NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Nol tapi Tidak Kosong

🕊

Alea bangun dengan perasaan aneh—ringan sekaligus berat. Tidak ada alarm kerja. Tidak ada seragam yang harus disetrika. Tidak ada suara mesin atau bayangan bentakan yang menunggu.

Titik nol.

Namun kamar mess itu tidak terasa kosong. Barang-barangnya masih ada. Buku catatan, ponsel, pakaian kerja, dan satu hal yang paling penting, dirinya sendiri, masih utuh.

Alea duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang. “Aku masih bisa mulai lagi,” gumamnya pelan, seperti janji kecil.

Hari itu ia tidak langsung mencari pekerjaan besar. Ia pulang ke lingkungan rumah—secara mental lebih dulu. Duduk di ruang tamu mess, membuka ponsel, mengetik pelan:

lowongan kerja restoran dekat rumah

waitress / kasir / dapur Satu per satu ia buka. Ia tidak lagi mencari tempat bergengsi. Tidak mencari gaji tinggi. Yang ia cari sekarang sederhana dekat rumah, cukup manusiawi, dan memberi ruang bernapas.

Sebuah restoran muncul di layar. Tidak besar, tapi ramai. Lokasinya hanya beberapa menit dari rumah Tante Gita. Alea membaca syaratnya pelan. Tidak rumit. Ia membuka folder CV. Menarik napas. Lalu mengirimkannya.

“Bismillah,” bisiknya.

Setelah itu, hal paling berat menunggunya. Menelepon rumah. Ia menatap nama Ayu di layar cukup lama sebelum akhirnya menekan panggil. Nada sambung. Satu. Dua. “Halo?” suara Ayu terdengar. “Kak Ayu…” suara Alea langsung bergetar. “Aku Alea.”

“Alea?” Ayu terdiam sejenak. “Kamu kenapa? Suaramu—”

“Aku mau jujur,” potong Alea pelan, takut jika keberaniannya menguap. “Aku… aku keluar dari kerjaan.”

Hening.

“Alea,” suara Ayu merendah. “Kamu baik-baik saja?”

“Aku baik,” jawab Alea cepat. “Aku marah waktu itu. Aku bilang hal yang keras ke atasan. Aku nggak tahan lagi. Dan… aku nggak nyesel, Kak.” Napas Ayu terdengar di seberang. “Kamu akan pulang?” tanyanya hati-hati. “Iya,” jawab Alea. “Aku mau mulai lagi. Di dekat rumah. Aku capek jauh.” Suara Ayu bergetar. “Ya Allah… kamu berani banget.”

“Aku takut juga,” Alea jujur. “Tapi aku lebih takut kalau aku terus di sana dan kehilangan diriku sendiri.”

Beberapa detik berlalu.

“Kamu pulang aja,” kata Ayu akhirnya, tegas tapi hangat. “Rumah memang ribut. Tapi kamu nggak sendirian.” Mata Alea panas. “Makasih, Kak.”

“Pulang dengan kepala tegak, ya,” lanjut Ayu. “Kamu nggak kalah.” Setelah telepon ditutup, Alea duduk lama. Ada lega. Ada takut. Tapi tidak ada penyesalan.

Siang itu, ia dipanggil ke HR untuk menyelesaikan administrasi. Ruangan itu sunyi, jauh dari lantai produksi. “Kami sudah memproses gaji Anda,” kata staf HR, nadanya formal. “Untuk bulan ketiga.”

Alea mengangguk, tidak berharap banyak. “Karena Anda mengundurkan diri sebelum tanggal gajian, ada pemotongan dua hari,” lanjutnya. “Tapi jumlahnya tetap mendekati penuh.” Angka di kertas itu membuat Alea terdiam. “Ini…” suaranya lirih. “Beneran?”

“Iya,” jawab staf itu singkat.

Di mata Alea, angka itu besar. Bukan karena nominalnya luar biasa—tapi karena ia kini tidak punya apa-apa lagi yang datang rutin. “Makasih,” ucapnya tulus. Ia keluar ruangan dengan langkah pelan. Namun dadanya terasa lebih lapang. Setidaknya, ia tidak pulang dengan tangan kosong.

Sore itu, Alea kembali ke kamar mess untuk terakhir kalinya.

Ia melipat pakaian satu per satu. Tidak tergesa. Tidak panik. Setiap lipatan seperti penutup bab. Seragam kerja ia simpan paling bawah. Ia tidak membencinya. Ia hanya… selesai dengannya.

Buku tabungan dia masukkan ke tas. Ponsel—ia genggam sebentar. “Akhirnya pulang,” bisiknya.

Saat matahari mulai turun, Alea menarik koper kecilnya keluar dari mess. Beberapa staf menatap. Ada yang melambaikan tangan. Ada yang hanya tersenyum kecil. Jina berdiri di ujung lorong. “Kamu benar-benar pergi,” katanya pelan. Alea menganggukan kepala. “Iya.” Jina memeluknya singkat. “Aku bangga kamu berani.”

“Aku cuma capek,” Alea tersenyum kecil. “Kadang capek itu tanda kita hidup,” balas Jina. Alea melangkah keluar gerbang mess dengan tubuh tegak. Tidak cepat. Tidak lari. Tidak menunduk. Ia memang berada di titik nol— tapi nol bukan kosong.

Ia masih punya tangan. Masih punya keberanian. Masih punya rumah untuk dituju. Dan di saku jaketnya, ada CV yang sudah terkirim. Satu langkah kecil menuju awal yang baru.

“Aku mulai lagi,” bisik Alea pada dirinya sendiri. “Dan kali ini… aku pulang.”

Kereta berhenti dengan dengusan panjang, seperti nafas terakhir setelah perjalanan jauh. Pintu terbuka, orang-orang turun berdesakan. Alea ikut melangkah keluar, menyeret tasnya yang tidak terlalu besar—isinya sederhana, tapi beratnya terasa lain hari ini.

Begitu keluar dari area stasiun, matanya langsung menyapu sekitar. Lalu ia melihatnya.

Ayu.

Duduk tenang di atas motor sekolahnya yang sudah agak kusam. Jaket abu-abu tipis, celana panjang, jilbab panjang seadanya. Tidak berdiri. Tidak melambaikan tangan heboh. Hanya duduk, seperti yakin adiknya pasti akan melihatnya.

Dan Alea memang langsung berjalan ke arah itu. Ayu mendongak saat langkah Alea semakin dekat. Wajahnya berubah, senyum kecil muncul—bukan senyum berisik, tapi yang membuat dada menghangat.

“Capek?” tanya Ayu tanpa basa-basi. Alea mengangguk pelan. “Lumayan.” Ayu membuka jok motor, mengeluarkan helm satu lagi dan menyodorkan nya. Gerakannya ringan, seolah ini rutinitas yang sudah sering mereka lakukan.

“Kita ke mall dulu yuk,” katanya santai, seperti sedang mengajak beli gorengan. Alea menerima helm itu, menggenggamnya sebentar. Tidak langsung menjawab. Lalu ia mengangguk. “Iya.”

Tidak ada tanya kenapa. Tidak ada penjelasan panjang. Ayu tidak memaksa, dan Alea tidak merasa perlu membela diri. Mereka sama-sama tahu—hari ini bukan soal tujuan, tapi soal bernafas.

Motor melaju pelan meninggalkan stasiun. Angin sore menyapu wajah Alea yang tersembunyi di balik helm. Jalanan tidak terlalu padat. Kota terasa seperti sedang memberi mereka ruang.

Alea memeluk tasnya di depan, sementara tangannya yang lain memegang sisi jaket Ayu. Posisi yang sudah lama tidak ia lakukan. “Kamu kurusan,” suara Ayu terdengar dari balik helm. Alea tertawa kecil. “Masa sih?”

“Iya. Bahumu terasa lebih kecil,” jawab Ayu jujur. Alea diam. Angin kembali mengisi jeda. “Kamu nggak nyesel, kan?” tanya Ayu kemudian. Tidak mendesak. Tidak menghakimi. Alea menatap jalanan di depan. “Nggak.”

“Takut?”

“Takut,” jawab Alea cepat. “Banget.” Ayu mengangguk pelan. “Wajar.” Itu saja. Tidak ada ceramah. Tidak ada nasihat panjang. Dan justru itu yang membuat Alea merasa aman.

Mall tidak terlalu ramai. Lampu-lampunya menyala lembut. Begitu motor di parkir, Ayu melepas helm dan merapikan jilbabnya sebentar. “Kita makan dulu,” katanya. “Aku traktir. Gaji TK-ku belum seberapa, tapi cukup buat kamu.” Alea tersenyum. “Aku masih punya duit, Kak.”

“Biarin,” potong Ayu. “Hari ini kamu pulang.” Mereka masuk ke sebuah tempat makan sederhana. Bukan restoran mahal. Hanya tempat dengan kursi kayu dan musik pelan.

Saat makanan datang, Alea baru sadar—perutnya benar-benar lapar. Bukan lapar fisik saja, tapi lapar akan suasana normal. “Kamu kelihatan capek,” kata Ayu sambil menyendok nasi. “Aku capek mikir,” jawab Alea jujur. “Di sana tuh… rasanya kayak tiap hari harus siap disalahkan.” Ayu mengunyah pelan. “Aku ngerti.”

“Kak Ayu dulu juga gitu, ya?” Alea menatap kakaknya. “Nunggu kerjaan lama. Dibilang beban.” Ayu tersenyum miring. “Bedanya, aku diem. Kamu melawan.” Alea tertawa kecil. “Aku juga nggak niat jadi pahlawan.”

“Justru karena itu,” Ayu menatapnya. “Kamu manusia.”  Mereka makan sambil sesekali terdiam. Tidak canggung. Heningnya nyaman.

Setelah itu, Ayu mengajak Alea jalan sebentar. Masuk toko pakaian, tapi tidak membeli apa-apa. Hanya melihat-lihat. “Yang ini cocok buat kamu kalau kerja nanti,” kata Ayu sambil menunjuk kemeja polos. “Kerjanya juga belum ada,” jawab Alea. “Akan ada,” kata Ayu ringan. “Pelan-pelan.”

Di toko buku, Alea berhenti lama. Menyentuh sampul-sampul buku seperti menyapa teman lama. “Kamu masih suka desain?” tanya Ayu. “Suka,” jawab Alea. “Tapi aku nggak mau mimpi terlalu tinggi dulu.” Ayu mengangguk. “Nggak apa-apa. Mimpi juga bisa duduk sebentar.”

Mereka akhirnya duduk di bangku panjang dekat jendela mall. Matahari mulai tenggelam, cahaya jingga masuk dari kaca besar. Alea menatap keluar. “Makasih udah jemput aku.” Ayu menyenggol bahunya pelan. “Kamu adikku.”

Alea menelan ludah. “Aku takut pulang ke rumah.” Ayu tidak langsung menjawab. Ia menarik napas. “Aku juga.” Lalu ia menoleh, menatap Alea serius tapi lembut. “Tapi kita pulang bareng.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Alea merasa seperti diberi jaket hangat.

“Kalau nanti ada omongan,” lanjut Ayu, “kamu di belakang aku aja.” Alea tersenyum kecil. “Kak Ayu sok jago.”

“Emang,” jawab Ayu santai. “Dua tahun nganggur itu bikin aku kebal.”  Mereka tertawa pelan. Tawa yang tidak meledak, tapi tulus.

Saat mereka kembali ke motor, langit sudah gelap. Lampu jalan menyala satu per satu. Alea naik ke boncengan. Tangannya kembali memegang jaket Ayu, kali ini lebih erat. “Aku seneng kamu pulang,” kata Ayu pelan sebelum motor dinyalakan. “Aku juga,” jawab Alea. “Aku seneng… aku nggak sendirian.”

Motor melaju, membelah malam.

Di jalan itu, tanpa janji besar dan tanpa rencana pasti, dua saudari itu pulang— bukan sebagai orang yang kalah, tapi sebagai dua perempuan yang saling menguatkan, pelan-pelan, dengan cara mereka sendiri.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!