NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15# LEMBAH KAKI PERAK

Hutan seolah memiliki nyawa sendiri yang membenci kehadiran manusia. Semakin jauh mereka melangkah meninggalkan reruntuhan Saka, semakin mencekam suasana yang mereka hadapi. Pepohonan di wilayah ini tidak lagi memiliki daun, melainkan ranting-ranting hitam yang melengkung seperti cakar yang mencoba menggapai langit kelabu. Kabut di sini tidak lagi diam, ia bergerak, berputar-putar di antara kaki mereka seperti ular yang sedang mengintai mangsa.

Arlo memimpin di depan, menebas semak berduri dengan pedang besinya yang sudah mulai tumpul karena terlalu banyak menghantam tulang monster. Di belakangnya, Selene berjalan dengan keanggunan yang kontras dengan lingkungan yang kotor. Ada sesuatu yang aneh dengan Selene sejak mereka meninggalkan tebing, ia lebih banyak diam, matanya terus menatap ke arah lembah yang ada di depan mereka seolah ia merasakan kehadiran sesuatu yang jauh lebih tua dari Phenix Omega.

"Arlo, kau dengar itu?" bisik Selene, tangannya menyentuh lengan Arlo, membuat langkah pria itu terhenti.

Arlo memasang telinga. Suara itu bukan raungan, melainkan suara gesekan logam yang halus namun beruntun. Srek... srek... srek... Suaranya berasal dari segala arah.

"Semuanya, merapat! Jangan ada yang berpencar!" teriak Arlo.

Rick langsung memasang posisi tempur dengan tombak listriknya, sementara Zephyr berdiri protektif di depan Naya. Cicilia menarik anak panahnya, matanya yang sembab karena menangisi Leo kini berubah menjadi tajam penuh kebencian pada apa pun yang menghalangi jalan mereka. Harry dan Dokter Luz saling memunggungi, menyiapkan senjata masing-masing.

"Makhluk apa lagi sekarang? Jika ini Phenix Omega lagi, aku bersumpah akan pensiun jadi manusia," keluh Finn sambil memutar belatinya dengan lincah.

"Finn, berhenti bercanda! Lihat itu!" jerit Lira sambil menunjuk ke atas pepohonan.

Dari balik dahan-dahan hitam, muncul lima makhluk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tubuhnya berukuran sedang, sebesar kuda dewasa, namun bentuknya sangat mengerikan. Mereka memiliki dua puluh kaki kurus yang panjang dan tajam seperti jarum jahit raksasa. Seluruh tubuh mereka dilapisi cangkang berwarna perak mengkilap yang memantulkan cahaya redup hutan. Di kepala mereka yang berbentuk lonjong, terdapat dua tanduk melengkung yang mengeluarkan cairan hijau pekat, dan sepasang mata merah besar yang berpendar di kegelapan.

"Itu... Argentum Arachne," bisik Dokter Luz dengan wajah pucat. "Mereka bukan hasil evolusi alami. Mereka adalah kegagalan eksperimen pengintai Menara. Cangkang mereka hampir tidak bisa ditembus senjata biasa!"

"Dua puluh kaki?! Kenapa mereka butuh kaki sebanyak itu untuk berjalan?!" teriak Rayden dengan suara melengking. Rayden yang ketakutan setengah mati justru melakukan hal yang absurd. Alih-alih mengeluarkan senjata, ia secara refleks mengambil tutup panci besar milik Harry dari tasnya dan memakainya di atas kepala seperti helm darurat, sementara tangannya menggenggam sendok sayur logam panjang.

"Jangan mendekat! Aku punya... aku punya alat masak yang sangat berbahaya!" ancam Rayden sambil mengayun-ayunkan sendok sayurnya ke arah udara kosong. Meskipun situasinya genting, Finn tidak bisa menahan tawanya melihat Rayden yang terlihat seperti ksatria dapur yang malang.

Namun, tawa itu hilang saat kelima Argentum Arachne itu melompat turun secara bersamaan. Kecepatan mereka luar biasa. Dengan dua puluh kaki yang bergerak sinkron, mereka bisa bermanuver di antara pohon dengan sangat lincah.

"SERANG!" teriak Rick.

Pertempuran pecah dengan sangat brutal. Argentum Arachne itu menggunakan kaki-kaki jarum mereka untuk menusuk-nusuk ke arah tim. Arlo harus berulang kali menghindar dari tusukan yang hampir melubangi dadanya. Zephyr terkena sayatan di bahu saat melindungi Naya dari serangan samping. Darah mulai membasahi tanah perak.

"Cangkangnya terlalu keras!" teriak Zephyr sambil mencoba menusukkan pisaunya ke celah cangkang perak itu.

Naya, di tengah ketakutannya, mencoba berpikir cepat. "Cairan hijau di tanduknya! Itu adalah pelumas untuk sendi kakinya! Serang bagian pangkal kakinya yang basah!" teriak Naya memberikan instruksi teknis.

Mendengar itu, Arlo dan Rick mengubah strategi. Mereka tidak lagi menyerang badan, melainkan menebas sendi-sendi kaki monster itu. Satu per satu kaki perak itu mulai terputus, mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk. Namun, monster-monster ini sangat tangguh. Meskipun beberapa kakinya putus, mereka tetap merayap dengan sisa kaki yang ada, menyerang dengan tanduk mereka yang beracun.

Harry dan Finn kewalahan menahan dua monster di sisi kiri. Harry terkena hantaman tanduk hingga terlempar ke semak berduri, sementara Finn harus berguling-guling di tanah untuk menghindari tusukan jarum yang bertubi-tubi. Cicilia melepaskan anak panah berturut-turut, mencoba mengenai mata merah monster itu, namun cangkang di sekitar matanya terlalu tebal.

"Rayden! Lakukan sesuatu yang berguna dengan benda itu!" teriak Finn sambil menunjuk ke arah monster yang mendekati Rayden.

Rayden yang sudah terpojok di sebuah pohon besar, secara tidak sengaja menjatuhkan tasnya yang berisi bubuk merica dan bahan dapur Harry. Saat monster itu mendekat dan membuka mulutnya yang penuh taring kecil, Rayden melempar segenggam bubuk merica tepat ke wajah monster itu.

"Makan ini, kau monster perak!" teriak Rayden.

Monster itu mendadak bersin dengan suara yang sangat keras, membuatnya limbung dan jatuh telentang. Kesempatan itu digunakan oleh Rick untuk melompat dan menghujamkan tombak listriknya tepat ke perut monster yang tidak terlindungi cangkang. Monster itu mengejang hebat dan mati.

Namun, kemenangan kecil itu dibayar mahal. Saat monster kelima terdesak, ia mengeluarkan raungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Getaran itu membuat tanah di pinggir jurang yang mereka lalui menjadi tidak stabil. Selene, yang sedang bertarung di dekat bibir jurang untuk melindungi Lira, tidak menyadari bahwa tanah di bawah kakinya mulai retak.

"Selene! Awas!" teriak Arlo.

Arlo berlari secepat mungkin, tangannya terulur untuk meraih Selene. Namun, terlambat. Tanah itu runtuh sepenuhnya. Selene tergelincir, matanya menatap Arlo dengan tatapan yang sangat dalam dan tenang, seolah ia sudah tahu hal ini akan terjadi.

"ARLOOOO!" jerit Selene saat tubuhnya terjun ke dalam kegelapan jurang yang dalam.

"SELENEEEE!!!" Arlo berteriak dengan suara yang seolah merobek langit. Ia jatuh berlutut di pinggir jurang, menatap ke bawah di mana kabut tebal menelan tubuh Selene sepenuhnya.

Semua orang terdiam. Pertarungan berakhir karena sisa monster melarikan diri, namun duka yang baru kembali menghantam mereka. Arlo memukul tanah dengan tangan telanjangnya, napasnya tersengal-sengal karena amarah dan kesedihan yang luar biasa. Zephyr dan Naya mendekat, mencoba menahan Arlo agar tidak ikut melompat ke bawah.

Jauh di dasar jurang yang gelap, Selene terbaring di atas hamparan lumut lembap. Tubuhnya terasa remuk, dan kesadarannya mulai memudar. Di ambang pingsan, ia merasakan kehadiran seseorang.

Selene perlahan membuka matanya yang kabur. Di tengah kegelapan, ia melihat sesosok gadis.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!