Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana di balkon
2 hari mamak dirawat, namun paginya aku pulang dan siang nya aku baru pergi kerumah sakit untuk bergantian berjaga. Sesampainya di sana aku lihat mamak sedang beristirahat.
"Pak sana kamu mandi dulu aja, mumpung belum begitu terlalu sore. Takutnya air disini jadi dingin banget, apalagi ini lagi musim hujan." Kataku sambil membawakan baju ganti
"Iya, kamu jagain dulu ya mamak mu, bapak tak mandi." Aku pun mengangguk lalu pindah duduk disamping mamak.
°°°°°°°°°°
Waktu itu mamak sedang istirahat, dan aku tinggalkan mamak begitu bapak sudah selesai mandi. Aku pergi ke balkon rumah sakit untuk sekedar menenangkan pikiran, namun tak disangka, teman yang jaga pasien disebelah juga ikut serta duduk duluan di balkon.
"Mbak, mas, kalian kok berdua aja ini." Kataku yang menghampirinya.
"Iya ini, soalnya pasiennya masih tiduran pusing katanya." Aku mencoba memahaminya, lalu lama-lama kami pun mengobrol sambil tertawa cekikikan. Beruntung balkon sama kamar pasien lumayan jauh.
Tak terasa kami mengobrol hari sudah mulai gelap, lalu aku dan puji, juga johan pun pergi keruangan masing masing.
Singkat waktunya malam sudah larut, aku juga sudah mulai lelah, ngantuk iya, capek badan iya. Disa'at aku sedang mau berbaring bapak pun mencolek kakiku.
"Yan?." Panggilnya dengan nada pelan agar mamak tak terbangun.
"Hmm, ada apa pak." Ujarku yang mengerjap kan mata.
"Aku ke balkon dulu mau ngerok*k ya." Katanya sambil membawa jaket, aku pun mengangguk lalu bapak pun pergi.
Dan malam itu juga sa'at hendak mau lanjut tidur lagi, mamak pun terbangun setelah bapak beberapa menit pergi. Kini mamak bangun minta anter kekamar mandi.
Aku yang mendengar mamak terbangun, langsung sigap maju ke sampingnya.
"Mau kemana mak?." Ujarku yang memegang tanganya.
"Mau kekamar mandi."
"Ayo aku anter." Kataku sambil membantu mamak berdiri.
Jadi aku mengantar mamak ketoilet, karna toilet yang di tempat mamak ternyata diluar, jadi semua pasien mau pun pengunjung kalau mau ketoilet itu diluar semua, jalan nya juga agak lumayan tapi beruntung mamak dapat kamar tidak begitu jauh dari toilet. Setelah dari kamar mandi aku pun menuntun mamak masuk kedalam ruangan lagi, dan menyuruhnya beristirahat, setelah mamak tertidur aku juga ikut tidur di lesehan tak jauh dari tempatnya.
*****
Keesokan hari, kamar sebelah bernama Adrian pulang, dan mereka berpamitan sama aku dan keluargaku.
"Permisi pak, bu, kami pulang duluan ya. Ayo mbak Yani nanti kita kabar-kabar lagi,'' ucapnya sambil mengangkat jari jempol dan kelingking ke telinga minta aku telfon dirinya.
Aku pun paham bahasa isyaratnya lalu kuiyain aja, dan setelahnya mereka pergi lalu aku masih fokus kesembuhan mamak, Saat ini aku masih menggantungkan status pernikahanku dengan Ahmad, tapi selama beberapa bulan dia tak lagi menggangguku, jadi aku kerja masih dibilang aman-aman saja.
3 hari mamak di rumah sakit dan kondisi sudah membaik, dokter bilang besok sudah diijinkan pulang, aku di ruangan mengucap alhamdulillah dan bersyukur sama Allah.
Mamak masih diberi umur panjang dan sembuh, malamnya mamak sudah bisa tertawa tersenyum, dan keesokannya mamak beristirahat dengan senyum bangga, karna bisa pulang .
Pagi menjelang siang mamak sudah dipulangkan, dan di rumah aku sempat berkemas baju seadanya aku berangkat Pekanbaru setelah mamak 2 hari di rumah, baru aku esoknya pamitan.
....
Kita persingkat saja ya setelah mamak 2 hari dirumah, aku semakin lega hatinya ketika melihat mamak sudah bisa beraktifitas biasa, meskipun sering aku bilang hati-hati.
Mamak orangnya nggak bisa diem aja dirumah, beliau bahkan pagi kekebun untuk cari kayu bakar. Lalu siang nya pulang mandi dan istirahat dikamar. Sorenya aku sempatkan mengobrol dengan kedua orang tuaku
"Mak, pak, aku besok kerja ya di kota ungaran, karna mbak puji yang menawarkan jadi misal aku tolak kasian, cuman seminggu sekali aku pulang kok." Dustaku agar kedua orang tua ku menyetujuinya. Dan tak ada pemikiran lain-lain tentang aku.
"Boleh asal bisa jaga diri baik-baik ya." Aku pun tersenyum sama bapak dan mamak, mengangguk penuh dengan semangat.
Malam nya aku pergi kebalkon, ternyata ada kakak disana sedang duduk santai, dengan adikku yang sedang mengobrol hal randem
Suasana Jam 7 malam di teras belakang rumah, sambil menyesap teh hangat.
"Kak, kok belum tidur? Ngelamunin apa sih? Dari tadi aku perhatiin Kakak cuma liatin hp tapi nggak dibuka." Kataku sambil berdiri du sebelahnnya sedangkan kakakku lagi di pojokan.
"Nggak apa-apa, mbak Cuma lagi kepikiran aja. Rasanya aneh ya, statusku sekarang ini kayak 'nggantung'. Dibilang punya suami, tapi ditinggal terus. Dibilang sendiri, tapi secara surat masih terikat." Jawab tiya sambil tertunduk lesuh, namun mas yadi yang mendengar itupun terus angkat bicara.
"Masih mikirin menghawatirkan suamimu? Sudahlah jangan disiksa pikirannya. Yang penting sekarang Kan kamu tinggal disini, jadi nggak merasa kesepian sendiri. Lagian suamimu kerja bukañnya ngelayap, ya nggak yan...?." Ucapnya lalu melirik kearahku
"Iya betul, aku setuju sama omongan mas yadi, jadi kamu fokus aja sama si rendy dia sekarang yang membutuhkanmu." Ujarku agar hati tiya sedikit mereda.
"Iya mbak. Kadang aku ngerasa kesepian aja tadi. Oh iya ma'af ya aku nyusahin nbak ya?." Ujarnya
"Jangan merasa kesepian ya dik. Mbak justru seneng lihat kamu bahagia sama anak kamu. Jadi pelipur lara buat mbak, juga kalau lagi main sama ponakan. Cuma ya itu ciluk baa aja. pengen sekali semuanya cepat beres, biar nggak ada beban lagi kalau mau melangkah." Tiya setuju mengangguk
"Semuanya butuh proses. Kayak dulu pelan-pelan akhirnya ketemu bahagianya." Lanjut mas yadi
"Kita sekarang fokus aja jagain Mamak dulu. jangan takut nantinya dibilang janda atau apa, yang penting hati kamu tenang." Jawabku
"Bener juga tu yan yang penting jagain dulu mamak. Urusan suamimu kan dia nggak akan kemana kok, lagian suami mu juga masih menafkahi kamu." Sambung mas yadi tiya tersenyum sambil mata berkaca kaca.
"Makasih ya kalian. Malam-malam gini emang pikiranku suka kemana-mana. Tapi denger kalian ngomong gini, rasa takutku agak berkurang." Ujar tiya ia pun tersenyum
"Sama-sama, dek, Sekarang mending istirahat. Besok pagi temenin mamak belanja ke pasar ya? Biar nanti nggak bengong terus." Kataku sambil duduk disebelah tiya
Malam hari di balkon. Tiya duduk di antara Yadi dan Yani sambil menatap langit.
Yadi: (Sambil menyodorkan segelas susu cokelat hangat) "Nih, diminum dulu. Kata orang, cokelat malam-malam itu bisa bikin mimpi jadi warna-warni, nggak cuma hitam putih kayak TV zaman dulu."
Tiya: (Mengambil gelasnya) "Makasih, Kak. Tapi Kak... bintangnya kok cuma dikit ya malam ini?"
Yani: (Menyandarkan kepala di bahu Tiya) "Oh, itu karena bintang-bintangnya lagi minder, Ti. Mereka lihat ada yang senyumnya lebih manis di balkon ini, jadi mereka milih sembunyi di balik awan."
Tiya: "Kak Yani gombalnya ketularan Kak Yadi, deh."
Yadi: "Hahaha! Tapi serius, Ti. Kamu tahu nggak kenapa bintang itu jauh banget?"
Tiya: "Kenapa? Biar nggak bisa diambil?"
Yadi: "Bukan. Biar kalau mereka jatuh, mereka nggak nimpah kepala kamu yang lagi pusing itu. Semesta itu baik, dia pengen kamu tenang malam ini."
Tiya: (Mulai tertawa kecil) "Apa sih Kak, nggak nyambung!"
Yani: "Eh, Ti, coba deh lihat bulan itu. Bentuknya kan lagi sabit gitu ya? Kamu tahu nggak dia lagi ngapain?"
Tiya: "Lagi apa?"
Yani: "Dia lagi pamer ke kamu. Dia bilang, 'Tiya, aku aja yang cuma separuh bisa bersinar, masa kamu yang cantiknya utuh kalah sama aku?'"
Tiya: (Tersenyum lebar) "Bisa aja... Bulan kan nggak bisa ngomong, Kak."
Yadi: "Bisa, tapi pakai bahasa kalbu. Kayak Kakak nih, tanpa ngomong pun, perut Kakak sudah bersuara 'kruyuk-kruyuk' minta martabak di depan komplek. Itu tandanya... kesedihan harus diakhiri dengan martabak manis!"
Tiya: "Ih, Kak Yadi ujung-ujungnya laper!"
Yani: "Gimana? Mau ikut Kak Yadi beli martabak atau mau di sini aja jagain bintang yang lagi minder tadi?"
Tiya: (Berdiri dengan semangat) "Ikut beli martabak! Tapi Tiya mau yang cokelat keju kacangnya banyak ya!"
Yadi: "Siap! Tapi syaratnya, di atas motor nggak boleh ada muka mendung lagi. Kalau mukanya mendung, nanti tukang martabaknya kira mau hujan, terus dia tutup warung."
Tiya: (Tertawa lepas) "Iya, iya! Tiya janji bakal senyum terus sampai giginya kering!"
Bersambung....
Aku akan menulis dengan seperti ini saja ya gaes kayaknya simpel nggak ribet hehe lanjuuuttt....