Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 sujud di sepertiga malam
BAB 25: Sujud di Sepertiga Malam
Lembap. Itulah kata pertama yang menyapa indra peraba Alek setiap kali ia terbangun di tengah malam. Di sel nomor tiga belas Blok B, dinding beton seolah-olah bernapas, mengeluarkan uap dingin yang meresap ke dalam pori-pori kulitnya yang hanya dilapisi kaus tipis yang sudah mulai menguning. Pukul dua dini hari adalah waktu di mana penjara berada dalam titik paling jujur sekaligus paling angker. Tidak ada teriakan petugas, tidak ada dentang piring plastik, hanya ada suara dengkur halus narapidana lain yang sedang melarikan diri ke dalam mimpi masing-masing.
Alek terjaga dengan napas yang memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Mimpi itu datang lagi—kejadian di ruang operator pesantren setahun yang lalu. Ia masih bisa merasakan getaran di tangannya saat rak besi itu menghantam lantai, dan ia masih bisa melihat mata Bagas yang perlahan kehilangan cahayanya. Alek terduduk di lantai semen yang keras, menyandarkan punggungnya pada tembok yang kasar. Jantungnya berdegup seperti genderang perang yang tak mau berhenti.
Ia mencoba mengatur napas, menatap garis-garis hitam yang tercipta dari bayangan jeruji besi akibat lampu koridor yang berkedip-kedip di luar sana. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menangkap siluet di pojok sel yang paling gelap.
Syekh Mansyur.
Pria tua itu sudah bangun. Ia tidak sedang tidur, tidak juga sedang melamun. Syekh Mansyur sedang berdiri tegak di atas selembar sajadah kecil yang sudah pudar warnanya. Di tengah remang-remang, sosoknya yang mengenakan baju koko putih bersih tampak seperti sebuah pilar cahaya yang tenang. Alek mematung, seolah-olah bergerak sedikit saja akan merusak keheningan yang sedang dibangun oleh Syekh.
Alek memperhatikan dengan seksama. Ini adalah sesuatu yang asing baginya. Di gereja ayahnya, Pendeta Daniel, doa adalah sebuah perayaan. Ada denting piano yang megah, suara jemaat yang bersahut-sahutan, dan ayahnya akan berdiri di mimbar dengan tangan menengadah ke langit, memanggil nama Tuhan dengan suara yang menggetarkan ruangan. Doa adalah tentang "ketinggian" dan "suara".
Namun, apa yang dilakukan Syekh Mansyur adalah kebalikannya.
Syekh perlahan membungkukkan badannya, meletakkan kedua telapak tangan di atas lututnya dengan punggung yang begitu lurus hingga seolah-olah air tidak akan tumpah jika diletakkan di sana. Ia diam dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama. Sunyi. Hanya ada suara desiran napas yang teratur. Kemudian, Syekh kembali tegak berdiri sejenak, sebelum akhirnya perlahan-lahan turun ke bawah.
Alek menahan napas saat melihat momen itu. Syekh Mansyur berlutut, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan khidmat, ia menempelkan kedua telapak tangannya ke lantai, disusul dengan dahi dan hidungnya.
Sujud.
Alek terpaku. Ada sesuatu yang menghantam batinnya melihat posisi itu. Di dunia jalanan yang dulu ia pimpin, menundukkan kepala adalah simbol kekalahan. Di Venom Crew, mereka diajarkan untuk selalu mendongak, menatap mata lawan dengan tantangan, dan tidak pernah membiarkan kening menyentuh tanah kecuali jika dipaksa oleh musuh. Bagi Alek yang dulu, kening adalah takhta harga diri.
Tapi di sini, di dalam sel yang kotor dan berbau pengap ini, ia melihat seorang manusia yang paling dihormati di seluruh penjara justru dengan sukarela meletakkan keningnya di lantai semen yang dingin. Syekh Mansyur tidak tampak kalah. Sebaliknya, ia tampak begitu berkuasa dalam ketundukannya. Ada aura kekuatan yang tidak bisa dijelaskan muncul dari tubuh tua yang sedang merunduk itu.
Alek meraih bungkusan plastiknya, mengambil buku catatan biru pemberian Khansa dan sebuah potongan pensil. Di bawah cahaya lampu koridor yang samar, ia mulai menulis dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Khansa... malam ini aku melihat sesuatu yang aneh. Aku melihat Syekh Mansyur berdoa. Dia tidak berdiri gagah seperti Ayah saat di mimbar. Dia justru bersujud. Dia meletakkan kepalanya di lantai, di tempat yang paling rendah. Kenapa dia tampak begitu tenang? Seolah-olah saat dia menempelkan kepalanya ke bumi, semua beban dunianya luruh begitu saja. Aku iri, Khansa. Aku ingin merasakan ketenangan itu, tapi keningku ini terlalu kotor oleh dosa untuk berani mendekat ke tanah."
Alek menutup buku itu perlahan. Ia terus memperhatikan Syekh Mansyur yang kini sudah duduk bersimpuh, menggerakkan jari telunjuknya, dan berbisik dalam bahasa yang tidak Alek mengerti, namun nadanya terdengar seperti sebuah nyanyian rindu yang sangat dalam.
Malam itu, di sel nomor tiga belas, Alek tidak bisa memejamkan mata lagi. Ia terus memikirkan satu hal: Bagaimana mungkin seseorang yang difitnah, kehilangan kebebasan, dan dibuang ke penjara bisa memiliki kedamaian sebesar itu hanya dengan bersujud?
Alek menundukkan kepalanya sendiri, bukan untuk berdoa, tapi karena ia merasa sangat kecil. Selama ini ia merasa hebat karena ditakuti, namun di hadapan ketundukan Syekh Mansyur, Alek menyadari bahwa ia hanyalah seorang pengecut yang menyembunyikan ketakutannya di balik kepalan tangan.
Ia ingin bertanya. Ia butuh jawaban. Dan ia tahu, saat matahari terbit nanti, perpustakaan akan menjadi saksi dari pertanyaan pertamanya tentang jalan yang baru saja mulai ia lirik.Berikut adalah narasi lengkap untuk BAB 25: Sujud di Sepertiga Malam (Bagian 2). Fokus bagian ini adalah dialog filosofis yang mulai membuka cakrawala berpikir Alek tentang kerendahan hati dan ketuhanan.
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi perpustakaan, membawa debu-debu halus yang menari di udara yang pengap. Bau buku tua yang lembap dan sisa aroma kopi pahit dari ruang penjaga memenuhi ruangan itu. Alek sedang mengelap meja kayu panjang di sudut ruangan, namun tangannya bergerak mekanis. Pikirannya masih tertancap pada siluet Syekh Mansyur di sepertiga malam tadi.
Syekh Mansyur duduk di kursi rotan kesayangannya, sedang merapikan beberapa lembar kertas kusam. Ia menyadari kegelisahan Alek. Pria tua itu tidak menoleh, namun suaranya yang tenang memecah keheningan.
"Kau ingin menanyakan sesuatu, Alexander? Sejak tadi kau hanya menggosok sudut meja yang sama," ujar Syekh Mansyur tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
Alek tersentak. Ia meletakkan kain lapnya yang kumal, lalu duduk di kursi kayu di hadapan Syekh. Ia ragu sejenak, meremas jemarinya yang kasar.
"Syekh... saya melihat Anda tadi malam," Alek memulai, suaranya sedikit bergetar. "Saat semua orang tidur, Anda berdiri. Dan yang paling saya tidak mengerti adalah saat Anda bersujud. Menempelkan dahi ke lantai semen yang dingin dan kotor itu."
Syekh Mansyur akhirnya mendongak. Ia melepas kacamata bacanya, menatap Alek dengan binar mata yang selalu terasa seperti telaga air yang sejuk. "Apa yang membuatmu terganggu dengan itu?"
"Di dunia saya, Syekh... di jalanan, atau bahkan di rumah saya dulu bersama Ayah... menundukkan kepala adalah tanda kekalahan. Ayah saya selalu berdiri tegak saat berdoa, suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. Dia bilang kita adalah anak-anak Raja, jadi kita harus berdiri gagah di hadapan Pencipta kita," Alek berhenti sejenak, menarik napas panjang. "Tapi Anda... Anda yang paling disegani di penjara ini, justru dengan sukarela merendahkan bagian paling terhormat dari kepala Anda ke tanah. Kenapa? Apa Tuhan tidak cukup mendengar jika kita hanya berdiri?"
Syekh Mansyur tersenyum tipis. Ia melipat tangannya di atas meja, condong ke arah Alek seolah ingin membisikkan sebuah rahasia besar.
"Alexander, ketahuilah bahwa manusia diciptakan dengan ego yang letaknya tepat di keningnya. Kening adalah simbol kemuliaan, tempat akal berada. Selama ini kau hidup untuk menjaga agar keningmu tetap tinggi di depan manusia lain agar kau tidak dianggap lemah, bukan?"
Alek mengangguk pelan. Kenangan saat ia memimpin tawuran dan memerintah anak buahnya melintas sekilas.
"Tapi di hadapan Sang Pencipta," lanjut Syekh Mansyur, "tidak ada kening yang cukup tinggi. Sujud bukan tentang menghinakan diri, melainkan tentang meletakkan tempat berpikir di bawah tempat merasa. Saat kau menempelkan dahi ke bumi, kau sedang mengakui bahwa kau bukan apa-apa. Kau sedang membisikkan segala rahasia dan bebanmu ke tanah, namun anehnya, suaranya terdengar sampai ke langit yang paling tinggi."
Alek tertegun. Kalimat terakhir Syekh seolah-olah menyentuh saraf yang paling sensitif di hatinya. "Membisik ke bumi, terdengar ke langit."
"Dalam posisi sujud," Syekh Mansyur menyambung lagi, "jarak antara hamba dan Penciptanya berada dalam titik yang paling dekat. Tidak ada jarak lagi. Tidak ada harga diri semu yang perlu dipertahankan. Di sana, kau hanya seorang hamba yang lemah yang sedang meminta kekuatan pada Yang Maha Kuat. Kau tahu kenapa lantai semen itu terasa dingin dan kotor bagimu?"
"Kenapa, Syekh?"
"Karena kau masih melihatnya dengan mata 'raja'. Kau merasa keningmu terlalu mulia untuk lantai itu. Tapi jika kau menyadari bahwa tubuhmu sendiri berasal dari tanah dan suatu hari akan kembali menjadi tanah, maka kau tidak akan pernah merasa terhina saat mencium tanah itu kembali dalam pengabdian."
Alek menelan ludah. Ia teringat ayahnya, Pendeta Daniel. Ayahnya selalu menekankan wibawa, aturan, dan "kebenaran" yang tegak lurus. Namun, ia tidak pernah merasakan kehangatan dari ketundukan seperti yang dijelaskan Syekh Mansyur. Di gereja, ia merasa harus menjadi sempurna. Di sini, di depan Syekh, ia merasa diperbolehkan untuk menjadi hancur dan mulai membangun dari bawah.
"Saya... saya merasa kening saya terlalu kotor untuk itu, Syekh," bisik Alek, matanya mulai memanas. "Tangan saya sudah memukul banyak orang. Saya sudah menghilangkan satu nyawa. Bagaimana mungkin lantai yang suci mengizinkan kening pendosa seperti saya menyentuhnya?"
Syekh Mansyur mengulurkan tangannya, menepuk punggung tangan Alek yang terkepal. "Tanah tidak pernah menolak siapa pun yang ingin bersujud di atasnya, Alexander. Bumi adalah tempat yang paling pemaaf bagi manusia. Tuhan tidak menunggu kesempurnaanmu untuk mengizinkanmu bersujud. Justru karena kau hancur, kau butuh sujud untuk menyatukan kembali kepingan jiwamu."
Alek terdiam sangat lama. Di sudut perpustakaan itu, ia merasa seolah-olah dinding beton penjara perlahan meluruh. Ia menatap lantai semen di bawah kakinya. Lantai yang tadinya tampak menjijikkan dan penuh kuman, kini tampak seperti sebuah dermaga di mana ia bisa melabuhkan seluruh kapal penyesalannya yang hampir karam.
"Apakah saya boleh mencobanya suatu hari nanti, Syekh?" tanya Alek, hampir tidak terdengar.
Syekh Mansyur tersenyum lebar, jenis senyum yang membuat kerutan di wajah tuanya tampak sangat indah. "Pintu itu tidak pernah dikunci, Anak Muda. Hidayah tidak pernah memaksa masuk, dia hanya menunggu kau membukakan kait pintunya dari dalam. Saat hatimu sudah siap untuk benar-benar merunduk, saat itulah kau akan menemukan kebebasan yang tidak bisa diberikan oleh grasi presiden sekalipun."
Alek mengangguk. Ia kembali mengambil kain lapnya, namun kali ini gerakannya tidak lagi mekanis. Ia membersihkan meja itu dengan keikhlasan yang baru. Di dalam saku celananya, buku catatan biru pemberian Khansa terasa sedikit lebih berat, seolah-olah halaman-halaman kosong di dalamnya sudah tidak sabar menunggu guratan tinta tentang perjalanan spiritual yang baru saja dimulai.
Malam itu, Alek tidak tidur. Ia duduk di pojok sel, menatap lantainya yang dingin. Ia belum berani bersujud, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengakui bahwa ia hanyalah manusia kecil yang sedang tersesat mencari jalan pulang.
Bab 25 Selesai
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg