"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: LUBANG TIKUS DAN FAKTA
Van hitam itu merayap masuk ke kawasan pelabuhan lama seperti seekor predator yang terluka, mencari tempat untuk menjilat lukanya. Di sini, lampu jalanan hanyalah tiang-tiang besi berkarat yang tak lagi berfungsi sejak krisis besar melanda distrik industri ini. Satu-satunya cahaya berasal dari pendar pucat bulan yang sesekali tertutup awan mendung, menyinari kerangka-kerangka crane raksasa yang tampak seperti fosil monster purba yang meratapi nasib kota yang telah mati.
Julian memutar kemudi menuju sebuah kompleks gudang kontainer yang terbengkalai. Ban mobil menggilas genangan air hujan yang bercampur oli, menciptakan bunyi kecipak yang ganjil di tengah kesunyian yang mencekam. Ia menghentikan mobil di depan sebuah pintu besi berat yang tertutup coretan grafiti—kode-kode geng lokal yang kini sudah punah. Tanpa sepatah kata, Julian turun, membuka gembok raksasa yang berat, dan memberi isyarat agar aku turun.
"Turun," perintahnya singkat.
Aku melangkah keluar dari van, merasakan tanah yang becek di bawah sepatu hak tinggiku. Bau udara di sini berbeda; baunya adalah campuran logam berkarat, kencing tikus, dan kelembapan yang menyengat. Julian menarik sebuah tuas tersembunyi di balik tumpukan palet kayu yang sudah lapuk, membuka sebuah pintu kecil menuju tangga beton yang menurun curam ke perut bumi.
"Ini adalah bunker tua peninggalan era perang dingin. Tidak ada sinyal ponsel, tidak ada pelacakan GPS," kata Julian sambil menyalakan senter LED. "Dinding beton ini tebalnya hampir satu meter. Ini satu-satunya tempat di mana Klub 0,1% tidak bisa mendengarmu."
Kami menuruni tangga yang licin hingga sampai di sebuah ruangan sempit yang diterangi oleh satu lampu neon yang berkedip-kedip tidak stabil. Di sana hanya ada sebuah meja kerja kayu, beberapa kursi plastik, dan sebuah monitor komputer tua yang terhubung dengan unit CPU modifikasi yang kipasnya berdengung nyaring.
"Selamat datang di istanaku, Valerie," Julian mencemooh sambil melempar jaket kulitnya ke kursi. "Sekarang, berikan flash drive itu. Jangan membuatku menggunakan kekerasan."
Aku tidak segera memberikannya. Aku berdiri di tengah ruangan, memindai sekeliling dengan ketenangan yang mulai mengganggu Julian. Rasa sakit sakau yang tadi menghimpit raga Zura seolah teredam oleh dinginnya logika Valerie yang kini memegang kendali penuh.
"Duduklah, Julian," kataku dengan suara yang rendah namun penuh otoritas. "Kau yang butuh bantuan teknis dariku, bukan sebaliknya."
Julian mendengus, namun ia tidak membantah saat aku meletakkan flash drive itu di atas meja dan mulai menyalakan sistem operasinya. Aku menyingkirkan Julian dari kursi utama dan mulai mengetik. Jemari raga Zura yang lentik bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa membedah data kriminal.
"Masuk," bisikku setelah beberapa menit melewati protokol keamanan yang rumit.
Sebuah folder rahasia terbuka. Folder itu berisi file video, rekaman medis, dan sebuah dokumen terenkripsi berjudul "PROYEK REGENESIS: TAHAP AKHIR". Julian condong ke depan, matanya terpaku pada layar saat aku membuka sebuah catatan audit internal milik Adrian Vane.
Di sana, sebuah paragraf muncul, menjelaskan bagaimana Adrian Vane berpura-pura gelisah saat aku mendatanginya di Bab 6. Catatan itu menyebutkan bahwa Adrian sengaja membiarkan gelas wiskinya bergetar agar aku merasa menang dan masuk ke dalam jebakan di kediaman Walikota.
Julian tertawa mengejek, suaranya bergema di dinding beton. "Kau lihat itu? Kau tertipu mentah-mentah, Valerie. Adrian sudah tahu kau membawa buku itu. Dia hanya bermain peran agar kau merasa hebat dan berjalan sendiri menuju eksekusimu. Kau bukan singa, kau hanya pion yang dia gerakkan."
Aku tidak membalas tawanya. Aku justru menarik kursor ke bagian bawah dokumen tersebut, lalu menarik sudut bibirku membentuk senyum tipis yang mematikan.
"Julian, kau pikir aku menghabiskan sepuluh tahun di ruang interogasi hanya untuk ditipu oleh aktor amatir seperti Adrian?" suaraku tenang, memotong tawa Julian seperti pisau tajam. "Aku sudah mencatat mikro-ekspresi Adrian sejak detik pertama aku masuk ke kantornya. Getaran gelas di tangannya itu terlalu simetris, polanya tidak sinkron dengan denyut nadi di lehernya yang tetap stabil. Aku tahu dia sedang berakting."
Julian mengerutkan kening, senyumnya memudar. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, aku membiarkan dia merasa berhasil menipuku," balasku sambil membuka barisan kode tersembunyi yang baru saja kuberikan perintah akses. "Pria yang merasa menang adalah pria yang paling ceroboh. Saat dia sibuk menertawakanku di dalam hatinya, dia tidak sadar bahwa aku meninggalkan 'hadiah' di meja kacanya."
Aku menekan tombol Enter, dan sebuah layar baru terbuka. Layar itu menunjukkan siaran langsung dari kamera tersembunyi yang tertanam di kantor Adrian Vane.
"Melalui cincin Zura, aku menanamkan audio-bug dan keylogger fisik. Sementara dia berpikir dia sedang menggiringku ke jebakan, aku sudah menyedot seluruh basis data Proyek Regenesis langsung dari server pribadinya. Flash drive Senator Bram ini? Ini hanyalah asuransi tambahan untuk mendapatkan koordinat fisik laboratorium mereka."
Julian tertegun. Ia menatapku seolah-olah baru pertama kali melihat siapa sebenarnya wanita di dalam raga Zura ini. Dominasiku kini tidak bisa dibantah. Aku bukan lagi korban sistem; aku adalah sistem yang sedang mengalami malfungsi secara sengaja untuk menghancurkan mereka dari dalam.
"Buka file utamanya," perintah Julian, suaranya kini tidak lagi meremehkan, melainkan penuh dengan rasa ingin tahu yang mencekam.
Aku membuka dokumen "PROYEK REGENESIS". Isinya jauh lebih mengerikan dari sekadar perdagangan manusia. Ini adalah pasar gelap keabadian.
* Metodologi: Pemindahan kesadaran bagi elit Klub 0,1% ke raga-raga muda yang memiliki IQ tinggi dan fisik sempurna. Mereka mencari "wadah" yang tidak memiliki catatan kriminal agar para elit ini bisa memulai hidup baru sebagai orang-orang "bersih".
* Kasus Valerie: Aku menemukan catatan medis pribadiku. Aku bukan hasil gagal karena kesalahan teknis yang tak disengaja. Catatan itu menyebutkan: "Subjek A (Valerie) dipertahankan kesadarannya sebagai variabel kontrol. Kita perlu menguji seberapa kuat jiwa asli bisa ditekan oleh adiksi kimiawi dari raga Subjek B (Zura) sebelum akhirnya ia menyerah dan jiwanya hancur secara alami."
"Mereka menjadikanku kelinci percobaan," desisku, mataku berkilat penuh dendam. "Mereka ingin tahu berapa lama aku akan hancur sebelum akhirnya menyerah pada kebutuhan zat di tubuh Zura. Mereka ingin melihat apakah integritas moral seorang Valerie bisa dikalahkan oleh rasa lapar seorang pecandu."
"Dan kau masih bertahan," Julian bergumam, seolah ia sedang bicara pada dirinya sendiri.
"Aku tidak hanya bertahan, Julian. Aku menggunakan rasa sakit sakau ini sebagai alarm. Setiap kali tubuh ini bergetar meminta zat, itu mengingatkanku pada setiap detik yang mereka curi dariku. Itu adalah bahan bakar api kemarahanku."
Tiba-tiba, monitor berkedip merah terang. Peringatan pelacakan muncul di layar dengan suara bising yang menusuk telinga. "AKSES ILEGAL TERDETEKSI. GPS BACK-TRACE DIAKTIFKAN."
"Sial! Mereka datang, Valerie! Kita harus lari!" Julian menyambar pistolnya dari meja, wajahnya menunjukkan kepanikan yang nyata. Ia sudah terbiasa menjadi pengejar, bukan yang dikejar.
Aku tetap duduk tegak, merapikan rambut raga Zura yang sedikit berantakan dengan tenang. "Duduklah kembali, Julian. Kau terlalu banyak bergerak."
"Apa kau gila? Helikopter mereka akan sampai di sini dalam lima menit!"
"Aku sudah menunggu saat ini," kataku sambil mengetik serangkaian perintah terakhir. "Saat aku meretas server Adrian tadi, aku juga menyisipkan virus Trojan ke dalam sistem navigasi helikopter dan kendaraan tim taktis mereka. Mereka tidak sedang melacak kita; mereka sedang menuju ke titik koordinat palsu yang sudah kusiapkan di Dermaga Lima, tiga kilometer dari sini."
Aku memutar monitor agar Julian bisa melihat radar. Titik-titik merah yang mewakili tim pembunuh Adrian terlihat bergerak menjauh dari lokasi kami, menuju ke sebuah kapal kargo tua yang sudah aku siapkan untuk meledak dalam waktu sepuluh menit.
"Kau... kau sudah merencanakan ini sejak kita meninggalkan rumah sakit?" tanya Julian tak percaya.
"Sebagai psikolog forensik, aku selalu berpikir lima langkah di depan para psikopat. Dan Adrian Vane adalah psikopat klasik yang sangat mudah ditebak karena kesombongannya," aku berdiri, mengambil flash drive yang kini sudah berisi seluruh data rahasia mereka. "Sekarang, kita tidak akan lari ke lubang tikus lain. Kita akan pergi ke pusat saraf mereka."
Aku menatap Julian dengan tatapan yang membuatnya terdiam. Pria berbahaya ini, yang tadinya ingin mengendalikanku, kini hanya menjadi bidak di papan caturku.
"Julian, kau ingin perlindungan? Kau ingin uang? Ikuti instruksiku, dan kau akan mendapatkan lebih dari sekadar uang. Kau akan mendapatkan kehormatan karena telah menjatuhkan orang-orang yang selama ini menganggapmu sebagai anjing penjaga."
Aku berjalan menuju tangga dengan langkah yang mantap, tidak ada lagi tremor, tidak ada lagi ketakutan. Gaun merah tua yang kukenakan kini bukan lagi simbol kerendahan raga Zura, melainkan jubah perang bagi jiwa Valerie.
"Ayo berangkat," kataku dingin. "Kita punya laboratorium yang harus dibakar, dan seorang ilmuwan yang harus belajar bahwa jiwaku tidak dijual."
Julian hanya bisa mengikuti di belakangku, diam dan patuh. Di bawah lampu neon yang redup, bayangan kami memanjang di dinding bunker—dua predator yang kini bersatu, namun hanya satu yang memegang kendali atas mangsanya.