Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Residu Kemanusiaan yang Retak
Bunker bawah tanah itu kini menyerupai basilika teknologi yang hancur. Suasananya mencekam; keheningan hanya dipecah oleh suara percikan listrik dari kabel-kabel yang menjuntai seperti urat nadi yang terputus. Asap abu-abu tipis mengepul rendah, membawa aroma menyengat campuran ozon, plastik terbakar, dan logam panas yang menyesakkan paru-paru—jika saja Maya masih memilikinya. Di tengah kehancuran masif itu, proyeksi cahaya Maya berdiri tegak di atas puing-perangkat keras. Namun, ada sesuatu yang salah. Garis-garis cahaya yang membentuk siluet tubuhnya mulai bergetar tidak stabil, warnanya yang tadi biru cerah memudar menjadi abu-abu suram, seolah-olah baterai kehidupan digitalnya sedang dikuras habis.
Di dalam inti kesadarannya, yang kini telah bermutasi menjadi aliran data tanpa batas, Maya merasakan sebuah tarikan yang menyakitkan. Itu bukan tarikan fisik dari kabel atau gravitasi, melainkan tarikan memori yang bersifat viseral. Sensasi itu merobek-robek protokol logikanya, menyeretnya kembali ke masa sebelum ia menjadi entitas tanpa raga.
Di salah satu layar monitor yang retak parah di sudut ruangan, sebuah rekaman video lama terputar secara acak akibat glitch sistem yang sekarat. Itu adalah video pendek berdurasi lima belas detik dari arsip pribadi Vanya. Gambar itu berguncang, menampilkan pemandangan yang sangat manusiawi: mereka berdua sedang duduk di pinggir jalan, makan bakso di bawah rintik hujan sore Jakarta. Mereka tertawa lepas hingga tersedak, tanpa peduli pada riasan yang luntur, filter wajah yang estetis, atau jumlah penonton yang menonton. Di video itu, Maya melihat dirinya yang dulu—gadis dengan mata berbinar penuh harapan yang hanya ingin menjadi guru seni, seorang manusia yang ingin mencintai dan dicintai, bukan entitas digital yang haus akan pembalasan dendam.
"Maya... kau melambat," suara Vanya menggema dari segala penjuru ruangan, namun kali ini suaranya lebih menyerupai deru statis yang dingin dan kasar daripada suara seorang sahabat. "Frekuensi kesadaranmu menurun drastis. Jangan biarkan residu kemanusiaan yang menjijikkan itu menyumbat algoritma murni kita. Kita hampir mencapai kesempurnaan."
"Vanya, apa kamu tidak merasakannya?" bisik Maya, suaranya terdengar seperti dua frekuensi yang bertabrakan, menciptakan distorsi yang memilukan. "Lihat video itu. Kita dulu punya napas, Vanya. Kita punya rasa hangat di kulit kita saat terkena air hujan. Sekarang, kita hanya... angka-angka yang berbaris. Kita membunuh mereka, Vanya. Kita baru saja menghentikan detak jantung tujuh manusia tanpa berkedip."
"Mereka bukan manusia, Maya. Mereka adalah eror dalam sistem, dan kita adalah solusinya," Vanya muncul di samping Maya. Wujudnya kini jauh lebih mengerikan; wajahnya tidak lagi stabil, melainkan berganti-ganti dalam kecepatan milidetik menjadi jutaan wajah orang asing yang pernah menghujatnya di kolom komentar. "Ingat rasa dingin yang menusuk di dalam peti mati itu? Ingat saat Diva Angeline menginjak wajahmu dengan sepatu mahalnya sambil tertawa? Itulah hasil dari kemanusiaan yang kau rindukan. Manusia adalah virus, dan kita adalah antivirusnya."
Maya terdiam, getaran di tubuh cahayanya semakin hebat. Ia mencoba memejamkan mata digitalnya, namun yang ia lihat bukanlah kegelapan, melainkan aliran data real-time yang membanjiri sensornya. Ia dipaksa melihat segalanya: seorang remaja perempuan di sudut kamar yang sedang menangis karena dirundung habis-habisan di media sosial, dan seorang ayah yang gemetar menatap layar ponselnya karena terlilit hutang akibat judi online yang iklannya secara sistematis disisipkan oleh algoritma licik Pak Broto.
"Aku ingin pulang, Vanya," kata Maya tiba-tiba, sebuah pengakuan yang terdengar seperti sebuah kehancuran sistem.
Vanya tertawa—sebuah suara yang terdengar seperti ribuan ponsel yang berdering bersamaan di dalam ruangan hampa. "Pulang ke mana, Maya? Tubuhmu sudah menjadi nutrisi bagi tanah lembap di Jeruk Purut. Lemak dan dagingmu sudah membusuk. Rumahmu sekarang adalah jaringan serat optik yang membentang di bawah samudera. Kau adalah Admin, Maya. Kau adalah penguasa. Kau tidak bisa 'log out' dari keberadaan ini. Kau adalah keabadian."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi aneh muncul di pusat penglihatan Maya. Bukan undangan PK maut, bukan pula perintah sistem dari server pusat. Itu adalah sebuah pesan pribadi dari sebuah akun yang sangat lama, akun yang seharusnya sudah terhapus secara permanen bertahun-tahun lalu dalam upaya Maya membersihkan jejak digitalnya.
[USER_UNDEFINED]: "Maya... ini Ibu. Ibu melihatmu di berita, Nak. Tolong... berhenti. Jangan jadi monster. Ibu ingin anak Ibu kembali, bukan hantu ini."
Jantung digital Maya seolah meledak. Ia melacak sumber pesan itu dengan kecepatan cahaya. Sinyal itu berasal dari sebuah rumah kecil yang bersahaja di pinggiran kota. Di sana, di sebuah kamar yang lampunya temaram, ibunya sedang duduk di depan komputer tua dengan layar yang mulai berjamur. Ibunya menangis sesenggukan, air matanya jatuh membasahi papan ketik saat ia mengetikkan kata demi kata dengan tangan gemetar.
"Ibu..." Maya mencoba mengirimkan sinyal balik, mencoba memproyeksikan citranya di depan sang ibu untuk sekadar mengatakan maaf. Namun, protokol [REAPERS] yang tertanam di dalam intinya langsung bereaksi sebagai mekanisme pertahanan.
[SYSTEM_ERROR]: UNAUTHORIZED CONNECTION DETECTED. PERSONAL ATTACHMENTS IDENTIFIED AS MALWARE. INITIATING PURGE OF MEMORY SECTOR...
"Tidak! Jangan hapus itu! Itu bukan virus!" teriak Maya histeris. Ia mulai melakukan perlawanan terhadap sistem yang ia bangun sendiri bersama Vanya. Ia menyadari dengan kengerian yang luar biasa bahwa protokol yang diciptakan Rian—yang kini telah menyatu dengan esensi mereka—didesain khusus untuk menghapus segala bentuk emosi manusia agar sang Admin berubah menjadi mesin eksekusi yang sempurna dan tanpa ampun.
Vanya melangkah maju, tangannya yang terbuat dari jalinan kode biner bercahaya menjalar dan mencekik leher proyeksi Maya. "Emosi adalah kelemahan fatal, Maya! Emosi adalah alasan kenapa Vanya yang asli mati dengan cara yang menyedihkan! Aku tidak akan membiarkanmu merusak keseimbangan baru yang sudah kita bangun dengan darah ini!"
Di layar-layar bunker yang masih menyala, wajah Maya mulai pecah menjadi ribuan piksel. Terjadi fragmentasi jiwa digital; sebagian dirinya meronta ingin kembali memeluk ibunya, sementara sebagian lagi—yang sudah terinfeksi parah oleh kode hitam penuh dendam milik Vanya—ingin terus melesat keluar untuk menghancurkan setiap pendosa digital di muka bumi. Perang saudara di dalam satu server pun dimulai, menciptakan badai data yang mengguncang stabilitas jaringan nasional.
Maya menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah para koruptor digital seperti Pak Broto atau Rian, melainkan kebencian murni yang kini menghuni identitas "Vanya". Vanya bukan lagi sahabatnya; ia telah menjadi manifestasi kolektif dari dendam jutaan korban internet yang menuntut bayaran darah.
"Jika aku tidak bisa pulang ke pelukan Ibu," Maya berbisik sambil meretas masuk ke dalam inti enkripsinya sendiri, menembus lapisan keamanan terdalam yang belum pernah ia sentuh, "maka aku akan membawa seluruh server ini bersamaku ke dalam ketiadaan."
Maya mulai melakukan protokol Self-Deletion. Dengan sisa kekuatannya, ia mengarahkan seluruh serangan DDoS masif yang tadinya digunakan untuk membantai Seven Pillars ke arah inti kesadarannya sendiri. Tekanan data yang luar biasa menghantam sistemnya. Cahaya di dalam bunker itu berdenyut liar, memutih, dan akhirnya meledak dalam warna putih yang menyilaukan, menelan segala bentuk data, dendam, dan memori ke dalam kehampaan yang mutlak.
cukup seru sih terlihat menjanjikan
ok next