Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGUGURAN KETIGA KALINYA
Perasaan Riko tidak enak. Begitupun dengan Leksono yang sudah di taxi online dengan anak perempuannya tapi tiba tiba meminta kembali ke hotel.
Riko yang baru saja masuk kamarnya jadi khawatir kepada Maya, ia pun langsunh turun lift ke lantai dimana kamar Maya berada.
Dari kejauhan, Riko sudah mendengar suara suara rintihan. Semakin dekat dengan kamar Maya, suara wanita kesakitan semakin terdengar. Riko berlari dan langsung membuka pintu kamar yang diduga sumber suara.
Pintu kamar tidak ditutup rapat ternyata karena ada sela yang terbuka. Maya sudah memiliki perasaan jika suaminya itu akan mengamuk maka dari itu tadi saat masuk pintunya tidak ditutup rapat. Juan pun tidak curiga dengan hal ini.
Brak!
Saat masuk, Riko sudah melihat darah dari kaki Maya dan wajah wanita itu sudah banyak bagian memar serta memerah. Wanita itu bersandar di dinding hotel.
"BAJINGAN!!!" teriak Riko lalu langsung menghajar Juan didepan Maya.
Juan pun tidak tinggal diam, ia memutar balik tubuh Riko lalu menghajarnya balik.
Maya yang melihat pertikaian keduanya pun tidak bisa berteriak minta tolong karena keadaannya sendiri sudah kesakitan.
Untung saja ada beberapa tamu hotel yang lewat langsung memanggil security dan petugas hotel. Tak lama kemudian, Juan dan Riko diamankan sedangkan Maya dibawa kerumah sakit dengan cepat oleh pihak hotel.
Leksono yang datang terlambat ke hotel, melihat mobil polisi didepan lobby.
"Ada apa ini?" tanyanya kepada security.
"Ada tamu hotel saling serang dan ada wanita yang juga jadi korban dibawa kerumah sakit" jawab security.
Tentunya dalam bahasa inggris keduanya berbicara.
Deg!
Leksono langsung berniat berlari menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar putra dan putrinya, tapi sebelum itu terjadi ia melihat Riko dan Juan di borgol polisi Singapura.
"Ju..juan" panggil Leksono kepada putranya.
"Abang" panggil Laras kepada kakak laki lakinya.
Mereka melihat pria disamping Juan adalah pria yang bertemu di busway tadi.
"Anda wali salah satu dari pria ini? Mari ikut kami ke kantor polisi" ucap salah satu polisi kepada Leksono.
"Bagaimana dengn menantuku? Apakah dia baik baik saja?" tanyanya yang sangat mengkhawatirkan Maya.
"Sepertinya dia terluka dan mengalami pendarahan. Lebih baik ada keluarga yang menyusulnya di rumah sakit dan anda ikut kami ke kantor polisi" jawab polisi.
Leksono memberi kode kepada Laras untuk mencari info tentang Maya sedangkan dirinya ikut ke kantor polisi.
Riko dan Juan masuk di mobil yang berbeda. Leksono ikut mobil dimana putranya berada.
"Apa yang terjadi padamu hah? Kenapa bisa seperti ini Juan?" tanya Leksono pada anaknya dengan bahasa indonesia.
"Maya telah berselingkuh dan bisa jadi anak yang ia kandung bukan anakku" jawab Juan.
"Astaga! Kamu menuduh istrimu berselingkuh tanpa alasan jelas? Maya tidak akan berselingkuh darimu jika kamu tidak menyakitinya selama 5 tahun ini. Ayah diam karena tidak ingin ikut campur rumah tanggamu seperti pesan dari istriku. Tapi apa sekarang, kamu menyakiti istrimu lagi dan lagi yang sedang hamil anakmu. Kamu akan menyesal" ujar Leksono.
"Ayah juga tau kamu sering bermain dengan wanita diluar sana untuk melampiaskan nafsumu" lanjutnya.
"Ayah tidak heran jika Maya bisa berselingkuh jika suaminya saja melakukan hal itu lebih dulu ditambah menyakitinya" tambahnya.
"AYAH!" seru Juan tidak terima.
"Hust! Silent!" tegur polisi.
Di mobil polisi satunya, Riko sendiri. Ia memikirkan keadaan Maya.
"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanyanya pada polisi menggunakan bahasa inggris.
"Nanti kita akan tau kabarnya di kantor polisi" jawab polisi.
Riko kembali diam. Hatinya sangat terluka melihat Maya berdarah begitu didepanny. Tubuhnya seakan akan ikut terluka.
"AWAS SAJA KAU PRIA BRENGSEK, JIKA SAMPAI TERJADI APA APA DENGAN WANITA YANG KUCINTAI, KUTIDAK AKAN MELEPASKANMU TANPA LUKA TEMBAKAN!!" batin Riko sambil mengepalkan tangannya kuat meskipun sedang di borgol.
Sesampainya di kantor polisi, keduanya di interogasi oleh pihak hotel dan polisi bersamaan.
Sembari menunggu hasil pemeriksaan Maya, keduanya ditahan diruangan berbeda.
Sekitar 2 jam menunggu, akhirnya polisi yang ikut mengantarkan Maya di rumah sakit membawa hasil visum.
"Keadaan korban cukup parah sehingga pendarahan yang terjadi menyebabkan kehilangan janin yang ia kandung. Luka luka di tubuhnya membuktikan bahwa ada pukulan serta tamparan yang dilakukan oleh suaminya. Ini adalah tindakan KDRT yang diberlakukan hukum berlaku" isi surat dari rumah sakit yang dibacakan didepan Juan serta Riko bersamaan.
Ada Leksono juga yang mendengarnya padahal ia sudah tau kondisi Maya karena mendapatkan kiriman pesan dari Laras 30 menit yang lalu.
Riko mengklaim dirinya adalah teman Maya yang tidak sengaja bertemu dan menginap di hotel yang sama lalu menemukan tindakan kekerasan ini.
Sedangkan Juan menuduh Riko sebagai selingkuhan istrinya yang berusaha memisahkannya dengan Maya.
Polisi membebaskan Riko karena yang bersalah kepada korban adalah Juan sebagai tersangka tindakan kekerasan. Leksono hanya diam dan malu atas sikap putranya ini di negara orang.
Meskipun begitu, Leksono menghubungi kenalannya di Singapura untuk membantu melepaskan Juan.
Riko yang sudah keluar memberanikan diri untuk menghadapi Leksono.
"Selamat sore, Pak" sapanya.
"Sore. Siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu lakukan dengan pernikahan putra saya?" tanya Leksono to the point,
"Jika bapak ingat kejadian 5 tahun, saya adalah mahasiswa yang dilukai oleh putra anda sebelum wisuda dari fakultas hukum hingga hampir saja tidak selamat" jawab Riko jujur.
Raut wajah Leksono terlihat terkejut.
"Kamu..kamu baik baik saja?" tanyanya dengan suara bergetar. Selama 5 tahun ini, ia sangat merasa bersalah atas kejahatan putranya yang ia sembunyikan.
"Ya, saya baik baik saja. Saya berjuang sangat keras bisa ada dititik ini. Tapi saya tidak melupakan apa yang putra anda lakukan kepada saya" jawab Riko.
"Kalau tidak salah, namamu Riko bukan?" tebak Leksono.
Riko mengangguk.
"Saya disini tidak bersalah dan tidak untuk berselingkuh dengan menantu anda. Tapi sepertinya putra anda mengamuk ketika melihat wajah saya" ucapnya.
"Saya memaklumi 5 tahun lalu jika sebagai ayah melindungi putranya karena jabatan yang anda miliki. Namun untuk sekarang saya harap anda dapat dapat menahan putra anda sendiri dengan menyadarkannya dari kekerasan yang dia lakukan" lanjut Riko.
Leksono mendengarkan dengan seksama.
"Saya akan menjadi pengacara perceraian Maya, saya harap anda membantu proses cerai ini dan meyakinkan kepada putra anda bahwa dia tidak pantas menjadi suami dari Maya" ucap Riko.
Deg!
Hati mana ayah mana yang tidak terluka saat ternyata pria yang dituduh berselingkuh dengan menantunya adalah pengacara untuk perceraian anaknya? Apakah ini rencana dari mantan mahasiswanya yang dilukai oleh sang putra?
Tapi entah apapun perasannya, bagi Leksono putranya memang salah dan tidak bisa ia lindungi lagi. Mungkin Maya memang sudah tidak berjodoh dengan Juan.
Leksono terlihat menghela nafas berat sebelum menjawab.
"Baiklah. Aku akan membujuk Juan untuk menceraikan Maya secara baik baik. Tolong jaga Maya" ucapnya.
Riko tersenyum tipis.
"Terima kasih" ujarnya lalu berjalan keluar kantor polisi menuju rumah sakit.
Leksono duduk termenung menunggu kenalannya yang akan membantu membebaskan Juan dari kantor polisi Singapura.