Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik
Odelyn memutuskan untuk melakukan tindakan ekstrem untuk membuktikan penyesalannya. Dia secara pribadi memburu organisasi di balik Juan.
Menggunakan kemampuannya sebagai Mastermind, Odelyn menghancurkan mereka dalam semalam secara finansial dan menyerahkan Juan ke polisi dengan tuduhan penipuan internasional.
Setelah itu, Odelyn membuat pengumuman mengejutkan di depan dewan direksi Vandermere Group.
"Mulai hari ini, seluruh aset pribadi saya atas nama keluarga Wijaya, secara hukum dialihkan menjadi milik Hediva Vandermere tanpa syarat," ucap Odelyn tegas.
"Ini bukan soal uang. Ini adalah bukti bahwa hidup saya, harta saya, dan masa depan saya sepenuhnya berada di tangan suami saya."
Malamnya, Odelyn membawakan surat pernyataan itu ke hadapan Hediva.
"Aku nggak butuh harta kamu, Odelyn," ucap Hediva, akhirnya memecah keheningannya setelah berbulan-bulan. Suaranya serak.
"Aku cuma butuh kamu yang dulu... wanita yang aku cintai karena ketangguhannya, bukan wanita yang menyerahkan dirinya pada penipu karena bayang-bayang orang mati."
Hediva menatap telapak tangannya yang kini sudah meninggalkan bekas luka parut akibat kuku jarinya dulu. Ia mengambil surat itu dan merobeknya menjadi dua.
"Kepercayaan itu kayak kaca, Lyn. Kamu bisa lem lagi, tapi retakannya bakal selalu kelihatan,"
Hediva mendekati Odelyn, jarak mereka sangat dekat, tapi terasa ada jurang yang sangat lebar.
"Aku akan coba buka pintu hatiku lagi. Tapi jangan harap ada kehangatan yang sama dalam waktu dekat. Kamu harus membuktikan kalau kamu mencintai aku sebagai Hediva, bukan sebagai pengganti Gavin."
Odelyn menangis haru dan mengangguk. Ia tahu ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk menyembuhkan luka yang ia buat sendiri.
Di tengah usaha Odelyn memperbaiki hubungan, muncul sosok Elara, seorang wanita bangsawan dari masa lalu Hediva sebelum ia mengenal Odelyn. Elara adalah wanita yang tenang, elegan, dan yang terpenting—dia tidak punya sejarah kelam dengan pria lain.
Hediva mulai sering terlihat bersama Elara di acara-acara publik London. Hediva tidak bermaksud selingkuh, namun ia merasa "nyaman" karena Elara memberikan ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan dari Odelyn yang penuh trauma dan pengkhianatan.
Setiap kali Odelyn melihat foto Hediva dan Elara di koran atau media sosial, hatinya terasa seperti diiris sembilu.
"Begini rasanya jadi kamu dulu ya, div? Begini rasanya dikhianati?" bisik Odelyn pada dirinya sendiri di depan cermin.
Odelyn jatuh ke dalam depresi yang dalam. Rasa bersalah karena kasus Juan ditambah dengan ketakutan kehilangan Hediva membuat kesehatannya merosot drastis.
Ia berhenti makan dengan benar, matanya selalu sembab, dan berat badannya turun drastis.
Ia merasa sangat tidak layak. Ia merasa Elara jauh lebih pantas mendampingi Hediva.
Namun, di sisi lain, ia tidak ingin menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi istri yang berbakti.
"Aku harus berjuang," gumam Odelyn sambil mencoba memasak makanan kesukaan Hediva di dapur, meskipun tangannya gemetar hebat karena lemas.Suatu siang, dengan sisa tenaga yang ada, Odelyn menyiapkan kotak bekal berisi masakan rumah sederhana—sesuatu yang dulu sering Gavin minta tapi jarang ia lakukan. Dengan wajah pucat dan keringat dingin, ia berangkat menuju kantor pusat Vandermere Group.
Ia ingin memberikan kejutan, ingin menunjukkan bahwa dia masih peduli.
Namun, saat sampai di lobi kantor, ia melihat Hediva sedang keluar menuju mobil bersama Elara, tampak tertawa akrab.
Dunia Odelyn terasa berputar. Rasa mual, pusing, dan sesak napas menyerangnya sekaligus. Pandangannya menggelap.
PRANG!
Kotak bekal di tangannya jatuh hancur ke lantai marmer lobi. Tubuh Odelyn ambruk seketika sebelum ia sempat memanggil nama suaminya.
Hediva yang baru saja akan masuk ke mobil tersentak mendengar suara benda jatuh. Ia menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok wanita berbaju hitam terkapar tak berdaya di lantai lobi, dikelilingi ceceran makanan yang sudah susah payah dibuat.
"Olyn!" Hediva berlari, mengabaikan Elara yang memanggilnya.
Ia mengangkat tubuh Odelyn yang terasa sangat ringan, hampir tanpa beban. Wajah Odelyn sangat putih, bibirnya membiru. Saat itu juga, kemarahan Hediva, silent treatment-nya, dan egonya runtuh total.
"Lyn! Bangun sayang! Jangan bercanda kayak gini!" teriak Hediva histeris saat mereka berada di dalam ambulans.
Ia melihat tangan Odelyn yang lecet karena mencoba melindungi kotak bekal itu saat jatuh. Hediva menangis tersedu-sedu, menciumi tangan Odelyn yang dingin. Ia sadar, menghukum Odelyn dengan kedinginan justru hampir membunuh wanita yang paling ia cintai.