NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 - Harga yang Tidak Tertulis

"Jadi ini proposal kamu?" Suara itu terdengar datar, nyaris malas.

Nadira berdiri di depan meja rapat kecil, memegang map biru. Di seberang meja, tiga orang duduk berjajar. Salah satunya Dr. Ratna, koordinator proyek yang sejak awal dikenal tajam dan tidak ramah basa-basi.

"Iya, Bu." Jawab Nadira tenang. "Pendekatan kualitatif dengan fokus longitudinal."

Dr. Ratna membuka halaman terakhir, mengernyit. "Kamu sadar ini bukan proyek pribadi?"

Nadira mengangguk. "Saya sadar."

"Lalu kenapa kamu menghindari metode cepat yang sudah disarankan tim?"

Sejenak ruangan hening.

Nadira menarik napas. "Karena data cepat sering mengorbankan konteks. Dan konteks di riset ini bukan pelengkap... itu inti."

Salah satu peneliti lain, Pak Hendra, menyelipkan suara. "Pendekatan kamu idealis. Tapi kita dikejar sponsor."

Nadira menatap mereka satu per satu. "Saya tidak menolak efisiensi. Saya menolak distorsi."

Dr. Ratna menyandarkan punggung. "Kamu berani sekali untuk orang baru."

Nadira tersenyum tipis. "Saya berhati-hati, Bu. Bukan berani."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Dr. Ratna menutup map.

"Kita bahas ini lagi minggu depan. Untuk sekarang, kamu ikut pendekatan mayoritas."

Nadira menunduk sopan. "Baik."

Dia keluar ruangan dengan langkah stabil.

Begitu pintu tertutup, Rendi yang menunggu di luar langsung mendekat. "Gila, kamu barusan debat sama Dr. Ratna."

Nadira menghela napas. "Aku cuma menjelaskan."

"Dia nggak suka dijelaskan."

"Aku tahu."

"Kenapa tetap kamu lakukan?"

Nadira terdiam sejenak, lalu berkata pelan. "Karena kalau aku diam, aku bukan siapa-siapa di sini."

***

Di kota lama, Raka berdiri di depan papan pengumuman kedai.

Nama-nama pegawai tertera. Jadwal... Jam lembur...

"Rak." Panggil suara dari belakang.

Dia menoleh. Pak Surya, manajer kedai.

"Ada apa, Pak?"

"Kamu punya waktu sebentar?"

Raka mengangguk.

Mereka masuk ke ruang kecil belakang. Pak Surya duduk, menyilangkan tangan.

"Kamu tahu kan kedai ini mau ikut tender suplai ke acara kampus besar?"

"Iya."

"Kami butuh laporan keuangan rapi. Bersih."

Raka mengangguk. "Saya bisa bantu rekap."

Pak Surya tersenyum tipis. "Bukan cuma rekap."

Raka mengernyit. "Maksudnya?"

"Ada beberapa transaksi yang... perlu dirapikan ulang."

Raka menatapnya. "Dirapikan bagaimana?"

'Anggap saja... disesuaikan."

Ruangan terasa lebih sempit.

"Pak." Kata Raka pelan, "itu berarti mengubah data."

Pak Surya menghela napas. "Semua tempat melakukan ini. Kamu mau naik posisi atau tidak?"

Raka terdiam. Da teringat kalimat ayahnya... Kerja jujur lebih penting dari jabatan.

"Saya perlu waktu." Katanya akhirnya.

Pak Surya mengangguk. "Pikirkan baik-baik. Kesempatan nggak datang dua kali."

***

Nadira duduk di perpustakaan kampus malam itu. Laptop terbuka, tapi pikirannya melayang.

"Boleh duduk?"

Dia menoleh, ternyata temannya yang bernama Fajar datang.

"Oh. Silakan."

Fajar duduk, meletakkan bukunya. "Kamu kelihatan capek."

“Sedikit.”

"Kerjaannya berat?"

"Ujiannya yang berat." Jawab Nadira jujur.

Fajar tersenyum kecil. "Lingkungan baru memang suka menguji lebih dulu sebelum menerima."

"Kamu pernah?"

"Sering. Dan kadang... Tidak lolos."

Nadira menatapnya. "Kamu menyesal?"

Fajar menggeleng. "Tidak. Aku cuma belajar memilih medan."

Nadira mengangguk pelan.

"Mau kopi?" Tanya Fajar.

"Boleh."

Mereka berjalan ke mesin kopi otomatis.

"Kalau kamu kalah di ujian ini, apa yang kamu takutkan?" Tanya Fajar tiba-tiba.

Nadira berpikir sejenak. "Bukan kalahnya. Tapi berubah jadi versi diriku yang dulu."

Fajar tidak bertanya lebih jauh. Dan Nadira bersyukur.

***

Raka pulang ke rumah orang tuanya malam itu dengan langkah berat. Ibunya sedang menonton televisi.

"Kamu kelihatan pucat." Kata ibunya.

"Ada pilihan sulit."

Ibunya mematikan TV. "Ceritakan saja."

Raka duduk. "Kalau aku jujur, aku mungkin kehilangan kesempatan. Kalau aku ikut arus, aku dapat posisi tapi dengan cara salah."

Ibunya menatapnya lama. "Kamu mau jadi orang berhasil atau orang tenang?"

Raka tertawa kecil pahit. "Aku dulu pikir itu sama."

Ibunya menggenggam tangannya. "Sekarang kamu tahu bedanya."

***

Pagi berikutnya, Nadira menerima email singkat. Dr. Ratna ingin bertemu. Jam 10:00.

Nadira datang tepat waktu.

Dr. Ratna berdiri di dekat jendela. "Kamu tahu kenapa saya panggil?"

"Belum, Bu."

"Sponsor minta hasil cepat. Tim setuju. Kecuali kamu."

Nadira mengangguk.

"Saya mau kamu tanda tangan persetujuan metode."

Nadira menatap kertas di meja. "Kalau saya tidak mau tanda tangan apa resikonya?"

Dr. Ratna menoleh. "Kamu bisa dianggap tidak kooperatif."

Nadira menarik napas dalam.

"Bu." Katanya tenang, "Saya bersedia bekerja lebih keras. Tapi saya tidak akan menandatangani sesuatu yang saya tahu salah."

Hening.

Dr. Ratna menatapnya tajam. "Kamu siap dengan konsekuensinya?"

"Iya."

Beberapa detik berlalu.

Dr. Ratna tersenyum kecil tidak hangat, tapi jujur.

"Kita lihat sejauh mana kamu bertahan."

***

Di kedai, Raka berdiri di depan Pak Surya. "Saya tidak bisa, Pak."

Pak Surya menghela napas panjang. "Kamu sadar akibatnya?"

"Iya."

"Kamu mungkin tidak naik posisi."

"Tidak apa-apa."

Pak Surya menatapnya lama, lalu berkata. "Baik... Tapi jangan harap diperlakukan istimewa."

Raka mengangguk. "Saya tidak minta."

Saat dia keluar ruangan, dadanya terasa ringan dan berat sekaligus.

***

Sore itu, Nadira menerima pesan dari nomor tak dikenal.

[Kamu di kota mana sekarang?]

Nadira mengernyit.

[Siapa ini?]

Balasan datang cepat.

[Aluna.]

Jantung Nadira berdetak satu kali lebih keras beberapa detik, lalu stabil.

[Ada apa?]

Beberapa menit berlalu sebelum balasan datang.

[Aku lihat namamu di jurnal riset. Selamat.]

Nadira menatap layar lama.

[Terima kasih.]

[Aku di kota kamu.]

Kalimat itu menggantung.

[Aku nggak mau bikin masalah], lanjut Aluna. [Aku cuma mau bicara. Sekali.]

Nadira menutup mata.

[Aku sedang sibuk], balasnya jujur. [Dan aku tidak mencari penjelasan apa pun.]

Balasan Aluna lebih lama.

[Aku juga tidak. Aku cuma mau jujur... untuk pertama kalinya.]

Nadira mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.

[Besok. Tempat umum. Satu jam.]

***

Mereka bertemu di kafe kecil dekat stasiun. Aluna datang lebih dulu. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada aura dominan seperti dulu.

"Kamu kelihatan... lebih tenang." Kata Aluna.

Nadira duduk. "Kamu kelihatan lebih lelah."

Aluna tersenyum miris. "Keadilan semesta, ya?"

Mereka memesan minum.

"Aku nggak akan minta maaf." Kata Aluna tiba-tiba. "Karena itu sudah basi."

Nadira mengangguk. "Aku tidak datang untuk itu."

"Aku mau bilang satu hal." Lanjut Aluna. "Raka menolak kesempatan besar demi jujur."

Nadira menatapnya datar. "Kenapa kamu bilang itu ke aku?"

"Karena dulu aku merusaknya. Dan sekarang... aku nggak mau jadi orang yang sama."

Nadira terdiam.

"Aku nggak minta kamu kembali." Kata Aluna cepat. "Aku cuma ingin kamu tahu... dia berubah."

Nadira menghela napas.

"Aku nggak kembali."

Aluna menunduk. "Aku tahu."

***

Malam itu, Nadira berjalan pulang sendirian. Kepalanya penuh, tapi tidak kacau.

Dia mengirim pesan singkat ke Raka.

[Aku dengar kamu memilih jujur.]

Balasan datang beberapa menit kemudian.

[Iya...]

[Aku bangga.]

Balasan Raka lama.

[Terima kasih. Semoga kamu juga tidak menyerah.]

Nadira tersenyum kecil.

[Tentu aku tidak akan menyerah.]

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!