Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Pewaris dan Penantang
Sejak pulang dari sumur, rumah tidak lagi terasa seperti tempat berlindung, melainkan ruang tunggu menuju keputusan.
Buku tua milik Bima Darsa pertama kami simpan di meja ruang tengah. Setiap kali aku melewatinya, huruf-huruf pudar di dalamnya seperti ikut menatap. Kalimat tentang pewaris dan penantang terus mengganggu pikiranku.
Ayah berusaha melarang rencana pertemuan itu.
“Kita bisa cari cara lain, Sa. Nggak harus kamu yang maju.”
Tapi Arga tahu, dan aku pun tahu, tidak ada jalan memutar lagi.
“Dia hanya mau bicara dengan orang yang namanya terikat,” kata Arga pelan. “Selain Raisa, semua hanya penonton.”
Dini marah besar.
“Kenapa selalu dia yang harus jadi tumbal keberanian orang lain?”
Aku menggenggam tangannya.
“Kali ini bukan jadi tumbal. Kali ini aku yang memilih.”
Kalimat itu terdengar lebih mantap dari perasaanku yang sebenarnya.
⸻
Pesan dari Bima datang malam itu, tanpa perantara.
Bukan lewat kertas, bukan lewat mimpi—tapi lewat radio tua milik Ayah yang tiba-tiba menyala sendiri saat kami sedang makan.
Di antara suara kresek statis, terdengar suaranya jelas:
“Besok malam. Di sumur. Datang sendiri, Raisa.”
Ayah langsung mematikan radio, tapi kalimat itu sudah telanjur masuk ke tulangku.
Arga menatapku.
“Kita tetap ikut mengawasi dari jauh.”
Aku mengangguk.
Sendiri bukan berarti tanpa penjaga—hanya tanpa tameng.
⸻
Seharian menjelang malam pertemuan itu, aku lebih banyak diam.
Aku menulis di buku catatan kecil semua yang ingin kukatakan pada Bima—bukan kalimat hebat, hanya kejujuran sederhana: bahwa hidupku bukan alat, bahwa kesalahan leluhurnya bukan utangku.
Beberapa kali bayangan diriku muncul di cermin, tapi tidak lagi mengancam. Dia hanya menatap seperti saudara kembar yang ikut cemas.
“Siap?” tanyanya tanpa suara.
Aku menjawab pelan,
“Belum. Tapi tetap pergi.”
⸻
Kami berangkat setelah isya.
Ayah, Dini, dan Arga mengantarku sampai batas hutan, lalu berhenti sesuai kesepakatan. Dari sana aku harus berjalan sendiri menuju sumur.
“Kalau ada apa-apa, teriak,” kata Ayah.
Aku tersenyum.
“Kalau sempat.”
Langkahku memasuki hutan terasa lebih ringan dari yang kubayangkan. Mungkin karena rasa takut sudah terlalu sering kutemui, sampai akhirnya jadi teman perjalanan.
Di kejauhan aku melihat cahaya lilin di sekitar sumur.
Bima sudah menunggu.
⸻
Dia berdiri di tepi sumur dengan pakaian sederhana, tanpa senyum, tanpa gaya orang berkuasa. Hanya lelaki biasa dengan mata yang terlalu dalam.
“Kamu datang juga,” katanya.
“Aku bukan tamu undangan,” jawabku. “Aku pemilik hidup yang mau kamu pakai.”
Bima tertawa pendek.
“Kata-katamu mulai mirip gurumu.”
“Guruku mengajarkan menutup, bukan membuka.”
Kami berdiri berhadapan, dipisahkan bibir sumur yang gelap.
Angin malam berputar pelan seperti ikut menyimak.
⸻
Bima memulai tanpa basa-basi.
“Kamu sudah lihat buku kakekku, kan?”
Aku mengangguk.
“Berarti kamu tahu, jalur ini tidak bisa ditutup sepihak. Selalu butuh penyeimbang.”
“Aku bukan penyeimbangmu.”
“Kamu sudah jadi sejak lahir.”
Kalimat itu menusuk, tapi aku menahannya.
“Aku bukan kesalahan yang diwariskan.”
Bima menatap lama, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—kalung mirip milikku, tapi bertuliskan satu kata lain:
“Jalan.”
“Ini milik keluargaku,” katanya. “Tiap generasi memegang satu sisi: hidup dan jalan.”
Aku sadar simbol itu seperti dua bagian dari kunci yang sama.
⸻
Dari dalam sumur terdengar suara lama—bukan memanggil, hanya mendengarkan.
Bima melanjutkan,
“Kakekku membuka untuk menolong. Aku menjaga agar tetap terkendali. Tanpa penjaga, yang di bawah akan mencari jalan liar.”
“Dan kamu memilih aku jadi gerbangnya.”
“Kamu yang paling cocok.”
Aku menggeleng keras.
“Kecocokan bukan izin.”
Hening sebentar.
Lalu aku memberanikan diri mengatakan inti yang kupelajari di Bab 17.
“Kesalahan pertama bukan pada makhluk di bawah. Tapi pada manusia yang meminta jalan pintas.”
Wajah Bima berubah.
“Kamu bertemu dia, ya?”
Aku tahu yang dia maksud: sosok Bima Darsa pertama di lorong sumur.
“Aku bertemu penyesalannya.”
⸻
Percakapan itu berubah arah.
Bima tidak lagi bicara sebagai penguasa, tapi sebagai cucu yang dibesarkan oleh warisan berat.
“Sejak kecil aku diajari menjaga jalur ini. Aku bahkan nggak sempat memilih cita-cita sendiri.”
“Aku juga,” jawabku. “Bedanya, aku memutus untuk memilih sekarang.”
Dari sumur tiba-tiba muncul angin dingin, seolah masa lalu dan masa kini bertabrakan.
Bima menatap lubang gelap itu.
“Kalau aku berhenti, siapa yang menahan mereka?”
Aku mengangkat kalungku.
“Kita tutup, bukan jaga.”
Dia tertawa getir.
“Kamu terlalu percaya pada akhir bahagia.”
⸻
Saat itulah jebakan pertama terjadi.
Tanah di sekitar sumur tiba-tiba retak membentuk pola denah besar—lebih besar dari yang pernah kulihat di rumah.
Bima terkejut.
“Ini bukan perbuatanku.”
Dari dalam sumur terdengar suara banyak langkah.
Bayangan diriku muncul di sampingku, sementara di belakang Bima berdiri bayangan kakeknya.
Dua garis keturunan benar-benar bertemu.
Suara dari dalam sumur berkata jelas:
“Pilih: dibuka bersama atau ditutup bersama.”
Aku menatap Bima.
“Ini kesempatan kita.”
Dia ragu, jelas sekali.
“Aku diajari untuk tidak menutup.”
“Dan aku diajari untuk hidup.”
⸻
Kami berdiri di tepi yang sama—bukan lagi lawan, tapi dua manusia yang sama-sama ditipu masa lalu.
Aku mengulurkan tangan.
“Bukan sebagai pintu. Sebagai orang.”
Detik itu menjadi titik balik.
Bima memegang tanganku.
Retakan di tanah berhenti melebar.
Bayangan kakeknya memudar perlahan, seolah restu yang akhirnya datang terlambat.
Suara dari sumur menggeram kecewa, tapi tidak lagi memaksa.
Untuk pertama kalinya aku melihat keraguan di mata Bima.
“Mungkin… aku juga lelah menjaga yang salah,” katanya lirih.
⸻
Bab 18 berakhir di momen menggantung itu—
dua keturunan berdiri di atas luka lama,
memilih antara meneruskan atau mengakhiri.
Angin hutan membawa bau tanah yang lebih ringan, bukan ancaman, tapi kemungkinan.
Aku tahu jalan masih panjang,
tapi malam itu, untuk pertama kalinya, musuhku tidak lagi berdiri berseberangan.