NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:184.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Heran

Keesokan paginya, suasana di ruang dokter rumah sakit Atlas terasa tegang. Seorang dokter spesialis berdiri di hadapan keluarga Atlas Tuan Bastian, Nyonya Arumi, dan Max dengan wajah yang jelas menyiratkan kebingungan bercampur kehati-hatian.

“Secara medis,” ujar dokter itu perlahan, “kondisi Nona Naomi sulit dijelaskan.”

Tuan Bastian menyipitkan mata. “Maksud Anda apa Dokter? Katakan dengan jelas?!”

Suara berat dan dingin tuan Bastian menggema.

Dokter itu menelan ludah sebelum melanjutkan. “Saat pertama kali sadar, kondisi tulang dan beberapa organ dalamnya masih sangat mengkhawatirkan. Risiko cacat permanen sangat tinggi. Namun setelah kami melakukan CT scan ulang dan pemeriksaan fisik menyeluruh pagi ini—”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata tegas, “Tubuh Nona Naomi telah pulih sepenuhnya.”

“Apa?!” suara Nyonya Arumi meninggi. “Dokter, Anda bercanda?”

Max langsung berdiri. Tatapannya tajam dan dingin. “Berhenti berbohong. Ini bukan lelucon. Kondisi adikku tidak bisa kau permainkan. Kalau tidak ....”

Max langsung mengeluarkan pistol khusus miliknya ke kepala sang dokter.

Dokter itu buru-buru menggeleng. “Tidak, Tuan. Saya sama sekali tidak berbohong.”

Ia menunduk sedikit, suaranya menjadi lebih serius. “Saya bersumpah atas nyawa dan keluarga saya sendiri.”

Tentu sang dokter tak akan main-main. Terlebih di hadapan keluarga Atlas. Siapa yang berani mempermainkan salah satu dari empat keluarga pemegang pilar negara ini?

Kata-kata sang dokter membuat ruangan kembali sunyi.

Tuan Bastian menatap dokter itu lama, seolah menilai kejujuran dari sorot matanya. “Jadi Anda yakin?”

“Sangat yakin, Tuan,” jawab dokter mantap. “Secara medis, kondisi ini nyaris mustahil. Bahkan saya sendiri sebelumnya telah memvonis bahwa Nona Naomi tidak akan bisa berlari atau menjalani latihan berat lagi seumur hidupnya.”

Max mengepalkan tangannya. “Tapi sekarang?”

“Sekarang,” dokter itu menarik napas dalam, “ia sembuh total.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tak satu pun dari keluarga Atlas mampu menyembunyikan keterkejutan mereka.

Sementara itu, di ruang VIP, suasana justru jauh lebih berisik.

“Apa kamu benar-benar sudah tidak waras, Naomi?!”

Suara Yura menggema begitu pintu tertutup. Sonya berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya masam. Bahkan Timmy, satu-satunya pria di antara mereka ikut mondar-mandir dengan kesal. Tangannya ikut melambai lalu berkacak pinggang.

“Kami hampir kehilanganmu!” bentak Sonya. “Dan semua itu demi siapa? Demi anak pungut itu? Demi Viviane?!”

Timmy berhenti di depan ranjang. “Kamu sadar tidak betapa bodohnya itu?” katanya tanpa basa-basi.

Naomi hanya cemberut. “Aku tahu,” gumamnya pelan. “Aku memang bodoh.”

Ketiganya langsung terdiam.

“Hah?” Yura berkedip. “Kamu … mengaku?”

Timmy refleks menempelkan punggung tangannya ke dahi Naomi. “Tidak panas,” gumamnya bingung. “Kepalamu juga tidak benjol. Apa jangan-jangan kamu anemia?”

Naomi berdecak kesal, menepis tangan Timmy.

Yura lalu menatap Naomi curiga. “Kalau begitu, kenapa sekarang kamu malah diam saja? Biasanya kamu sudah membela mereka mati-matian.”

Naomi mengeructkan bibir. “Kalau dibela, kalian marah. Tidak dibela, kalian heran juga.”

Sonya mendecak kesal. “Bagaimana kami tidak heran? Kita ini sudah saling mengenal sejak lama. Dan kami tahu sifatmu itu.”

Yura ikut menimpali, suaranya lebih lembut tapi penuh kekecewaan. “Satu tahun terakhir ini kamu terus mengejar keluarga Elios. Kamu rela menjadi bayangan Viviane. Rela diinjak-injak.”

Naomi menghela napas panjang. “Aku tahu.”

Ia menatap langit-langit ruangan, lalu berkata pelan namun tegas, “Tapi aku tidak akan seperti itu lagi.”

Ketiganya terdiam.

Naomi lalu terdiam membisu, menatap ketiga sahabatnya itu.

Ingatan lain menyusup tentang masa depan yang telah terjadi. Tentang kematian. Tentang bagaimana hubungan mereka berempat retak karena dirinya sendiri. Tentang bagaimana Yura, Sonya, dan Timmy juga tidak selamat.

Dadanya terasa sesak.

“Naomi?” panggil Sonya cemas. “Ada apa?”

“Kenapa kamu tiba-tiba diam?” tanya Timmy.

Naomi menggeleng cepat, menahan getaran di matanya. Tanpa peringatan, ia bangkit sedikit dan memeluk ketiganya erat-erat.

“Eh—hei!” Yura terkejut. “Ada apa ini?”

Sonya membeku, lalu perlahan membalas pelukan itu. “Kamu ini kenapa?”

Timmy menggaruk kepalanya, bingung. “Serius, kamu aneh hari ini.”

Naomi memejamkan mata, memeluk mereka lebih erat.

“Tidak apa-apa,” katanya lirih. “Aku hanya … bersyukur.”

Ketiganya saling pandang, semakin heran namun tidak ada yang mendorong Naomi menjauh.

Tak lama kemudian, pintu ruang VIP itu terbuka. Keluarga Atlas masuk secara bersamaan. Begitu berada di ambang pintu, Max berdeham pelan, namun suaranya cukup keras untuk menarik perhatian.

Pelukan Naomi dengan ketiga sahabatnya seketika terlepas.

“Ehem!”

Deheman dan tatapan Max langsung tertuju ke arah Timmy. Sorot matanya tajam dan dingin, membuat pria berpenampilan kemayu itu refleks menegakkan tubuhnya, wajahnya menegang.

“H–hei … kenapa?” gumam Timmy lirih. Ia selalu takut jika melihat Max.

“Kak Max,” tegur Naomi cepat sambil menoleh ke arah kakaknya. “Jangan menatapnya seperti itu.”

Max tidak langsung menjawab. Ia masih menatap Timmy beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar, “Dia memelukmu.”

Naomi menghela napas pendek. “Timmy itu sahabatku.”

Max berdecak pelan dan bergumam, “Walaupun teman, dia tetap pria.”

Ucapan itu membuat Yura dan Sonya saling pandang, sementara Timmy hanya bisa tersenyum kaku.

Di belakang Max, Nyonya Arumi dan Tuan Bastian saling menatap. Keduanya tersenyum tipis, seolah memahami sikap protektif Max.

Naomi memilih mengalihkan topik. Ia menatap Nyonya Arumi dan Tuan Bastian dengan penuh harap.

“Ma, Pa, bagaimana kata dokter? Apa aku sudah boleh pulang?”

Nyonya Arumi melangkah mendekat dan mengusap lembut punggung tangan Naomi. “Dokter mengatakan kondisi tubuhmu sudah stabil,” ucapnya lembut. “Besok kamu sudah boleh pulang.”

“Besok?” Naomi langsung berseru kecil. “Kenapa bukan hari ini saja? Aku sudah tidak betah mencium aroma antiseptik di sini.”

Max langsung menegurnya. “Naomi, ini rumah sakit. Kamu harus dipastikan benar-benar sehat.”

Naomi langsung mengerucutkan bibirnya. “Aku sudah merasa sehat.”

“Merasa sehat tidak sama dengan dinyatakan sehat,” balas Max tegas.

Melihat itu, Yura menepuk pundak Naomi. “Sabar sedikit, Na. Cuma satu malam lagi.”

“Iya,” sahut Sonya ikut menimpali. “Anggap saja liburan singkat. Lagipula, kalau besok pulang, kami bisa jemput kamu.”

Timmy mengangguk cepat. “Betul. Daripada nekat pulang hari ini lalu dimarahi kakakmu lagi,” bisiknya di akhir kalimatnya.

Naomi melirik Timmy sekilas, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah … besok saja.”

Sementara itu, ketiga anggota keluarga Atlas menatap Naomi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dalam hati, mereka masih bertanya-tanya bagaimana mungkin pemulihan Naomi bisa terjadi secepat ini? Secara medis, hal itu nyaris mustahil.

Namun tidak satu pun dari mereka mengutarakan keraguan itu.

Pada akhirnya, Tuan Bastian menghela napas pelan. “Apa pun alasannya, yang terpenting Naomi sudah pulih,” gumamnya.

Nyonya Arumi mengangguk setuju. “Aku justru bersyukur.”

Max menatap Naomi sejenak, lalu berkata singkat, “Istirahatlah yang baik malam ini.”

Naomi tersenyum kecil. “Iya, Kak.”

1
Sribundanya Gifran
lanjut
SENJA
naaah mantabs max 🤣
SENJA
owalaaah 😤
SENJA
ihhh males banget melihara kaya ginian isssh 😤
SENJA
huhhh murahan sangaaaat 🤣🤣🤣
vj'z tri
akhir nyaaaaaaa /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
kenapa gak jatuh beneran sih biar akoh senang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
selesai masalah di tangan max /Angry//Angry//Angry//Angry/
vj'z tri
sabar max sabar /Determined//Determined//Determined//Determined/
Nor Azlin
kenyataan itu pahit untuk di dengarkan yah ...bodoh amat tidak sedikit pun curiga sama sekali ni orang...Coba untuk sekali ini kamu lihat & dengar mengenai nya apa salah nya ayo Max tunjukkan bukti pada nya pasti kamu punya tu kannn😂😂😂lanjutkan thor
Nor Azlin
sifat asli seseorang itu akan terlihat masa dewasa nya yah kerana itu adalah sifat yang di turunkan oleh keluarga asli nya ...Vivian bukan dibesarkan sedari bayi tapi sudah belita kerana orang tua nya kemalangan mobil maka mereka mati di rumah sakit sebelum mati dia menyuruh kedua suami isteri Elios untuk menjaga nya yah...nah pada kemana kerabat keluarga nya si Vivian pasti ada kan ...mustahil banget kalau satu pun keluarga nya tidak ada sama sekali yah CK CK CK pasti ada koperasi di dalam nya kan ...kemungkinan orang tua Vivian sudah merencanakan itu yah atau sebalik nya aku pun penasaran ni bagai mana cerita nya deh😂😂 lanjutkan thor
Cindy
lanjut
syh 03
di kira seorang max ga bisa mukul perempuan..klo perempuanya kya ular betina viviane..emang pantas di gampar ampai keok 😆
Nor Azlin
aku rasa di maafkan aja tapi tidak dengan Vivian nya ...walau bagai mana pun mereka orang tua yang melahirkan nya ...namun dengan itu jangan memaafkan mereka demi kedua kakek nenek nya Naumi ...perkara yang menakutkan orang adalah dimaafkan tapi tidak diakui oleh anak sendiri itu lebih menyakiti nya itu bagi hukuman yang pantas ...buat Vivian biar keluarga Elios yang membuangkan nya kalau mereka memilih nya maka mereka tidak mendapat tempat di kalangan orang-orang yang ingin selamat yah...tapi bagi aku biarkan aja keluarga nya membusuk deh kalau masih membawa anak angkat nya itu ...bagi aja kakek nenek mu tempat biar mereka hidup bahagia bersama dengan mu 😂😂😂itu pendapat aku yah peribadi ...lanjutkan thor
Arbaati
kapokmu kapan
Kusii Yaati
nah kan kena gampar sama max, terlalu kepedean sih... tubuh max itu terlalu mahal untuk di sentuh sama yang murahan kayak elo... sakit nggak seberapa tapi malunya luar biasa, udah di tolak di depan umum kena gampar pula 🤣🤣🤣🤣
Atalia
mampus kau vivian 😂😂😂
Silla Okta
babang max emang the best,,, gak mungkin tergoda sama ulet keket,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣 next Thor
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tumaan 🤣🤣 dipuskn berpa pri tuh 😤
Eka Haslinda
babang Max Seraaamm 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!