NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Jam makan siang membuat kantin kampus penuh sesak.

Suara sendok beradu, tawa mahasiswa, dan aroma gorengan bercampur jadi satu. Di salah satu sudut, geng Kobra sudah berkumpul lebih dulu ada Bima, Sakti, dan Alex duduk melingkar, jaket kulit mereka tersampir di kursi.

Begitu melihat Kaisar melintas, mereka langsung berteriak.

“Kai! Sini, woy!”

Kaisar melirik sekilas, lalu berjalan ke arah mereka. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi tanpa basa-basi, wajahnya kusut, rahang mengeras.

Bima menyipitkan mata. “Lah, muka lo kenapa? Kayak abis ditilang tiga kali.”

Kaisar diam.

Ia mengambil minum, meneguknya habis, lalu meletakkan botol dengan bunyi yang cukup keras. Sakti menyandarkan punggung. “Jangan bilang … lo lagi puasa balapan, terus sakaw.”

“Gue yakin ini gara-gara udah lama nggak ngegas,” sambung Bima santai.

“Lo ilang dari peredaran, Kai.”

Alex mengangguk setuju. “Serius, geng Meteor nyariin kita. Riko udah beberapa hari ngehubungin. DM, chat, telepon dan nggak ada yang dibales.”

Sakti mencondongkan badan. “Dia ngajak balapan hari ini. Sore nanti, jalur lama.”

Kaisar masih belum bereaksi.

Matanya menatap kosong ke arah keramaian kantin, tapi pikirannya jelas bukan di sana. Bayangan pagi tadi dan mobil Shelina, Rangga turun dari kursi penumpang, suara mahasiswa bergosip itu terus berputar di kepalanya.

Bima mengernyit. “Kai?”

Alex menjentikkan jari di depan wajahnya. “Bro, lo hidup?”

Kaisar akhirnya menghela napas panjang.

“Ntar aja,” katanya pendek.

Tiga pasang mata saling berpandangan.

“Ntar aja apanya?” tanya Sakti.

“Balapan.”

Bima terkejut. “Lah? Sejak kapan lo nolak?”

Kaisar menggeser kursinya, berdiri setengah malas. “Gue lagi nggak mood.”

Alex menaikkan alis. “Ini parah.”

Kaisar menatap mereka sekilas, tatapan yang biasanya penuh tantangan, sekarang justru terlihat lelah dan kesal.

“Gue cabut dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, Kaisar melangkah pergi meninggalkan meja. Di belakangnya, suara Bima terdengar lirih tapi jelas.

“Fix, bukan soal balapan.”

Sakti menyeringai kecil. “Kayaknya … ada yang lagi kepikiran cewek.”

Alex mendengus. “Dan itu bahaya.”

Sementara Kaisar berjalan menjauh, ia sendiri belum sadar bahwa dunia yang selama ini ia banggakan mulai kehilangan daya tariknya, dan satu nama perlahan mengambil alih pikirannya meski ia menolak mengakuinya.

Koridor kampus siang itu ramai oleh lalu-lalang mahasiswa.

Kaisar berjalan dengan langkah malas, hendak kembali ke kelas, ketika matanya kembali tertangkap pemandangan yang sama Miss Shelina dan Pak Rangga.

Keduanya berjalan berdampingan menuju kantin dosen. Tidak ada jarak canggung, tidak ada sikap kaku. Rangga mencondongkan tubuh sedikit saat berbicara, Shelina mengangguk, sesekali tersenyum tipis.

“Ya elah…” gumamnya kesal.

Tangannya meremas tali ransel. Dadanya terasa panas, seperti ada sesuatu yang menggesek harga dirinya atau mungkin egonya. Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya semarah itu.

"Kenapa gue peduli, sih?"

Tapi langkahnya melambat. Tatapannya tak lepas dari punggung Shelina sampai wanita itu menghilang di belokan koridor.

Kaisar mendecakkan lidah, berbalik arah. “Nyebelin,” gerutunya pada diri sendiri.

Baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah suara lembut menghentikannya.

“K-Kak Kaisar?”

Kaisar menoleh.

Seorang mahasiswi semester pertama berdiri di depannya. Tubuhnya kecil, wajahnya imut, pipinya sedikit memerah menahan gugup. Kedua tangannya memegang paper bag cokelat dengan pita kecil di pegangan.

“I-ini … buat Kakak,” katanya pelan, menyodorkan paper bag itu. Sekitar mereka, beberapa mahasiswa otomatis melambatkan langkah. Ada yang berhenti pura-pura main ponsel. Ada yang saling sikut sambil berbisik. Selama Kaisar ada di kampus itu, semua orang tahu satu hal, tidak pernah ada satu pun pemberian cewek yang ia terima.

Cokelat, surat, hadiah dan semuanya berakhir ditolak atau dikembalikan. Kaisar menatap paper bag itu. Biasanya, ia akan langsung menolak tetapi kali ini beda.

Tanpa banyak pikir, Kaisar mengulurkan tangan.

“Ya,” katanya singkat. “Makasih.” Paper bag itu berpindah ke tangannya.

Detik itu juga koridor hening sesaat.

“Eh?”

“Gila! Dia menerimanya?!”

“Ketua geng kobra terima hadiah dari cewek semester pertama?”

“Itu cewek siapa?”

Wajah mahasiswi itu langsung memerah, antara senang dan tak percaya. Ia membungkuk kecil, lalu berlari pergi.

Kaisar sendiri baru tersadar beberapa detik kemudian. Ia melirik paper bag di tangannya, alisnya mengerut tipis.

“Apa-apaan gue ini,” gumamnya. Namun, semuanya sudah terlambat dan dia tidak membuangnya.

Beberapa mahasiswa sudah sibuk membuka ponsel. Grup chat kampus mulai ramai, gosip menyebar secepat api disiram bensin.

Arena balapan liar itu kembali hidup menjelang senja.

Aspal panjang di pinggiran kota mulai dipenuhi motor-motor besar. Lampu-lampu dinyalakan setengah, suara knalpot meraung saling menantang. Bau bensin dan debu bercampur di udara dan tempat yang dulu terasa seperti rumah bagi Kaisar.

Dan sore itu, Kaisar ada di sana dia datang kembali ke tempat itu.

Jaket hitamnya dikenakan, helm tergantung di tangan. Wajahnya dingin, jauh dari ekspresi santai yang biasa ia tunjukkan sebelum balapan. Namun, kehadirannya saja sudah cukup membuat geng Kobra bersorak.

“Anjir, Kai balik!”

“Gila, gue kira lo pensiun!”

“Akhirnya!” Bima menepuk bahu Kaisar keras-keras.

“Gue tau juga lo nggak bakal tahan lama.”

Kaisar tidak tersenyum.

Ia menaruh helmnya di jok motor, menatap lintasan di depan, jalan lurus yang sudah terlalu sering ia taklukkan. Dulu, tempat ini adalah pelariannya. Tempat ia bisa lupa segalanya, sekarang pun sama menjadi tempat pelarian juga.

“Gue ikut,” katanya singkat.

Sorakan langsung pecah.

“Yes!”

“Ketua balik!”

“Ini baru Kaisar!”

Namun, sebelum ada yang terlalu larut dalam euforia, Kaisar melanjutkan dengan suara datar,

“Tapi ini yang terakhir.”

Suasana mendadak meredup, Bima menoleh cepat.

“Maksud lo?”

“Setelah ini,” lanjut Kaisar, menatap lurus ke depan, “gue nggak mau balapan lagi.”

Sakti dan Alex saling pandang. Mereka mengenal Kaisar cukup lama untuk tahu kalau nada suaranya sudah seperti itu, tidak ada ruang bercanda.

“Lo serius?” tanya Sakti pelan.

Kaisar mengangguk. “Serius.”

“Yaudah,” kata Bima akhirnya, berusaha tetap santai. “Kalau itu maunya lo.”

Alex menepuk helmnya sendiri. “Kalau ini terakhir, ya kita bikin yang bersih.”

Kaisar mengenakan helmnya, suara pengunci terdengar tegas. Ia menyalakan motor, mesin meraung keras dan suara yang dulu selalu membuatnya tersenyum.

Deru knalpot memenuhi udara sore yang mulai gelap. Lampu-lampu motor berjajar, menyilaukan, seperti mata binatang buas yang siap menerkam. Kaisar berdiri di samping motornya, jaket hitamnya terbuka sedikit, helm masih tergantung di tangan. Wajahnya datar, dingin untuk seseorang yang akan turun ke arena balapan liar.

Bima mendekat, menepuk bahu Kaisar pelan lalu mencondongkan badan. Suaranya direndahkan, tapi cukup tajam untuk menembus bising.

“Ini yang terakhir, Sar. Lo harus menang,” bisiknya.

“Kalau kalah … lo nggak boleh berhenti.”

Kaisar menoleh, tatapannya menancap lurus ke mata Bima, tanpa emosi. Bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum tetapi lebih seperti peringatan.

“Gue menang,” katanya singkat. Anggukan kecil menyusul, seolah menerima tantangan yang bahkan tak perlu diucapkan.

Di seberang garis start, geng lawan sudah bersiap. Beberapa dari mereka tertawa mengejek, ada yang sengaja menggeber motor, menciptakan suara ledakan yang memancing adrenalin. Sorakan penonton makin menggila, teriakan saling bersahutan nama Kaisar diteriakkan lantang, disambut ejekan dari kubu seberang.

Seorang pembalap lawan melirik Kaisar, menyeringai sinis.

“Katanya ini balapan terakhir lo?” teriaknya. “Jangan nangis kalau kalah!”

Kaisar tak menanggapi, dia hanya mengenakan helmnya perlahan, menutup wajah yang sejak tadi menyimpan beban entah apa. Di balik kaca helm, pikirannya melayang, sekilas terlintas wajah Shelina, kamar yang sunyi, foto yang dipeluk erat, dadanya menegang.

'Miss, ini yang terkahir. Setelah ini Gue janji akan menjadi suami yang baik buat Lo,' batinnya, kemudian mesin dinyalakan.

Satu per satu motor mengaum, seakan berlomba lebih dulu sebelum bendera diturunkan. Seorang pria berdiri di tengah lintasan, tangan terangkat tinggi.

Motor Kaisar melesat ke depan, ban berdecit, tubuhnya condong sempurna menyatu dengan mesin. Angin menghantam keras, suara dunia seolah menghilang, menyisakan detak jantung dan lintasan gelap di depan mata.

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!