Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Rahasia yang Bocor
Sudah dua hari ini pondok di lereng bukit itu terasa sunyi dari suara omelan dan langkah kaki Esmeralda yang biasanya enerjik. Esme terbaring lemah di kamarnya, wajahnya pucat dengan keringat dingin yang membasahi dahi. Tubuhnya akhirnya menyerah setelah berminggu-minggu bekerja tanpa henti—mencangkul, membuat pupuk, berkeliling ladang petani, hingga mengurus "bayi raksasa" bernama Aleksander. Penyakit tipes atau mungkin sekadar kelelahan luar biasa membuatnya tidak sanggup bahkan hanya untuk mengangkat segelas air.
AL berdiri di ambang pintu kamar Esme dengan wajah yang sangat tersiksa. Dia melihat wanita yang biasanya galak dan cerewet itu kini tidak berdaya. Insting predatornya yang biasanya ingin menyerang, kini berubah menjadi rasa iba yang sangat dalam. Dia merasa bersalah karena selama ini hanya menjadi beban yang menghabiskan piring dan merobek baju.
"Moa... kau masih tidak mau makan?" tanya AL dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.
"Maaf, Aleksander... kepalaku sangat pusing. Kau... kau makan saja roti yang ada di meja," jawab Esme dengan suara parau yang nyaris hilang. "Jangan keluar rumah... ingat janjimu."
AL mengangguk pelan, namun di dalam hatinya dia merasa tidak bisa berdiam diri. Dia harus melakukan sesuatu untuk istrinya. Saat dia sedang mondar-mandir di ruang tengah dengan gelisah, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan.
"Tok! Tok! Tok!"
AL menegang. Kuku-kukunya sempat ingin memanjang, namun dia segera teringat instruksi Esme untuk menarik napas dalam-dalam. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Di sana berdiri Paman Silas yang membawa sekeranjang buah pir dan apel.
Paman Silas langsung mematung. Matanya melotot menatap sosok pria bertubuh atletis dengan tinggi yang luar biasa dan wajah yang sangat tampan namun terlihat asing. Keranjang di tangannya hampir jatuh.
"Astaga naga! Siapa kau, Nak?" tanya Paman Silas dengan suara gemetar. "Kenapa ada laki-laki di rumah Esme? Di mana dia?"
AL teringat semua skenario yang pernah diajarkan Esme. Karena kepalanya masih polos dan dia menganggap kebohongan Esme adalah kebenaran mutlak, dia menjawab dengan wajah yang sangat jujur dan tulus.
"Aku Aleksander De Januer. Aku suaminya Moa... eh, maksudku suaminya Esme," ucap AL dengan nada yang sangat yakin.
"Suami?!" Paman Silas berteriak kecil, wajahnya berubah menjadi ekspresi kaget yang luar biasa. "Esme punya suami? Sejak kapan? Kenapa dia tidak pernah bilang?"
"Wajar jika dia tidak bilang, Paman," AL menjelaskan sambil membuka pintu lebih lebar, membiarkan Paman Silas masuk karena dia merasa paman ini adalah orang baik. "Aku baru bangun. Tiga tahun lalu aku kecelakaan hebat dan aku koma di dalam laboratorium pribadinya di sana. Moa sangat setia, dia merawatku sendirian di rumah ini agar aku bisa sembuh tanpa gangguan."
Paman Silas masuk ke dalam rumah dengan kaki gemetaran, matanya masih menatap AL dari bawah ke atas. "Koma? Tiga tahun? Wah, pantas saja Esme itu orangnya sangat tertutup dan jarang sekali mau mengobrol lama-lama di desa. Ternyata dia menyimpan rahasia sebesar ini! Dia merawat suaminya yang sakit sendirian?"
"Iya, dia istri yang sangat hebat," ucap AL dengan bangga. "Tapi sekarang dia yang sakit. Dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku sangat sedih melihatnya seperti itu."
Paman Silas menghela napas, rasa curiganya berganti menjadi rasa haru. Dia menepuk lengan AL yang sekeras beton itu, meski tangannya sempat kaget merasakan kekerasan otot AL. "Wah, Nak Aleksander, kau beruntung punya istri seperti Esme. Dia itu dokter tumbuhan terbaik di sini, baik hati sekali meskipun terkadang bicaranya agak aneh dan suka ngomong sendiri. Jadi kau ini sudah sembuh total?"
"Aku sudah bangun, tapi ingatanku masih banyak yang hilang," jawab AL jujur sesuai arahan Esme. "Aku bahkan baru belajar cara menggunakan garpu kemarin. Paman, apakah kau punya obat untuk istriku?"
"Ini, aku bawa buah-buahan segar. Ini bagus untuk memulihkan tenaga. Dan aku akan panggilkan istriku untuk membantu memasak bubur di bawah nanti," Paman Silas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Luar biasa. Esme benar-benar wanita independen yang luar biasa. Dia menyembunyikan suami setampan ini di atas bukit."
AL tersenyum polos, taringnya sedikit menyembul namun Paman Silas mengira itu hanya struktur gigi yang unik. "Terima kasih, Paman. Tolong jangan beritahu orang-orang kalau aku bisa menggeram ya? Moa bilang itu tidak sopan."
Paman Silas tertawa renyah, menganggap itu hanya candaan pria yang baru bangun dari koma. "Tentu, tentu! Kau harus banyak istirahat juga agar ingatanmu kembali. Wah, nanti kalau orang desa tahu si Esme punya suami setinggi raksasa begini, mereka pasti heboh!"
Sementara itu, di dalam kamar, Esme yang sayup-sayup mendengar suara percakapan itu hanya bisa memejamkan mata dengan lemas. Ia mendengar AL menceritakan skenario "suami koma" itu dengan sangat lancar kepada Paman Silas.
"Habislah aku..." batin Esme sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Kebohongan ini sudah resmi menyebar ke seluruh desa. Sekarang aku bukan hanya penjual pupuk, aku adalah istri dari pasien koma misterius yang tiba-tiba bangkit dari kubur."
Esme ingin bangun dan menghentikan pembicaraan itu, namun tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan. Dia hanya bisa pasrah saat Paman Silas keluar rumah sambil berteriak pamit, berjanji akan membawa sup ayam nanti sore.
AL masuk kembali ke kamar Esme dengan wajah ceria, membawa sebuah apel yang sudah dia kupas (dengan cara dikuliti pakai kuku tajamnya hingga bentuknya agak berantakan).
"Moa! Paman tadi sangat baik! Aku sudah cerita kalau aku suamimu yang koma," ucap AL sambil duduk di tepi ranjang. "Dia bilang kau wanita hebat. Aku senang menjadi suamimu, meskipun aku tidak tahu apa itu koma yang sebenarnya."
Esme menatap AL dengan tatapan kosong dan lelah. "Aleksander... kau baru saja meresmikan pernikahan kita di depan seluruh penduduk desa melalui mulut Paman Silas. Kau tahu apa artinya itu?"
"Artinya aku bisa menjagamu di depan semua orang?" tanya AL polos.
"Artinya kalau kau tiba-tiba mengamuk dan memakan orang desa, aku tidak bisa bilang kau itu binatang liar lagi. Aku harus bilang suamiku sedang emosi!" Esme menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis karena melihat perhatian AL yang tulus. "Sudahlah... bantu aku minum air ini dulu, suamiku tersayang yang isinya biji jagung."
AL dengan sangat hati-hati mengangkat kepala Esme dan membantunya minum. Di tengah rasa sakitnya, Esme merasa kebohongan ini mungkin adalah satu-satunya hal yang membuat AL merasa memiliki tempat untuk pulang, meskipun tempat itu dibangun di atas fondasi yang sangat rapuh.