Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Tanpa Status (HTS)
Dua minggu setelah telepon malam itu, semuanya balik kayak dulu. Malah lebih intens. Adit chat Fira tiap hari, dari pagi sampe malem. Nggak cuma chat biasa, tapi chat yang hangat. Personal. Kayak chat pasangan yang udah lama pacaran.
"Pagi Fir, kamu sudah bangun? Jangan lupa sarapan ya. Makan yang banyak biar nggak lemes kerja."
"Fir, aku lagi meeting nih. Bosen banget, pengen cepet-cepet ketemu kamu."
"Sudah jam berapa nih? Jangan kerja terlalu keras. Nanti capek."
"Mau aku jemput pulang kerja? Aku lagi nggak ada kerjaan kok."
Dan Fira selalu menunggu chat-chat itu. Senyum-senyum sendiri stiap kali ponselnya bunyi notifikasi dari Ditya. Kadang Anna suka ikut menggodanya "Ih senyum senyum mulu. Pasti chat sama Ditya kan?"
Fira cuma tertawa sambil muka merah.
Hari ini hari Sabtu, Fira baru selesai kerja jam delapan malam. Dia lagi merapikan meja terakhir, ketika ponselnya bunyi pesan dari Ditya.
"Fir, aku sudah di depan. Ayo pulang bareng."
Fira ngelirik ke jendela kafe, dan bener aja Adit udah nongol di luar sambil bawa motor. Senyum lebar kayak biasa, jaket hitam nya bikin dia keliatan ganteng.
"Anna, aku pulang duluan ya!" pamit Fira sambil buru-buru ambil tas.
"Iya iya, di jemput sama Ditya kan, pasti. Hati-hati ya, Fir!" teriak Anna sambil nyengir usil.
Fira keluar dari kafe, dan Ditya langsung menghampirinya sambil membawa helm cadangan.
"Pasti capek banget ya?" tanya Ditya sambil ngasih helm.
"Lumayan sih, hari ini rame banget soalnya."
"Makanya aku jemput kamu, masa iya aku biarin kamu pulang sendirian malem-malem gini."
Fira tersenyum saat mendengarkan kata-kata itu. Ditya selalu seperti ini, selalu perhatian dan selalu ada.
Mereka naik motor, Fira memeluk pinggang Ditya dari belakang seperti biasa. Tapi kali ini Ditya nggak langsung jalan. Dia nengok ke belakang.
"Fir, kamu sudah makan belum?"
"Belum nih. Tadi sibuk terus, jadi nggak sempet."
"Ya sudah, kita makan dulu yuk. Aku juga belum makan, ada warung nasi goreng enak deket sini."
"Oke deh. Ayo."
***
Mereka makan di warung pinggir jalan yang sepi, cuma ada beberapa meja aja. Pesen nasi goreng dua porsi sama es teh manis.
Sambil nunggu pesanan, Ditya ngobrol tentang kerjaannya yang lagi banyak deadline. Fira dengerin sambil sesekali ketawa liat ekspresi Ditya yang lebay cerita soal bosnya.
"Terus aku bilang gitu ke bos, eh dia malah nambah kerjaan lagi! Gila kan?" kata Ditya sambil ngangkat tangan frustasi.
"Kamu emang kerja rodi, Dit," Fira ketawa.
"Iya, makanya aku butuh kamu buat menghibur. Kalau nggak ada kamu, aku sudah stress duluan."
Fira diem sebentar. "Emangnya aku bisa menghibur kamu?"
Ditya ngeliatin Fira serius. "Bisa banget Fir. Tiap kali ketemu kamu, rasanya stress aku langsung hilang. Kamu kayak obat buat aku."
Jantung Fira berdetak kenceng. Kenapa sih Adit selalu ngomong hal hal kayak gini yang bikin jantung dag dig dug?
Pesanan dateng, mereka mulai makan. Tapi di tengah-tengah makan, Ditya mengambil sendok, lalu menyendok nasi gorengnya, terus memberikannya pada Fira.
"Nih, coba punya aku. Pedesnya pas banget."
Fira kaget. "Hah? Emang punya aku kurang pedes?"
"Bukan gitu. Aku cuma pengen nyuapin kamu aja."
Muka Fira langsung memerah. Nyuapin? Serius?
Tapi entah kenapa, Fira membuka mulut dan menerima suapan itu. Ditya tersenyum lebar sambil menaruh sendok.
"Gimana, enak kan?"
"Iya, enak sih," jawab Fira sambil menunduk, malu.
Dan sejak itu, mereka saling menyuapi satu sama lain. Ditya menyuapi Fira, Fira menyuapi Ditya balik. Seperti layaknya pasangan yang sudah lama pacaran. Tapi mereka bukan pacar, mereka cuma HTS rasa pacar.
***
Minggu depannya, Ditya mengajak Fira nonton film di bioskop. Film horor yang lagi rame.
"Aku suka banget sama horor, Dit," kata Fira pas beli tiket.
"Yakin, kamu suka horor? Tapi tenang aja, kalau kamu takut pegangan aja sama aku."
Dan bener saja, selama nonton Fira terlihat serius banget. Hingga ada suatu adegan yang menegangkan, tanpa sadar, Fira menggenggam tangan Ditya yang ada di sandaran kursi. Ditya nggak melepasnyakan genggaman itu, malah ia menggenggam balik sambil tersenyum.
Kepalanya berada di bagi Ditya, tangan mereka masih bertautan. Dan Ditya melihat Fira dengan tatapan lembut, sesekali mengusap dan mengelus rambut Fira pelan.
Ini pacaran bukan sih?
Tapi nggak ada yang membicarakan soal hal itu.
***
Udah hampir satu bulan sejak mereka menjalin HTS, dan Ditya mengakui semuanya ketika di atap gedung parkir. Dan selama satu bulan itu, mereka jalan bareng hampir tiap hari. Pegangan tangan, pelukan, bahkan kadang Ditya mencium kening Fira pada saat mengantarkan pulang.
Tapi nggak pernah ada omongan "kita pacaran yuk?" atau "kamu mau jadi pacar aku?"
Fira bingung. Ini hubungan apa sih sebenernya?
Hari ini, hari Rabu sore. Fira lagi merapihkan kafe, lalu tiba-tiba Anna menghampirinya sambil tersenyum.
"Fir, aku boleh nanya nggak?"
"Nanya apa?"
"Kamu sama Ditya udah jadian kan?"
Fira bengong, jantungnya langsung berdetak kenceng.
"Hah? Jadian? Kenapa tiba-tiba kamu nanya kayak gitu?"
"Ya, soalnya kalian berdua tuh kayak pacaran banget. Tiap hari dia jemput, tiap weekend jalan bareng, bahkan kemarin aku liat dia nyuapin kamu waktu makan. Kalau itu bukan pacaran, apa coba?"
Fira diem. Nggak tau harus jawab apa. Soalnya dia sendiri bingung.
"Aku juga nggak tau sih, Anna. Kita nggak pernah bicarakan soal itu."
"Loh kok nggak pernah bicarakan soal itu? Masa iya kamu kayak pacaran, tapi nggak ada statusnya?"
"Iya, kayaknya gitu deh. Tapi sebenarnya, kita menjalin HTS."
Anna melongo. "Serius Fir? Emang kamu nggak penasaran? Nggak ngerasa aneh? Kalian HTS-an kayak gitu."
"Aneh sih, tapi aku juga nggak tau harus gimana. Ditya bilang dia sudah suka sama aku sejak lama, tapi dia nggak pernah bilang 'yuk kita pacaran' gitu. Dan aku juga nggak pernah bertanya. Malah, Ditya sendiri yang ngajak aku HTS, dan aku juga nerima dan mau aja di ajak HTS kayak gitu."
"Kenapa kamu mau HTS-an kayak gitu sih, Fir? HTS itu, kayak pacar bukan, tpi kita sama-sama takut kehilangan juga."
"Soalnya aku takut Anna. Takut kalau ternyata dia nggak mau komitmen lebih. Takut kalau aku yang terlalu berharap."
Anna menghela nafas panjang sambil tepuk bahu Fira.
"Fir, dengerin aku. Kamu nggak bisa terus terusan dalam hubungan yang nggak jelas kayak gini. Kamu butuh kepastian. Butuh tau, kalian ini apa. Temen? Lebih dari temen? Atau pacar?"
"Tapi gimana caranya bertanyanya? Aku nggak enak."
"Ya tanya aja langsung. 'Dit, kita ini sebenernya apa sih?' Gitu aja kok. Simple. Daripada kamu terus-terusan bingung sendiri."
Fira merenungkan kata -kata Anna. Bener juga sih. Udah satu bulan mereka kayak gini, tapi nggak ada kejelasan apapun, hanya sebatas HTS saja.
"Oke Anna. Aku bakal tanya sama dia."
"Nah gitu dong. Jangan takut Fir. Kamu punya hak buat tau."
***
Malem itu, Fira rebahan di kasur sambil melototin hape. Dia pengen banget nanya ke Adit, tapi gimana caranya? Ngetik aja susah, apalagi ngomong langsung.
Dia buka chat Ditya, ngetik "Dit, aku mau nanya sesuatu" tapi langsung dihapus. Terlalu serius kedengerannya.
Coba lagi. "Dit, kita perlu ngobrol" hapus lagi. Kayak mau putus aja.
"Dit, boleh nggak." hapus lagi.
"Argh!" Fira frustasi sendiri.
Ponselnya tiba-tiba bunyi. Telpon dari Ditya, Fira merasa kaget, dan langsung mengangkatnya.
...📞...
"Hallo Dit?"
^^^"Hallo Fir. Kamu lagi ngapain? Belum tidur?"^^^
"Belum nih. Kamu kenapa belum tidur?"
^^^"Aku lagi pengen dengerin suara kamu aja."^^^
Jantung Fira langsung berdetak kenceng.
"Ditya."
^^^"Iya Fir, kenapa?"^^^
Fira tarik nafas dalem. Sekarang atau nggak sama sekali.
"Aku mau nanya sesuatu."
^^^"Nanya apa? Tanya saja, jangan sungkan."^^^
"Kita ini apa sih sebenernya?"
Hening sebentar. Fira mendenger nafas Ditya yang berat dari seberang sana.
^^^"Maksud kamu apa, Fir?"^^^
"Ya itu, kita sudah satu bulan kayak gini. Jalan bareng, pegangan tangan, kamu nyuapin aku, aku tidur di bahu kamu. Tapi kita nggak pernah ngomongin. Kita ini temen? Lebih dari temen? Atau... atau pacar?"
Ditya diem lama. Terlalu lama sampe Fira mulai panik.
^^^"Dit, kamu masih di sana kan?"^^^
"Masih Fir. Aku cuma mikir."
^^^"Mikir apa?"^^^
"Mikir gimana jawabnya. Soalnya aku juga bingung Fir. Aku sama kamu, aku pengen selalu ada buat kamu. Tapi aku nggak pernah bilang 'yuk kita pacaran' karena aku takut kamu belum siap. Takut kamu ngerasa aku maksa. Itu sebabnya aku ngajak kamu HTS-an, ya mungkin lebih tepatnya HTS rasa pacar."
^^^"Jadi... sebenernya kamu mau kita jadian nggak?"^^^
"Mau Fir. Beneran mau. Tapi, aku tunggu kamu yang bilang. Tunggu kamu yang siap. Aku juga cemburu pas liat kamu melayani pelanggan kafe laki-laki."
Fira merasakan dadanya sesak. Jadi selama ini mereka berdua sama-sama nunggu satu sama lain buat bicara duluan?
^^^"Dit, ini aneh nggak sih?"^^^
"Aneh gimana?"
^^^"Aneh, kita kayak pacaran tapi nggak ada statusnya. Kayak hubungan tanpa nama gitu, mungkin lebih gaulnya HTS."^^^
Ditya ketawa kecil.
"Iya sih aneh. Tapi, aku nggak keberatan kok Fir. Selama kamu nyaman, aku juga nyaman."
^^^"Tapi aku butuh kepastian, Dit. Butuh tau, hubungan kita ini apa?"^^^
"Oke Fir. Kalau gitu..." Ditya menghela nafas. "Kita ngobrol langsung ya besok? Aku pengen ngeliat mata kamu waktu ngomong hal ini. Nggak enak kalau lewat telpon."
^^^"Oke, Dit. Besok kita bicarakan hal ini, ya?"^^^
"Iya. Sekarang tidur dulu ya. Udah malem."
^^^"Iya. Selamat malem, Dit."^^^
"Malem juga, Fir."
Setelah telepon selesai, Fira rebahan sambil ngeliatin langit-langit kamar. Besok mereka bakal ngobrol. Bakal ngasih nama ke hubungan aneh ini.
Tapi ada rasa takut yang kembali muncul dalam diri Fira. Takut kalau ternyata mereka nggak bisa lebih dari ini. Takut kalau ternyata hubungan tanpa nama ini lebih aman dari pada jadi pacar beneran.
Tapi Fira tau, dia nggak bisa terus terusan kayak gini. Dia butuh kepastian. Butuh tau, kemana hubungan ini bakal berjalan. Dan besok dia bakal dapat jawabannya. Atau setidaknya dia berharap begitu.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣