Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Harga yang Tidak Tertulis
"Jadi ini proposal kamu?" Suara itu terdengar datar, nyaris malas.
Nadira berdiri di depan meja rapat kecil, memegang map biru. Di seberang meja, tiga orang duduk berjajar. Salah satunya Dr. Ratna, koordinator proyek yang sejak awal dikenal tajam dan tidak ramah basa-basi.
"Iya, Bu." Jawab Nadira tenang. "Pendekatan kualitatif dengan fokus longitudinal."
Dr. Ratna membuka halaman terakhir, mengernyit. "Kamu sadar ini bukan proyek pribadi?"
Nadira mengangguk. "Saya sadar."
"Lalu kenapa kamu menghindari metode cepat yang sudah disarankan tim?"
Sejenak ruangan hening.
Nadira menarik napas. "Karena data cepat sering mengorbankan konteks. Dan konteks di riset ini bukan pelengkap... itu inti."
Salah satu peneliti lain, Pak Hendra, menyelipkan suara. "Pendekatan kamu idealis. Tapi kita dikejar sponsor."
Nadira menatap mereka satu per satu. "Saya tidak menolak efisiensi. Saya menolak distorsi."
Dr. Ratna menyandarkan punggung. "Kamu berani sekali untuk orang baru."
Nadira tersenyum tipis. "Saya berhati-hati, Bu. Bukan berani."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Dr. Ratna menutup map.
"Kita bahas ini lagi minggu depan. Untuk sekarang, kamu ikut pendekatan mayoritas."
Nadira menunduk sopan. "Baik."
Dia keluar ruangan dengan langkah stabil.
Begitu pintu tertutup, Rendi yang menunggu di luar langsung mendekat. "Gila, kamu barusan debat sama Dr. Ratna."
Nadira menghela napas. "Aku cuma menjelaskan."
"Dia nggak suka dijelaskan."
"Aku tahu."
"Kenapa tetap kamu lakukan?"
Nadira terdiam sejenak, lalu berkata pelan. "Karena kalau aku diam, aku bukan siapa-siapa di sini."
***
Di kota lama, Raka berdiri di depan papan pengumuman kedai.
Nama-nama pegawai tertera. Jadwal... Jam lembur...
"Rak." Panggil suara dari belakang.
Dia menoleh. Pak Surya, manajer kedai.
"Ada apa, Pak?"
"Kamu punya waktu sebentar?"
Raka mengangguk.
Mereka masuk ke ruang kecil belakang. Pak Surya duduk, menyilangkan tangan.
"Kamu tahu kan kedai ini mau ikut tender suplai ke acara kampus besar?"
"Iya."
"Kami butuh laporan keuangan rapi. Bersih."
Raka mengangguk. "Saya bisa bantu rekap."
Pak Surya tersenyum tipis. "Bukan cuma rekap."
Raka mengernyit. "Maksudnya?"
"Ada beberapa transaksi yang... perlu dirapikan ulang."
Raka menatapnya. "Dirapikan bagaimana?"
'Anggap saja... disesuaikan."
Ruangan terasa lebih sempit.
"Pak." Kata Raka pelan, "itu berarti mengubah data."
Pak Surya menghela napas. "Semua tempat melakukan ini. Kamu mau naik posisi atau tidak?"
Raka terdiam. Da teringat kalimat ayahnya... Kerja jujur lebih penting dari jabatan.
"Saya perlu waktu." Katanya akhirnya.
Pak Surya mengangguk. "Pikirkan baik-baik. Kesempatan nggak datang dua kali."
***
Nadira duduk di perpustakaan kampus malam itu. Laptop terbuka, tapi pikirannya melayang.
"Boleh duduk?"
Dia menoleh, ternyata temannya yang bernama Fajar datang.
"Oh. Silakan."
Fajar duduk, meletakkan bukunya. "Kamu kelihatan capek."
“Sedikit.”
"Kerjaannya berat?"
"Ujiannya yang berat." Jawab Nadira jujur.
Fajar tersenyum kecil. "Lingkungan baru memang suka menguji lebih dulu sebelum menerima."
"Kamu pernah?"
"Sering. Dan kadang... Tidak lolos."
Nadira menatapnya. "Kamu menyesal?"
Fajar menggeleng. "Tidak. Aku cuma belajar memilih medan."
Nadira mengangguk pelan.
"Mau kopi?" Tanya Fajar.
"Boleh."
Mereka berjalan ke mesin kopi otomatis.
"Kalau kamu kalah di ujian ini, apa yang kamu takutkan?" Tanya Fajar tiba-tiba.
Nadira berpikir sejenak. "Bukan kalahnya. Tapi berubah jadi versi diriku yang dulu."
Fajar tidak bertanya lebih jauh. Dan Nadira bersyukur.
***
Raka pulang ke rumah orang tuanya malam itu dengan langkah berat. Ibunya sedang menonton televisi.
"Kamu kelihatan pucat." Kata ibunya.
"Ada pilihan sulit."
Ibunya mematikan TV. "Ceritakan saja."
Raka duduk. "Kalau aku jujur, aku mungkin kehilangan kesempatan. Kalau aku ikut arus, aku dapat posisi tapi dengan cara salah."
Ibunya menatapnya lama. "Kamu mau jadi orang berhasil atau orang tenang?"
Raka tertawa kecil pahit. "Aku dulu pikir itu sama."
Ibunya menggenggam tangannya. "Sekarang kamu tahu bedanya."
***
Pagi berikutnya, Nadira menerima email singkat. Dr. Ratna ingin bertemu. Jam 10:00.
Nadira datang tepat waktu.
Dr. Ratna berdiri di dekat jendela. "Kamu tahu kenapa saya panggil?"
"Belum, Bu."
"Sponsor minta hasil cepat. Tim setuju. Kecuali kamu."
Nadira mengangguk.
"Saya mau kamu tanda tangan persetujuan metode."
Nadira menatap kertas di meja. "Kalau saya tidak mau tanda tangan apa resikonya?"
Dr. Ratna menoleh. "Kamu bisa dianggap tidak kooperatif."
Nadira menarik napas dalam.
"Bu." Katanya tenang, "Saya bersedia bekerja lebih keras. Tapi saya tidak akan menandatangani sesuatu yang saya tahu salah."
Hening.
Dr. Ratna menatapnya tajam. "Kamu siap dengan konsekuensinya?"
"Iya."
Beberapa detik berlalu.
Dr. Ratna tersenyum kecil tidak hangat, tapi jujur.
"Kita lihat sejauh mana kamu bertahan."
***
Di kedai, Raka berdiri di depan Pak Surya. "Saya tidak bisa, Pak."
Pak Surya menghela napas panjang. "Kamu sadar akibatnya?"
"Iya."
"Kamu mungkin tidak naik posisi."
"Tidak apa-apa."
Pak Surya menatapnya lama, lalu berkata. "Baik... Tapi jangan harap diperlakukan istimewa."
Raka mengangguk. "Saya tidak minta."
Saat dia keluar ruangan, dadanya terasa ringan dan berat sekaligus.
***
Sore itu, Nadira menerima pesan dari nomor tak dikenal.
[Kamu di kota mana sekarang?]
Nadira mengernyit.
[Siapa ini?]
Balasan datang cepat.
[Aluna.]
Jantung Nadira berdetak satu kali lebih keras beberapa detik, lalu stabil.
[Ada apa?]
Beberapa menit berlalu sebelum balasan datang.
[Aku lihat namamu di jurnal riset. Selamat.]
Nadira menatap layar lama.
[Terima kasih.]
[Aku di kota kamu.]
Kalimat itu menggantung.
[Aku nggak mau bikin masalah], lanjut Aluna. [Aku cuma mau bicara. Sekali.]
Nadira menutup mata.
[Aku sedang sibuk], balasnya jujur. [Dan aku tidak mencari penjelasan apa pun.]
Balasan Aluna lebih lama.
[Aku juga tidak. Aku cuma mau jujur... untuk pertama kalinya.]
Nadira mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.
[Besok. Tempat umum. Satu jam.]
***
Mereka bertemu di kafe kecil dekat stasiun. Aluna datang lebih dulu. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada aura dominan seperti dulu.
"Kamu kelihatan... lebih tenang." Kata Aluna.
Nadira duduk. "Kamu kelihatan lebih lelah."
Aluna tersenyum miris. "Keadilan semesta, ya?"
Mereka memesan minum.
"Aku nggak akan minta maaf." Kata Aluna tiba-tiba. "Karena itu sudah basi."
Nadira mengangguk. "Aku tidak datang untuk itu."
"Aku mau bilang satu hal." Lanjut Aluna. "Raka menolak kesempatan besar demi jujur."
Nadira menatapnya datar. "Kenapa kamu bilang itu ke aku?"
"Karena dulu aku merusaknya. Dan sekarang... aku nggak mau jadi orang yang sama."
Nadira terdiam.
"Aku nggak minta kamu kembali." Kata Aluna cepat. "Aku cuma ingin kamu tahu... dia berubah."
Nadira menghela napas.
"Aku nggak kembali."
Aluna menunduk. "Aku tahu."
***
Malam itu, Nadira berjalan pulang sendirian. Kepalanya penuh, tapi tidak kacau.
Dia mengirim pesan singkat ke Raka.
[Aku dengar kamu memilih jujur.]
Balasan datang beberapa menit kemudian.
[Iya...]
[Aku bangga.]
Balasan Raka lama.
[Terima kasih. Semoga kamu juga tidak menyerah.]
Nadira tersenyum kecil.
[Tentu aku tidak akan menyerah.]
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠