bilang aku sedang menangis darah. Terserah imajinasimu."
Mina kabur, menutup pintu rapat-rapat.
Elena membuka laptop. Layar menyala meminta password.
"Mari berpikir seperti wanita obsesif," gumamnya.
Tanggal pernikahan? Akses Ditolak.
Ulang tahun Kairo? Akses Ditolak.
Elena memutar bola mata, mengetik kombinasi paling narsis yang mungkin dipikirkan otak bucin Sora.
KairoSayangSelamanya.
Klik. Terbuka.
"Ya ampun," desis Elena. "Keamanan siber nol besar. Kalau aku musuh bisnisnya, Kairo sudah hancur. Bodoh."
Mengabaikan wallpaper wajah close-up Kairo, jari-jari Elena menari lincah di trackpad. Browser terbuka. Internet banking, email, tagihan kartu kredit. Dalam lima menit, "Hiu Betina" itu masuk mode audit penuh.
"Mari kita lihat neraca keuangannya."
Dia membuka mutasi rekening. Masuk: 500 juta rupiah per bulan.
"Cukup royal," komentar Elena. Tapi matanya menyipit melihat kolom pengeluaran.
Debit: 150 juta (Tas edisi terbatas).
Debit: 50 juta (Klinik kecantikan).
Debit: 200 juta (Pesta ulang tahun anjing).
Saldo akhir: Rp 354.000,-
"Gila," umpatnya kasar. "Pemasukan setengah miliar, sisa tiga ratus ribu? Ini kebangkrutan moral! Manajemen arus kas sampah."
Dia beralih ke kartu kredit. Tiga kartu platinum, semuanya maxed out. Total hutang satu miliar. Elena bersandar, menatap langit-langit kosong. Dia mengerti kenapa Kairo jijik. Sora adalah aset berisiko tinggi dengan ROI negatif. Jika Kairo menceraikannya besok, wanita ini akan mati tercekik hutang.
"Oke, kesimpulan audit," Elena bicara sendiri dengan nada dingin. "Posisi sebagai Nyonya Diwantara tidak berkelanjutan. Atasan toksik, lingkungan kerja buruk, tidak ada jaminan masa depan."
Elena menegakkan tubuh. Matanya berkilat.
"Aku harus resign. Tapi aku butuh pesangon untuk modal membangun ulang kerajaanku."
Dia membuka aplikasi pengolah kata. Halaman kosong putih menantang. Elena tidak menulis surat cinta cengeng. Dia mengetik dengan format kontrak bisnis.
PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET
Pihak Pertama: Kairo Diwantara.
Pihak Kedua: Sora Araminta.
Pasal 1: Pihak Kedua bersedia melepaskan status istri sah tanpa tuntutan gono-gini rumit, dengan syarat kompensasi Full and Final Settlement:
Pelunasan seluruh hutang kartu kredit (Pembersihan nama baik di BI Checking adalah prioritas mutlak).
Satu apartemen studio di pusat kota (Tempat tinggal strategis untuk mobilitas kerja).
Uang tunai 5 miliar rupiah sebagai modal usaha.
Bagi Kairo yang asetnya triliunan, 5 miliar adalah uang receh. Harga murah untuk membeli kebebasannya dari istri benalu.
"Win-win solution," gumam Elena.
Dug. Dug. Dug.
Langkah kaki berat terdengar dari koridor. Tegas, berirama, dan penuh otoritas. Jantung fisik Sora berdegup kencang karena memori ketakutan. Elena menekan dadanya paksa.
"Jangan takut. Dia cuma pria yang butuh terapi emosi."
Baterai laptop 2%. Berkedip merah.
Elena menekan Print. Printer nirkabel tua di sudut ruangan menyala, menderu lambat. Ngiiing... sret... sret...
Suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Hening. Mencekam. Bahkan debu seolah berhenti bergerak. Elena membayangkan Kairo di balik pintu, mengatur napas karena marah harus pulang mengurus istri drama.
Printer memuntahkan lembar terakhir.
Elena menyambar kertas yang masih hangat itu. Surat resign dari posisi istri sudah siap.
Gagang pintu bergerak turun.
Klik.
BRAK!
Pintu terbanting lebar. Angin dingin dan aura gelap menyeruak masuk.
Kairo Diwantara berdiri menjulang di ambang pintu. Kemeja putih digulung berantakan, dasi longgar, jas tersampir di tangan. Wajahnya tampan bak dewa, tapi ekspresinya sekeras granit. Matanya yang hitam legam menyala dengan api amarah.
Tatapan tajam itu menyapu ruangan. Dari bathtub, ke meja rias, dan terkunci pada sofa dekat jendela.
Di sana, Elena duduk menyilang kaki dengan santai. Secangkir kopi di meja, tumpukan dokumen di tangan.
Tatapan mereka bertemu. Benturan dua dominasi.
Kairo mengharapkan tangisan. Dia mengharapkan Sora memeluk kakinya memohon ampun. Tapi tidak ada air mata. Tidak ada drama. Wanita itu menatapnya balik dengan sorot mata jernih, tenang, dan dingin—seolah sedang menilai harga setelan jasnya.
"Kau..."
Suara Kairo keluar rendah, berbahaya, seperti geraman hewan buas. Dia melangkah masuk, menendang pintu hingga tertutup di belakangnya tanpa memutus kontak mata.
"Masih punya nyali untuk menatapku seperti itu setelah kekacauan yang kau buat?"
Udhlah,, senggol bacokl🤣🤣