Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Amukan Badai dan Darah di Atas Salju
Udara di Puncak Langit Utara meledak dalam tekanan tinggi saat Raja Serigala Salju melepaskan napas esnya. Semburan energi beku itu menghantam tanah, mengubah bebatuan menjadi serpihan es dalam sekejap.
"Sekarang, Lin Xia!" teriak Chen Kai sambil melompat ke udara, menghindari gelombang beku tersebut.
Lin Xia, yang sudah bersiaga di balik gundukan salju besar, menghancurkan sebuah botol giok berisi cairan hijau pekat. "Seni Tabib: Kabut Perusak Saraf!"
Ia melemparkan botol itu menggunakan ketapel kecil miliknya. Botol itu pecah tepat di depan hidung sang Raja Serigala, melepaskan asap yang langsung meresap ke dalam indra penciumannya. Serigala raksasa itu menggerung kesakitan, gerakannya mendadak melambat karena racun saraf yang mengganggu koordinasi ototnya.
"Bagus," desis Chen Kai.
Di tengah udara, Chen Kai memutar tubuhnya. Pedang Kristal Abadi miliknya berpendar hebat. "Seni Pedang Kristal: Belahan Seribu Cermin!"
SLASH! SLASH! SLASH!
Chen Kai mendarat di tengah-tengah kawanan serigala anak buah sang raja. Ia bergerak seperti iblis putih. Setiap ayunan pedangnya bukan sekadar menebas, tapi menghancurkan. Tubuh serigala-serigala itu hancur berkeping-keping seolah-olah mereka terbuat dari kaca yang dipukul palu godam. Darah merah segar memuncrat, mengotori salju putih bersih, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dan brutal.
Raja Serigala Salju yang murka karena anak buahnya dibantai, menerjang ke arah Chen Kai dengan cakar raksasanya.
KRETAK!
Chen Kai menahan cakar itu dengan bilah pedangnya. Tekanan yang dihasilkan membuat tanah di bawah kakinya retak sedalam satu meter. Gigi-gigi serigala itu mengatup tepat di depan wajah Chen Kai, air liur bekunya menetes ke pakaiannya.
"Kau hanyalah binatang." ucap Chen Kai dengan mata yang berkilat kejam.
Dari jarak jauh, Lin Xia melihat Chen Kai mulai terpojok oleh berat badan sang Raja Serigala. Ia segera mengambil tiga jarum perak yang sudah direndam dalam Ekstrak Bunga Matahari Membakar.
"Tuan Chen Kai, tunduk!" teriak Lin Xia.
Tanpa ragu, Chen Kai menjatuhkan tubuhnya ke salju. Tiga jarum perak itu melesat secepat kilat, menghujam tepat ke mata kiri sang Raja Serigala.
AWOOOOOOARRGGH!
Raungan kesakitan yang memilukan terdengar. Mata serigala itu terbakar dari dalam oleh energi api yang dibawa jarum Lin Xia. Dalam momen kebutaan itu, Chen Kai bangkit. Ia memegang pedangnya dengan kedua tangan, memusatkan seluruh Qi Jiwa Sejatinya ke ujung bilah pedang.
"Mati."
Chen Kai melesat maju, melewati bagian bawah perut sang serigala.
CRASH!
Ia membelah perut binatang raksasa itu dari leher hingga ekor. Organ dalam dan darah panas menyembur keluar, menguap di udara dingin yang ekstrim. Raja Serigala itu terhuyung, sebelum akhirnya roboh menghantam salju dengan debuman keras yang menggetarkan seluruh puncak gunung.
Napas Chen Kai tersengal, wajahnya terciprat darah hangat yang perlahan membeku menjadi butiran kristal merah di pipinya. Ia berdiri di atas bangkai monster itu, terlihat seperti dewa kematian kecil.
Lin Xia berlari mendekat dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat karena melihat kebrutalan di depannya. "T-Tuan Chen Kai... kau tidak apa-apa?"
Chen Kai tidak menjawab. Ia menusukkan pedangnya ke kepala serigala itu untuk mengambil Inti Kristal Es—sebuah permata biru jernih yang berdenyut dengan energi dingin yang murni.
"Misi selesai," ucap Chen Kai datar. Ia melemparkan inti itu ke arah Lin Xia. "Simpan itu. Kita harus segera kembali sebelum mayat ini memancing pemangsa lain."
Namun, saat Lin Xia hendak menangkap permata itu, sebuah anak panah berenergi hitam melesat dari balik kegelapan hutan pinus, menghantam tangan Lin Xia hingga permata itu terpental jatuh ke salju.
"Siapa?!" Chen Kai langsung bersiaga, insting membunuhnya kembali bangkit.
Dari balik pepohonan, muncul tiga orang mengenakan jubah hitam dengan topeng perak. Salah satu dari mereka memegang busur besar yang masih mengepulkan energi hitam.
"Terima kasih sudah membunuh serigala itu untuk kami, Bocah Klan Kristal," ucap pria bertopeng di tengah dengan suara parau. "Sekarang, serahkan permata itu dan gadis tabib itu, maka kami akan memberimu kematian yang cepat."
Mata Chen Kai menyipit. Mereka bukan murid akademi. Mereka adalah pemburu bayaran. "Mencoba mencuri dariku adalah kesalahan terakhir yang akan kalian buat dalam hidup kalian."
.