NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAU AKAN TERBIASA

Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu setelah badai gairah yang brutal berakhir. Suara detak jantung Dipta yang memburu perlahan melambat, sementara napasnya masih terasa panas di udara yang dingin karena AC. Ia menarik dirinya menjauh, membiarkan tubuh Keyla yang lunglai tergeletak di atas ranjang yang kini berantakan.

​Saat Dipta bangkit untuk duduk di tepi ranjang, matanya yang mulai jernih dari kabut alkohol menangkap sesuatu yang kontras di atas sprei sutra berwarna putih gading itu. Sebuah noda merah terang, segar dan melingkar, menjadi bukti bisu atas apa yang baru saja ia ambil paksa.

​Dipta terpaku. Pria yang biasanya tak tersentuh oleh emosi itu merasakan dadanya sesak. Ia menoleh ke samping dan melihat Keyla. Gadis itu tidak lagi menangis, tidak lagi meronta. Keyla terbaring diam dengan mata terpejam erat, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia telah pingsan, tubuhnya menyerah pada rasa sakit yang luar biasa dan guncangan mental yang menghancurkannya malam ini.

​"Keyla?" Dipta menyentuh pipi gadis itu. Kulitnya terasa dingin dan lembap oleh keringat serta air mata yang mengering.

​Tidak ada respons. Hanya napas pendek dan dangkal yang menandakan gadis itu masih hidup. Dipta melihat memar kebiruan di pergelangan tangan dan bekas gigitan di bahu Keyla—jejak-jejak kekasaran yang ia lakukan dalam kegelapan mata tadi.

​"Sial... apa yang telah kulakukan?" bisiknya lirih. Ego dan harga dirinya sebagai pria dewasa merasa menang karena telah menjadi yang pertama, namun ada bagian kecil dari nuraninya yang kini memberontak melihat kehancuran total dari gadis yang ia klaim akan ia "jaga".

​Dipta berdiri, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah berat. Ia membasuh wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak seperti monster di matanya sendiri. Namun, alih-alih hancur dalam penyesalan, sisi dinginnya kembali mengambil alih. Baginya, apa yang terjadi adalah konsekuensi dari transaksi yang sudah disepakati.

​Ia kembali ke kamar, menyelimuti tubuh Keyla yang polos dengan selimut tebal hingga ke leher. Ia memandangi noda merah di sprei itu sekali lagi, lalu menutupinya dengan bantal tambahan seolah ingin menyembunyikan bukti kejahatannya dari pandangan matanya sendiri.

​Ia duduk di sofa seberang ranjang, menyalakan sebatang cerutu. Asapnya mengepul, memenuhi ruangan. Dipta terus menatap sosok Keyla yang tidak bergerak. Ia tahu, mulai besok pagi, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Keyla tidak akan lagi menjadi gadis remaja yang berontak dengan kata-kata; ia telah berubah menjadi tawanan yang jiwanya telah ia matikan.

​***

​Saat cahaya fajar mulai menyelinap di balik gorden, Dipta mematikan cerutunya. Ia berdiri, bersiap untuk mandi dan berangkat ke kantor seolah-olah semalam hanyalah pertemuan bisnis biasa. Sebelum keluar, ia berhenti di pintu kamar dan menoleh ke arah ranjang.

​"Kau akan terbiasa, Keyla," gumamnya datar tanpa menoleh. "Pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa menjadi milikku adalah satu-satunya pilihan yang kau miliki untuk bertahan hidup."

​Dipta keluar dari kamar, menutup pintu dengan bunyi klik yang dingin, meninggalkan Keyla sendirian dalam kegelapan yang menyakitkan, menunggu saat di mana gadis itu akan terbangun dan menyadari bahwa mimpinya telah berakhir selamanya.

**

Keyla terbangun saat cahaya matahari mulai menyengat matanya melalui celah gorden yang tidak tertutup sempurna. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah cahaya itu, melainkan rasa sakit yang berdenyut di sekujur tubuhnya. Sensasi perih di area intinya terasa begitu nyata, seolah-olah tubuhnya baru saja dihantam oleh benda tumpul berkali-kali.

Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa kaku dan nyeri membuatnya merintih. Saat ia menyingkap selimut, pandangannya langsung tertuju pada noda merah yang telah mengering di atas sprei putih. Darah itu—bukti kesuciannya yang dirampas paksa—terasa seperti noda yang tidak akan pernah bisa ia bersihkan seumur hidup.

Keyla menoleh ke sisi ranjang yang lain. Kosong. Bantal di sampingnya tidak menunjukkan bekas kepala siapapun, seolah-olah pria yang telah menghancurkannya semalam tidak pernah ada di sana. Dipta telah pergi, kembali ke dunianya yang megah, meninggalkan Keyla seperti sampah yang sudah habis digunakan.

"Binatang..." bisik Keyla, suaranya parau dan hampir hilang.

Ia mencoba bangkit, kakinya bergetar hebat saat menyentuh lantai. Dengan bertumpu pada meja rias, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Keyla tidak mengenali gadis di depannya. Matanya bengkak, bibirnya pecah, dan lehernya penuh dengan tanda merah kebiruan yang mengerikan. Gaun wisuda yang ia banggakan kemarin kini tergeletak robek di pojok ruangan.

Heningnya penthouse ini justru lebih menyakitkan daripada suara bentakan Dipta. Kesunyian ini seolah mengejeknya bahwa tidak ada yang akan menolongnya. Orang tuanya telah mengkhianatinya, dan dunia luar tidak peduli.

Keyla berjalan tertatih menuju dapur. Pikirannya kosong, namun dadanya terasa sesak seakan oksigen di ruangan itu telah habis. Ia menatap ke arah balkon yang sangat tinggi, namun kemudian matanya tertuju pada barisan pisau dapur yang tertata rapi di rak magnetik.

Logikanya sudah lumpuh. Ia mengambil salah satu pisau yang paling tajam. Kilatan baja itu memantulkan matanya yang penuh duka.

"Jika aku tidak bisa memiliki masa depanku, setidaknya aku bisa memiliki kematianku sendiri," gumamnya pelan.

Keyla berjalan menuju kamar mandi besar yang berdinding marmer. Ia menyalakan keran air panas di bathtub hingga uap air memenuhi ruangan. Ia duduk di tepiannya, menatap pergelangan tangannya yang masih membekas biru karena cengkeraman Dipta. Ia mengarahkan mata pisau itu ke nadinya, tangannya gemetar hebat.

"Ayah... Mama... lihat apa yang kalian lakukan padaku," isaknya, air matanya jatuh bersatu dengan air yang mulai meluap dari bathtub.

Tepat saat ujung pisau itu mulai menggores kulitnya, pintu depan apartemen terdengar terbuka dengan sandi digital yang cepat. Langkah kaki yang terburu-buru mendekat ke arah kamar mandi.

"Keyla!" suara Dipta menggelegar, penuh kecemasan yang jarang ia tunjukkan.

Rupanya Dipta tidak benar-benar pergi dengan tenang. Perasaan tidak enak membuatnya memutar balik mobilnya di tengah jalan menuju kantor. Ia menendang pintu kamar mandi hingga terbuka dan terpaku melihat Keyla dengan pisau di tangannya.

"Lepaskan pisau itu, Keyla!" bentak Dipta, namun matanya memancarkan ketakutan yang nyata.

Keyla mendongak, tertawa histeris dengan air mata yang terus mengalir. "Kenapa? Anda takut 'barang' mahal Anda rusak sebelum benar-benar puas menggunakannya? Pergi! Biarkan aku mati!"

Dipta melangkah maju, tidak peduli dengan ancaman pisau itu. "Kau tidak akan ke mana-mana, Keyla. Bahkan kematian pun harus seijinku."

Dipta menerjang, merebut pisau itu dengan kasar hingga telapak tangannya sendiri teriris, namun ia tidak peduli. Ia memeluk tubuh Keyla yang lemas dan menggigil di lantai kamar mandi yang basah. Keyla terus memukul dada Dipta, meraung, dan mencaci maki pria itu dengan segala kata kasar yang ia tahu, sampai akhirnya ia kehabisan tenaga dan pingsan kembali di pelukan pria yang paling ia benci di dunia ini.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!