Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama Yang Ganjil
Di Italia, setelah pesta pernikahan yang melelahkan, Atlas berdiri di balkon kamar pengantin yang luas, menatap bulan yang sama dengan yang dilihat Kaylee. Pikirannya dipenuhi rasa bersalah. Ia merasa telah mengkhianati janji setianya.
Pintu terbuka, dan Bianca masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia melepaskan kerudung pengantinnya dan mendekati Atlas. Tangannya yang dingin mulai menyentuh dada Atlas, merayap ke leher, dan memberikan ciuman yang menuntut di rahangnya.
Atlas mematung. Sebagai laki-laki normal, respons biologis tubuhnya tidak bisa dibohongi. Tekanan fisik dan sentuhan provokatif Bianca membuat bagian bawahnya menegang, sebuah reaksi alami yang membuat Atlas merasa sangat jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa seolah telah menodai cintanya pada Kaylee.
Namun, tepat saat Atlas hendak mendorong Bianca menjauh, wanita itu tiba-tiba berhenti. Ia melepaskan pelukannya dan tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat berbeda dari sebelumnya, dingin dan penuh rahasia.
Bianca menjauh, ia duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok, menatap Atlas dengan pandangan meremehkan.
"Jangan pasang wajah menjijikkan itu, Atlas. Aku tidak tertarik padamu," ucap Bianca datar.
Atlas mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan sikap yang drastis ini. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak menyukai laki-laki, Atlas. Aku sama sekali tidak tertarik pada seorang pria dalam artian romantis atau seksual," Bianca berbisik sambil mengembuskan asap rokok ke udara.
"Aku menikahimu hanya karena satu alasan, Ayahku. Dia kolot dan ingin aku segera memberikan pewaris. Jika aku tidak menikah dengan pria sempurna pilihan atau pilihanku sendiri, dia akan terus menjodohkanku dengan bajingan-bajingan mafia yang haus darah."
Bianca tersenyum miring. "Aku butuh tameng. Dan kau, dengan ketampananmu dan reputasimu sebagai jenius, adalah tameng terbaik. Aktingku bagus, kan? Ayahku langsung percaya saat aku bilang aku terobsesi padamu."
Atlas tertegun. Jadi, semua ancaman dan paksaan ini hanyalah bagian dari sandiwara besar Bianca untuk menutupi jati dirinya dari sang ayah yang kejam?
"Jadi... kau tidak akan menyentuhku?" tanya Atlas, masih waspada.
"Tentu saja tidak. Aku punya duniaku sendiri di balik layar ini," jawab Bianca santai. "Kita punya kesepakatan sekarang, Atlas. Kau berperan sebagai suami yang setia di depan umum, dan aku akan memastikan Kaylee dan keluargamu tidak tersentuh seujung kuku pun. Bahkan, aku akan memberimu fasilitas untuk terus memantau istri kecilmu di Helsinki."
Malam di Helsinki terasa ribuan kali lebih dingin bagi Kaylee. Kamar yang dulu menjadi saksi bisu janji-janji Atlas dan penyatuan mereka yang penuh gairah, kini terasa luas dan hampa. Kaylee meringkuk di atas ranjang, memeluk bantal yang masih menyisakan aroma parfum maskulin Atlas yang kian memudar.
Jam dinding berdetak, setiap detiknya terasa seperti sembilu yang menyayat hati. Di kepalanya, bayangan-bayangan menyakitkan berputar tanpa henti seperti film horor.
Sekarang jam dua pagi di Italia, pikir Kaylee dengan mata yang sembap dan terjaga.
Ia tidak bisa berhenti membayangkan Atlas, pria yang selalu menatapnya dengan pemujaan, kini harus berbagi ranjang dengan Bianca. Ia membayangkan tangan wanita cantik itu menyentuh dada Atlas, tempat di mana Kaylee biasa menyandarkan kepalanya. Ia membayangkan bibir wanita itu mencium leher Atlas, tempat di mana jejak cinta mereka dulu tertinggal.
"At... kenapa rasanya sesakit ini?" isaknya pelan, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.
Kaylee meraba perutnya yang masih rata. Di sana ada kehidupan, ada buah dari malam terakhir mereka yang penuh gairah. Ia merasa sangat bersalah pada janinnya. Seharusnya ia bahagia, tapi yang ia rasakan hanyalah pengkhianatan yang dipaksakan oleh keadaan.
Ia tahu Atlas melakukannya demi keselamatannya, tapi membayangkan suaminya, pria yang baru saja ia serahkan seluruh jiwa raganya, kini sedang menyentuh wanita lain, membuat Kaylee merasa ingin mati.
Kaylee bangkit, duduk di tepi ranjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin, cermin yang sama tempat Atlas mengambil foto selfie posesif mereka. Ia menyentuh bibirnya sendiri.
"Kamu bilang hatimu hanya tempat namaku, At. Tapi bagaimana dengan tubuhmu? Bagaimana jika wanita itu berhasil membuatmu lupa padaku?"
Pikiran-pikiran buruk mulai merayapi logikanya. Bianca jauh lebih berkuasa, sangat cantik, dan kini memiliki status resmi sebagai istri Atlas. Kaylee merasa dirinya hanyalah gadis kecil yang tak berdaya di hadapan raksasa mafia Italia.
Tiba-tiba, Kaylee teringat pesan suara terakhir Atlas. "...wanita gila ini tidak akan pernah menyentuh jiwaku."
Kaylee menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menyakitkan. Ia harus kuat. Ia tidak boleh kalah oleh imajinasinya sendiri. Jika Atlas sedang berjuang di dalam kandang singa, maka ia harus menjadi benteng yang kokoh di sini.
"Aku nggak boleh menyerah," bisik Kaylee pada kegelapan malam. "Kalau kamu bisa berkorban sejauh itu untukku, aku akan bertahan sekuat tenaga untuk anak kita. Aku akan percaya padamu, Atlas. Meskipun malam ini kamu bernapas di ruangan yang sama dengan dia, aku tahu jiwamu sedang memelukku di sini."
🌷🌷🌷
Happy Reading Dear