Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Titik Tanpa Kembali
Pagi itu kantor terasa terlalu tenang.
Bukan tenang yang nyaman—melainkan jenis sunyi yang membuat setiap langkah terdengar lebih keras dari seharusnya. Aruna menyadarinya sejak ia keluar dari lift. Kepala-kepala menoleh sepersekian detik, lalu pura-pura kembali sibuk. Tidak ada bisikan terbuka. Justru itulah yang membuat suasana terasa lebih tegang.
Permainan sudah berubah.
Semalam, Aruna dan Calvin mengirim laporan awal audit tambahan langsung ke komite pengawas—melewati jalur internal yang selama ini mudah dimanipulasi. Itu bukan langkah kecil. Itu deklarasi bahwa mereka siap membawa konflik ini ke tingkat yang tidak bisa ditarik kembali.
Dan pagi ini… reaksinya mulai terasa.
Begitu Aruna duduk, layar komputernya langsung dipenuhi notifikasi. Email. Permintaan klarifikasi. Undangan rapat mendadak. Semua datang bersamaan, seolah seseorang menekan tombol serangan.
Tangannya bergerak tenang membuka pesan pertama.
Permintaan akses ulang dokumen Eastbay — status darurat.
Aruna menyipitkan mata. Status darurat berarti seseorang mencoba membuka ulang arsip yang sudah dikunci audit.
Siapa pun itu… panik.
Ponselnya bergetar.
Calvin:
Datang ke ruanganku. Sekarang.
Tidak ada tambahan kata. Tidak perlu.
Calvin berdiri menghadap layar besar saat Aruna masuk. Tampilan sistem audit terbuka—log akses bergerak cepat seperti detak jantung yang tidak stabil.
“Mereka mencoba masuk,” kata Calvin tanpa basa-basi.
“Siapa?” tanya Aruna.
“Beberapa akun sekaligus. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.”
Aruna mendekat. Polanya jelas: percobaan akses berlapis, seolah seseorang ingin menciptakan kebisingan untuk menyembunyikan satu tindakan penting.
“Mereka ingin sesuatu hilang,” katanya pelan.
Calvin mengangguk. “Dan mereka terlambat.”
Ia menekan beberapa tombol. Sistem mengunci arsip sepenuhnya.
“Sekarang,” lanjutnya, “siapa pun yang mencoba masuk akan tercatat permanen.”
Aruna merasakan ketegangan merambat di dadanya. Ini bukan lagi sabotase diam-diam. Ini tindakan putus asa.
“Komite sudah merespons?” tanyanya.
“Ya,” jawab Calvin. “Dan mereka ingin pertemuan hari ini.”
Hari ini.
Artinya… semuanya akan dibuka lebih cepat dari rencana.
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kepanikan—hanya kesadaran bahwa langkah berikutnya akan menentukan arah perang ini.
“Siap?” tanya Calvin.
Aruna menarik napas panjang. “Tidak ada pilihan lain.”
...****************...
Ruang pertemuan komite terasa seperti ruang sidang.
Empat anggota duduk dengan ekspresi netral yang terlalu terlatih. Dokumen digital terbuka di layar. Tidak ada basa-basi pembuka.
“Laporan tambahan Anda serius,” kata ketua komite. “Kami ingin klarifikasi langsung.”
Calvin mempersilakan Aruna berbicara.
Ia berdiri. Jantungnya berdetak keras, tapi suaranya stabil.
“Akses sistem menunjukkan pola manipulasi berulang. Bukan insiden tunggal. Ini upaya sistematis untuk mengalihkan tanggung jawab proyek.”
Layar menampilkan grafik.
Waktu. Jejak perubahan. Korelasi akses.
Semua terlalu presisi untuk disangkal.
Ruangan hening.
“Apakah Anda menuduh pihak tertentu?” tanya salah satu anggota.
Aruna berhenti sepersekian detik. Inilah titiknya.
“Data mengarah ke otorisasi tingkat direksi,” katanya akhirnya.
Kalimat itu jatuh seperti beban logam.
Tidak ada nama disebut. Tidak perlu.
Komite saling bertukar pandang.
“Kami akan membuka penyelidikan formal,” kata ketua komite. “Mulai sekarang.”
Itu berarti satu hal:
Permainan internal… resmi menjadi kasus.
...****************...
Begitu rapat selesai, udara kantor terasa berubah. Tidak lagi sunyi—melainkan dipenuhi energi gelisah yang sulit dijelaskan.
Ponsel Aruna bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ia hampir mengabaikannya, tapi insting mengatakan ini penting.
“Ya?”
Suara di seberang pelan. Terkontrol.
“Kamu bergerak terlalu jauh.”
Aruna tidak menjawab.
“Kamu pikir komite akan melindungimu?” lanjut suara itu. “Kamu baru saja menandatangani perang yang tidak bisa kamu menangkan.”
Klik.
Telepon terputus.
Aruna berdiri diam beberapa detik. Ancaman itu tidak emosional. Justru karena itulah terasa nyata.
Calvin muncul di ujung lorong. Tatapannya langsung membaca ekspresinya.
“Apa?” tanyanya.
“Balasan,” jawab Aruna singkat.
Calvin mengangguk pelan. “Bagus.”
Aruna menatapnya tajam. “Bagus?”
“Artinya mereka panik,” katanya. “Dan orang panik membuat kesalahan.”
Ia mendekat sedikit.
“Mulai sekarang,” lanjutnya, “kita anggap ini konflik terbuka.”
Aruna merasakan kata-kata itu mengendap. Konflik terbuka berarti tidak ada lagi perlindungan ilusi. Semua pihak sudah memilih posisi.
Dan ia tahu… ia sudah berdiri terlalu jauh untuk mundur.
...****************...
Sore hari, situasi meledak.
Berita penyelidikan formal bocor.
Bukan ke media—tapi cukup untuk menyebar ke seluruh lantai kantor. Percakapan berhenti saat Aruna lewat. Tatapan tidak lagi netral. Ada campuran rasa takut… dan kagum.
Ia duduk di mejanya, membuka dokumen lanjutan. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya tajam.
Setiap langkah sekarang adalah bukti.
Setiap keputusan adalah deklarasi.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari Raka:
Saya dengar penyelidikan resmi dimulai. Terima kasih.
Aruna membaca pesan itu lama.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ada sesuatu yang terasa… benar.
Ia mengetik balasan singkat:
Belum selesai.
Raka:
Saya tahu. Tapi sekarang… ada harapan.
Aruna menutup layar. Dadanya terasa lebih ringan—bukan karena perang mereda, tapi karena ia tahu alasan ia bertahan masih utuh.
...****************...
Malam turun perlahan saat Aruna keluar dari gedung.
Langit kota berwarna gelap, lampu-lampu menyala seperti saksi diam dari pertarungan yang sedang berlangsung. Ia berdiri sejenak, membiarkan udara malam menenangkan pikirannya.
Langkah kaki mendekat.
Calvin berdiri di sampingnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Ya,” jawab Aruna. “Lebih siap dari sebelumnya.”
Calvin mengangguk. “Mulai besok, tekanan akan naik.”
“Aku tahu.”
Sunyi singkat.
“Kamu masih bisa mundur,” katanya pelan.
Aruna menoleh. Tatapannya tegas.
“Tidak,” katanya. “Kalau aku mundur sekarang, semua ini tidak berarti.”
Calvin menatapnya lama—seolah memastikan ia memahami konsekuensinya.
Akhirnya ia berkata, “Baik.”
Mereka berdiri berdampingan, memandang kota yang terus bergerak tanpa tahu perang kecil sedang menentukan nasib banyak orang.
Aruna menyadari sesuatu dengan sangat jelas:
Hari ini bukan kemenangan.
Ini deklarasi.
Ia telah melangkah melewati garis yang tidak bisa dihapus. Tidak ada posisi netral. Tidak ada kembali ke aman.
Hanya maju.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia tidak takut.
Karena perang ini bukan lagi tentang reputasi.
Bukan tentang karier.
Ini tentang memilih sisi—dan berdiri sampai akhir.
Bab berikutnya tidak akan membawa ketenangan.
Hanya konsekuensi.
Dan Aruna… sudah siap membayarnya.
Namun malam belum benar-benar selesai dengan mereka.
Saat Aruna bersiap masuk ke mobil, layar ponselnya kembali menyala. Kali ini bukan pesan, bukan panggilan—melainkan notifikasi sistem audit. Akses darurat terdeteksi.
Ia berhenti.
“Itu tidak mungkin…” gumamnya.
Calvin langsung membaca ekspresinya. “Apa?”
“Seseorang mencoba masuk lagi. Tapi… ini bukan lewat jaringan kantor.”
Calvin mengerutkan kening. “Akses eksternal?”
Aruna membuka detail log. Jantungnya berdetak lebih cepat saat membaca lokasi jaringan yang ditampilkan.
Rumah.
Bukan rumahnya.
Rumah Raka.
Darahnya terasa turun sepersekian detik.
“Mereka memakai identitasnya,” kata Aruna pelan. “Kalau ini tercatat sebagai pelanggaran…”
“Dia bisa terlihat seperti pelaku,” sambung Calvin tajam.
Tanpa perlu diskusi panjang, mereka langsung bergerak. Aruna mengaktifkan protokol penguncian sementara, memutus jalur akses sebelum sistem mencatat pelanggaran penuh.
Layar kembali tenang.
Sunyi.
Aruna mengembuskan napas yang baru ia sadari ia tahan. “Mereka mau menjatuhkan dia lagi,” katanya lirih. “Sebagai pengalih perhatian.”
Tatapan Calvin mengeras. “Dan itu berarti mereka semakin terpojok.”
Aruna menatap layar gelap ponselnya. Ada kemarahan yang muncul—dingin, fokus, tidak meledak. Ini bukan lagi permainan strategi kantor.
Ini pemburuan.
Dan seseorang baru saja mencoba mengorbankan orang yang sudah kehilangan segalanya.
“Itu kesalahan mereka,” kata Aruna akhirnya.
Calvin menoleh. “Kenapa?”
Tatapannya tajam, mantap.
“Karena sekarang ini bukan cuma tentang membuktikan manipulasi,” lanjutnya. “Ini tentang menghentikan mereka… sebelum mereka menghancurkan siapa pun yang bisa dipakai sebagai tameng.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Calvin tersenyum tipis—bukan karena lega, tapi karena pengakuan.
“Kamu sudah sampai di titiknya,” katanya.
Aruna mengangguk.
Ia merasakan sesuatu di dalam dirinya berubah. Bukan keberanian mendadak. Bukan kemarahan sesaat. Tapi keputusan yang solid—jenis keputusan yang tidak goyah bahkan saat konsekuensi datang.
Permainan ini memang belum selesai.
Tapi sekarang…
Ia tidak lagi bertahan.
Ia berburu balik.
Dan begitu kesadaran itu mengendap, Aruna tahu satu hal dengan pasti—
Besok, mereka tidak hanya akan menghadapi tekanan.
Mereka akan menciptakannya.
Dan siapa pun yang mencoba bersembunyi di balik manipulasi… akan dipaksa keluar ke terang.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/