17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir dari Surga Tikus
Sabtu, 24 Agustus 1996. Pukul 08:00 WIB.
Kepala Lian rasanya seperti dipukul palu godam dari dalam.
Dug. Dug. Dug.
Setiap detak jantung mengirimkan gelombang nyeri yang memuakkan ke otaknya. Mulutnya terasa kering, pahit, dan berbau sisa alkohol murahan.
Dia membuka mata. Langit-langit hijau berjamur Kamar 303 berputar pelan.
Cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah ventilasi terasa menusuk.
"Ssshh..." Lian mendesis, menutup matanya lagi dengan lengan.
Ingatannya tentang tadi malam berantakan. Dia ingat rasa panas ciu, rasa cemburu melihat Aga, suara bentakannya sendiri pada Kara, lalu... gelap.
"Udah bangun, Tuan Putri?"
Suara itu dingin. Datar.
Lian menyingkirkan lengannya.
Kara duduk di lantai, bersandar pada tembok di seberang kasur. Dia sudah mandi (rambutnya basah), sudah berpakaian rapi, dan tas ranselnya sudah dikemas.
Dia menatap Lian dengan sorot mata yang sulit diartikan. Marah? Kecewa? Atau... lelah?
"Ra..." suara Lian serak parah. Tenggorokannya sakit. "Gue... sori soal semalam."
Kara tidak menjawab permintaan maaf itu. Dia malah melempar sebotol air mineral ke kasur.
"Minum. Lo bau naga."
Lian duduk, kepalanya berdenyut makin kencang. Dia meneguk air itu rakus. Setengah botol habis dalam sekali napas.
Baru saat itulah dia sadar suasana aneh di kamar ini.
Semua barang-barang mereka sudah masuk tas.
"Ra? Kita mau ke mana?" tanya Lian bingung. "Masih pagi."
"Kita nggak ke mana-mana. Kita keluar," jawab Kara. Dia menunjuk pintu.
Di sana, ada secarik kertas diselipkan di bawah pintu.
Lian memungutnya dengan tangan gemetar (efek hangover dan lapar).
Tulisan tangan Bu Bariah yang kasar:
BAYAR SEWA HARI INI JAM 9. ATAU ANGKAT KAKI. TUNGGAKAN SUDAH 2 HARI.
Dua hari. Lian baru sadar. Uang hasil benerin stik PS sudah dirampok. Uang ngamen Kara sudah dipakai makan dan beli obat. Kemarin dia tidak bayar sewa. Hari ini jatuh tempo lagi.
"Gue... gue bisa cari duit lagi," kata Lian panik. Dia meraba saku celananya. Kosong melompong. Bahkan recehan pun tidak ada.
Kara berdiri, menggendong ranselnya.
"Lian, stop. Nggak usah janji-janji lagi. Bu Bariah tadi pagi udah gedor pintu pas kamu masih ngorok mabuk. Dia bawa dua orang preman pasar."
"Dia bilang: 'Nggak ada duit, keluar. Kamar mau dipake orang lain.'"
Wajah Lian pucat pasi. Harga dirinya yang sisa sedikit itu diremukkan lagi.
Dia, cowok yang berjanji melindungi Kara, justru menjadi beban mabuk yang tidur saat pacarnya diancam preman losmen.
"Ayo," kata Kara dingin. "Mending kita keluar sendiri daripada diseret."
Lian tidak membantah. Dia merasa terlalu kecil untuk membantah.
Dia memakai sepatunya dalam diam. Mengambil jaket denim-nya yang bau apek. Memanggul ranselnya.
Mereka berdua berjalan keluar dari Kamar 303—kamar sempit yang tiga hari lalu terasa seperti bulan, kini terasa seperti tempat sampah.
...----------------...
Jalan Sosrowijayan. Pukul 09:30.
Matahari Yogyakarta sedang terik-teriknya. Aspal jalanan menguapkan panas.
Debu beterbangan. Suara bising knalpot bus kota dan andong memenuhi udara.
Lian dan Kara berdiri di trotoar, memanggul tas besar mereka.
Orang-orang lalu lalang. Turis asing dengan kacamata hitam, mahasiswa dengan buku tebal, pedagang asongan.
Semuanya punya tujuan.
Cuma mereka berdua yang diam mematung.
Mereka Gelandangan.
Resmi.
Tanpa atap. Tanpa uang sepeser pun.
Perut Lian berbunyi keras. Asam lambungnya naik karena belum makan dan efek alkohol. Dia mual.
Dia melirik Kara. Wajah gadis itu pucat dan berkeringat. Kara juga belum makan.
Lian melihat sekeliling.
Dia melihat warung Padang tempat dia ditolak kerja. Dia melihat angkringan tempat mereka makan nasi kucing.
"Tunggu di sini," kata Lian tiba-tiba. Dia melepaskan tas ranselnya, meletakkannya di dekat kaki Kara.
"Mau ke mana?" Kara menahan lengan Lian. Ada kepanikan di matanya. "Jangan macem-macem lagi, Kak."
Lian melepas jaket denim kesayangannya.
Jaket Levi's asli. Tebal. Vintage.
Hadiah ulang tahun ke-16 dari ayahnya. Satu-satunya barang "bermerk" yang masih dia miliki yang bisa membuktikan dia pernah punya kehidupan layak.
Jaket itu adalah armornya. Kulit keduanya. Simbol anak 90-an yang keren.
Tanpa jaket itu, dia cuma anak kurus dengan kaos oblong dekil.
"Gue mau jual ini," kata Lian datar.
"Kak... itu kan jaket kesayangan Kakak..." Kara tahu seberapa berartinya benda itu. Lian memakainya saat di rooftop sekolah. Lian memakainya saat pertama kali membonceng Kara.
"Jaket nggak bisa dimakan, Ra," potong Lian. Matanya kosong.
"Tunggu di sini. Jagain tas."
Lian berjalan menjauh, menembus keramaian trotoar, menuju Pasar Beringharjo. Di sana banyak pedagang pakaian bekas (awul-awul).
Setengah jam kemudian.
Lian kembali. Dia tidak memakai jaket denim itu lagi.
Dia hanya memakai kaos oblong putih tipis yang sudah kusam warnanya. Dia terlihat lebih kurus, tulang selangkanya menonjol.
Kulit lengannya yang biasanya tertutup jaket kini terpapar matahari langsung, memperlihatkan beberapa lebam ungu bekas pukulan preman yang mulai menguning.
Lian menyodorkan sesuatu ke tangan Kara.
Dua bungkus Nasi Rames (lauk ayam!) dan dua botol teh sosro dingin.
Dan di tangannya masih ada beberapa lembar uang sepuluh ribuan.
"Dihargain tiga puluh ribu," kata Lian pelan, duduk di trotoar di samping tas mereka. Dia tidak berani menatap mata Kara.
Tiga puluh ribu untuk jaket yang harganya ratusan ribu.
Penjarahan nasib.
Kara duduk di sebelahnya. Dia memegang nasi bungkus yang masih hangat itu. Matanya berkaca-kaca.
Dia tahu Lian baru saja menjual sisa terakhir dari "Julian Pratama".
"Makasih," bisik Kara.
Lian membuka nasi bungkusnya dengan kasar, mencoba menutupi getaran tangannya.
"Makan yang banyak. Abis ini kita harus cari tempat tidur. Masjid. Atau... pos ronda. Apa aja yang gratis."
Mereka makan di pinggir jalan Malioboro. Debu jalanan menjadi bumbu tambahan. Orang-orang lewat menatap mereka—dua remaja SMA yang kabur, makan seperti orang kelaparan. Ada tatapan jijik, ada tatapan kasihan.
Lian mengunyah ayam goreng itu, tapi rasanya seperti pasir.
Dia menatap kakinya. Sepatu brand mahal miliknya mulai mangap (rusak).
Dia sudah jatuh ke dasar.
Di dasar paling bawah.
"Ra," panggil Lian di tengah kunyahan.
"Hm?"
"Kalau kita pulang sekarang... lo mau?"
Pertanyaan itu menggantung di udara panas.
Pulang. Menyerah. Kembali ke rumah orang tua, minta maaf, lalu dikirim ke pesantren atau asrama.
Tapi setidaknya makan terjamin. Tidur nyenyak.
Kara berhenti makan. Dia menatap nasi di tangannya, lalu menatap keramaian Malioboro.
Lalu dia menggeleng.
"Enggak," jawab Kara tegas.
"Kalau kita pulang sekarang, mereka menang, Kak. Mereka bakal benerin kita sampai kita jadi 'normal' lagi. Aku nggak mau jadi normal."
"Tapi kita gembel, Ra!" suara Lian naik satu oktaf, frustrasi. "Liat kita! Tidur di jalan! Bau! Masa depan suram!"
"Lebih baik gembel tapi punya jiwa sendiri, daripada jadi mayat hidup di rumah mewah," bantah Kara. Matanya menyala lagi dengan api pemberontakan itu.
"Sisi B belum abis pitanya, Lian. Lagu belum selesai."
Kara mengambil teh botolnya, mengangkatnya tinggi-tinggi seolah sedang bersulang anggur mahal.
"Bersulang buat jalanan. Buat jaket denim yang udah jadi kenangan."
Lian menatap gadis gila di sebelahnya ini. Gadis yang menolak kenyamanan demi kebebasan yang menyakitkan.
Lian menghela napas panjang, setengah tertawa, setengah menangis.
Dia mengangkat teh botolnya.
"Bersulang," guman Lian. Ting.
Botol kaca beradu pelan.
Di tengah keterpurukan total ini, anehnya... Lian merasa sedikit lega.
Jaket itu sudah pergi. Beban masa lalunya ikut pergi. Sekarang dia benar-benar nol.
Dan dari titik nol, satu-satunya jalan adalah ke atas. Atau ke samping. Yang penting jalan.
"Kak," Kara menunjuk ke seberang jalan. Ke arah Stasiun Tugu.
"Apa?"
"Kalau kita nggak bisa tidur di losmen... gimana kalau kita cari 'rumah' di tempat lain?" Kara menunjuk deretan Gerbong Kereta Bekas yang parkir di jalur mati stasiun (area Dipo Lokomotif). Gerbong-gerbong rusak yang sudah tidak jalan, tempat anak-anak jalanan biasa tidur sembunyi-sembunyi.
"Gerbong hantu?" Lian menaikkan alis.
"Hotel bintang lima gratis," koreksi Kara sambil nyengir lebar, giginya ada sisa cabai sambal.
Lian tertawa. Benar-benar tertawa.
"Gila lo, Ra."
Mereka menghabiskan makanan mereka dengan cepat.
Siang ini, mereka akan menjadi penghuni liar Dipo Lokomotif. Rumah baru untuk "Raja dan Ratu Sisi B".