NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Sebuah Pesan?

Deru mesin Jeep Rubicon hitam edisi terbatas memecah keheningan pelataran mansion keluarga Luxe ketika hari sudah sore.

Mobil gagah itu berhenti tepat di depan pilar marmer raksasa yang menyangga teras rumah, kontras dengan debu abu-abu krematorium yang masih menempel tipis di ban besarnya.

Aaron mematikan mesin. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya, menciptakan kabut tipis di kaca jendela yang tertutup rapat. Tangannya masih mencengkeram setir kemudi erat-erat, buku-buku jarinya memutih.

Rasanya baru beberapa jam yang lalu ia berdiri di samping Lunaris, melihat gadis itu hancur berkeping-keping, dan sekarang ia harus kembali ke realitasnya sendiri.

Ia membuka pintu mobil, turun dengan langkah gontai. Jas hitam yang ia kenakan terasa berat, seolah menyerap semua kesedihan yang ia saksikan hari ini.

Saat Aaron mendorong pintu utama yang menjulang tinggi, udara dingin AC langsung menyambutnya, membawa aroma lavender mahal yang justru membuat perutnya mual.

Di tengah ruang tamu yang luas dan sunyi itu, seorang wanita duduk dengan anggun di sofa kulit mahal di ruang tamu dengan segelas wine di tangannya. Dimitri Luxe.

Wanita itu menatap putranya dengan sorot mata tajam, seolah sedang meneliti noda kotoran di lantai yang merusak pemandangan. Gaun sutra merah maroon-nya berkilau di bawah lampu gantung kristal, sangat kontras dengan pakaian berkabung Aaron.

"Akhirnya putraku ingat pulang," Suara Dimitri memecah keheningan, nadanya halus namun menusuk. Ia menyesap sedikit minumannya sebelum melanjutkan dengan senyum miring. "Sudah puas bermain peran jadi orang baik, Aaron? Menghabiskan waktu semalaman dan nyaris seharian mengurusi mayat pelayan rendahan... apa itu membuatmu merasa seperti pahlawan?"

Langkah Aaron terhenti. Ia menatap ibunya datar, sorot matanya yang biasanya hangat kini berubah menjadi telaga beku. Tidak ada rasa hormat, tidak ada rasa takut. Hanya kelelahan yang luar biasa.

"Gak seharusnya Ibu bicara seperti itu," Jawab Aaron dingin, suaranya bergema di ruangan besar itu. "Bagaimanapun juga, Bibi Nova adalah pelayan yang sudah mengabdi belasan tahun di rumah ini. Dia manusia, bukan sampah yang bisa Ibu hina bahkan setelah kematiannya."

Tanpa menunggu balasan, Aaron kembali melangkahkan kakinya menuju tangga besar yang melingkar menuju lantai dua. Ia tidak ingin berdebat. Ia tidak ingin melihat wajah ibunya yang seolah tidak memiliki hati itu lebih lama lagi.

Namun, tawa dingin Dimitri menghentikan langkahnya. Tawa itu kering, tanpa emosi, seperti gesekan pisau di atas piring kaca.

"Simpati? Hah!" Dimitri tertawa remeh, matanya berkilat kejam. "Untuk apa kamu membuang-buang tenagamu untuk bersimpati, Nak? Kematian pelayan itu bukan urusan kita. Lagipula... memang sudah takdirnya Nova mati seperti itu. Kenapa harus diratapi?"

Ucapan itu membuat darah Aaron berdesir. Takdir? Cara ibunya mengucapkan kata itu terdengar begitu ringan, seolah nyawa Nova hanyalah pion catur yang memang harus dibuang.

Aaron berhenti tepat di anak tangga ketiga. Ia mencengkeram pegangan tangga yang terbuat dari kayu jati ukir itu dengan kuat, menahan gejolak dalam dirinya yang siap meledak. Ia tidak membalikkan badannya. Ia membiarkan punggungnya yang tegap menjadi dinding pemisah antara dirinya dan ibunya.

"Meskipun memang sudah takdirnya untuk mati..." Suara Aaron terdengar rendah, namun setiap kata yang ia ucapkan memiliki penekanan yang kuat. "...seenggaknya kita harus memberikan sedikit simpati pada wanita malang itu. Walaupun rasa simpati itu hanyalah sebuah kebohongan tanpa makna."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Aaron kembali melangkah naik, mempercepat jalannya menaiki tangga tanpa repot-repot menunggu balasan atau melihat ekspresi wajah ibunya. Ia membiarkan Dimitri berdiri sendirian di bawah sana dengan gelas wine-nya, terperangkap dalam kemewahan yang kosong.

Bagi Aaron, rumah ini bukan tempat pulang. Rumah ini adalah kuburan lain yang lebih mengerikan, di mana penghuninya masih bernapas namun jiwanya sudah lama mati.

.

.

.

Setelah menolak dengan halus tawaran Nyonya Lyn untuk menginap di rumahnya, Lunaris melangkah masuk ke dalam rumah kecilnya sendiri dengan langkah pincang karena kaki kanannya yang terkilir dan bengkak.

Begitu pintu berderit terbuka, ia disambut oleh keheningan yang menyesakkan dada.

Udara di dalam rumah itu terasa statis, dingin, dan kosong. Tidak ada lagi aroma masakan sederhana dari dapur. Tidak ada lagi suara gemericik air dari kamar mandi. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada lagi omelan lembut dari Nova yang biasanya akan menegur Lunaris jika ia menaruh tas sekolah sembarangan atau lupa mencuci piring.

Lunaris merosot duduk di lantai ruang tamu, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu yang baru saja ia tutup.

Air mata yang ia kira sudah habis di tempat krematorium tadi, kini kembali mengalir deras.

"Ibu... Luna pulang," Bisiknya parau, namun hanya kesunyian yang menjawabnya. Rumah kecil ini sekarang terasa terlalu luas untuk satu orang.

Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang kuat memecah kesunyian.

Fwap! Fwap! Fwap!

Lunaris tersentak. Kepalanya mendongak dan matanya membelalak lebar. Dari arah jendela kecil yang terbuka, seekor burung gagak hitam besar masuk dan terbang berputar-putar liar di langit-langit ruang tamu.

"Burung gagak? Bagaimana bisa—"

Gagak itu tampak gelisah, terbang menabrak-nabrak sudut ruangan sambil terus mengeluarkan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Kaaak! Kaaak!

Suaranya terdengar seperti jeritan peringatan.

"Heh! Keluar! Pergi!" Lunaris mencoba berdiri dengan kaki gemetar menahan nyeri dan ngilu, mengayunkan tangannya untuk mengusir burung itu.

Namun, gagak itu tidak segera pergi. Ia terbang menukik tajam ke arah rak kayu di pojok ruangan, menyambar sebuah benda dengan sayapnya hingga benda itu terjatuh ke lantai dengan suara prak! yang keras.

Setelah melakukan itu, si gagak terbang melesat keluar jendela, menghilang di kegelapan sore yang mulai turun.

Lunaris terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap ke arah jendela tempat burung itu pergi dengan penuh keheranan, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke benda yang terjatuh di lantai.

Itu adalah sebuah pigura foto. Kacanya retak membentuk pola jaring laba-laba, namun isinya masih terlihat jelas.

Lunaris memungut pigura itu. Ia membersihkan serpihan kaca yang menutupi gambar di dalamnya. Itu adalah foto lama.

Foto yang diambil beberapa tahun lalu saat mereka berkunjung ke taman bermain.

Lunaris ingat sekali dulu saat dia dan Aaron masih SMP. Saat itu Aaron ingin pergi ke taman bermain, tapi tuan dan nyonya Luxe terlalu sibuk untuk menuruti keinginan Aaron.

Jadi dengan inisiatif ibunya Lunaris mengajak Aaron dan Lunaris untuk pergi ke taman bermain keesokan harinya.

Mereka bersenang-senang saat itu seperti sebuah keluarga, tidak peduli pada fakta jika Aaron adalah majikan dan Nova adalah pelayan.

Di dalam foto itu, Nova tersenyum lebar dengan mata yang berbinar bahagia. Di sampingnya, Lunaris tampak tertawa sambil memegang kembang gula. Dan di sisi lain mereka, ada Aaron yang merangkul bahu Lunaris dengan senyum tulus yang jarang ia tunjukkan sekarang.

Ketiganya tampak sangat bahagia. Sebuah fragmen dari masa lalu yang terasa seperti berasal dari kehidupan orang lain.

Dan Lunaris ingat jika ibunya sengaja memajang foto itu di sana, ibunya bilang agar Lunaris bisa terus mengingat kenangan-kenangan yang indah.

Lunaris tertegun. Mengapa burung itu harus menjatuhkan foto ini? Dari sekian banyak barang di rak, kenapa foto yang memperlihatkan dirinya, ibunya, dan Aaron yang harus jatuh?

Firasat aneh merayap di tengkuknya. Burung itu seolah sengaja menunjukkan sesuatu. Ada sebuah benang merah yang ditarik paksa dari masa lalu, menghubungkan kematian ibunya dengan sesuatu yang selama ini tersembunyi.

"Apa yang coba burung itu sampaikan...?" gumam Lunaris pada pigura di tangannya, sementara di luar sana, sisa-sisa suara gagak masih terdengar samar di kejauhan, seolah-olah sedang menunggunya menyadari sesuatu.

.

.

.

Nyonya Lyn baru saja melangkah memasuki pekarangan rumahnya yang asri namun sunyi.

Namun, langkah kakinya yang berat terhenti tepat di depan teras saat ia menyadari kehadiran "tamu" yang tidak diundang.

Di atas dahan tanaman bunga kamboja yang sedang meranggas, hinggap seekor burung gagak hitam.

Gagak yang sama —dengan kilat mata yang cerdas dan paruh yang tajam— yang baru saja mengusik ketenangan Lunaris.

Burung itu tidak terbang menjauh saat melihat Nyonya Lyn yang berjalan mendekat; ia justru memiringkan kepalanya, menatap wanita tua itu seolah sedang memberikan laporan.

Nyonya Lyn terdiam. Pandangannya menjadi sangat rumit —ada perpaduan antara rasa ketenangan yang terlalu berbahaya dan ketegasan yang mengancam.

"Jadi, kau sudah memulai tugasmu?" Gumam Nyonya Lyn lirih, suaranya nyaris tertelan angin.

Ia tau jika kedatangan gagak ini tidak datang hanya karena kebetulan, tapi juga membawa pesan yang mungkin ditunggu oleh Nyonya Lyn.

Sebuah pertanda bahwa jam pasir yang selama ini terhenti telah kembali berputar.

Nyonya Lyn tau jika kegelapan yang merenggut nyawa Nova bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nyonya Lyn merogoh ke dalam kerah pakaiannya. Ia menarik keluar sebuah kalung yang selama ini selalu ia sembunyikan dari pandangan dunia.

Sebuah kalung dengan bandul batu rubi berwarna merah darah yang berkilau tajam di bawah cahaya sore yang jingga.

Batu itu seolah memiliki denyut nadanya sendiri. Merah, pekat, dan menyimpan rahasia masa lalu yang terkubur.

Nyonya Lyn menatap batu rubi itu dengan napas yang tenang dan ketajaman. Apa ini sudah waktunya? batinnya bertanya-tanya. Apa Lunaris sudah siap menghadapi kebenaran yang akan menghancurkan hidupnya sekali lagi?

Selama bertahun-tahun ia berperan sebagai tetangga yang baik, pelindung yang setia, dan saksi bisu atas penderitaan Nova. Namun kini, kematian Nova telah meruntuhkan semua tembok pertahanan yang mereka bangun.

"Tidak... belum. Belum sekarang," Nyonya Lyn menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menepis firasat buruk yang mulai menggerogoti pikirannya. Ia berharap apa yang ia pikirkan hanyalah paranoia seorang wanita tua yang terlalu banyak berduka.

KAAAK!

Suara lengkingan gagak yang sangat keras mengejutkan Nyonya Lyn, membuyarkan semua lamunannya. Burung itu mengepakkan sayapnya dengan beringas, lalu terbang melesat menjauh dari pekarangan, meninggalkan kepulan debu tipis dan satu helai bulu hitam yang jatuh perlahan di atas tanah.

Nyonya Lyn berdiri mematung, menatap langit tempat gagak itu menghilang. Pikirannya kini penuh dengan pertanyaan yang menghantui.

Waktu perlindungan sudah habis, dan ia tahu betul bahwa bayang-bayang masa lalu tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka cari.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!