NovelToon NovelToon
My Sexy Daddy

My Sexy Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / One Night Stand / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Careerlit
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.

Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.

Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.

Farris Delaney.

Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.

Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.

୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balerina

...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...

...(31 tahun)...

3 BULAN KEMUDIAN ....

Hidupku super sibuk beberapa bulan terakhir. Aku bantu Braun urus beberapa hal dan aku jadi harus mengabaikan urusanku sendiri.

Braun itu salah satu dari lima bos Kartel Marunda dan beberapa bulan ini kami makin dekat. Kawanku itu entah bagaimana caranya, dia bisa menculik chef terbaik di Jakarta, dan entah bagaimana juga Quinn malah jatuh cinta sama dia.

Bajingan itu beruntung.

Aku jujur saja. Waktu dia bawa Quinn ke rumahnya, aku sempat punya perasaan ke cewek itu, tapi pas aku lihat mereka saling jatuh cinta, aku lepaskan saja semua itu, dan sekarang aku lihat dia sama kayak istri-istri Boss Marunda yang lain.

Astaga.

Dari kami berlima, cuma Cavell dan aku yang belum tumbang.

Remy dan Tully sudah menjadi ayah, menikah, dan bahagia. Bahkan aku berani taruhan, kalau sebelum akhir tahun ini, Braun bakal pasang cincin di jari Quinn.

Cavell mungkin enggak akan pernah menikah. Kalau pun iya, aku kasihan sama cewek yang dia pilih.

Dia itu "Capo dei Capi", Bos dari para Bos, dan darah dingin itu mengalir di nadinya.

Aku pernah coba bangun pertemanan yang lebih dalam sama dia, tapi cuma Remy yang berhasil menembus lapisan luar Cavell yang keras seperti baja itu.

Beda sama empat Boss lainnya, aku enggak mengelilingi diriku dengan pasukan, anak buah, bodyguard, gangster atau apa pun itu. Aku lebih suka kerja sendirian.

Lagipula, aku enggak butuh tentara atau pengawal. Karena sumber penghasilan utamaku datang dari hacker dan penggalian informasi yang orang lain enggak bisa dapatkan.

Gelar Boss di Marunda itu warisan dari Papaku. Aku sempat bilang ke empat yang lain buat milih orang lain buat menggantikan posisi aku, tapi mereka enggak mau dengar.

Selain perusahaan balet, aku juga punya gedung opera. Di situlah gairah hidupku yang sebenarnya.

Sejujurnya, kalau aku enggak lahir di posisi penuh kuasa kayak begini, aku enggak akan masuk sirkel mafia. Sementara Remy, Tully, dan Braun kan mereka dagang senjata ilegal dan barang palsu. Sedangkan Cavell kekayaan dia dari pemerasan, penguasaan properti, dan konstruksi.

Jelas aku bisa berantem dan aku salah satu penembak (Sniper) terbaik, tapi aku lebih milih cinta daripada perang.

Perlu usaha besar buat bikin aku kesal, dan kemungkinan besar aku yang paling sabar dan pengertian di antara kami berlima.

Sekarang keadaan agak tenang, akhirnya aku bisa mampir ke perusahaan balet. Aku berharap bisa datang lebih cepat, tapi aku tertahan di opera.

Saat aku mendekati studio pertama, mataku menyapu semua balerina. Aku selalu suka seni rupa, teater, dan pertunjukan opera. Waktu tahu perusahaan balet ini dijual, aku langsung beli tanpa berpikir panjang.

Aku mengamati para perempuan itu latihan, gerakan mereka anggun dan selaras sempurna. Salah satu balerina sadar aku ada di sana dan tersandung, yang langsung berujung dimarahi keras sama instrukturnya.

Aku lanjut ke studio berikutnya, tempat tiga perempuan baru saja selesai sesi latihan. Kali ini aku langsung ketahuan. Sebelum aku sempat kabur, mereka sudah berlari ke arahku.

Salah satu balerina mendekat dan mengulurkan tangan ke aku. "Tuan Delaney! Aku Hanna. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung denganmu."

"Senang bertemu denganmu," gumamku.

Aku jabat tangannya, dan waktu aku menjauh, dia mengusap lenganku dengan telapak tangannya sambil menatapku dengan penuh minat.

Sesaat aku kepikiran buat mengajak dia makan malam bareng, tapi lalu sosok seorang perempuan muncul di pikiranku. Aku cuma pernah melihat balerina itu sekali, dan dia sama sekali enggak mirip balerina sempurna yang ada di depan aku sekarang.

Sangat jauh.

Kebalikannya.

Perempuan yang aku lihat itu punya rambut hitam liar dan menari dengan gairah yang langsung menarik perhatianku. Gerakannya enggak sempurna, tapi justru itu yang kasih kesan liar pada kepribadiannya.

“Kamu bisa—” Hanna mulai ngomong.

Aku potong dengan lambaian tangan singkat dan dingin sambil bergumam, “Permisi, nona-nona.”

Sambil menjauh, aku melirik studio-studio lain. Saat aku enggak menemukan balerina misterius itu, aku merasa kecewa. Sayang banget kalau dia sudah enggak menari lagi di perusahaan aku.

Aku menuju kantor Nyonya Hadibroto. Para penari memanggil dia Rebecca Hadibroto dan dia yang urus administrasi perusahaan.

Begitu aku masuk ke kantornya, senyum hangat terbentuk di bibirnya saat dia berkata, “Udah lama sejak terakhir kali kamu menyempatkan datang.”

Aku duduk di depan mejanya. “Aku lagi sibuk.”

Dia menekan satu tombol di telepon mejanya. Saat resepsionis menjawab, dia bilang, “Tolong bawakan dua cangkir teh.”

Dia menyandar di kursinya dan matanya menyusuri wajahku. “Kamu cuma mampir atau ada yang bisa aku bantu?”

“Cuma mampir. Gimana persiapan pertunjukan musim depan?”

“Sangat baik,” jawabnya. “Kami punya tiga perempuan yang bersinar dari pada yang lain.”

Mungkin salah satunya balerina yang baru saja aku temui tadi.

Pintu kantor terbuka dan Momo masuk membawa nampan teh. Setelah meletakkannya di atas meja, dia keluar.

Aku menunggu Nyonya Hadibroto kasih aku satu cangkir, sebelum bertanya, “Kamu kenal semua balerina?”

Dia mengangguk pelan sambil menyeruput tehnya. “Seperti yang kamu tahu, setiap kandidat harus ikut audisi sebelum bisa masuk perusahaan.”

“Aku ketemu satu balerina beberapa waktu lalu. Tingginya sekitar satu setengah kepala lebih pendek dari aku dan rambutnya hitam keriting sampai bahu. Matanya abu-abu,” kataku, benci karena deskripsiku payah.

Nyonya Hadibroto terkekeh pelan. “Setengah dari balerina kami rambutnya hitam.”

Dia melirik jam tangan berhiaskan berlian di pergelangan tangannya lalu bilang, “Latihan sebentar lagi mulai. Kamu mau ikut?”

Aku habiskan teh aku, taruh cangkirnya di meja sambil berdiri. “Tentu.”

Kami keluar dari kantor dan menuju auditorium tempat latihan baru saja dimulai. Aku duduk di tengah barisan kursi dan langsung tenggelam dalam gerakan anggun para balerina.

Saat pertunjukan selesai dua jam kemudian, aku tetap duduk, sementara auditorium mulai kosong. Keheningan menyelimutiku saat aku menyerap sisa-sisa suasana yang ditinggalkan para balerina.

HPku bergetar. Saat aku tarik keluar, aku lihat notifikasi dari program pengenal wajah yang aku punya di rumah. Aku lagi mencari Andrei Fidelio, bajingan yang seharusnya sudah mati dan ada di puncak daftar musuh Braun.

Kecocokannya cuma sebagian. Setelah mengecek foto seorang pria di pom bensin, aku hapus notifikasinya dan masukkan lagi HP aku ke saku.

Aku sudah dapat banyak kecocokan parsial beberapa minggu terakhir. Hampir saja aku menemukan Fidelio di Kamboja. Aku capek main kucing-kucingan dan ingin bajingan itu keluar dari lubang mana pun dia bersembunyi. Supaya kami bisa bereskan semua ini.

Lampu-lampu mati dan auditorium tenggelam dalam gelap, membuatku mengeluarkan HP lagi. Aku cek jam dan sadar waktu sudah lewat jam sembilan.

Aku rasa lebih baik pulang dan kembali bekerja.

Sambil menghela napas, aku berdiri dari kursi yang aku tempati. Pakai senter HP untuk membimbing saat berjalan ke salah satu pintu keluar.

Tempatnya kosong waktu aku melangkah ke arah area studio, tapi pas belok di koridor, aku dengar musik diputar.

Sudut bibirku naik saat sampai di depan pintu studio yang terbuka. Lirik lagu “I was here” memenuhi udara sementara balerina yang barusan aku tanyakan ke Nyonya Hadibroto melakukan putaran ganda lalu meloncat ke udara.

Detak jantungku mengebut saat aku menyaksikan tarian penuh kesalahan itu berlangsung di depan mata, dan rasa tenang yang akan aku bayar mahal menyebar ke seluruh tubuhku.

Perempuan ini pasti masih pemula karena gerakannya kurang anggun, tapi tetap saja aku enggak bisa mengalihkan pandangan dari dia.

Beda dari kebanyakan balerina, kulitnya sawo matang eksotis dan rambut hitamnya enggak diikat sanggul kencang. Dia pakai pakaian yang enggak serasi dan kakinya telanjang.

Dia benar-benar kebalikan dari balerina yang lain.

Mataku menyusuri kulit cokelatnya yang berkilau oleh keringat, dan pemandangan itu membuat birahi mengembang di dadaku.

Pertama kali aku lihat dia dan kami sempat berinteraksi singkat, aku sudah merasakan tarikan di antara kami.

Kalau ke Quinn dulu aku merasa protektif waktu pertama kenal, ke perempuan ini aku justru ingin menjatuhkan dia ke lantai dan merobek celana pendek ketatnya itu, beserta kaus tipis di tubuhnya.

Ada dorongan buat mengetes apakah dia cukup kuat buat menahan sodokan brutalku.

HPku mulai bergetar. Dengan dahi berkerut, aku angkat perangkat itu.

Begitu lihat nama Braun di layar, aku jawab.

...📞...

“Ada apa?”

Mata si cantik berambut hitam itu tertuju ke aku, dan meski raut kaget muncul di wajahnya, dia tetap menari.

^^^“Nggak ada,”^^^

^^^“Cuma pengin ngobrol.”^^^

Tatapan aku tetap menempel ke perempuan itu saat dia berlari ke arahku. Beberapa langkah dari aku, dia berhenti mendadak lalu mundur, sementara lengannya seakan mau meraihku.

Sial.

Aku harus bisa menahan hasrat buat menyambar dia. Aku malah berdiri bengong kayak orang idiot yang terbakar nafsu.

“Belum ada kabar. Begitu bajingan itu muncul, kamu bakal jadi orang pertama yang tahu.”

^^^“Aku lagi ganggu kamu?”^^^

“Nggak. Aku lagi ngeliatin salah satu balerina.”

Aku dengar tawa di suara Braun.

^^^ “Ngeliatin atau ngejar?”^^^

Mataku menyipit ke arah si cantik saat dia meloncat ke udara.

“Dua-duanya.”

Braun tertawa.

^^^ “Kamu bakal jadi cowok misteriusnya?”^^^

“Nggak, itu gelarnya Tully.”

Kami memang enggak pernah berhenti mengejek Tully soal julukan yang dikasih Lyorr, istrinya.

Satu lagu nyambung ke lagu lain, dan saat balerinaku enggak berhenti, itu bikin aku puas.

“Dia tahu aku lagi nonton dan aku rasa dia suka,”

^^^“Hm … kedengarannya kamu jatuh cinta,”^^^

Braun terus menggodaku.

Kalau nafsu ingin kaki dia melingkar di badanku, itu iya.

“Ngelihat dia nari bikin aku tenang,”

^^^“Kamu memang butuh sedikit ketenangan Bro. Nanti aku hubungi lagi. Nikmatin pertunjukannya.”^^^

“Pasti.”

Aku tertawa kecil sebelum menutup telepon dan mengarahkan seluruh perhatianku ke balerina itu.

1
Aditya hp/ bunda Lia
keluarga Marunda berkumpul dan Eva akan menjadi bagian nya nanti
Aditya hp/ bunda Lia
masa farris gak beliin baju?
Adellia❤
ya ampuun farriss ampe rela bersih" 😂😂
Adellia❤
sikap eva wajar bangett q yakin semua cewek polos yg enggak punya niat jahat akan bersikap sama kayak eva karna emang spt bumi dan langit minder pasti pesimis juga..
Adellia❤: hihi🤭🤭
total 4 replies
Adellia❤
duit emang bisa ngubah sikap orang😂😂
Adellia❤
enak bangett ya farrisss
Aditya hp/ bunda Lia
manisnya kaliaaaan ... 😍
Aditya hp/ bunda Lia
tuh kan farris gak apa-apa dia Nerima kamu apa adanya .... 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mati kalian .....
ollyooliver🍌🥒🍆
lanjuttt
Adellia❤
hujaan tapi panass🔥🔥
Adellia❤
mo sampai kapan vaa
Adellia❤
eva lagi jalan" di pulau kapuk😂😂
Adellia❤
yeeyyy enggak ada sif pagi tidur sampai besok evaa😂😂
Ita Putri
karya yg menarik Thor
JD penasaran Endingnya
DityaR 🌾: Hehe, maciii🙏
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
dingin gini ada yang panas 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: segelas teh manis
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
nyanyi dong Farris .... jatuh cinta berjuta rasanya .... ahay sang mafia akhirnya jatuh cinta
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... udah ada bodyguard bayangan Eva 👍
Adellia❤
Eva sekarang km aman termasuk dari sahara😂😂
Adellia❤
ngobrol ajah dulu iclik kemudian🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!