Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Pintu yang sempat terbuka kembali terdorong perlahan. Bukan hanya satu orang dua sosok masuk bersamaan.
Kinara melangkah lebih dulu dan anggun, rapi, dengan aura ketenangan yang selalu ia miliki. Di belakangnya, Aksa berdiri tegap, tatapannya lurus dan sulit ditebak.
Ruangan mendadak terasa lebih penuh.
Amira yang tadi berdiri langsung berubah ekspresinya. Bukan lagi sekadar ketua yayasan, melainkan seorang ibu.
“Aksa…” Suaranya melembut tanpa ia sadari.
Aksa mengangguk singkat. “Mama.”
Sapaan itu sederhana. Namun, cukup untuk membuat udara di ruangan bergetar oleh sesuatu yang tak terlihat.
Kinara tersenyum sopan pada Amira. “Maaf kalau kami datang tanpa janji. Kaisar mengirim pesan.”
Amira mengangguk. “Tidak apa. Justru mungkin memang harus begini.”
Kaisar yang sejak tadi berdiri di sisi Shelina mendadak terasa kecil. Tatapannya sekilas naik ke arah Aksa dan lalu cepat turun lagi. Ada ketegangan yang tak pernah benar-benar hilang di antara mereka.
Aksa melangkah masuk sepenuhnya. Tatapannya akhirnya jatuh pada Kaisar.
“Masalah lagi?” tanyanya datar. Nada suaranya tidak tinggi. Tapi cukup membuat Kaisar menelan ludah.
Shelina yang berdiri di samping Kaisar ikut merasa canggung. Ia belum pernah berada dalam satu ruangan dengan seluruh bagian keluarga ini sekaligus.
Amira menyadari suasana yang mulai kaku.
“Duduklah,” ucapnya lembut namun tegas. Kinara duduk lebih dulu. Aksa menyusul di sebelahnya. Kaisar dan Shelina tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya ikut duduk di kursi seberang.
Kini meja besar itu seperti membelah dua sisi masa lalu dan masa kini. Amira menatap mereka satu per satu.
“Saya sudah mendengar keputusan Shelina.”
Kinara mengangkat alis tipis. “Keputusan?”
Shelina menarik napas dalam.
“Saya akan cuti sampai Kaisar lulus.”
Ruangan kembali hening, Kinara menoleh pada Kaisar.
“Kamu menyetujuinya?”
Kaisar terlihat ragu. “Aku … tidak ingin dia mengorbankan mimpinya.”
Aksa yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Itu bukan pengorbanan kalau dilakukan dengan sadar.”
Semua mata beralih padanya, Aksa menatap lurus ke arah Kaisar.
“Masalahnya bukan pada pernikahan kalian. Masalahnya adalah kamu belum cukup kuat untuk menghadapi tekanan publik.”
Kalimat itu tajam namun bukan menghina.
Kaisar mengepalkan tangannya.
“Aku bisa.”
Aksa menatapnya lama.
“Kamu masih mudah marah. Mudah tersulut. Kalau isu ini berlanjut, kamu yang paling duluan terpancing.”
Shelina tahu itu benar.
Ia tahu bagaimana Kaisar bisa kehilangan kendali jika emosinya disentuh. Kinara akhirnya bicara, suaranya lembut namun penuh wibawa.
“Shelina memilih menenangkan situasi. Itu bukan kelemahan.”
Tatapannya berpindah pada Amira.
“Dan saya menghargai jika keputusan ini dicatat sebagai cuti, bukan pelanggaran.”
Amira mengangguk.
“Itu sudah saya putuskan.”
Aksa menyandarkan tubuhnya, menatap Shelina kini dengan lebih lembut.
“Kalau itu pilihanmu, pastikan itu bukan karena takut.”
Shelina menatap balik.
“Bukan, saya hanya ingin dia lulus tanpa gangguan.”
Sejak masuk ruangan, sudut bibir Aksa terangkat tipis untuk pertama kalinya.
“Baik.”
Kaisar menoleh pada kakaknya tidak ada senyum balasan. Tapi juga tidak ada penolakan.
Ruangan yang tadi terasa penuh tekanan kini perlahan menghangat.
Pintu ruangan tertutup pelan setelah Aksa, Kaisar, dan Shelina keluar. Langkah kaki mereka menjauh di koridor.
Kini hanya tersisa dua perempuan yang pernah berada di sisi pria yang sama dan membesarkan anak yang sama dengan cara berbeda.
Kinara lebih dulu memecahnya.
“Bagaimana kabarmu, mbak Amira?”
Nada suaranya tulus, tidak ada sindiran.
“Aku tahu kamu yang mengelola yayasan ini dari Rome. Karena itu aku menghubungimu tadi.” Ia tersenyum tipis. “Maaf kalau mengganggumu.”
Amira menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa.” Ia menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.
“Justru dengan begitu … tanpa sengaja aku bisa melihat Aksa.” Kalimat itu sederhana. Tapi matanya mengkhianati rindu yang lama dipendam. Kinara mengikuti arah pandangnya.
“Aksa sudah besar,” ucapnya pelan.
Amira tersenyum samar.
“Ya, sudah sangat besar.” Ada jeda.
“Meskipun … dia masih terlihat cuek saat bertemu denganku.” Nada itu bukan keluhan. Lebih seperti pengakuan yang sudah ia terima sejak lama.
Kinara menghela napas lembut.
“Dia bukan cuek.”
Amira menoleh.
“Dia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana.”
Ruangan terasa hangat oleh kejujuran yang jarang diucapkan.
“Aksa tumbuh dengan banyak pertanyaan,” lanjut Kinara. “Tentang kamu, tentang keputusan masa lalu.”
Amira menunduk sesaat.
“Aku tahu.”
Tidak ada pembelaan, tidak ada penjelasan panjang. Beberapa detik berlalu sebelum Amira kembali berbicara.
“Terima kasih, Kinara.”
Kinara sedikit terkejut.
“Untuk apa?”
“Untuk merawat Aksa sejak kecil." Suara Amira melembut.
“Berkat kamu … dia tidak kekurangan kasih sayang.”
Kinara terdiam kalimat itu lebih berat dari sekadar ucapan terima kasih.
“Aku hanya melakukan yang seharusnya,” jawab Kinara pelan. “Dia anak yang baik. Dia tidak pernah mempersulitku.”
Amira tersenyum tipis.
“Dia selalu seperti itu, menyimpan semuanya sendiri.”
Kinara mengangguk pelan.
“Mirip kamu.”
Amira tertawa kecil, nyaris tak terdengar.
“Dan keras kepalanya mirip Arman.” Keduanya sama-sama tersenyum.
“Aku tidak pernah membencimu,” ujar Amira tiba-tiba.
Kinara menatapnya.
“Aku hanya butuh waktu menerima keadaan.”
Kinara mengangguk.
“Aku juga.”
Sunyi kembali turun namun kini sunyi itu terasa damai. Amira menyandarkan tubuhnya.
“Rome membuatku belajar banyak hal. Tentang melepaskan. Tentang menerima bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.”
Kinara berdiri perlahan.
“Kamu selalu kuat, mbak Amira.”
Amira tersenyum lembut.
“Tidak, aku hanya belajar.”
Sebelum keluar, Kinara berhenti di depan pintu.
“Aksa mungkin terlihat jauh,” katanya pelan tanpa menoleh. “Tapi dia tidak pernah membencimu.”
Amira tidak menjawab. Namun matanya kembali mengarah ke pintu itu.
Ke arah langkah kaki anak yang dulu ia lahirkan tapi tidak ia besarkan sepenuhnya.
Kinara tersenyum pelan mendengar ucapan terima kasih itu.
“Aku sudah menganggap Aksa seperti anakku sendiri sejak lama,” ucapnya lembut. “Tidak pernah ada perbedaan antara dia dan Kaisar. Jadi … kamu tidak perlu berterima kasih.”
Amira menatapnya lama. Tatapan itu bukan lagi milik mantan istri Arman.
“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan mungkin itu sebabnya aku bisa tenang selama ini.”
Ia berdiri, berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah paperbag berwarna hitam elegan dengan logo butik ternama di bagian depan.
Tangannya sempat berhenti sesaat sebelum berbalik.
“Kinara…”
Kinara menoleh.
“Tolong berikan ini untuk Aksa.”
Kinara menerima paperbag itu, sedikit terkejut oleh bobotnya.
“Apa ini?”
“Jas.”
Suara Amira terdengar lebih lirih dari sebelumnya.
“Untuk pernikahannya lima bulan lagi.”
Kinara terdiam.
“Aku memesannya khusus,” lanjut Amira. “Ukurannya aku dapat dari asistennya.” Ia tersenyum tipis, sedikit malu mengakui caranya.
“Aku … tidak berani memberikannya langsung.”
“Kenapa?” tanya Kinara lembut.
Amira menunduk.
“Aku takut dia menolak.”
Sunyi menggantung beberapa detik.
“Sejauh ini Aksa menjadi anak yang dingin dan keras. Dia tidak pernah berkata kasar padaku … tapi jaraknya jelas.” Nada itu tidak menyalahkan.
Kinara memandang paperbag itu, lalu kembali pada Amira.
“Dia bukan menolakmu,” ucap Kinara pelan. “Dia hanya belum tahu bagaimana caranya mendekat tanpa merasa bersalah.”
Amira tersenyum samar.
“Kalau dia tidak memakainya, tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah mencoba.”
Kinara melangkah mendekat.
“Dia akan memakainya.”
Amira menggeleng kecil. “Jangan paksa dia.”
“Aku tidak akan memaksa,” jawab Kinara. “Tapi aku tahu anakku.”
Kata itu tidak terdengar seperti perebutan. Justru seperti pembagian peran yang telah lama mereka pahami. Mata Amira mulai berkaca-kaca, namun ia cepat menahannya.
“Terima kasih … sekali lagi.”
Kali ini Kinara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membuka tangannya dan memeluk Amira.
“Jaga dirimu,” bisik Kinara.
“Kamu juga,” jawab Amira pelan.
Kinara melepaskan pelukan itu perlahan.
Sebelum membuka pintu, ia menoleh untuk terakhir kalinya.
“Untuk apa pun yang terjadi nanti … kamu tetap ibunya.” Amira tersenyum, kali ini lebih utuh.
“Dan kamu tetap rumahnya.”
Pintu tertutup pelan, Amira berdiri sendiri di tengah ruangan.
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara