NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Cahaya yang Mulai Memudar

BAB 26: Cahaya yang Mulai Memudar

Langit malam di perbukitan itu terasa sangat luas, namun bagi Rangga, dunia seolah-olah baru saja menyempit dan menghimpit dadanya. Setelah mendengar vonis Dokter Bram tentang saraf optik Arini, Rangga merasa setiap helai napasnya adalah duri. Ia berdiri di balkon, membiarkan angin dingin menusuk kulitnya, mencoba mencari jawaban di antara kerlip bintang yang mulai terlihat di balik kabut.

Kenapa harus sekarang? Pertanyaan itu berulang-ulang menghantam benaknya. Arini baru saja menemukan ibunya. Arini baru saja mulai belajar berjalan. Kenapa takdir seolah ingin merampas penglihatannya tepat di saat dunia mulai terlihat indah baginya?

Rangga mengusap wajahnya yang kasar. Ia harus menjadi aktor yang hebat mulai malam ini. Ia tidak boleh membiarkan Arini atau Ibu Sarahwati mencium aroma kesedihan dari raut wajahnya. Ia harus menjadi matahari bagi Arini, bahkan jika ia sendiri merasa seperti sedang tenggelam dalam samudera kelam.

Rangga melangkah masuk ke kamar. Ia melihat Arini sedang mencoba membaca sebuah buku cerita lama yang ditemukan Ibu Sarahwati di gudang villa. Arini mendekatkan buku itu ke wajahnya, sesekali menyipitkan mata, lalu menggosok matanya dengan tangan yang masih kurus.

"Kenapa, Rin? Tulisannya terlalu kecil?" tanya Rangga, mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar santai dan riang.

Arini mendongak, tersenyum kecil namun ada keraguan di sana. "Mungkin aku hanya kelelahan, Ga. Tulisannya terlihat sedikit berbayang. Padahal lampunya sudah terang, kan?"

Jantung Rangga serasa diremas. Ia berjalan mendekat, mengambil buku itu dari tangan Arini, lalu duduk di tepi ranjang. "Lampu di villa ini memang sedikit kuning, Sayang. Jangan dipaksakan. Sini, biar aku saja yang membacakannya untukmu."

Rangga mulai membacakan baris demi baris cerita itu dengan intonasi yang lembut. Arini menyandarkan kepalanya di bahu Rangga, memejamkan mata dan mendengarkan suara suaminya. Bagi Arini, suara Rangga adalah tempat paling aman di dunia. Namun bagi Rangga, setiap kata yang ia ucapkan adalah pengingat bahwa suatu saat nanti, hanya suaranyalah yang akan bisa dijangkau oleh Arini.

Keesokan harinya, Rangga harus pergi ke Jakarta untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Ibu Sarah di kantor kejaksaan. Ia mencium kening Arini lama sekali, seolah-olah ingin mentransfer seluruh kekuatannya ke dalam tubuh istrinya.

"Hanya sebentar, Rin. Aku akan kembali sebelum matahari terbenam. Ingat, jangan terlalu banyak membaca hari ini, biarkan matamu istirahat," pesan Rangga dengan nada yang sedikit protektif.

"Iya, Tuan Besar," canda Arini. "Hati-hati di jalan. Sampaikan salamku untuk... untuk Ibu Sarah, jika dia masih mau mendengarnya."

Rangga hanya tersenyum getir tanpa menjawab. Ia segera masuk ke dalam mobil di mana Maya sudah menunggunya dengan wajah tegang. Perjalanan menuju Jakarta terasa seperti perjalanan menuju medan perang yang sesungguhnya.

Kantor kejaksaan di Jakarta tampak megah dan dingin. Rangga melangkah masuk, disambut oleh petugas keamanan dan tim hukumnya. Di sebuah ruang interogasi khusus yang dibatasi kaca tebal, Ibu Sarah duduk dengan tangan yang tidak lagi memakai perhiasan mewah. Ia mengenakan rompi tahanan, namun matanya masih memancarkan kesombongan yang sama.

Rangga duduk di hadapannya. Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka selama beberapa detik.

"Kamu terlihat kurus, Rangga," ujar Sarah, suaranya terdengar serak. "Mengurus wanita itu ternyata lebih melelahkan daripada mengurus perusahaan triliunan rupiah, bukan?"

"Namanya Arini, Ma. Dan dia adalah istriku," sahut Rangga dingin. "Aku ke sini bukan untuk mendengar komentar Mama tentang fisikku. Aku ke sini karena Mama bilang ada sesuatu yang penting."

Sarah tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat menyeramkan di ruangan itu. "Aku tahu segalanya, Rangga. Meskipun aku di penjara, telingaku ada di mana-mana. Aku tahu soal pendarahan otaknya. Aku tahu soal operasi dekompresi itu. Dan aku tahu... dia akan segera buta, kan?"

Rangga mengepalkan tinjunya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. "Jangan pernah sebut namanya dengan mulut Mama yang kotor."

"Oh, jadi benar?" Sarah menyandarkan punggungnya, tampak sangat puas. "Lihatlah dirimu, Rangga. Kamu menghancurkan ibumu, kamu menghancurkan namamu, hanya untuk mendapatkan istri yang tidak berguna. Sekarang dia bukan hanya berpenyakit, tapi dia juga akan buta. Dia akan menjadi beban seumur hidupmu! Kamu akan menjadi perawat pribadinya selamanya, sementara aku mendekam di sini karena perbuatanmu!"

"Dia bukan beban!" bentak Rangga, suaranya menggelegar di ruangan sempit itu. "Bahkan jika dia kehilangan seluruh indranya, dia tetap lebih berharga daripada semua harta yang Mama tumpuk dari hasil menipu orang lain! Arini memiliki hati, sesuatu yang tidak pernah Mama miliki sejak aku lahir!"

Sarah menatap putranya dengan kebencian yang mendalam. "Kamu akan menyesal, Rangga. Saat kamu harus menyuapinya setiap hari, saat kamu harus menuntunnya ke kamar mandi, saat dia tidak bisa lagi melihat wajahmu yang bodoh itu... saat itulah kamu akan menyadari bahwa aku benar. Dia hanyalah parasit yang akan membunuhmu secara perlahan."

"Mama salah," bisik Rangga, kini suaranya terdengar sangat yakin. "Justru dialah yang menghidupkanku. Dan untuk membuktikan bahwa aku tidak pernah menyesal, aku akan memberikan satu informasi untuk Mama. Aku sudah menemukan Ibu Sarahwati. Dia sudah bersama Arini sekarang. Mereka sedang membasuh luka yang Mama buat selama sepuluh tahun ini."

Wajah Sarah mendadak pucat pasi. Kesombongannya runtuh seketika. "Kamu... kamu benar-benar menemukannya?"

"Iya. Dan dia jauh lebih bahagia hidup dalam kemiskinan bersamaku daripada hidup dalam kekayaan bersama Mama yang palsu. Selamat menikmati sisa hari-harimu di sini, Ma. Anggap saja ini sebagai tempat peristirahatan dari semua ambisi Mama yang berdarah."

Rangga berdiri dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Ia mengabaikan teriakan histeris ibunya yang mulai memaki-maki di balik kaca. Bagi Rangga, Ibu Sarah sudah benar-benar mati. Hubungan darah mereka telah terputus oleh tembok moralitas yang tidak akan pernah bisa diseberangi lagi.

Di perjalanan pulang, Rangga meminta Maya untuk berhenti di sebuah toko perlengkapan tunanetra dan sebuah toko bunga. Ia membeli sebuah perangkat audio yang bisa membacakan teks buku secara otomatis, serta beberapa alat sensor gerak untuk dipasang di rumah. Ia juga membeli ratusan bunga sedap malam.

"Kenapa bunganya sebanyak ini, Pak?" tanya Maya heran.

"Karena suatu saat nanti, dia mungkin tidak bisa melihat warna bunga ini lagi, Maya. Tapi aku ingin dia selalu bisa mencium wanginya. Aku ingin dia tahu bahwa dunianya akan tetap harum meskipun cahayanya meredup," jawab Rangga dengan mata yang berkaca-kaca.

Maya terdiam, ia merasa sangat terharu dengan transformasi bosnya yang dulu begitu egois. Cinta memang telah mengubah Rangga menjadi pria yang luar biasa.

Malam itu di villa, Arini sedang duduk di teras dengan Ibu Sarahwati. Rangga datang dan segera menghampiri mereka. Ia melihat Arini tampak sedikit bingung, tangannya meraba-raba meja untuk mencari gelas minumnya.

"Gelasnya ada di sebelah kiri sedikit, Rin," ujar Rangga lembut sambil menaruh tangannya di atas tangan Arini, menuntunnya ke gelas tersebut.

Arini menoleh ke arah Rangga, namun ada sesuatu yang aneh. Tatapannya tidak langsung tertuju ke mata Rangga, melainkan sedikit bergeser ke arah bahu Rangga.

"Ga... sepertinya kabut malam ini sangat tebal ya?" tanya Arini dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku... aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas. Hanya seperti bayangan hitam yang dikelilingi cahaya putih."

Rangga menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Ia menatap ke langit. Tidak ada kabut. Malam itu sangat cerah, bulan purnama bersinar dengan sangat terang. Namun bagi Arini, kegelapan sudah mulai merayap masuk.

Rangga berlutut di depan Arini, memegang kedua pipinya. "Nggak apa-apa, Rin. Nggak apa-apa. Mungkin efek obat dari Dokter Bram memang begitu. Sini, sandarkan kepalamu padaku."

"Ga... aku takut," bisik Arini. Air matanya mulai jatuh. "Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa melihatmu lagi? Bagaimana kalau duniaku menjadi gelap selamanya? Aku belum puas melihat wajahmu... aku belum puas melihat Ibu..."

Ibu Sarahwati yang mendengar itu langsung memeluk putrinya dari samping, mereka berdua menangis sesenggukan. Rangga mendekap mereka berdua, mencoba menjadi pilar yang tidak boleh goyah.

"Dengarkan aku, Arini Adiguna," ujar Rangga dengan suara yang sangat mantap. "Bahkan jika seluruh dunia menjadi gelap, aku akan menjadi matamu. Aku akan menceritakan padamu betapa birunya laut hari ini. Aku akan mendeskripsikan padamu betapa indahnya warna bunga kamboja di depan sana. Aku akan menuntun setiap langkahmu. Kamu tidak akan pernah tersesat, karena hatiku akan selalu menjadi cahaya untukmu."

Arini memeluk Rangga sangat erat. Di tengah ketakutan yang luar biasa, ia merasakan ketenangan yang aneh. Ia menyadari bahwa meskipun ia akan kehilangan satu indranya, ia telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah cinta yang tidak membutuhkan mata untuk melihat keberadaannya.

Malam itu, Rangga memasang ratusan bunga sedap malam di seluruh sudut kamar Arini. Bau harum yang sangat kuat memenuhi ruangan itu.

"Rangga... harum sekali," bisik Arini saat ia mulai merebahkan diri untuk tidur.

"Iya, Rin. Itu adalah bau cintaku padamu. Dia tidak butuh cahaya untuk dirasakan," jawab Rangga sambil mencium mata Arini yang mulai memejam.

Di luar, bulan purnama masih bersinar terang, namun di dalam villa itu, perjuangan baru dalam kegelapan telah dimulai. Rangga tahu, hari-hari ke depan akan jauh lebih sulit, tapi ia siap. Selama jantung Arini masih berdetak, ia akan terus menjadi perisai bagi istrinya.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!