NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Aturan Dan Getaran

​Rumah mewah keluarga Amy tidak pernah terasa seperti rumah. Lebih mirip galeri seni yang sunyi, di mana Amy adalah pajangan utamanya. Setiap gerak-gerik, nada bicara, hingga detak jantungnya seolah diatur oleh sebuah jam dinding besar yang berdetak menakutkan.

​"Anastasia," suara papanya terdengar berat saat makan malam. Tidak ada suara denting sendok, hanya keheningan yang mencekam. "Papa dengar ada anak laki-laki yang mencoba mendekatimu di sekolah baru."

​Tangan Amy yang memegang pisau steak berhenti sesaat. Ia teringat wajah konyol Zayden yang mencoba puitis di tengah kepulan asap knalpot.

​"Hanya teman sekolah, Pa. Tidak ada yang penting," jawab Amy, datar dan tanpa emosi.

Persis seperti yang diajarkan: Jangan biarkan emosimu terlihat, atau kamu akan hancur seperti kakakmu.

​"Bagus," timpal mamanya dengan mata yang berkaca-kaca setiap kali melihat kamar kosong di lantai dua, kamar mendiang kakak Amy.

"Jangan pernah biarkan laki-laki menyentuhmu. Mereka hanya tahu cara menghancurkan. Kamu lihat apa yang terjadi pada kakakmu? Dia memberikan segalanya, dan mereka membalasnya dengan kematian."

​Amy menelan makanannya yang terasa hambar. Ia adalah cadangan bagi harapan orang tuanya yang telah gugur.

Kakaknya, yang dulu begitu ceria dan bebas, berakhir tragis karena dikhianati oleh laki-laki yang tak bertanggung jawab. Sejak saat itu, cinta adalah kata terlarang di rumah ini.

Pergaulan adalah racun. Dan laki-laki? Laki-laki adalah pemangsa.

​"Aku mengerti, Ma," bisik Amy. Di dalam hati, ia mengunci rapat-rapat pintu perasaannya. Ia harus tetap berada di suhu satu derajat celcius. Tidak boleh lebih hangat, karena hangat berarti mulai mencair, dan mencair berarti mulai rapuh.

​siang harinya di perpustakaan sekolah, Amy duduk dengan buku kalkulus di depannya. Di seberangnya, Zayden duduk dengan gelisah. Pemuda itu terlihat sangat kontras dengan suasana perpustakaan yang tenang, jaket kulitnya tersampir di kursi, dan rambutnya yang berantakan tertimpa cahaya sore dari jendela.

​"Amy, ini angka-angkanya kenapa bisa jadi huruf semua sih?" keluh Zayden, menunjuk soal aljabar. "Kenapa x harus dicari? Kalau dia pergi ya biarin aja, emangnya dia nggak tahu kalau dicariin itu capek?"

​Amy tidak tertawa, tapi sudut bibirnya hampir terangkat. "Itu matematika, Zayden. Bukan curhatan hidup kamu. Fokus."

​Zayden memperhatikan Amy. Ia melihat cara Amy memegang pulpen dengan sangat kencang, seolah-olah dia sedang menahan beban dunia di pundaknya.

Zayden yang biasanya berisik, tiba-tiba terdiam. Sebagai orang yang juga patah karena urusan rumah, Zayden bisa mencium bau kesedihan yang sama dari Amy.

​"Amy," panggil Zayden pelan. "Lo... kenapa kayak robot?"

​Amy mendongak, matanya menajam. "Maksud kamu?"

​"Lo nggak pernah bener-bener ketawa. Lo nggak pernah bener-bener marah. Lo cuma... ada. Kayak patung di mansion bokap gue," Zayden menutup buku matematikanya. "Gue tahu rasa sakit itu rasanya gimana. Tapi kalau lo terus-terusan nahan emosi, lo bakal meledak."

​"Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidup saya, Zayden Abbey," desis Amy, suaranya bergetar karena emosi yang coba ia tekan. "Keluarga saya punya alasan kenapa saya harus seperti ini. Laki-laki seperti kamu... kalian hanya tahu cara membuat masalah."

​Zayden terdiam. Ia teringat reputasinya sebagai tukang tawuran dan bad boy yang tak tersentuh. Ia menyadari bahwa di mata Amy (dan orang tua Amy), dia adalah ancaman terbesar.

​"Gue emang tukang berantem, Amy. Tapi gue nggak pernah bohong soal perasaan," Zayden memajukan duduknya. "Gue benci disentuh orang karena rumah gue penuh kepalsuan. Dan gue liat, lo juga benci disentuh kenyataan karena rumah lo penuh ketakutan."

​Zayden mengeluarkan sebuah cokelat kecil dari sakunya, sesuatu yang sangat tidak Zayden sekali.

​"Ini. Makan. Kata orang, cokelat bisa bikin hormon bahagia naik," Zayden meletakkannya di depan Amy. "Aturan itu buat ditaati, tapi emosi itu buat dirasain. Jangan mati sebelum waktunya, Amy."

​Amy menatap cokelat itu, lalu menatap Zayden.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Zayden bukan sebagai pemuda berandalan, tapi sebagai seseorang yang mencoba memberinya oksigen di tengah ruang hampa.

​Tiba-tiba, suara Dio terdengar dari balik rak buku kategori sejarah. "BOS! Gawat! Chyntia dateng ke sekolah! Dia nyariin lo, katanya disuruh bokap lo pulang sekarang buat acara makan malam keluarga!"

​Wajah Zayden langsung berubah keruh.

Ia membenci Chyntia, ia membenci ayahnya, dan ia membenci aturan yang memaksa mereka kembali ke penjara masing-masing.

​Amy melihat perubahan raut wajah Zayden. "Pulanglah. Sepertinya penjara kamu lebih butuh kamu sekarang."

​Zayden berdiri, memakai jaket kulitnya dengan kasar. "Gue bakal balik lagi besok. Dan gue nggak bakal berhenti sampai suhu satu derajat lo itu... setidaknya naik jadi sepuluh derajat."

​Zayden pergi dengan langkah lebar, diikuti gengnya yang kasak-kusuk. Amy terdiam sendirian di perpustakaan. Ia meraih cokelat pemberian Zayden, membukanya perlahan, dan mencicipinya.

​Manis. Tapi juga pahit. Persis seperti perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, perasaan yang sangat dilarang oleh orang tuanya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍😍😍😍😍

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!