"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Versus 24
Grek grek grek
Arundari yang tengah berada di dapur bisa mendengar jelas bahwa itu adalah suara pintu gerbang yang tengah di dorong-dorong. Ia mengerutkan alisnya, bertanya-tanya siapa yang melakukan itu.
Awalnya Arundari ingin membiarkan saja, karena ada Anton yang sudah menjaga. Security nya yang baru itu pasti akan membereskan hal tersebut. Anton juga tidak mungkin membiarkannya.
Namun suara pitu gerbang yang didorong-dorong itu tak juga berhenti dan semakin keras. Ditambah namanya juga dipanggil berkali-kali.
Dari suara yang memanggil namanya, Arundari langsung tahu bahwa orang yang membuat kekacauan di pagi hari ini adalah orang yang sangat dikenalnya. Sekaligus orang yang begitu dibencinya.
"Huft tadi lakinya, eh sekarang bininya. Kenapa sih hari ini aku harus berurusan sama dua orang itu?" gumam Arundari dengan kekesalan yang luar biasa.
Pada akhirnya, dia pun meninggalkan rencana untuk membuat sarapan dan memilih untuk menghampiri Jelita.
Dengan alis yang berkerut dan kedua tangan dilipat di depan dada, Arundari berkata, "Dasar nggak tahu sopan santun. Ups, dia aja berani nyolong laki orang, ya kali punya sopan santun."
"Heh, jangan ngomong kayak gitu ya!" pekik Jelita marah. Rahangnya mengeras dan juga matanya membelalak.
Arundari menerbitkan seringai. Sifat asli dari Jelita keluar juga. Tampilan manis, lembut, manja dan juga elegan dari wanita itu hanyalah kamuflase belaka.
Selama ini tingkah lembutnya hanyalah kedok untuk menutupi sikap aslinya. Arundari juga sangat sadar bahwa image yang dibangun oleh Jelita dengan wajah cantiknya itu hanya digunakan untuk menarik perhatian orang.
"Aku emang begoo,"gumam Arundari lirih. Dia merutuki dirinya sendiri karena baru menyadari bahwa Jelita adalah musang berbulu domba. Bersikap baik tapi memiliki niat buruk tersembunyi. Dan sekarang, Jelita benar-benar menunjukkannya.
"Hih jingin ngiming kiyik giti yi? Terus, aku harus ngomong apa. Ah iya begini kali. Dasar pelakor,dasar wanita murahan, dasar pelacuur! Begitu kah yang pengen kamu denger?"
Seringai kembali terbit dari bibir Arundari, rasanya puas sekali melihat wajah Jelita yang merah padam karena saking marahnya.
Selain itu, dia juga tidak membuka pintu gerbang. Dan membiarkan Jelita tetap berdiri di sana. Ya tidak ada keinginan barang sedikitpun untuk membiarkan Jelita masuk ke rumahnya meski hanya sampai di halaman saja.
"Kenapa?Masih kurang hmmm?" tanya Arundari dengan nada mengejek.
"Dasar brengsek! Kamu kan yang nyebarin foto-foto ku sama Mas Heri. Kamu kan dibalik akun no name yang udah nyebarin tentang pernikahan aku sama Mas Heri sehingga keadaaan HTU jadi rame. Semua orang jadi ngehujat aku. Semua itu pasti ulah kamu!" pekik Jelita. Nafasnya sampai terengah-engah setelah bicara dengan penuh rasa kesal kepada Arundari.
Arundari mengerutkan alisnya. Dia tidak tahu apapun tentang apa yang dikatakan oleh Jelita. Terlebih saat ini dia tidak membawa ponselnya yang ditinggalkannya di meja dapur tadi.
"Ini Nyonya,"ucap Anton sembari mengulurkan ponsel miliknya dimana Arundari langsung bisa melihat terkait apa yang dibicarakan oleh Jelita.
"Makasih Pak Anton,"sahut Arundari.
"Dengan senang hati, Nyonya,"jawab Anton sambil tersenyum tipis.
Arundari kemudian langsung fokus dengan ponsel milik Anton. Dia mencari akun HTU, komentar-komentar di sana telah dihapus. Akan tetapi banyak akun yang menandai HTU dimana memang terdapat foto dan video ketika Jelita dan Heri menikah. Lalu memang benar apa yang dikatakan Jelita bahwa semua orang menghujat dirinya.
"Ini Pak."
Arundari mengembalikan ponsel milik Anton. Dia kemudian melihat ke arah Jelita dengan tatapan yang sangat meremehkan.
"Kan fakta, kenapa kamu marah hmmm?Kamu emang pelakor. Kamu emang ngrebut laki orang. Kamu bahkan dengan berani menjalin hubungan dengan pria yang jelas-jelas beristri dimana kamu kenal baik dengan istrinya. Kalau kamu sampai dihujat, ya itu pantes. Emang kamu maunya diapain, dipuja-puji gitu? Heh Jelita, malu ih. Ah dan satu lagi, itu bukan aku ya yang nyebarin. Jadi stop buat nuduh aku."
Ucapan Arundari sangat lugas dan tentunya menusuk hingga ke relung hati Jelita. Tapi agaknya wanita itu tidak menyadari bahwa dirinya salah. Wajahnya tetap saja garang dan juga matanya melotot dengan tajam.
"Kamu, kamu pasti iri kan! Kamu pasti iri karena akhirnya aku yang dipilih Mas Heri."
Hahahaha
Tawa seketika langsung meledak dari bibir Arundari. Betapa tidak, Jelita sungguh sangat percaya diri sekali. Dan bisa-bisanya dia menuduh Arundari seperti itu.
Bahkan karena terlalu lucu, Arundari sampai meneteskan air matanya.Dia juga menahan perutnya yang sakit karena tertawa.
"Hahaha udah udah ini beneran lucu banget. Ya kan, Pak Anton?" ucap Arundari kepada orang yang menjaga rumahnya tersebut.
"Benar Nyonya sangat lucu sekali,"jawab Anton dengan tersenyum simpul ke arah Arundari. Namun ketika dia melihat ke arah Jelita, senyuman itu berubah menjadi seringai menakutkan dimana Jelita bisa merasakannya.
"Please deh ah, janga kebanyakan halunya Jelita. Maaf-maaf aja ya, bahkan sekarang kamu mau guling-gulingan sama Heri di di depan mataku pun aku nggak akan gimana-gimana. Karena bagiku ku Heri itu sampah. Kamu tahu kan sampah itu tempatnya dimana, ya di tempat sampah. Eh nggak nyangka sampah itu malah kamu pungut. Ya bagus sih, jadi nggak ngotori pemandangan. Ah udah ah, capek ketawa aku nya. Kelamaan ngomong sama kamu nanti banyak hal lucu yang timbul. Dah ya, bye. Assalamualaikum. Seharusnya begitulah adab mengunjungi atau masuk ke rumah orang lain, Nona cantik wajahnya tapi busuk hatinya."
Arundari langsung membalikkan tubuhnya, lalu berjalan cepat untuk masuk ke rumah. Pun dengan Anton,dia menuju pos jaga miliknya.
Tinggallah Jelita sendirian di tempat itu dengan wajah merah. Malu bercampur marah. Padahal dia datang untuk memojokkan Arundari, tapi siapa sangka malah dirinya yang terpojok sekarang ini.
"Sial sial sial. Kenapa, kenapa malah jadi kayak gini sih?"
Lagi-lagi bukannya menyadari kesalahannya, wanita itu malah merasa kesal dengan lawannya. Ya dia menganggap Arundari adalah lawan. Satu hal yang Jelita lupa atau memang dia masih belum tahu, bahwa Arundari telah melaporkan dia dan Heri ke kantor polisi.
Dengan rasa kesal yang begitu besar, Jelita memilih pergi. Tapi dia tidak kembali ke HTU melainkan pulang ke rumah.
Ada satu hal yang lagi-lagi tak disadari oleh Jelita bahwa sedari tadi ada sebuah pasang mata yang mengawasinya. Dimana orang tersebut sekarang menyeringai dengan tatapan mata yang begitu puas.'
"Bagus, ini bakalan jadi semakin rame. Biar tahu rasa orang kayak gitu."
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄