NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Pelukan Cinta

Kamar Kos Ferdy, Pukul 23.47

Lampu neon 5 watt di langit-langit kamar bersinar dengan kesedihan keabu-abuan, menerangi tumpukan kertas, kabel, dan kecemasan yang tak terlihat.

Ferdy duduk bersila di atas kasur lipatnya, punggungnya menyandar pada dinding yang dingin. Laptop terbuka di pangkuannya, cahaya birunya menusuk kegelapan, memantulkan bayangan wajahnya yang tegang.

Kepalanya berisik. Bukan suara nyata, tapi riuh-rendah pikiran yang saling tabrak lari. Detail teknis pameran dari Kirana, deadline revisi skripsi yang mencekik leher, saran dosen pembimbing yang ia rasa mustahil ia penuhi, janji meeting dengan Andika dan Roni besok pagi, laporan keuangan project yang masih amburadul, dan di balik itu semua—sebuah pertanyaan yang lebih dalam dan menggelisahkan.

Siapa sebenarnya yang mengikutiku? Dan… untuk apa?

Kesibukan siang tadi di galeri dan cafe sempat mengalihkan perhatiannya. Tapi kini, dalam kesunyian malam, semua keraguan itu kembali menggumpal seperti awan gelap.

Keberuntungan yang datang tiba-tiba, wangi melati yang tak pernah salah alamat, perasaan diawasi yang kadang menenangkan, kadang membuat bulu kuduknya berdiri—semua itu terlalu nyata untuk dianggap sebagai imajinasi atau sugesti belaka.

Dia menutup mata, mencoba mengatur napas, tapi dada terasa sesak. Di dunia maya, notifikasi dari berbagai grup WhatsApp berdering tak henti, masing-masing menambah lapisan tekanan.

Grup FFJ (FOTOgraFER Jakarta):

Dimas: "Bro-bro, ada yang punya fixer buat izin shooting di Kota Tua? Klien mau tapi budget minim, minta full service."

Sari: "Gue lagi butuh second shooter weekend depan, fee 1jt all-in. Yang minat DM!"

Anita: "Client nanya lagi, bisa nggak hasil foto kita compete sama AI? Gue bingung mau jawab apa."

Grup Bimbingan Skripsi "The Last Hope":

Reza: "Dosen killer minta revisi bab 3 total! Gue mau nangis aja."

Bowo: "Mbak Yuli bilang buku referensi kita dipinjem orang lain, baliknya 2 minggu lagi. Dead."

Siska: "Besok ketemu jam 10 di perpus, ya? Jangan pada telat, kita kepepet!"

Grup Project "PAMOR" (Hanya bertiga):

Andika: "Fer, lo udah cek spesifikasi file dari Kirana? Ada bagian tentang color profile yang agak teknis nih."

Roni: "Gue nemu reference lighting buat pameran yang keren banget! Gue share link ya."

Dan yang paling membuat jidatnya berkerut:

Chat Pribadi dari Vina:

Vina (22.15): "Ferdy, lagi apa? 😊"

Vina (22.45): "Liat IG story kamu di galeri tuh. Keren banget! Pameran di GalNas? Wah, selamat yaa! 🎉"

Vina (23.20): "Jadi penasaran sama karya kamu. Boleh aku liat lebih banyak? Maybe kita bisa kopi sore besok? Aku traktir, sekalian aku ada mau konsultasi soal teknik fotografi buat tugas akhir aku. Please? 🙏"

Ferdy menghela napas panjang. Vina dan "khodam"-nya yang tak kasatmata itu. Dia bisa merasakan ketidaknyamanan itu, meski tak pernah melihat wujudnya. Ada sesuatu yang "lapar" dan "memaksa" dari energi Vina, yang justru membuatnya ingin menjauh.

Dia melempar ponselnya ke bantal, menutup laptop, dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya menatap langit-langit yang retak, mengikuti pola garis-garisnya yang seperti peta jalan buntu. Kesepian, meski dikelilingi oleh suara-suara digital, merasuk begitu dalam.

Dalam keheningan ini, perbedaan antara malam biasa dengan malam-malam sebelumnya terasa begitu jelas. Biasanya, kegelisahannya adalah teman tidur yang akrab. Tapi malam ini, kegelisahan itu terasa lebih sendu, lebih kosong.

Dan kemudian, seperti jawaban atas kesunyiannya yang paling dalam, ia merasakannya.

Perubahan suhu yang perlahan. Udara pengap di kamar berangsur-angsur digantikan oleh sejuk yang menyejukkan, bukan dingin yang mengganggu. Lalu, wangi itu—melati murni, dicampur sedikit kayu cendana dan madu—mengalir begitu kuat, seolah sumbernya ada tepat di sebelahnya.

Ferdy tidak bergerak. Hanya matanya yang berkedip.

Lalu, sebuah sensasi. Bukan sentuhan fisik, karena tidak ada tekanan pada kulitnya. Tapi sebuah kehadiran yang padat, nyata, dan penuh niat.

Seolah-olah ruang hampa di sebelah kirinya tiba-tiba terisi oleh sesuatu yang hidup. Ada sensasi ringan melingkari bahu dan pinggangnya, seperti dibelai oleh aliran udara yang sangat teratur dan hangat.

Sebuah "pelukan" dari sesuatu yang tak kasatmata. Dan anehnya, tubuhnya yang tegang langsung merespons. Otot-otot di punggungnya yang kaku mulai melemas.

Napasnya yang pendek-pendek menjadi lebih dalam, lebih teratur. Gelombang kecemasan di kepalanya seakan ditepis oleh sebuah ketenangan yang berasal dari luar dirinya.

Ini… dia.

Bukan rasa takut yang muncul, melainkan kelegaan yang mendalam. Seperti akhirnya menemukan sandaran setelah seharian—bahkan setahun—berdiri di tengah badai sendirian.

Ferdy membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi itu. Dia memejamkan mata lebih erat, membayangkan ada lengan yang memeluknya, sebuah keberadaan yang memahami semua beban tanpa perlu penjelasan.

Dalam keheningan yang nyaman itu, dia kembali membuka ponselnya. Cahayanya kini tidak terasa menyilaukan. Dengan sebelah tangan (seolah-olah tangan satunya "tertahan" oleh pelukan tak kasatmata itu), dia mulai membalas chat satu per satu.

Ke Grup Bimbingan:

Ferdy: "Oke, besok jam 10 di perpus. Gue bawa draft revisi. Kita kejar ini sampe kelar."

Ke Grup Project:

Ferdy: "Dik, gue cek besok pagi detailnya. Ron, thanks buat link-nya. Kita diskusi besok."

Balasannya lebih tenang, lebih terfokus.

Lalu, tiba pada chat Vina. Dia membaca ulang pesan manis yang berusaha merayu.

Perasaan tidak enak itu muncul lagi. Bukan karena Vina jelek atau jahat, tapi karena ada ketidak aslian, sebuah permainan di balik kata-katanya.

Dalam keadaan biasa, Ferdy mungkin akan mengabaikan atau membalas seperlunya. Tapi malam ini, dengan ketenangan aneh yang menyelimutinya, dia merasa perlu bersikap jelas.

Ferdy: "Makasih Vina. Lagi fokus banget nih sama pameran dan skripsi, jadi belum bisa janji buat kopi. Buat teknik fotografi, bisa langsung tanya aja via chat, gue bantu sebisanya. Tugas akhir lo tentang apa?"

Balasan itu sopan, membantu, tetapi tegas menolak ajakan bertemu. Dia tidak ingin memberi harapan atau membuka celah.

Hampir bersamaan dengan sentuhan pelukan yang tak terlihat, sebuah bisikan halus—lebih seperti impresi perasaan daripada suara—terasa di benaknya:

"Bagus. Jangan beri dia jalan. Energinya tidak murni untukmu."

Ferdy mengangguk pelan, seolah menyetujui sebuah suara dalam hati yang terdengar sangat jelas malam ini.

Ke Grup FFJ:

Dia menggulir percakapan yang penuh keluhan dan keputusasaan sesama freelancer. Biasanya, membaca ini akan membuatnya tambah stres. Tapi malam ini, dengan sensasi "dipeluk" itu, dia justru merasa ingin menyalakan semangat.

Ferdy: "Keep fighting, temen-temen. Gue lagi proses pameran di GalNas, awalnya juga modal nekat dan kerja keras. Memang susah, tapi pasti ada jalan.

Yang butuh second shooter buat Sari, gue rekomen Bayu, dia jago dan reliable. Buat izin Kota Tua, coba kontak Mas Agus, nomornya gue DM."

Dia tidak hanya membaca, tetapi juga bertindak, memberi solusi. Beberapa anggota grup langsung membalas dengan ucapan terima kasih dan semangat balik.

Saat semua notifikasi tertangani, Ferdy meletakkan ponselnya. Dia masih dalam "pelukan" itu. Sensasinya tidak berkurang, malah semakin nyaman. Dia membiarkan kepalanya sedikit bersandar ke samping, seolah menempel pada bahu yang tak terlihat.

"Makasih," ucapnya pelan ke udara, suaranya serak. "Lagi-lagi, makasih. Entah kamu siapa. Tapi… gue ngerasa lo ngerti."

Tidak ada jawaban. Tapi wangi melati menguat, dan "pelukan" itu terasa sedikit lebih erat, lebih menghibur.

Dasima, yang energinya dengan lembut membungkus tubuh Ferdy, merasa hatinya seperti diisi oleh sesuatu yang hangat dan manis. Ini lebih dari sekadar melindungi. Ini adalah suatu penghibur.

Dan melihat Ferdy bisa menjadi lebih tenang, lebih tegas, dan lebih baik di bawah "pengaruh"-nya, memberinya kepuasan yang tak terkira. Dia bukan lagi penunggu pasif atau penjaga waspada. Malam ini, dia adalah tempat berlindung.

Ferdy kemudian membuka album foto di ponselnya, galeri pribadi yang tidak ia unggah ke mana-mana. Foto-foto lama: pemandangan dari road trip, potret orang-orang di jalanan, eksperimen light painting yang gagal. Dia membaginya seolah-olah ada yang menonton di sebelahnya.

"Nih, foto Gunung Merapi waktu fajar. Gue naik motor semalam suntuk buat nangkep ini. Dingin banget, tapi pas lihat hasilnya, puas."

"Ini foto nenek-nenek penjual kue di stasiun. Senyumnya, ya? Kayak udah nggak punya apa-apa tapi masih bisa bagi kebahagiaan."

"Yang ini… editan eksperimen jelek sih. Tapi dulu gue seneng banget waktu bikinnya."

Dia mengobrol satu arah, menceritakan kisah di balik setiap gambar. Dan untuk setiap cerita, dia merasa ada yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada yang mengangguk. Ada yang tersenyum.

Di tengah kebiasaan barunya ini, pikirannya kembali ke Kirana.

"Siang tadi… Kirana. Dia baik ya. Profesional. Mungkin… mungkin gue yang salah sangka dari awal." Dia berhenti.

"Tapi lo juga ngerasa waspada kan? Jadi gimana dong?"

"Ikuti nalurimu. Tapi jangan tutup pintu untuk kebaikan," sebuah "jawaban" muncul begitu saja di benaknya, seperti intuisinya sendiri yang tiba-tiba sangat jernih. "Aku akan mengawasi. Percayalah."

Ferdy mengangguk. Itu masuk akal. Tidak perlu memusuhi, tapi juga tidak perlu terlalu terbuka.

Waktu berlalu. Jam di ponsel menunjukkan 01.23. Rasa kantuk yang nyaman, bukan kelelahan yang paksa, mulai menyerang.

"Kayaknya gue ngantuk," bisiknya sambil menutup album foto. Dia berbaring, masih merasakan kehadiran di sebelahnya. "Lo mau tinggal? Atau… mau ikut tidur lagi kayak kemaren?"

Tidak ada jawaban. Tapi bantal di sebelahnya sedikit berlekuk, seolah ada kepala yang merebahkan diri. Wangi melati menjadi selimut wangi yang lembut di sekelilingnya.

Ferdy tersenyum, mata terpejam.

"Selamat malam. Dan makasih… untuk semuanya."

Sebelum tidur, pesan terakhir yang ia kirim adalah ke Ibu Kos, pesan yang tidak pernah terpikir sebelumnya: "Bu, terima kasih sekali lagi untuk nasi berkatnya waktu itu. Sangat membantu. Semoga Ibu sehat selalu."

Dan di luar, bulan yang sama yang pernah menyaksikan sumpah cinta dan pengkhianatan lima abad silam, kini menyaksikan sebuah kamar kos kecil di mana dua jiwa—satu dalam daging dan darah, satu dalam energi dan ingatan—berbagi keheningan yang damai.

Di sini, di antara gelisah hidup modern dan gelombang notifikasi digital, mereka menemukan pelabuhan sementara dalam pelukan yang tak terlihat, sebuah bahasa kasih sayang yang melampaui kata-kata, penglihatan, dan bahkan waktu.

Malam itu, Ferdy tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk. Dan Dasima, dengan energi yang tenang dan bahagia, berjaga di sampingnya, mengetahui bahwa perannya telah berevolusi dari penunggu, menjadi penjaga, dan kini menjadi sahabat sepi bagi jiwa yang selalu ia cintai, dalam bentuk apapun itu.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!