Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tok-tok-tok!
"Nona, obat yang Anda minta sudah siap!" ucap Bi Sum.
Pintu kamar mandi diketuk, Hana yang memejamkan mata merasakan aliran hangat di seluruh tubuhnya, menghela napas pendek. Rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan berangsur-angsur hilang.
"Masuk saja, Bi!" katanya tanpa membuka mata.
Bi Sum membuka pintu perlahan, melangkah tanpa suara memasuki kamar mandi Hana.
"Letakkan di sini, Bi!" Suara Hana terdengar lagi.
Bi Sum menatap sosok di balik tirai putih itu dengan dahi mengernyit. Ia membuka tirai, menatap Hana yang sedang berendam dan hanya menyisakan kepalanya saja di permukaan.
Dengan hati-hati, Bi Sum meletakkan semangkuk kecil ramuan obat di dekat bak mandi Hana.
"Ramuannya masih panas, Nona. Tunggu sebentar lagi saja. Apa Nona butuh bantuan Bibi?" ucap Bi Sum, suaranya pelan dan hati-hati.
Hana menggelengkan kepala, masih dengan mata terpejam. Ia berkata, "Tidak apa-apa, Bi. Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak."
Bi Sum tersenyum meski Hana tak melihat, suara gadis itu terdengar jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
"Kalau begitu, Bibi akan kembali. Jika Anda sudah selesai, makan malam telah siap," ucap Bi Sum seraya berbalik setelah mendapat anggukan kepala dari Hana.
Hana membuka mata setelah mendengar pintu tertutup, ia melirik mangkok keramik kecil di dekatnya. Ia meraih mangkok itu dengan pelan, memang masih sedikit panas. Namun, Hana tak peduli. Dalam satu kali tegukan, ramuan obat itu langsung tandas.
Uhuk!
Hana memuntahkan darah setelahnya, luka dalam di tubuh yang menyesakkan dada mulai hilang. Darah yang membeku akibat siksaan mulai mengalir. Rasa nyaman pun kembali ia rasakan.
"Rasanya jauh lebih baik," katanya seraya menjatuhkan tubuh pada bak mandi.
Ia berendam sampai air menjadi dingin. Hana beranjak perlahan, luka-luka di tubuhnya tak lagi berdarah.
Lalu, pintu diketuk pelayan. Mereka yang akan melayani Hana memakai pakaian.
"Masuk!"
Suara Hana terdengar pelan, tapi tegas. Pintu dibuka, bukan Bi Sum. Pelayan yang umurnya di bawah Bi Sum masuk dengan kepala tertunduk.
"Saya akan membantu Nona memakai pakaian," katanya seraya mendekat.
Hana duduk di sofa hanya dengan balutan handuk saja. Di atas meja sudah ia siapkan sekotak peralatan medis untuk mengobati lukanya.
"Oleskan obat itu pada lukaku," titahnya seraya memunggungi pelayan itu.
"Baik, Nona," katanya dengan sigap.
Ia membuka sebotol obat luka dan kapas di tangan. Menatap punggung Hana yang putih mulus dengan luka cambuk hampir menutupinya.
Bagaimana Nona Hana bisa tahan dengan siksaan seperti ini? Siapa yang melakukannya? Apakah tuan dan nyonya tidak tahu?
Batinnya bergumam, bergidik ngeri melihat luka di tubuh Hana.
"Kenapa diam saja! Aku tidak bisa mengoleskan obat di punggungku," tegur Hana membuat pelayan itu terhentak.
Dengan hati-hati ia mengoleskan obat pada luka-luka Hana. Sesekali akan meniupnya takut Hana merasakan sakit. Perih memang, tapi Hana bergeming. Tetap diam menahan semua rasa sakit.
"Apakah saya perlu mengoleskannya pada luka yang lain?" tanya pelayan itu setelah selesai dengan punggung Hana.
"Tidak perlu! Keluarlah!" jawab Hana tanpa membenarkan handuk yang dibukanya.
Pelayan itu beranjak, meninggalkan Hana sendirian yang mengoleskan obat pada luka di bagian depan tubuhnya. Hampir seluruh tubuh dipenuhi luka. Setelahnya ia mengenakan pakaian dan menatap dirinya di dalam cermin.
Dengan lembut mengusap pipi sendiri, wajah yang dipenuhi luka goresan.
"Kita memiliki wajah yang serupa, Hana. Tapi, nasib kita berbeda. Aku ditakdirkan menjadi ratu berkuasa di kerajaan Amerta, sedangkan kau menjadi gadis malang di dunia yang tak aku ketahui ini. Entah apa hubunganmu denganku sehingga jiwamu bisa memanggil jiwaku," gumamnya menelisik setiap luka di wajah.
Sebagian ia tutupi dengan plester, sebagian dibiarkan saja. Hana beranjak, mengingat dirinya belum memakan apapun semenjak datang ke dunia itu. Oh, tidak! Hana sudah tidak memakan apapun selama tiga Minggu ini.
"Silahkan, Nona!" Bi Sum menarik kursi untuk Hana.
Sebagai ratu ia sudah terbiasa diperlakukan istimewa. Takdirnya memang menjadi orang paling berkuasa di mana pun ia berada. Di meja makan besar itu, terhampar berbagai macam hidangan yang asing bagi Hana, tapi begitu menggugah selera.
"Ini semua makanan kesukaan Anda, Nona. Dimasak sesuai dengan keinginan Anda," ucap Bi Sum sembari mengambilkan nasi untuk Hana serta lauk pauknya.
"Apakah ini kepiting?" tanya Hana menunjuk pada satu hidangan yang diolah dari kepiting.
"Iya, Nona. Saya akan menambahkannya untuk Anda," jawab Bi Sum hendak mengambil makanan tersebut.
"Tidak perlu! Aku tidak bisa memakan makanan yang terbuat dari kepiting," cegah Hana, teringat pada kehidupannya yang dulu sebelum menjadi ratu. Ia pernah dipaksa memakan kepiting oleh saudaranya hingga hampir merenggut nyawa. Beruntung saat itu, putra mahkota datang menyelamatkannya.
Bi Sum mengernyit, kepiting menjadi salah satu makanan favorit Hana setelah bertunangan dengan Evan. Namun, ia tak banyak bertanya. Semenjak datang, Hana memang sudah berbeda. Bi Sum mengambil piring tersebut dan menyerahkannya kepada pelayan untuk disimpan.
Mereka berdiri di belakang Hana, menunggu sampai gadis itu selesai dengan makannya. Hana makan dengan perlahan, elegan, dan setiap gerakannya terlihat penuh wibawa. Tidak seperti gadis desa yang kasar seperti yang dikatakan orang-orang. Bahkan, saat meletakkan sendok pun tak ada suara sama sekali.
Hana mengangkat cangkir dengan perlahan, cara minumnya yang seperti putri bangsawan mengundang decak kagum para pelayan. Ia bangkit, berjalan dengan anggun meninggalkan meja makan.
"Apakah Nona Hana benar-benar dari desa? Kenapa saya seperti melihat seorang putri bangsawan pada dirinya?" tanya salah seorang pelayan kepada rekannya saat mereka merapikan meja makan.
"Entahlah!"
Meja makan itu tetap rapi, tak ada sisa makanan di piring Hana. Ia makan dengan bersih. Mereka benar-benar merasa kagum. Hana pergi ke lantai tiga, berdiri di jendela besar. Benar dugaannya, dari sana ia bisa melihat seluruh kota Eldoria.
"Tunggu sampai tubuh ini pulih, aku akan datang menuntut balas!"
hai jalang gk tau diri lo