NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sebenarnya Laras kesal sekali pada kakaknya. Namun ia juga mengerti—perawakan Braja memang aneh dan mencurigakan. Siapa pun yang melihatnya sekilas pasti akan berpikir ia bukan manusia biasa.

Tetapi Laras yakin.

Braja bukan siluman.

“Laras! Kenapa kau bengong saja? Ayo, naik!” seru Jatisangkar.

Dengan wajah merengut, Laras naik ke atas kuda dan duduk di belakang kakaknya. Tak lama kemudian, kuda itu pun melaju meninggalkan ladang bunga, menuju rumah mereka.

“Aku akan melaporkan kejadian ini pada Ayah,” ujar Jatisangkar tegas. “Biar kau dimarahi. Kau ini benar-benar nakal, Laras. Hutan itu bukan hutan sembarangan. Apa kau tahu cerita tentang para perampok yang dulu bermukim di sana? Mayat mereka ditemukan di pinggir hutan dalam keadaan tercabik-cabik.”

“Ya… aku tahu, Kang,” jawab Laras pelan sambil menundukkan kepala.

“Lalu besok-besok kau mau mengulanginya lagi?”

Laras terdiam.

Di dalam hatinya, ia masih ingin bertemu Braja. Masih ingin tahu lebih banyak tentang bocah ajaib itu. Namun karena terus didesak, ia akhirnya menjawab dengan terpaksa.

“Tidak, Kang. Aku tidak akan ke hutan itu lagi.”

Jatisangkar mendengus.

“Ah, matamu itu. Ayah sudah sering mengingatkan, tapi tetap saja kau ulangi. Huh.”

Laras tak menanggapi lagi. Ia memilih diam, memandang lurus ke depan. Angin sore menerpa wajahnya, namun pikirannya masih tertinggal di tepi hutan—pada sosok berkulit kehijauan yang menghilang seperti bayangan.

Perjalanan mereka membawa mereka ke sebuah sungai dangkal yang membelah jalan setapak. Airnya jernih, arusnya pelan, dan bebatuan kecil tampak jelas di dasarnya.

Perlahan, kuda itu melangkah masuk ke dalam sungai. Suara gemericik air terdengar lembut saat kuku kuda menyentuh dasar yang berbatu.

Namun tanpa mereka sadari, di antara bebatuan itu tersembunyi sesuatu.

Di bagian tengah sungai, seekor buaya besar berendam nyaris tak terlihat. Tubuhnya menyatu dengan warna batu dan lumpur, matanya hanya sedikit muncul di permukaan air.

Diam.

Menunggu.

Air yang jernih justru menjadi penyamar sempurna bagi sang pemangsa.

Dan jarak antara kuda itu dengan buaya… semakin dekat.

Tak ada yang tahu kapan bencana itu datang—seperti mereka berdua yang tak menyadarinya. Sejenak kuda itu meringkik, seolah tahu bahwa bahaya telah menunggu di depan. Namun Jatisangkar menenangkan hewan itu, mengusap lehernya dan berbisik lirih. Kuda pun kembali melangkah, menapaki arus sungai yang dangkal dengan hati-hati.

Ketika mereka telah berada dalam jangkauan, malapetaka itu pun terjadi.

Air di samping mereka mendadak menyibak keras. Seekor buaya muncul dengan rahang menganga, lalu menerkam kaki kuda dengan giginya yang tajam. Kuda itu meringkik panjang dan meronta sekuat tenaga. Laras dan Jatisangkar terlempar dari pelana, terjerembab ke air yang hanya setinggi lutut namun cukup membuat tubuh mereka terhuyung dan nyeri.

Kuda malang itu terus meronta sementara buaya menyeretnya ke bagian sungai yang lebih dalam. Jatisangkar membeku—ia tak berani mendekat. Dengan napas tersengal dan tubuh gemetar, ia hanya bisa menyaksikan kudanya menjadi mangsa.

Namun bahaya belum usai.

Tanpa mereka sadari, seekor buaya lain telah mengintai dari balik batu-batu sungai. Begitu kuda itu tak lagi mampu melawan dan akhirnya tenggelam dalam pusaran merah, air di dekat kaki Laras kembali tersibak. Muncul seekor buaya yang bahkan lebih besar, sisiknya tebal dan matanya dingin menatap lurus pada mangsa barunya.

“Kakaaaaag!” teriak Laras panik ketika buaya itu merangkak cepat ke arahnya.

Tak ada pilihan lain. Jatisangkar harus melindungi adiknya.

Dengan sigap ia melompat dan menyabetkan pedangnya ke arah kepala buaya. Namun binatang itu lebih cepat. Rahangnya mengatup, menggigit bilah pedang, lalu menggeliat keras. Jatisangkar tak kuat menahan tarikan itu. Pedangnya terlepas dan terlempar ke sungai.

Kini ketakutan benar-benar mencengkeramnya.

Sesaat sebelum rahang buaya itu menyambar, dari arah hutan terdengar desir angin yang tak wajar. Bayangan hijau berkelebat cepat—terlalu cepat untuk ditangkap mata. Sosok itu menerjang buaya dengan kekuatan yang mengerikan.

Itu Braja.

Namun bukan Braja yang mereka kenal.

Perawakannya berubah menyeramkan. Kukunya memanjang dan menghitam. Giginya yang semula rata kini meruncing tajam. Yang paling mengerikan adalah matanya—hitam pekat tanpa selaput putih, seolah menyerap seluruh cahaya.

Ia bergulat dengan buaya itu di dalam air. Tangannya mencengkeram rahang sang pemangsa, mencabiknya tanpa ampun. Ia memukul dan mengoyak tubuh buaya berulang-ulang hingga air sungai yang jernih berubah merah pekat. Geraman dan desisan keluar dari tenggorokannya, terdengar bukan seperti suara manusia.

Air beriak liar. Lumpur dan darah bercampur.

Dalam beberapa detik yang terasa seperti selamanya, buaya besar itu berhenti bergerak.

Braja berdiri di tengah sungai yang memerah, napasnya berat, tubuhnya berlumur darah—entah darah siapa. Ia menoleh perlahan ke arah Laras dan Jatisangkar.

Dan untuk pertama kalinya, Jatisangkar benar-benar mempertanyakan satu hal yang tak pernah ingin ia percayai—

Apakah Braja masih manusia?

Buaya itu pun mati mengenaskan di tangan Braja. Tubuhnya mengambang di permukaan air dengan kepala hampir terputus, sementara badannya penuh luka menganga bekas cabikan maut. Darah mengalir dan menggenangi sungai yang tadi jernih. Buaya yang sebelumnya melahap kuda mereka pun kabur, menyelam tergesa begitu melihat kawannya tewas.

Dari dalam air yang memerah, Braja muncul perlahan. Ia berjalan ke tepian sungai dengan langkah berat. Air bercampur darah menetes dari ujung kuku hitamnya. Mata hitam pekatnya memandangi Laras dan Jatisangkar dengan tatapan nanar—bukan marah, bukan pula buas, melainkan kosong… dan asing.

Lalu, secepat kilat, tubuhnya berkelebat naik ke atas pepohonan. Dahan-dahan bergoyang keras sebelum akhirnya hening kembali. Braja lenyap ditelan rimbunnya hutan.

“Brajaaaaa…!” panggil Laras, suaranya bergetar.

Ia hendak menyusul, namun Jatisangkar segera menangkap lengannya.

“Jangan gila, Laras! Kau mau mati, hah?”

“Tapi dia telah menyelamatkan kita, Kakang. Kita harus berterima kasih padanya…”

“Aku tahu, Laras. Aku paham. Aku pun merasa berutang budi padanya. Tapi kau lihat perawakannya? Apa kau pikir dia manusia?”

Laras terdiam. Bayangan mata hitam itu masih terpatri jelas di benaknya.

“Sudahlah, ayo pulang. Kita harus melaporkan kejadian ini kepada Ayah. Bersyukurlah kita masih selamat. Mari,” ajak Jatisangkar tegas, meski suaranya masih menyisakan gemetar.

Sebenarnya Laras pun merinding melihat wujud Braja yang bagai siluman itu. Namun entah mengapa, hatinya tidak sepenuhnya diliputi takut. Di balik kengerian itu, ia justru merasakan sesuatu yang lain—keyakinan bahwa sosok itu tidak berniat mencelakainya.

Bahkan diam-diam ia telah merencanakan sesuatu.

Besok.

Ia akan kembali ke hutan itu.

Hari ini mereka harus pulang. Kuda mereka telah menjadi mangsa, dan tubuh mereka masih nyeri akibat terjatuh. Dengan pakaian basah berlumur lumpur dan darah yang mulai mengering, Laras dan Jatisangkar pun berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju rumah, meninggalkan sungai merah yang perlahan kembali sunyi—seolah tak pernah terjadi apa-apa

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!