Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia Kandang Binatang Buas
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram di balik kabut Pegunungan Langit Biru. Bagi para murid elit, ini adalah waktu untuk menyerap energi Yang yang murni di puncak gunung. Namun bagi Lu Chen, ini adalah pertanda dimulainya kehidupan barunya sebagai kasta terendah di sekte: seorang pelayan pembersih kandang.
Lu Chen berjalan menyusuri jalan setapak yang menurun, menjauhi paviliun megah dan menuju ke arah lembah yang berbau amis dan tajam. Di bahunya, Ignis bersembunyi di balik lipatan kain bajunya yang kasar.
"Bau apa ini? Hidungku—maksudku antenaku—bisa rontok karena aroma menjijikkan ini!" gerutu Ignis melalui transmisi jiwa. "Manusia, kau membawaku ke tempat pembuangan sampah atau apa?"
"Ini adalah Kandang Binatang Buas, Ignis," jawab Lu Chen pelan sembari mengamati gerbang besi raksasa di depannya. "Tempat di mana sekte memelihara monster untuk tunggangan, bahan ramuan, atau ujian murid. Bagimu, ini bukan tempat pembuangan sampah. Ini adalah prasmanan."
Gerbang itu terbuka dengan derit yang memilukan. Seorang pria tua bungkuk dengan satu mata buta menyambutnya. Dia adalah Penjaga Li, pengawas kandang yang sudah puluhan tahun mengabdi di sana.
"Kau bocah F-Rank yang dibicarakan itu?" tanya Penjaga Li dengan suara parau seperti gesekan amplas. "Tugasmu mudah. Bersihkan kotoran di blok C, beri makan Serigala Angin di blok B, dan apa pun yang kau lakukan... jangan pernah mendekati jeruji di blok A paling ujung. Paham?"
Lu Chen mengangguk patuh, memasang wajah penakut yang sempurna. "Baik, Penatua Li. Saya mengerti."
Setelah Penjaga Li pergi, Lu Chen segera menuju ke Blok C. Udara di sana sangat lembap. Di dalam sel-sel besi, berbagai jenis binatang tingkat rendah mengerang. Ada Babi Bertanduk, Ayam Bulu Besi, dan berbagai makhluk yang energi spiritualnya tidak stabil.
[Ding! Mendeteksi Konsentrasi Energi Spiritual yang Tersebar.]
[Saran Sistem: Kumpulkan 'Esensi Limbah' dari sisa makanan binatang buas untuk mengekstraksi Poin Evolusi.]
Lu Chen mulai bekerja. Namun, saat dia menyapu sisa-sisa tulang dan daging yang tidak habis dimakan oleh binatang-binatang itu, Ignis mulai beraksi. Semut kecil itu melompat turun dan merayap menuju sebuah tulang besar milik Banteng Api yang baru saja mati.
Bagi orang lain, itu hanyalah limbah. Tapi di mata Ignis, ada sisa-sisa Spirit Marrow (Sumsum Roh) yang masih tertinggal. Ignis menancapkan rahangnya ke tulang itu. Dalam sekejap, tulang yang keras itu mulai retak dan berubah menjadi abu kelabu saat energinya disedot habis.
"Ah... meskipun sedikit kotor, energi dari binatang buas ini jauh lebih padat daripada lilin sialan itu," gumam Ignis dengan puas. Warna hitam di tubuh semut itu kini mulai memiliki guratan merah samar yang berkilau.
Sembari Ignis berpesta, Lu Chen merasakan aliran hangat mengalir ke punggungnya.
[Hewan Kontrak mengonsumsi Spirit Marrow.]
[Anda menerima 300 Poin Energi.]
[Status: Tahap Pengumpulan Roh - Level 5 (90% Menuju Level 6).]
Lu Chen tersenyum. Sembari membersihkan kotoran, dia sebenarnya sedang melakukan kultivasi dengan kecepatan yang akan membuat para jenius S-Rank sekalipun merasa malu. Namun, pandangannya beralih ke Blok A yang dilarang. Di sana, suasana jauh lebih sunyi, namun udaranya terasa sangat dingin dan mencekam.
"Ignis, kau merasakannya?"
"Ya. Ada sesuatu yang 'berisi' di ujung sana. Sesuatu yang memiliki garis keturunan kuno, meskipun sudah sangat tipis," jawab Ignis, nadanya kini menjadi serius.
Rasa penasaran dan dorongan sistem membuat Lu Chen melangkah perlahan menuju Blok A. Dia memastikan Penjaga Li tidak mengawasinya. Di sel paling ujung, yang ditutupi oleh kain hitam tebal dan segel kertas mantra, terdengar suara napas yang berat dan penuh penderitaan.
Lu Chen menyibak sedikit kain penutup itu. Di dalamnya, terdapat seekor Burung Phoenix Es Kecil yang sayapnya patah dan dirantai dengan besi hitam penghisap energi. Burung itu tampak sekarat, matanya yang biru jernih mulai meredup.
"Ini bukan dipelihara... ini disiksa," bisik Lu Chen marah. Dia bisa melihat bahwa energi spiritual burung itu terus menerus disedot oleh rantai tersebut untuk mengisi batu roh yang diletakkan di luar sel.
"Bukan hanya disiksa, bocah. Mereka sedang mencoba mengekstrak 'Darah Murni' dari jantungnya. Manusia-manusia di sektemu ini benar-benar serakah," Ignis berkomentar, merangkak di jari Lu Chen. "Jika dia mati dalam kondisi ini, energinya akan meledak dan menghancurkan seluruh lembah ini."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah lambat Penjaga Li, melainkan langkah yang ringan dan elegan. Lu Chen segera menjatuhkan kain penutup dan berpura-pura sedang menyapu lantai di dekat sel tersebut.
"Siapa yang mengizinkanmu berada di Blok A?"
Seorang wanita cantik dengan jubah putih murni muncul. Dia adalah Lin Xinyue, murid jenius dari Sekte Dalam, yang juga merupakan putri dari salah satu tetua agung. Wajahnya cantik namun dingin seperti es. Di tangannya, dia membawa sebuah botol giok.
Lu Chen menunduk dalam-dalam, menekan auranya hingga ke titik terendah. "Maafkan saya, Nona Muda. Saya hanya tersesat saat mencoba mencari sapu baru."
Lin Xinyue menatap Lu Chen dengan curiga. Dia mencoba memindai tingkat kultivasi pemuda di depannya, namun yang dia temukan hanyalah "nol". Benar-benar manusia biasa tanpa bakat. Dia mendengus kecil, merasa tidak perlu membuang waktu pada seorang pelayan.
"Pergi dari sini. Tempat ini bukan untuk sampah sepertimu. Jika kau mengganggu ketenangan Phoenix Es ini lagi, aku akan memastikan kau kehilangan tanganmu," ucapnya dingin.
Lu Chen mundur dengan patuh, namun matanya sempat melirik ke arah botol giok di tangan Lin Xinyue. Sistemnya berbunyi:
[Peringatan: Botol tersebut berisi 'Racun Pemutus Jiwa'. Mereka berencana membunuh Phoenix Es tersebut setelah seluruh energinya habis untuk mengambil inti kristalnya.]
Lu Chen mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya yang panjang. Di bahunya, Ignis mendesis tajam. "Kau ingin menyelamatkannya? Itu akan membongkar penyamaranmu."
"Aku punya rencana," batin Lu Chen. "Mereka ingin inti kristalnya? Aku akan memberikan mereka inti palsu, sementara kau, Ignis... kau akan mendapatkan makanan terbesar dalam hidupmu malam ini."
Ignis tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gemeretak api. "Aku suka caramu berpikir, Manusia. Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi saat seekor semut mencuri mangsa para dewa."
Malam itu, di bawah kegelapan kandang yang sunyi, rencana rahasia antara sang pemilik sistem SSS+ dan reinkarnasi Raja Naga dimulai. Lu Chen tidak lagi hanya ingin bertahan hidup; dia mulai ingin menguasai tempat yang meremehkannya ini.
...****************...
...RILIS SETIAP HARI...