Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Apa Kamu Keberatan ?
"Ading kurang tau, Bang. Nanti kalau Mamat pas ke sini, abang bisa tanya ke dia. Soalnya Mamat sering disuruh Apak buat keliling antar hasil ladang ke kampung-kampung sampai ke kota juga," jawab Seruni.
"Abang merasa bersalah sama kamu, Run."
"Kenapa Bang?"
"Biasanya wanita menikah, dapat perhiasan dari pihak lelaki. Minimal cincin pernikahan. Teman-teman abang yang sudah menikah, melakukan hal itu. Tapi abang gak kasih kamu apa-apa," jawab Bastian terdengar sendu.
"Nanti saja kalau abang punya rezeki lebih dan pengin belikan ading cincin, pasti aku terima dengan baik. Abang jangan terus merasa bersalah. Dibanding kekurangan abang, aku lebih banyak kurangnya."
Sebuah helaan nafas berat menyergap Bastian. Sementara ini, ia memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya sebagai pengacara sekaligus pengusaha yang pastinya punya banyak uang maupun harta yang lain.
"Run, apa hubunganmu dengan Ardi?" tanya Bastian terdengar serius seraya membalikkan tubuhnya ke arah samping dan menghadap Seruni.
Ditatap oleh suaminya, Seruni ikut melakukan gerakan tubuh yang sama seperti Bastian. Kini sepasang suami-istri itu saling bertatapan dalam garis pandangan yang sama.
Namun, pandangan Seruni tak mampu berlama-lama. Ia memilih kembali menundukkan pandangan kedua matanya.
Tubuhnya mendadak bergetar bukan karena takut ditatap seperti itu oleh Bastian. Akan tetapi, ada debaran aneh melambai-lambai di hatinya. Membuat kerja jantungnya jadi berpacu lebih cepat dari biasanya. Sebuah desir yang tak biasa, namun terasa indah.
Apakah ia mulai mencintai Bastian?
Entahlah, Seruni masih belum paham akan rasa di hatinya.
Namun satu yang pasti, ia sedang belajar mencintai sang suami serta berusaha mengenal kebiasaan pria bule blasteran yang didepannya saat ini.
Bastian sedikit menaruh curiga ketika selesai acara pernikahan mereka yang lalu, ia sempat melihat Seruni dari kejauhan tanpa sengaja. Seruni terlihat seakan menjaga jarak dengan Ardi. Pria yang Bastian tau sebagai calon suami Rasti, tampak kekeh mengejar langkah Seruni yang kala itu hendak masuk ke dalam kamar pengantin.
Bastian tak tau kisah masa lalu yang terjadi antara Seruni, Ardi dan Rasti.
"Apa kalian punya hubungan dekat di masa lalu?" tebak Bastian.
"Iya, Bang." Jawab Seruni terdengar suaranya begitu berat.
Seruni terbiasa jujur pada siapapun. Maka dengan Bastian, ia berusaha melakukan hal yang sama.
Sebab, fondasi utama sebuah hubungan terutama korelasi hubungan suami istri di dalam biduk rumah tangga adalah kejujuran dan kepercayaan.
Jika salah satu sudah dinodai, maka akan rusak segalanya.
"Apa dia mantan pacarmu?"
"Kami kenal sejak SMP. Setahun yang lalu, kami berdua bertunangan. Tapi belum jodoh. Jadi, kami batal menikah." Jelas Seruni terdengar lirih dan menyimpan perih tak kasat mata.
"Kenapa kalian batal menikah?"
"Tadi ading udah bilang kalau kami berdua belum jodoh,"
"Ya, kenapa alasannya?"
"Kak Ardi mencintai Rasti," jawab Seruni dengan suara terasa berat.
"Mereka berdua selingkuh di belakangmu?" pancing Bastian.
Seketika kepala Seruni yang sejak tadi menunduk, otomatis mendongak dan menatap Bastian.
"Iya," jawab Seruni jujur dan berpasrah diri.
"Dasar bodoh!" umpat Bastian secara spontan.
Seruni terkejut mendengar umpatan Bastian barusan. Wajah redup seketika membingkai paras Seruni. Bastian sontak tersadar dan paham reaksi Seruni.
"Jangan salah paham dulu. Aku tadi memaki mantan pacarmu yang bodoh itu, bukan kamu." Jelas Bastian berusaha meluruskan maksud ucapannya.
"Cuma pria bodoh yang mengkhianatimu. Apalagi dia sampai membuang berlian cuma demi batu kali. Benar-benar bodoh!" geramnya.
Dalam hatinya, selain geram dengan kebodohan Ardi yang berselingkuh, Bastian juga tak habis pikir pada tingkah Rasti. Yang Bastian tau, wanita itu adalah adik tiri Seruni.
Bastian sampai geleng-geleng kepala bisa-bisanya Rasti menikung calon suami kakak tirinya sendiri. Seperti di dunia ini tak ada pria lain saja untuk dijadikan calon suami. Bibit sebagai pela_kor sangat kental terlihat pada diri Rasti, pikir Bastian.
☘️☘️
Sebuah helaan nafas lega meluncur dari bibir dan wajah Seruni setelah memahami penjelasan Bastian yang justru memujinya.
"Ading di mata abang, apa seperti berlian?" cicit Seruni tampak jelas tersipu malu.
Ia memberanikan diri membuka komunikasi lebih dekat dengan Bastian. Seruni dan Bastian tidak berpacaran atau saling mengenal sebelumnya. Jadi, komunikasi dua arah harus terjadi antara mereka jika ingin menjaga keharmonisan dalam rumah tangga yang baru terjalin ini.
"Se_brengseknya seorang pria dewasa, ia pasti memilih berlian untuk dijadikan istri sekaligus ibu dari calon anak-anaknya kelak. Kamu harus tau hal penting itu, Run."
"Tanpa aku jelaskan, kamu pasti paham bahwa dirimu memang layak disebut berlian. Kembang desa yang cantik parasnya dan aku yakin hatimu juga baik," puji Bastian.
"Ah, abang. Ading jadi malu," ucap Seruni yang wajahnya sudah merah bak tomat rebus.
"Kamu kalau tidur, apa pakai penutup kepala terus? Kemarin di rumah bapak, kamu juga tidur pakai itu?" cecar Bastian yang didera penasaran akan penampilan Seruni ketika naik ke atas peraduan.
"Penutup kepala ini namanya hijab, Bang."
"Terserah apa namanya. Apa harus tidur pakai penutup seperti ini? Apa kamu gak gerah?"
"Kalau gerah, tidak Bang. Malam ini justru sangat dingin yang ading rasakan. Jadi ading mutusin tetap pakai hijab pas mau tidur,"
"Apa seorang suami gak boleh lihat rambutmu?" tanya Bastian dengan raut wajah polosnya.
Harap maklum Bastian tidak memahami tentang ajaran agamanya lebih dalam. Ia hanya tau sebatas kewajiban salat lima waktu. Akan tetapi, hal penting itu pun masih bo_long-bo_long dilakukannya.
Di antara ribuan doa, hanya doa mau makan yang dihafal oleh seorang Bastian Fernando Malik.
Makan dalam arti sebenarnya yakni makan nasi, bukan doa sebelum memakan istrinya di atas ranjang.
Seruni tetap memasang senyum manisnya pada Bastian. Sungguh adem dan menenangkan jiwa.
Ia sama sekali tak mencemooh atau memasang wajah remeh pada pria yang bergelar suaminya itu.
Perlahan Seruni memahami jika Bastian bisa jadi selama ini tinggal di lingkungan yang kurang mengajaknya dekat dengan ajaran-ajaran agama yang dianutnya lebih dalam.
"Seorang suami berhak melihat rambut istrinya. Bahkan lebih dari itu, juga sangat diperbolehkan." Jelas Seruni menjawabnya.
"Apa abang mau aku lepas hijab malam ini?" lanjutnya.
"Apa kamu keberatan?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Like dan komen ya.💋💋
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,