“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: JEJAK MULTI ELEMEN
Rimba membuka matanya perlahan. Dunia di sekitarnya seolah-olah baru saja dibersihkan dengan air hujan paling bening. Warnanya lebih tajam, detailnya lebih jernih. Namun, yang paling menakjubkan adalah apa yang ia rasakan di bawah kulitnya. Ia bisa merasakan sesuatu yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya—sebuah gejolak energi hangat yang kini ia kenal sebagai Qi.
Tubuhnya yang tadinya remuk dan penuh luka, kini terasa seringan kapas. Rasa lelahnya menguap, digantikan oleh cadangan tenaga yang seolah-olah meluap-luap, menanti untuk dilepaskan.
"Jangan hanya terpaku pada kekuatan fisikmu yang baru, Anak Muda," suara berat si orang tua membuyarkan lamunan Rimba. "Duduklah bersila. Bermeditasi lah untuk beberapa saat."
Rimba menatap orang tua itu, lalu mengangguk patuh.
"Selaraskan pondasi pusat Dantianmu dengan tenagamu saat ini," lanjut si orang tua dengan nada instruksi yang tegas namun tenang. "Biarkan tubuhmu terbiasa dengan perubahan ini. Jika kau tidak menyelaraskannya, energimu akan menjadi liar dan malah akan merusak organ dalammu."
Mendengar risiko itu, Rimba segera memposisikan dirinya. Ia duduk bersila di atas lantai kayu kamarnya yang mulai lapuk, tepat di hadapan sosok berbaju putih itu. Ia memejamkan mata, mencoba mengikuti aliran hangat yang berputar di perut bawahnya—titik yang disebut sebagai Dantian.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang dalam. Di luar, hujan masih mengguyur, namun bagi Rimba, waktu seolah berhenti. Ia fokus memandu energi Qi yang liar untuk masuk ke dalam wadah Dantiannya, menjadikannya sebuah telaga energi yang tenang namun dalam. Peluh membasahi keningnya, membawa sisa-sisa uap keruh dari dalam tubuhnya yang keluar melalui pori-pori dan napasnya.
Huuuh…
Rimba menghembuskan napas panjang, mengeluarkan udara kelabu dari mulutnya. Saat ia membuka mata, pandangannya terasa begitu tajam bahkan dalam kegelapan. Ia secara refleks mengepalkan kedua tangannya. Sensasi kekuatannya sungguh nyata.
Dalam hatinya, Rimba berbisik, "Kalau saja aku memiliki kekuatan ini kemarin... ketiga preman itu pasti sudah aku buat mencium tanah dalam satu pukulan." Sebuah senyum kecil, tipis namun penuh percaya diri, terukir di sudut bibirnya.
"Bagaimana rasanya, Anak Muda?" tanya si orang tua, mengamati perubahan aura Rimba.
Rimba terkekeh pelan, tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Luar biasa, Pak Tua. Saya merasa... seperti terlahir kembali."
"Bagus. Tapi itu baru dasarnya," si orang tua merogoh sesuatu dari balik lengan jubahnya. Sebuah benda tergantung di tangannya. "Sekarang, pakailah kalung ini."
Rimba menerima benda itu. Itu adalah sebuah kalung dengan bandul giok berwarna hijau lumut yang sangat indah. Permukaannya halus, dingin saat disentuh, namun memancarkan kehangatan yang aneh saat didekatkan ke dada. Rimba segera melingkarkannya di lehernya.
"Untuk apa kalung ini, Pak?"
"Itu adalah Dimensi Independenmu," jawab si orang tua. "Di sana, kamu akan berkultivasi agar kekuatanmu meningkat dengan lebih cepat. Di sana pulalah kamu akan memahami ribuan ilmu yang telah tertanam di kepalamu. Dan lebih dari itu, dimensi itu adalah gudang luas tanpa batas tempat kau bisa menyimpan apa pun milikmu dengan aman."
Rimba melongo. Sebagai pemuda yang bercita-cita masuk jurusan IT, konsep "Dimensi Independen" dan "Gudang Tanpa Batas" terdengar seperti fitur dalam gim komputer atau sistem penyimpanan data tercanggih di dunia.
"Dunia independen? Gudang? Jadi saya bisa menyimpan motor atau mobil di dalam sini?" tanya Rimba polos.
Si orang tua hanya tersenyum simpul. "Bahkan lebih dari itu. Tapi, untuk memasukinya, kau harus menjadi pemilik sahnya terlebih dahulu."
"Bagaimana caranya?"
"Teteskan darahmu di permukaan bandul giok itu."
Rimba tidak membuang waktu. Ia berdiri, melangkah ke meja belajar kayunya yang penuh coretan, dan mengambil sebilah jarum jahit dari dalam laci. Ia kembali duduk di hadapan si orang tua, menarik napas panjang, lalu menusuk ujung jari telunjuknya.
Setetes darah merah segar merembes keluar. Dengan penuh ketelitian, Rimba meneteskan darah itu tepat di atas permukaan giok yang licin.
Keajaiban terjadi. Darah itu tidak mengalir jatuh, melainkan langsung terserap seolah giok itu adalah spons yang haus. Begitu darah itu hilang ditelan batu hijau tersebut, giok itu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan untuk beberapa detik sebelum kembali redup dan nampak seperti giok biasa.
Rimba menatap si orang tua dengan mata bertanya-tanya. "Apakah sudah berhasil?"
"Ikrar kepemilikanmu telah berhasil," si orang tua mengangguk. "Sekarang kamu adalah penguasa dimensi itu. Jika kamu ingin masuk, cukup genggam giok itu dan katakan dalam hatimu, 'Masuk'. Begitu juga jika kamu ingin keluar."
Rimba menatap giok itu dengan rasa penasaran yang memuncak. "Boleh saya mencobanya sekarang?"
"Silakan."
Rimba memejamkan mata, tangan kanannya menggenggam erat bandul giok yang menggantung di dadanya. Dalam hati, ia berteriak dengan penuh niat: “Masuk!”
Zing!
Dunia di sekitar Rimba mendadak lenyap. Rasa dingin kamarnya berganti dengan kesunyian yang mencekam. Saat ia membuka mata, ia berada di sebuah tempat yang gelap gulita. Sejauh mata memandang, hanya ada kekosongan hitam yang pekat. Namun, tepat di atasnya, terdapat sebuah cahaya yang menyorot turun seperti lampu sorot panggung raksasa.
Cahaya itu hanya menyinari satu titik: sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana. Gubuk itu terbuat dari kayu tua dengan atap rumbia, tampak sangat kontras dengan kemegahan energi yang Rimba rasakan sebelumnya.
Rimba mendekat ke arah gubuk itu, namun rasa asing dan takut tiba-tiba menyelimutinya. Ia belum siap menghadapi apa pun yang ada di dalam kegelapan itu. Dengan cepat, ia kembali menggenggam gioknya.
“Keluar!”
Dalam sekejap, ia kembali duduk bersila di kamar reotnya. Napasnya sedikit memburu. "Pak Tua, dunia itu... sangat gelap. Hanya ada sebuah gubuk kecil di sana. Apakah memang seperti itu?"
"Itu baru permukaan yang kamu lihat, Rimba. Kamu harus memahaminya secara bertahap. Gubuk itu bukan sekadar gubuk, dan kegelapan itu bukan sekadar kosong. Seiring bertambahnya kultivasimu, dunia itu akan ikut berkembang," jawab si orang tua.
Rimba mengangguk, meskipun masih banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya. Namun, ia menyadari sesuatu dari nada bicara si orang tua. Ada nada perpisahan di sana.
"Anak muda, tugasku kini sudah purna," ucap si orang tua dengan suara yang perlahan mengecil. "Sudah waktunya bagiku untuk pergi."
Rimba terkesiap. "Tunggu! Pak Tua!" Ia memotong pembicaraan itu dengan tergesa-gesa. "Sebelum Bapak pergi, tolong beri saya jawaban. Kenapa saya? Dari sekian banyak orang di bumi ini, kenapa sistem ini memilih saya? Untuk apa semua kekuatan ini diberikan kepada anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa seperti saya?"
Si orang tua menatap Rimba dengan kelembutan seorang kakek. "Bukan aku yang memilihmu, Rimba. Sistem itu sendiri yang menemukan wadahnya. Dan kau harus tahu, sistem memilihmu karena kau memiliki Tubuh Multi Elemen. Dalam satu juta tahun, belum tentu akan lahir satu manusia dengan pondasi tubuh selengkap ini. Kau adalah anomali yang indah di alam semesta ini."
Orang tua itu mulai berdiri, namun tubuhnya mulai terlihat transparan.
"Ingatlah satu hal, Rimba Dipa Johanson. Semakin besar kekuatan yang kamu miliki, semakin besar pula tanggung jawab yang akan kamu pikul. Jangan biarkan kekuatan ini menelan kemanusiaanmu."
"Tapi, Pak Tua—"
"Baiklah... aku pamit."
Sesaat kemudian, tubuh si orang tua mulai terurai. Ia tidak menghilang begitu saja, melainkan pecah menjadi butiran cahaya putih yang meliuk-liuk seperti debu yang disapu angin kencang. Cahaya itu berputar sekali di sekeliling Rimba sebelum akhirnya benar-benar lenyap ke udara.
Rimba tetap terdiam dalam posisi duduknya. Kamar itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara hujan yang kini mulai mereda di luar sana. Ia sendirian sekarang, namun segalanya telah berubah. Di lehernya melingkar sebuah dunia, dan di dalam nadinya mengalir kekuatan yang sanggup mengguncang takdir.
Rimba menatap langit-langit kamarnya, menyadari bahwa besok pagi, matahari akan terbit untuk menyambut sosok yang benar-benar berbeda.