Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tersihir kecantikan yang chi
Long Wei merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong, tepat di sebelah Yang Chi yang masih dalam keadaan terikat. Suasana kamar yang luas itu terasa sunyi, hanya terdengar deru napas mereka yang saling bersahutan.
Tanpa mempedulikan tatapan bingung Yang Chi, Long Wei mulai melepaskan jubah hijau tuanya yang berat, menyisakan pakaian dalam sutra hitam yang tipis. Ia memunggungi Yang Chi sejenak untuk memadamkan lentera di samping tempat tidur.
"Cepat tidur lah," perintah Long Wei singkat. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti saat di atap tadi, melainkan terdengar berat dan lelah.
Yang Chi mengerjap-ngerjapkan matanya di kegelapan. Tangannya yang terikat ke kepala ranjang membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Ia menoleh ke arah samping, menatap punggung tegap Long Wei yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
"Tuan... bagaimana saya bisa tidur kalau tangan saya ditarik ke atas begini? Pegal, Tuan," keluh Yang Chi dengan suara lirih. Keberaniannya mulai muncul lagi meskipun ia tahu nyawanya baru saja selamat dari lubang jarum.
Long Wei tidak menjawab, namun Yang Chi bisa merasakan kasur itu bergerak. Long Wei berbalik badan, menatap Yang Chi dalam remang cahaya bulan yang masuk dari celah jendela.
"Kau ingin aku melepaskannya agar kau bisa kabur lagi lewat atap?" tanya Long Wei sinis.
"Nggak akan, Tuan. Sumpah! Atapnya tinggi, saya takut jatuh lagi. Lagipula jubah Tuan sudah robek, saya nggak punya 'parasut' lagi," jawab Yang Chi jujur sambil meringis.
Long Wei mendengus. Ia menarik tangan Yang Chi, lalu dengan kunci yang ia simpan di balik bantal, ia melonggarkan ikatan rantai itu sehingga tangan Yang Chi bisa turun ke samping tubuhnya, namun tetap terikat pada satu borgol kecil yang terhubung dengan tangan Long Wei.
"Tidurlah. Jika aku merasakan tarikan sedikit saja pada tangan ini, aku akan mengikat lehermu," ancam Long Wei pelan, namun ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Yang Chi yang kedinginan karena jubahnya basah dan robek.
Yang Chi tertegun. Kaisar ini aneh banget, batinnya. Tadi mau bunuh, tadi marah-marah, sekarang malah ngasih selimut.
Karena kelelahan yang luar biasa setelah aksi kejar-kejaran di atap, mata Yang Chi mulai terasa berat. Di bawah selimut yang sama, ia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Long Wei.
"Selamat malam, Kaisar Galak," gumam Yang Chi sebelum akhirnya ia jatuh terlelap.
Long Wei tidak membalas ucapan itu. Ia hanya menatap wajah tidur Yang Chi dengan saksama. Di dalam kepalanya, ia bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa benar-benar membenci wanita ini, padahal wajah itu adalah wajah pembunuh istrinya.
Malam itu, cahaya rembulan masuk melalui celah jendela, menyinari wajah Yang Chi yang tengah terlelap. Long Wei yang terbangun dari tidurnya terdiam, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah wanita di sampingnya. Di bawah temaram lampu minyak, Xiao Xi Huwan tampak begitu berbeda—sangat cantik, jauh lebih lembut dari bayangan wanita kejam yang ia kenal sebelumnya.
Long Wei menatap wajah itu tanpa berkedip. Ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat, seolah-olah ia sedang menatap jiwa yang berbeda di dalam raga yang sama.
Tiba-tiba, Yang Chi terbangun. Ia mengerjapkan matanya yang masih terasa berat. Namun, jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia mendapati wajah Long Wei sudah berada tepat di atasnya, mengurungnya dengan kedua tangan di sisi kepalanya.
Yang Chi membeku. Dalam jarak sedekat itu, ia bisa melihat pantulan dirinya di mata kaisar tersebut. Yang Chi tersadar akan satu hal; meskipun ia berada di dunia novel, wajah wanita yang ia tempati ini sangat mirip dengan wajah aslinya di tahun ini Bedanya, di sini ia menggunakan riasan kuno yang membuatnya terlihat jauh lebih anggun dan menawan.
"Tuan... kenapa menatap saya seperti itu?" bisik Yang Chi, suaranya parau dan bergetar.
Long Wei tidak menjawab. Jemarinya yang kasar perlahan menyentuh pipi Yang Chi, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu. Tatapannya yang tadi dingin, kini berubah menjadi intens dan penuh tanda tanya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Long Wei dengan suara rendah yang menggetarkan dada. "Wajahmu adalah wajah Xiao Xi, tapi matamu... matamu bukan milik wanita pembunuh itu."
Yang Chi menelan ludah. Ia merasa seolah Long Wei bisa melihat menembus raga ini langsung ke jiwanya sebagai mahasiswa dari masa depan. "Saya... saya tetap saya, Baginda. Hanya saja, mungkin Tuan baru benar-benar melihat saya sekarang."
Long Wei semakin mendekatkan wajahnya, membuat napas mereka saling beradu. "Jika kau mencoba menyihirku dengan kecantikanmu ini agar aku tidak menghukummu, kau hampir berhasil."
Yang Chi bisa merasakan ketegangan yang aneh di antara mereka. Di kamar yang sunyi itu, identitas sebagai musuh dan tawanan seolah memudar, menyisakan dua orang yang terperangkap dalam takdir yang membingungkan.
Momen yang sangat intens itu tiba-tiba pecah ketika Long Wei tersadar dari lamunannya. Seolah baru saja tersengat listrik, ia segera menarik tangannya dari pipi Yang Chi dan menjauh dengan gerakan yang kaku dan gugup.
Long Wei langsung membalikkan badan, duduk di tepi ranjang sambil membelakangi Yang Chi. Ia berdeham berkali-kali, mencoba mengatur napasnya yang sempat tidak teratur.
"Tidurlah lagi! Jangan banyak bicara!" bentak Long Wei, meski suaranya terdengar sedikit gemetar, tidak sekeras biasanya.
Yang Chi yang masih syok hanya bisa melongo di tempatnya. Jantungnya masih berdegup kencang seperti baru saja lari maraton. Ia menyentuh pipinya yang tadi disentuh Long Wei, merasa wajahnya sangat panas.
Duh, kok dia yang gugup, aku yang baper? batin Yang Chi malu sendiri.
Ia memperhatikan punggung Long Wei yang tegang. Yang Chi tahu, sebagai penulis, bahwa Long Wei sebenarnya adalah pria yang sangat setia dan sulit membuka hati setelah kematian istrinya. Melihat Long Wei bersikap seperti tadi, Yang Chi sadar bahwa ia mulai berhasil mengguncang pertahanan sang Kaisar.
"Tuan... kalau mau menatap saya lagi, bilang saja ya. Saya tidak keberatan kok, asalkan jangan sambil mencekik," ceplos Yang Chi dengan nada bercanda, mencoba mencairkan suasana yang sangat canggung itu.
Long Wei mendengus kasar, tapi ia tidak menoleh. "Diam! Atau aku benar-benar akan mengikat mulutmu dengan kain!"
Yang Chi terkekeh pelan. Ia menarik selimutnya sampai ke dagu. "Iya, iya, galak banget sih. Selamat malam lagi, Kaisar yang sedang grogi."
Long Wei tidak menjawab, namun ia tetap duduk di tepi ranjang untuk waktu yang cukup lama, menatap kegelapan kamar sambil memegangi dadanya yang berdegup aneh. Ia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri karena telah memuji kecantikan wanita yang seharusnya ia benci.