Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Lingkaran yang Ikut Bicara
Pagi itu belum ada yang tau rencana apa-apa.
Aruna lagi potong roti.
Arven lagi ngecek jadwal kelas kecil mereka.
Arkana lagi debat sama printer.
Arsha nyanyi nggak jelas di belakang kasir.
Pintu café kebuka agak keras.
“Gue tinggal bentar aja, lo udah viral satu kota.”
Aruna langsung nengok.
“Maya.”
Maya jalan masuk tanpa permisi, kacamata hitam masih nempel.
“Serius deh, hidup lo nggak bisa biasa dikit?”
Aruna senyum tipis.
“Lo juga nggak bisa masuk pelan dikit?”
Maya buka kacamata, langsung meluk Aruna.
“Gue liat videonya.”
Aruna cuma ngangguk.
Maya nengok ke anak-anak.
“Ya ampun, kalian makin pinter aja sih. Gue ngerasa goblok tiap ke sini.”
Arven senyum tipis.
“Kita nggak maksa Tante mikir kok.”
Maya melotot.
“Kurang ajar.”
Arkana ketawa kecil.
Arsha langsung meluk kaki Maya.
“Kita bikin kelas lagi hari ini.”
Maya nengok ke Aruna lagi.
“Lo oke?”
Aruna ngerti maksudnya.
“Oke.”
“Bener?”
Aruna ragu sepersekian detik.
“Kita lagi ngobrol.”
Maya langsung pasang wajah curiga.
“Ngobrol yang mana?”
“Yang serius.”
Maya nyengir lebar.
“Ooooh.”
Belum sempat lanjut—
Pintu kebuka lagi.
Kali ini lebih santai.
“Wah, lengkap.”
Arka masuk bareng Daniel dan Raka.
Daniel langsung senyum lihat Maya.
“Wah, ini saksi sejarah juga ada.”
Maya nyipit.
“Lo siapa?”
“Daniel. Sahabat yang paling waras.”
Raka nyengir.
“Itu bohong.”
Arka geleng kecil.
“Kenapa kalian ikut?”
Daniel angkat bahu.
“Kita nggak percaya lo ngomong serius sendirian.”
Maya langsung nyeletuk,
“Bagus. Gue juga nggak percaya Aruna bisa ambil keputusan besar tanpa overthinking tiga hari.”
Aruna mendengus.
“Gue di sini loh.”
Arven dan Arkana saling pandang.
Arsha bisik,
“Kayaknya hari ini rame.”
Semua akhirnya duduk.
Café masih sepi pelanggan.
Maya duduk di satu sisi sama Aruna.
Daniel dan Raka di sisi Arka.
Kayak sidang.
Daniel buka suara duluan.
“Oke. Kita semua tau arahnya kemana.”
Maya angguk.
“Yup. Jangan muter.”
Aruna ngelirik Arka.
Arka tarik napas.
“Aku mau serius sama Aruna.”
Raka langsung tepuk tangan pelan.
“Akhirnya.”
Maya tunjuk Arka.
“Lo yakin bukan cuma rasa bersalah?”
Arka jawab tanpa defensif.
“Dulu mungkin iya. Sekarang enggak.”
Daniel angkat alis.
“Bedanya?”
“Sekarang gue milih. Bukan lari.”
Sunyi sebentar.
Maya nengok ke Aruna.
“Lo?”
Aruna diem bentar.
“Gue nggak mau nikah karena tekanan.”
Daniel langsung angkat tangan.
“Kita pastiin, ini bukan karena keluarga.”
Arka tegas.
“Bukan.”
Raka nyengir.
“Bukan juga karena saham naik.”
Arka lirikin dia.
“Bukan.”
Maya melipat tangan.
“Terus lo siap nggak hidup sama perempuan yang kalau marah bisa diem dua hari?”
Daniel dan Raka langsung ketawa.
Arka santai.
“Gue udah ngerasain lima tahun tanpa dia. Dua hari mah ringan.”
Aruna langsung nengok, sedikit kaget.
Maya liat ekspresi itu.
“Oke. Itu poin buat lo.”
Daniel akhirnya lebih serius.
“Ka, lo tau kan ini bukan cuma nikah biasa.”
“Iya.”
“Status anak-anak bakal berubah.”
“Iya.”
“Nama bakal resmi nempel.”
Arka ngangguk.
“Makanya gue nggak mau maksa mereka.”
Maya nengok ke Aruna lagi.
“Lo takut apa?”
Aruna akhirnya jujur.
“Takut anak-anak ngerasa kita nikah demi mereka.”
Sunyi.
Daniel pelan ngomong.
“Anak-anak lo terlalu pinter buat nggak ngerti.”
Raka nambahin.
“Mereka pasti tau kalau ini soal lo berdua juga.”
Maya mendesah.
“Gue cuma nggak mau lo ngulang luka lama.”
Aruna senyum kecil.
“Gue juga.”
Arka nengok ke Maya.
“Gue nggak akan kabur lagi.”
Maya tatap dia lama.
“Kalau lo kabur lagi, gue yang cari.”
Daniel langsung nyeletuk,
“Dia nggak sendiri. Kita juga.”
Arka ketawa kecil.
“Siap.”
Arven tiba-tiba berdiri dari meja kecilnya.
“Boleh kita ngomong?”
Semua langsung diem.
Arkana dan Arsha ikut berdiri.
Arven ngadep orang dewasa itu semua.
“Kita tau arah obrolannya.”
Arka agak kaget.
“Kamu denger?”
“Dari tadi.”
Maya langsung berbisik,
“Ya Tuhan, anak ini.”
Arkana lanjut pelan.
“Kita nggak mau Papa nikah cuma buat bikin kita sah.”
Arsha angkat tangan kecilnya.
“Kita udah sah buat Mama.”
Sunyi.
Aruna nahan napas.
Arven nengok ke Arka.
“Kalau Papa nikah… itu karena Papa sayang Mama. Bukan karena kita.”
Arka berdiri pelan.
“Itu karena Papa sayang Mama.”
Arkana nyipit dikit.
“Bukan karena kasihan?”
“Bukan.”
Arsha nanya polos.
“Bukan karena takut Kakek marah?”
“Bukan.”
Arven akhirnya ngangguk kecil.
“Oke.”
Semua orang dewasa nahan napas.
“Oke?” tanya Aruna pelan.
Arven jawab santai.
“Kalau kalian mau coba lagi… kita nggak keberatan.”
Arkana nambahin,
“Tapi jangan drama.”
Arsha senyum.
“Dan jangan pisah lagi.”
Maya langsung tutup mulutnya sendiri.
Daniel geleng pelan.
“Anak-anak ini lebih dewasa dari kita.”
Raka ketawa kecil.
“Jelas turunan siapa.”
Arka jalan ke depan anak-anak.
“Kita jalan pelan.”
Arven angguk.
“Pelan nggak apa-apa. Yang penting bareng.”
Aruna ngerasa dadanya anget banget.
Bukan karena lamaran.
Bukan karena cincin.
Tapi karena lingkaran mereka lengkap.
Sahabatnya ada.
Sahabat Arka ada.
Anak-anaknya ngerti.
Dan untuk pertama kalinya—
Keputusan ini nggak terasa berat.
Bukan cuma keputusan dua orang.
Tapi keputusan satu lingkaran.
---
Pagi itu nggak santai.
Baru juga Aruna selesai ngiket rambut, bel rumah udah bunyi dua kali.
“Siapa sih pagi-pagi…” gumamnya.
Arka lagi duduk di meja makan sama Arven, pura-pura serius ngebahas PR padahal yang satu cuma ngangguk-ngangguk biar cepat selesai.
Bel bunyi lagi.
Aruna buka pintu.
Dan—
“Surpriseeee!”
Satu suara cempreng langsung nyelonong masuk tanpa izin.
“Nadya?!” Aruna melotot.
Di depan pintu berdiri Nadya, sahabat paling berisik, paling nggak tahu rem, paling setia dari zaman kuliah. Rambutnya masih sama — agak berantakan tapi sok stylish.
“Aku lihat berita semalam,” Nadya langsung ngomong cepat. “Kamu sama si mantan CEO galak itu balikan ya?”
Aruna langsung nengok ke arah ruang makan.
Arka berdiri.
Nadya ikut nengok.
Dan dalam dua detik suasana jadi awkward.
“Oooooh ini dia orangnya,” Nadya senyum miring. “Yang dulu bikin sahabatku nangis tiga bulan nggak berhenti.”
Arka angkat tangan pelan.
“Selamat pagi.”
“Jangan sopan-sopan,” Nadya balas cepat. “Saya saksi sejarah.”
Aruna nutup muka.
“Masuk dulu, Nad.”
Nadya masuk sambil nyengir, matanya udah muter-muter observasi rumah.
“Kamu sekarang sering di sini?” tanyanya langsung ke Arka.
“Sekarang iya.”
“Sekarang?” Nadya tekankan kata itu.
Aruna langsung nyela.
“Nad, stop.”
“Enggak. Aku cuma mau tahu niatnya apa.”
Arka nggak keliatan defensif. Malah tenang.
“Niatnya serius.”
Nadya nyender ke sofa.
“Serius nikah? Atau serius numpang nama?”
Aruna langsung nengok ke Arka, takut suasana panas.
Tapi Arka malah duduk pelan di kursi seberang Nadya.
“Serius jadi ayah. Dan serius jadi suami kalau Aruna mau.”
Sunyi satu detik.
Nadya kedip.
“Jawaban aman.”
“Aku nggak cari aman,” Arka balas pelan. “Aku cari kesempatan.”
Aruna ngerasa jantungnya aneh.
Nadya masih ngeliatin Arka kayak lagi nge-scan DNA.
“Anak-anak tahu?”
“Belum sepenuhnya,” jawab Aruna pelan.
Nadya langsung nengok ke Aruna.
“Kamu yakin?”
“Aku lagi belajar yakin.”
Nadya napas panjang.
“Aku nggak mau kamu ngulang sakit yang sama.”
Arka langsung jawab tanpa nada tinggi.
“Aku juga nggak mau ngulang kesalahan yang sama.”
Suasana masih tegang, tapi nggak meledak.
Tiba-tiba ponsel Arka bunyi.
Nama di layar: Raka.
Arka angkat.
“Iya?”
Suara di seberang langsung kedengeran agak keras.
“Lo udah jadi bahan gosip satu kota, tahu nggak?”
Arka geleng kecil.
“Pagi juga, Rak.”
Nadya melirik.
“Speaker,” bisiknya usil.
Arka pasang speaker.
Suara Raka, sahabat Arka sejak lama, terdengar jelas.
“Gue cuma mau tanya, lo serius atau cuma nostalgia?”
Aruna kaget. Nadya langsung senyum lebar.
“Wah, ada perwakilan tim sebelah juga nih,” katanya pelan.
Arka tarik napas.
“Gue serius.”
“Serius nikah atau serius klarifikasi media?”
“Serius hidup bareng.”
Sunyi sebentar di ujung sana.
Raka ketawa kecil.
“Anjir. Lo kedengeran beda.”
“Karena gue capek jadi versi lama.”
Aruna diam.
Nadya juga nggak komentar.
Raka lanjut.
“Anak-anak lo gimana?”
“Makanya gue di sini. Mau mulai dari mereka.”
“Good. Jangan kayak dulu, Ka.”
Kalimat itu nggak keras, tapi dalem.
Arka cuma jawab pendek.
“Iya.”
Telepon ditutup.
Ruang tamu jadi sunyi lagi.
Dua sahabat. Dua saksi masa lalu. Dua kubu yang sebenarnya cuma sama-sama protektif.
Nadya akhirnya berdiri.
“Oke. Aku nggak bakal ganggu. Tapi satu hal.”
Dia nengok ke Arka.
“Kalau kamu bikin Aruna nangis lagi, aku yang dateng pertama.”
Arka angguk.
“Fair.”
Nadya nengok ke Aruna.
“Kamu jangan terlalu cepat luluh.”
Aruna senyum kecil.
“Aku nggak selemah itu.”
“Bagus.”
Beberapa detik kemudian, dari arah kamar terdengar langkah kecil.
Arkana keluar duluan.
“Bunda… itu siapa?”
Nadya langsung jongkok.
“Halo, aku tante paling cantik di dunia.”
Arkana ketawa kecil.
Arven keluar juga.
Arsha nyusul sambil masih setengah ngantuk.
Arka berdiri agak kaku.
Nadya berdiri lagi, bisik pelan ke Aruna.
“Lo mau ngomong kapan?”
“Cepat,” jawab Aruna.
Nadya angguk.
“Kalau gitu aku pamit dulu. Biar momen keluarga.”
Sebelum keluar, Nadya nengok lagi ke Arka.
“Kamu tahu kan, kamu nggak cuma nikahin Aruna.”
Arka jawab pelan.
“Aku tahu.”
“Kamu nikahin sejarahnya juga.”
Arka angguk.
Dan kali ini matanya nggak ragu.
Nadya pergi.
Pintu nutup.
Rumah jadi hening lagi.
Arven berdiri di tengah ruang tamu, ngeliat Arka.
“Kamu mau tinggal lagi di sini?”
Pertanyaan polos. Tapi berat.
Arka jongkok biar sejajar.
“Kalau kalian izinin.”
Arkana langsung ngomong cepat.
“Kalau tinggal, berarti jadi papa?”
Aruna langsung nahan napas.
Arsha cuma diem, matanya tajam.
Arka nggak jawab buru-buru.
“Kalau kalian mau.”
Sunyi.
Anak-anak saling pandang.
Arven akhirnya ngomong.
“Papa itu bukan cuma tinggal.”
Arka angguk.
“Iya.”
“Papa itu ada.”
Kalimat itu bikin Aruna merinding.
Arka nggak mundur.
“Aku mau belajar ada.”
Arkana nengok ke Aruna.
“Bunda mau?”
Aruna jongkok juga sekarang.
“Bunda mau coba.”
Arsha akhirnya buka suara kecil.
“Kalau nanti pergi lagi?”
Pertanyaan itu langsung nusuk.
Arka pelan-pelan jawab.
“Kali ini kalau aku pergi, kalian boleh marah.”
Arven langsung nyengir kecil.
“Boleh pukul?”
Aruna langsung, “Arven!”
Arka malah ketawa pelan.
“Boleh protes.”
Arkana mendekat.
“Kalau kita bilang jangan nikah dulu?”
Aruna dan Arka saling pandang.
Arka jawab duluan.
“Berarti kita tunggu.”
Aruna nengok ke Arka.
Dan untuk pertama kalinya, jawabannya nggak egois.
Anak-anak masih mikir.
Belum ada keputusan.
Belum ada pelukan dramatis.
Tapi ada satu hal yang beda.
Semua lagi ngomong jujur.
Nggak ada yang pura-pura kuat.
Nggak ada yang sok yakin.
Di luar sana mungkin orang-orang lagi ribut soal nama belakang, warisan, status.
Tapi di dalam rumah kecil itu—
Yang lagi dibahas cuma satu:
Siap nggak kita jadi keluarga yang benar-benar utuh?
Dan kali ini…
Bukan cuma Arka dan Aruna yang milih.
Tapi berlima.