NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Pukul dua dini hari. Keheningan di kediaman itu biasanya hanya dipecah oleh suara detak jam dinding atau embusan angin yang menerpa pepohonan di halaman. Namun malam ini, kesunyian itu robek oleh rintihan tertahan dari kamar utama.

Jasmine terbangun dengan peluh dingin yang membasahi dahi. Rasa nyeri itu datang tiba-tiba, melilit dari pinggang bawah hingga ke seluruh perutnya yang sudah membuncit kencang. Ia mencoba mengatur napas seperti yang diajarkan di kelas yoga, namun rasa mulas itu semakin intens.

"Aduh... perut aku sakit banget, Kak..." rintih Jasmine. Suaranya parau, tenggelam di antara bantal-bantal besar yang menyanggah tubuhnya.

Ia mencoba meraih ponsel di nakas, namun tangannya gemetar hebat. Rasa sakit itu seolah meremas rahimnya, membuat Jasmine tak sanggup bahkan untuk sekadar duduk tegak. Dalam kepanikan yang memuncak, ia hanya bisa memanggil satu nama yang kini menjadi tumpuannya.

"Kak... Kak Awan..."

Di kamar sebelah, Awan sebenarnya tidak pernah benar-benar tidur nyenyak sejak usia kandungan Jasmine memasuki trimester ketiga. Pendengarannya selalu setajam silet. Begitu mendengar suara rintihan lirih dan dentuman pelan dari arah kamar Jasmine, Awan langsung terlonjak dari tempat tidurnya.

Ia bahkan tidak sempat mencari sandal. Dengan kaos oblong dan celana pendek, ia berlari keluar dan mendobrak pintu kamar Jasmine yang memang tidak pernah dikunci rapat.

"Jasmine! Lo kenapa?!" suara Awan menggelegar, penuh kecemasan yang tak lagi bisa ia bungkus dengan sikap judes.

Ia melihat Jasmine meringkuk dengan posisi miring, kedua tangannya mencengkeram sprei hingga urat-urat tangannya menonjol. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.

"Sakit, Kak... perut aku kencang banget... aku nggak kuat," isak Jasmine. Air matanya mulai luruh, ketakutan akan sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya mulai menghantui.

Awan langsung berlutut di tepi ranjang. Tangannya yang biasanya kaku kini dengan sigap meraba dahi Jasmine yang basah. "Mana yang sakit? Bagian bawah? Lo pendarahan nggak?!"

Jasmine menggeleng lemah. "Nggak tahu... cuma mulas banget, Kak."

Awan, pria yang biasanya mampu menangani krisis perusahaan bernilai triliunan rupiah tanpa berkedip, kini tampak gemetar. Ia panik luar biasa. Ia menyibakkan selimut Jasmine, memeriksa apakah ada cairan ketuban yang pecah.

"Sialan! Harusnya kan masih dua bulan lagi!" umpat Awan pada dirinya sendiri. Ia menyambar ponselnya dengan tangan gemetar, mencoba menelepon Dokter Arini, namun sambungannya tidak segera diangkat.

Tanpa pikir panjang, Awan menyambar daster panjang Jasmine dan memakaikannya secara asal untuk menutupi tubuh perempuan itu. Ia kemudian menyusupkan lengannya ke bawah leher dan lutut Jasmine.

"Gue bawa ke rumah sakit sekarang! Tahan, Jas! Jangan pingsan dulu!" Awan mengangkat tubuh Jasmine yang kini terasa jauh lebih berat dengan tenaga yang luar biasa. Ia berlari menuruni tangga seperti orang kesetanan, tidak mempedulikan napasnya yang mulai memburu.

Awan meletakkan Jasmine di kursi penumpang depan, merebahkan sandarannya agar Jasmine bisa berbaring. Ia mengemudikan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang sepi dengan kecepatan yang membuat jantung siapa pun berdegup kencang.

"Tarik napas, Jas! Ikutin gue! Huuu-haaa... huuu-haaa..." Awan berteriak sambil memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat tangan Jasmine yang dingin.

"Sakit, Kak... sakit banget..."

"Gue tahu! Makanya jangan nangis terus, tenaga lo habis!" bentak Awan, namun kali ini suaranya pecah oleh rasa khawatir. "Lo denger gue nggak? Anak Hero itu kuat! Lo juga harus kuat!"

Awan bahkan sempat menerobos dua lampu merah. Pikirannya hanya satu: ia tidak boleh gagal lagi. Ia tidak boleh membiarkan Hero kecewa di sana karena ia terlambat menyelamatkan istri dan anaknya.

Sesampainya di UGD, perawat langsung menyambut mereka dengan kursi roda. Awan terus membuntuti di samping Jasmine, tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan perempuan itu hingga ke ruang pemeriksaan.

Setelah pemeriksaan intensif oleh dokter jaga dan monitoring detak jantung janin (NST), suasana tegang itu perlahan mencair.

"Tenang, Pak Awan. Ini namanya kontraksi Braxton Hicks, atau kontraksi palsu," ucap dokter jaga dengan nada menenangkan. "Kandungan Ibu Jasmine aman. Rahimnya hanya sedang berlatih untuk persalinan nanti. Biasanya dipicu karena Ibu terlalu capek atau kurang minum air putih."

Awan, yang sejak tadi berdiri kaku di pojok ruangan dengan napas yang masih tersengal dan keringat membasahi kaosnya, langsung terduduk lemas di kursi besi. Bahunya yang tegap mendadak merosot. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Jadi... nggak apa-apa?" suara Awan terdengar serak.

"Tidak apa-apa, Pak. Bayinya sehat, detak jantungnya sangat kuat," jawab dokter sambil menunjukkan grafik di monitor.

Awan mengembuskan napas panjang—napas lega yang paling berat yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya. Ia menatap Jasmine yang kini sudah tampak lebih tenang di atas bed pemeriksaan. Rasa nyeri di perut Jasmine pun perlahan menghilang.

Setelah Jasmine diperbolehkan pulang subuh itu, Awan membantunya masuk kembali ke dalam rumah. Ia tidak membiarkan Jasmine berjalan, ia kembali menggendongnya hingga ke dalam kamar.

Awan meletakkan Jasmine di tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah perempuan itu terbuat dari porselen yang mudah pecah. Ia kemudian mengambil segelas air hangat dan memberikannya kepada Jasmine.

"Minum. Lo kurang minum kan semalam?" tanya Awan, judesnya kembali, tapi kali ini terdengar lebih seperti omelan sayang.

Jasmine meminum air itu perlahan. Ia menatap Awan yang tampak sangat berantakan. Rambutnya kacau, kaosnya kotor, dan ia tidak memakai sandal. "Maaf ya Kak... aku bikin Kakak panik. Aku beneran kira tadi aku mau melahirkan."

Awan duduk di kursi di samping ranjang. Ia menatap Jasmine dengan mata yang merah karena kurang tidur. "Lo hampir bikin jantung gue copot, Jasmine."

Awan terdiam sejenak, lalu ia meraih tangan Jasmine dan meremasnya pelan. "Tadi pas di mobil... gue beneran takut. Gue takut kalau gue nggak bisa tepatin janji gue ke Hero. Gue takut kalau gue gagal jaga kalian."

Jasmine tertegun. Ini adalah pertama kalinya Awan mengakui ketakutannya secara terbuka. Pria setangguh Awan, yang tidak pernah takut pada lawan bisnis mana pun, ternyata bisa gemetar hebat hanya karena rasa sakit di perut Jasmine.

"Kak Awan udah jaga aku dengan sangat baik," bisik Jasmine lembut.

Awan tidak menjawab. Ia berdiri, lalu menyelimuti Jasmine hingga ke dada. "Mulai besok, lo nggak boleh turun tangga sendiri. Apa-apa panggil Suster Lastri atau panggil gue. Gue bakal pasang bel di samping tempat tidur lo."

"Tapi Kak—"

"Gak ada tapi-tapi! Gue nggak mau ada drama kontraksi palsu di jam dua pagi lagi!" ketus Awan sambil berjalan menuju pintu. Namun, sebelum ia benar-benar keluar dan mematikan lampu, ia menoleh sedikit.

"Istirahat, Jas. Gue ada di kamar sebelah. Kalo ada apa-apa, teriak aja," ucapnya pelan.

Malam itu, Jasmine tidur dengan perasaan aman yang luar biasa. Di balik sikap kaku dan judesnya, Awan telah membuktikan bahwa ia adalah pelindung yang paling bisa diandalkan. Sementara itu, di kamar sebelah, Awan duduk di tepi ranjangnya, menatap foto Hero.

"Gila, Ro... istri lo hampir bikin gue mati serangan jantung," bisiknya pada keheningan malam, sebelum akhirnya ia ikut terlelap dengan janji yang semakin mengakar di hatinya.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!