NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

harta Karun milik nya

 Heningnya malam di kediaman keluarga besar itu seketika pecah oleh debar jantung yang berpacu liar.

 Di atas ranjang yang berukuran king size, Cavin baru saja merebahkan tubuh Thalia yang terkulai lemah.

Keheningan itu kembali terusik oleh ketukan yang ritmis di daun pintu kamar nya.

Tok... tok... tok...

" vin, ajak istrimu keluar untuk makan malam. Dia belum menyentuh makanan sejak siang tadi," suara Mama Hera mengalun lembut namun penuh penekanan dari balik pintu.

Ceklek.

Pintu terbuka dengan sentakan kasar. Cavin berdiri di sana dengan napas yang memburu, gurat kecemasan terlukis jelas di wajah tampannya.

 "Ma, Thalia pingsan di kamar mandi!" serunya tertahan, suaranya bergetar oleh kepanikan yang nyata ,sebab ia lah penyebab utama istrinya tidak sadar kan diri karena tertimpa badan nya yang juga ikut terpleset karena lantai yang licin.

" tadi kepala nya sedikit bocor"Cavin melangkah lebar kembali ke arah ranjang, diikuti Mama Hera yang terperanjat.

" bocor bagaimana, kalau bicara yang benar " tanya Mama Hera panik jika terjadi apa-apa dengan menantu nya dan jika hal tak terduga terjadi maka anak nya juga akan terseret.

 Wanita paruh baya itu mengerutkan kening saat melihat putra sulungnya basah kuyup, air menetes dari ujung rambutnya, membasahi jubah mandi yang ia kenakan.

"Astaga, Cavin! Kenapa kamu basah kuyup begini? Bisa demam kalau dibiarkan," ujar Mama Hera heran juga khawatir

, namun pandangannya segera beralih pada sosok menantunya yang pucat pasi. "Lalu, kenapa Thalia bisa sampai pingsan?" tanya Mama Hera karena penjelasan Cavin yang tadi tidak ia cerna dengan baik

"Dia terjatuh di kamar mandi, Ma," jawab Cavin singkat, matanya tak lepas dari wajah Thalia yang mulai pucat

"Bagaimana bisa? Ini pasti karena dia telat makan kenapa pakai nya juga basah kuyup seperti ini ,apa kalian baru saja melakukan di kamar mandi lebih tepat nya di bawa shower" tuduh Mama Hera saat melihat kondisi anak dan menantu nya sama sama basah kuyup.

" tidak ma ,tadi dia bantu Cavin buat nyiapin air buat mandi ,lalu dia pingsan,Cavin lupa matikan airnya saat ngangkat dia keluar" dusta nya

"Kamu sebagai suami seharusnya lebih peka, Cavin. Maag-nya bisa kambuh, padahal dia baru saja pulih," omel Mama Hera sembari mendekat ke sisi ranjang. Ia terdiam sejenak, menatap putra dan menantunya bergantian dengan tatapan menyelidik. "Mama tahu kamu pasti malu mengakuinya kan ,Kenapa tidak di tempat tidur saja, kalau begini sampai basah begini?"

Pipi Cavin memanas. "Ma, ini tidak seperti yang Mama bayangkan. Dia pingsan karena kepalanya terbentur dinding!"

"Cepat ambilkan minyak angin di kotak obat," titah Mama Hera tegas, menghentikan spekulasi lebih jauh.

Cavin bergerak gesit, menyerahkan botol kecil itu kepada ibunya. Saat Mama Hera menyibakkan selimut, ia menghela napas panjang melihat pakaian Thalia yang masih basah melekat di tubuh mungil itu.

"Ma, tadi aku melihat ada darah di kepalanya," gumam Cavin dengan nada penuh sesal.

 Mama Hera segera memeriksa luka itu, mengoleskan cairan antiseptik dengan hati-hati. Lima menit berlalu, namun netra Thalia tetap terpejam rapat meski aroma tajam minyak angin telah memenuhi indra penciumannya.

"Cepat ganti pakaiannya sebelum dia masuk angin! Mama mau hubungi dokter kemari" perintah Mama Hera sembari memberikan pukulan ringan di lengan Cavin yang tampak mematung.

"Biar Cavin yang menelepon Dokter Tom saja, Ma. Mama yang bantu ganti pakaiannya," tawar Cavin ragu.

"Mama juga harus menemui Papa di meja makan dan membuatkan bubur untuk istrimu. Jangan membantah, atau kamu kualat!" Mama Hera bangkit berdiri, menatap putranya dengan tatapan mengancam.

"Segera ganti bajunya. Kalau Mama kembali dan dia masih memakai baju basah ini, jangan salahkan Mama kalau Dokter Tom yang harus mengganti pakaiannya nanti!" ancam Mama Hera sebab ia tahu kalau putra nya ia mulai ada rasa terhadap istrinya.

Sepeninggal ibunya, kamar itu kembali jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam.

Cavin berdiri di tepi ranjang, menatap sosok istrinya yang tak berdaya.

Jemarinya gemetar saat harus menyentuh kancing pakaian Thalia. Meskipun mereka terikat dalam janji suci pernikahan,

ada sekat canggung yang selama ini belum mereka runtuhkan.

Cavin menelan ludah dengan susah payah. Saat kancing baju itu terlepas satu per satu, pemandangan indah yang terpampang di depan matanya. Kulit Thalia yang seputih susu tampak kontras dengan kontraks dengan pakaian yang baru saja di lepas oleh Cavin

"Indah..." gumam Cavin tanpa sadar. Hatinya bergejolak antara kewajiban sebagai suami dan rasa hormat sebagai seorang pria.

' Astaga, Cavin, kendalikan dirimu. Dia sedang sakit,' batinnya meronta.

Karena Thalia terbiasa mengikuti saran Mama Hera untuk tidak menggunakan pakaian dalam atau bra saat tidur demi kesehatan, Cavin semakin kehilangan napas melihat keindahan alami di depan matanya

. Jantungnya berdentum kencang, seolah ingin melompat keluar. Dengan gerakan secepat kilat namun tetap lembut, ia menutupi tubuh Thalia kembali dengan selimut untuk melepaskan sisa pakaian basahnya bagian bawah.

Ia takut jika matanya memandang lebih lama, ia akan kehilangan akal sehatnya

. Cavin segera menggeledah lemari, namun hampir semua pakaian tidur Thalia berbahan tipis yang menurutnya terlalu berbahaya jika dilihat oleh mata pria lain, termasuk sang dokter nanti.tanpa sadar ia cemburu namun ia menyangkal nya

Akhirnya, Cavin mengambil jaket miliknya yang berukuran besar dan memakaikannya pada tubuh Thalia, dipadu dengan bawahan seadanya yang ia temukan.

Pintu kembali terbuka. Mama Hera masuk dengan raut wajah cemas. "Dokter Tom sedang di perjalanan. Loh, kenapa malah dipakaikan jaket besar begitu?"

Cavin berdehem, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. "Biar dia tidak kedinginan, Ma. Sesuai perintah Mama tadi," jawabnya membela diri. Dalam hati, ia merasa lega karena setidaknya, "harta karun" miliknya kini tertutup rapat dari pandangan siapapun.

"Cavin mandi sebentar ya, Ma," pamitnya terburu-buru, melarikan diri ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang kian memanas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!