Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Bayangan Itu
Pagi itu, kedua orang tua Daviko terpaksa pamit untuk pulang. Hal itu meninggalkan rongga hampa di hati Saliha.
Di depan teras rumah yang masih berkabut, Saliha berdiri mematung. Mama Davira menggenggam jemarinya erat, sebuah sentuhan yang jarang sekali Saliha rasakan sejak ibunya tiada.
"Saliha, Tante titip Kaffara, ya," bisik Mama Davira dengan mata berkaca-kaca. "Sayangi dia layaknya kamu menyayangi anakmu sendiri. Karena kamu adalah ibu susunya, Tante yakin ikatan batin antara kalian akan jauh lebih kuat. Jangan dengarkan kata orang lain, fokuslah pada malaikat kecil ini."
Saliha hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat karena terharu. "Baik, Tante. Saya akan jaga Kaffara dengan semampu saya."
Di sisi lain, Mama Davira juga mendekati Daviko yang berdiri kaku seperti patung. "Dav, Mama dan Papa harus kembali. Mama pesan buat kamu... jangan terlalu keras terhadap Saliha. Terlepas dari masa lalu kalian, saat ini dia adalah sumber kehidupan untuk Kaffara. Perlakukan dia dengan manusiawi."
Daviko hanya mengangguk singkat, wajahnya datar tidak terbaca. "Hati-hati di jalan, Ma, Pa," jawabnya singkat. Ia sama sekali tidak benar-benar merespons pesan sang mama. Baginya, Saliha tetaplah pengkhianat yang kebetulan sedang berguna.
Setelah mobil orang tuanya menghilang di balik gerbang, suasana rumah kembali ke titik nol. Hening, dingin, dan penuh kecanggungan.
***
Beberapa hari berlalu. Kondisi Saliha sudah pulih total. Wajahnya yang semula kuyu dan pucat kini kembali segar dan bercahaya.
Pagi itu, Saliha mengenakan salah satu dress katun panjang berwarna lavender yang dipilihkan Bi Tita. Bahannya jatuh dan pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet tubuh Saliha yang sebenarnya sangat proporsional. Ia menguncir rambutnya dengan rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan wajah cantik yang tak lagi tersembunyi di balik kesedihan.
Rasa sayangnya pada Kaffara tumbuh seperti tanaman yang disiram air setiap hari. Pesan Mama Davira terus terngiang di kepalanya, menjadikannya tameng setiap kali Daviko atau keluarga Amara menghinanya.
Siang itu, di ruang tengah, Saliha sedang mengganti popok Kaffara. Ia tidak sadar bahwa di balik pilar ruang makan, Daviko sedang berdiri memperhatikannya.
Pria itu baru saja pulang dari kantor dan hendak mengambil minum, namun langkahnya terhenti.
"Sekarang Kaffara sudah wangi... Anak pintar tidak boleh rewel ya, Sayang," bisik Saliha lembut sambil mencium perut gembul bayi itu.
Kaffara tertawa riang, tangan mungilnya menggapai wajah Saliha. Saliha membalasnya dengan senyuman yang tulus, senyuman yang dulu sangat Daviko cintai.
Daviko terpaku. Ada rasa lega yang menyelinap di antara celah hatinya yang retak. Melihat anaknya begitu dicintai oleh wanita itu memberikan ketenangan yang tidak bisa ia jelaskan.
Namun, secepat rasa itu datang, secepat itu pula ia menepisnya. "Ingat, Daviko. Dia hanya perawat. Jangan tertipu lagi oleh wajah malaikatnya," batinnya mengingatkan dengan kejam.
Daviko berdehem keras, sengaja mengagetkan Saliha. "Jika sudah selesai, bawa dia ke atas. Dia harus tidur siang."
Saliha tersentak, segera merapikan pakaian Kaffara. "Baik, Pak."
Aturan Daviko tetap berlaku serta kaku. Saliha hanya boleh masuk ke kamar utama di atas jika Kaffara butuh tidur atau menyusu. Dan setelah bayi itu pulas, Saliha harus segera turun ke "wilayahnya" di kamar bawah dekat dapur.
Sore harinya, udara terasa sangat gerah. Setelah menidurkan Kaffara di lantai atas, Saliha turun dengan peluh yang membasahi kening. Ia merasa tubuhnya sangat lengket. Mumpung Kaffara tidur pulas dan Daviko sepertinya sedang sibuk di ruang kerjanya, Saliha memutuskan untuk mandi di kamar mandi belakang dekat dapur.
Selesai mandi, Saliha masuk kembali ke kamarnya dengan terburu-buru. Ia hanya melilitkan handuk putih di tubuhnya. Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai. Ia merasa aman karena biasanya tidak ada yang berani masuk ke area belakang kecuali Bi Tita.
Saliha baru saja hendak meraih pakaian dalam dan dress-nya di atas tempat tidur, membelakangi pintu. Tangannya baru saja akan melepas lilitan handuk untuk mengenakan pakaiannya, ketika tiba-tiba...
BRAK!
Pintu kamar yang lupa ia kunci itu terbuka dengan kasar.
"Saliha! Kaffara terbangun dan menangis, dia...."
Kalimat Daviko terputus di udara. Waktu seolah berhenti berdetak. Daviko mematung di ambang pintu, matanya menangkap pemandangan yang sama sekali tidak ia duga.
Di hadapannya, Saliha berdiri dengan hanya berbalut handuk yang hampir melorot, menampakkan bahu putih mulusnya yang masih basah oleh sisa air mandi.
"A-ah!" Saliha memekik, wajahnya seketika merah padam. Ia segera menarik handuknya ke dada dengan tangan gemetar hebat. "Pak Viko!"
Daviko tersentak. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah tembok dengan kasar. Rahangnya mengeras, napasnya mendadak terasa sesak. Bayangan kulit Saliha yang terkena cahaya lampu kamar yang temaram seolah tercetak permanen di otaknya.
"Cepat gunakan bajumu! Kaffara rewel di atas, Bi Tita tidak sanggup menenangkannya!" pekik Daviko dengan suara yang lebih keras dari biasanya, berusaha menutupi kegugupan yang luar biasa.
"I-iya, Pak! Se~sebentar! Sa~saya memakai pakaian dulu," jawab Saliha terbata-bata, nyaris menangis karena malu dan takut.
Daviko berbalik dan melangkah keluar dengan kasar, membanting pintu kayu itu hingga menimbulkan suara dentuman yang keras. Ia berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya di atas, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Sesampai di kamarnya, Daviko tidak langsung menghampiri Kaffara. Ia justru masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tubuh Saliha tadi kembali muncul, indah, rapuh, dan membangkitkan insting yang sudah lama ia kunci rapat-rapat.
"Gila! Saliha benar-benar gila!" umpat Daviko keras, menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata memerah.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada kemarahan yang ia tujukan pada dirinya sendiri karena ia merasa "terganggu" oleh pemandangan tadi. Untuk menutupi rasa bersalah dan debar yang tak seharusnya ada, egonya kembali mencari kambing hitam.
"Dia sengaja tidak mengunci pintu. Jangan-jangan dia memang sengaja menggoda aku agar aku luluh lagi," tudingnya dalam hati dengan kejam.
Daviko mengatur napasnya yang masih memburu. Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Kaffara masih menangis di atas ranjang. Tak lama kemudian, Saliha muncul di ambang pintu kamar atas dengan napas terengah-engah, wajahnya masih sangat pucat dan matanya sembab.
Daviko menatapnya dengan tatapan paling dingin yang pernah ia berikan. "Lama sekali! Kamu pikir anakku bisa menunggu hanya karena kecerobohanmu yang tidak mengunci pintu itu?"
Saliha hanya bisa menunduk, bibirnya bergetar. "Maaf, Pak. Saya... saya benar-benar lupa."
"Lupa atau sengaja?" sindir Daviko pedas saat melewati Saliha untuk mengambil ponselnya di meja. "Jangan pernah coba-coba melakukan trik murahan seperti itu lagi di rumah ini, Saliha. Tubuhmu sama sekali tidak ada harganya di mataku. Cepat urus anakku!"
Saliha tidak menjawab. Ia hanya bisa menelan bulat-bulat hinaan itu sambil menghampiri Kaffara. Di dalam hatinya, ia merasa sangat hancur. Ia tidak menyangka kecerobohannya akan dianggap sebagai sebuah godaan rendah.
Sementara itu, Daviko berlalu pergi meninggalkan kamar, namun di balik sikap angkuhnya, ia tahu satu hal, malam ini, ia tidak akan bisa tidur karena bayangan Saliha tidak mau pergi dari kepalanya.
semangat ya😚