Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03 : Suntik hormon
“Ndak ada tapi-tapian, Inur! Kamu pahamkan kalau siklus datang bulanmu ini sangat mempengaruhi suasana hati, pola pikiran, jadi sering berhalusinasi. Seolah-olah tengah mengandung, padahal aslinya tidak. Sudah dijelaskan oleh dokter magang di puskesmas, kamu hamil palsu – buah dari pikiranmu sendiri yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak,” Yanti menyadarkan sang adik dengan kata-kata halus namun menusuk.
Pelupuk mata Ainur seperti bola kristal, lalu buliran bening itu meluncur. Mulutnya terkatup rapat, enggan menyanggah maupun setuju oleh diagnosis sang kakak.
Dayanti menggenggam tangan kurus adiknya sampai urat punggung tangannya menonjol. “Mbak sayang sama kamu. Ibu, bapak, dan keluarga Daryo juga menyayangimu, Inur. Tolong jangan egois, pikirkan kami juga. Kami khawatir melihat fisikmu semakin kurus.”
“Maaf, mbak.” Inur memeluk erat kakaknya, menumpahkan tangis pilu.
Selalu seperti ini saat dia mengeluh kehilangan calon jabang bayi yang tinggal hitungan hari melewati trimester pertama, menurut perhitungan pribadinya dihitung dari hari terakhir menstruasi.
Keluarganya akan datang memberikan perhatian, menyemangati, ikut berempati, tapi dibalik perlakuan manis terdapat perintah tak kasat mata – dia dipaksa legowo, menerima diagnosa ahli medis. Jika sebenarnya tidak hamil.
Dayanti melerai pelukan mereka, membingkai wajah sedikit pucat sang adik. “Kamu kuat, ayo kembali seperti Ainur yang dulu … penuh semangat, ceria, memiliki mimpi besar ingin menjadi pengrajin rajut tas sukses.”
Senyum alakadarnya tak sampai pada mata. Mimpi indah itu sudah dikubur semenjak menikah dengan pemuda yang dijodohkan sang bapak.
Yanti menyuntikkan obat hormon pada bokong Ainur, dia juga memberikan pil memicu datang bulan yang wajib diminum secara rutin.
Setelahnya Ainur turun dari ranjang, kembali mengikuti langkah sang kakak. Kebiasaannya sedari kecil, kemana Dayanti melangkah, dia berdiri tepat dua atau tiga langkah dibelakangnya.
***
Kunjungan itu terbilang singkat, bu Warti berpamitan kepada sang besan, begitu juga Dayanti.
Ainur, bu Mamik menghantarkan tamu mereka sampai teras. Menunggu hingga delman yang dikendalikan oleh kusir, salah satu pekerja di rumah keluarga Sugianto, ayahnya Ainur, keluar dari pagar besi tempahan berukir daun wayang kulit.
Ainur bukan dari kalangan keluarga sederhana. Keluarganya sama-sama kaya, terpandang seperti keluarga sang mertua.
Di wilayah kecamatan Tugu Ireng, nama desa pun sama. Ada tiga keluarga terhormat yakni, Tukiran – keluarga mertua Ainur. Lalu Sugianto, keluarga kandung Ainur. Terakhir Jayadi, saudaranya bu Mamik.
Ketiga keluarga tersebut disegani, merekalah penggerak perekonomian wilayah kecamatan yang luasnya seperti daerah kabupaten. Rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani, buruh tanam padi, petik sayur mayur, dan lain sebagainya.
“Ayo masuk, nduk. Ibu temani sarapan, mau?” Ia rangkul bahu ringkih sang menantu.
“Terima kasih, bu. Biar aku sarapan sendiri saja. Bukannya kemarin ibu bilang kalau hari ini mau pergi ke rumahnya pakde Jayadi?” Inur mengingatkan perihal perkataan ibu mertuanya kemarin hari.
“Oalah, iyo. Ibu nganti lali (sampai lupa). Terlalu mencemaskan keadaanmu sampai kehilangan fokus, daya ingat melemah,” selorohnya dengan senyum tipis.
Ainur kembali merasa bersalah, dikarenakan telah membuat semua orang khawatir. “Maaf nggeh, bu.”
Bu Mamik menggeleng anggun. Menepuk-nepuk punggung sang menantu. “Jangan sungkan seperti itu, Inur. Kamu pelengkap di keluarga Tukiran, kehadiranmu berkah buat kita semua.”
“Aku juga sangat bersyukur bisa masuk kedalam keluarga hangat ini. Diterima baik, disayangi layaknya anak sendiri. Terima kasih, bu.” Ainur memeluk lengan sang ibu mertua. Mereka sama-sama melangkah kebagian dalam hunian mewah, luas, furniture hampir semua terbuat dari kayu, dengan warna asli, di plitur agar terlihat mengkilap.
***
Pada meja makan besar cukup menampung dua belas orang – terhidang menu mewah bagi keluarga sederhana. Namun biasa saja teruntuk berekonomi menengah ke atas.
Ainur tengah menikmati botok tempe campur potongan daging ayam. Ada juga pepes ikan air tawar, dan tumis bayam.
Ibu tolong! Tolong ibu!
Kalimat itu terus berputar-putar seperti suara dengungan serangga penghisap darah.
‘Aku sudah berusaha melupakannya, tapi tetap saja tak mampu mengusir suara rintihan kesakitan itu.’ Piring masih tersisa nasi separuh berikut lauknya, dia dorong jauh. Ainur kehilangan nafsu makan.
Ekor mata Ainur menangkap siluet tubuh menyelinap di samping lemari berbatasan dengan ruang makan. Cepat-cepat dia mencuci tangan di air dalam mangkuk yang sudah disediakan.
Ainur melepaskan sandal jepitnya, agar langkahnya tidak menimbulkan suara. Dia bergegas mengikuti kemana arah sosok tadi.
Dari dalam rumah hingga keluar dan berhenti di halaman hunian kakak iparnya yang masih satu pagar tembok tinggi, Ainur gamang mau masuk. Takut dikira lancang, apalagi mbak Citra sedang bertugas di puskesmas.
Pintu depan yang terbuka separuh, dibuka lebar oleh pria berbaju kaos pas badan, celana longgar, rambutnya seperti orang baru bangun tidur. “Ada apa, Inur? Mau masuk, ayo silahkan!”
Sejenak Inur menahan napas. Dia sedikit takut dan tak nyaman bila berinteraksi dengan suaminya Citranti. “Maaf mas Wesa, tadi aku seperti melihat seseorang, tapi ternyata salah. Mungkin dikarenakan sedang banyak pikiran.”
“Oh ….” kalimatnya menggantung. Tatapan matanya tak sopan menelisik penampilan sederhana sesama ipar yang terlihat anggun sekaligus rapuh.
Ainur segera berpamitan, takut terkena fitnah dan juga merasa tak nyaman.
Saat sudah masuk lagi ke dalam hunian sang mertua. Ainur bingung mau ngapain. Dia merasa sendirian, suaminya tengah pergi memeriksa para pekerja. Ayah dan ibu mertuanya juga ada kesibukan diluar rumah.
“Mbak Neng!” panggilnya kala melihat sang pelayan berjalan ke halaman depan. Dia menyusul.
“Mau kemana, mbak?” Inur bertanya seraya memperhatikan penampilan mba Neng yang jauh lebih rapi.
“Ke perbatasan desa. Mau membeli beberapa tanaman bunga untuk mengganti yang mati.” Ia memperlihatkan tulisan pada kertas putih.
“Aku boleh ikut ndak?” sorot matanya memohon, ia tidak bernyali dirumah sendirian sementara ada Wesa. Perasaan takut selalu mendera bila berdekatan dengan pria yang berprofesi sebagai staf kelurahan.
Mba Neng mengangguk. Meminta sang kusir menunggu sedikit lebih lama lagi.
Alat transportasi di desa masih mengandalkan delman yang ditarik oleh tenaga Kuda. Pada hunian orang kaya, mereka memiliki kendaraan pribadi itu berikut kusirnya. Adapun mobil, biasanya digunakan untuk perjalanan jauh.
Sementara bagi rakyat kecil, lebih mengandalkan berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya. Banyak juga tidak mengenakan sandal, mereka sudah terbiasa.
Untuk penerangan di kecamatan Tugu Ireng, masih menggunakan lampu minyak, petromak, bila ada hajatan maka memakai generator listrik atau mesin pembangkit listrik.
***
Ainur sudah duduk di atas busa kabin/kereta delman. Berhadapan dengan mba Neng yang duduk diseberangnya. Sepanjang perjalanan, mata Ainur menatap hamparan sawah, membalas sapaan warga seraya menunduk singkat sebagai tanda kesopanan.
Roda besar itu menggelinding di jalanan belum diaspal, kadang bertanah berdebu, lalu melewati bebatuan. Bunyi suara pak kusir mengendalikan Kuda, sesekali menghentakan pecut tidak membuat Ainur mengalihkan perhatian dari pematang sawah.
Saat akan menuruni bukit rendah, Ainur melihat bagian sisinya yang terdapat sebuah tebing ditanami pepohonan rimbun.
Matanya menyipit, tiba-tiba dia meminta sang kusir menarik tali kekang Kuda agar berhenti berjalan.
Ainur bergeser sampai ke tepian, deru napasnya meningkat. Di pertengahan tebing ada sesuatu menarik matanya – sebuah jendela kayu, bukan itu yang membuat jantungnya bertalu-talu, akan tetapi ….
.
.
Bersambung.
...----------------...
Hai ... hai 🥰
Mungkin karya satu ini sedikit berbeda dari Sawitri, Laila Ngatemi, dan Padmini, yang tingkat kesadisannya ngeri-ngeri sedap. Jadi bisa dinikmati bagi memiliki tingkat ketakutan tinggi.
Kali ini aku mau mencoba alur diam-diam menghanyutkan, menenggelamkan ... eh, gak tau juga perumpamaan yang tepatnya. Tinggal kakak yang mendeskripsikan saja.
Sesuai sama logatnya yang sedikit halus.
Selamat membaca, menerka, dan dipersilahkan, diperbolehkan berkomentar sebanyak-banyaknya. Terima kasih 🫂🥰❤️
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??